BTM:GyT 2 - "Cahaya Baru 2"

penilaian: +3+x

“Ah, eo!” sambut gadis berambut merah itu, ia merasa gugup ketika ada beberapa wajah yang tidak ia kenal muncul di hadapannya.

“Oh hai, apa kamu yang bernama Shinael?” sapa seorang pria berbadan kekar nan tinggi itu sampai-sampai memberi gerhana pada tubuh gadis berambut merah yang mungil itu.

Pria itu terlihat seperti sudah berpengalaman dengan beragam hal-hal aneh di seluruh dunia ini, bisa terlihat dari perawakannya yang tampaknya tangguh dalam menghadapi berbagai medan. Gadis kecil itu pun mengangguk ketika pria itu menanyakan namanya.

“Salam kenal ya. Kalau begitu akan kuperkenalkan diriku dan rekan-rekanku,” lanjut pria tersebut.

James Holmes, seorang penyintas penjelajah senior yang ternyata cukup ternama di luar Alvus. Ia berpengalaman dalam penjelajahan pada banyak jenis dunia, baik tempat yang aman maupun yang tidak. Sepertinya ia akan bisa bertahan hidup di Alvus, bukan? Pria kekar yang tampaknya datang dari film laga, adu jotos dengan entitas tampaknya adalah hal yang mudah baginya.

Lalu di sebelahnya ada seorang wanita muda sambil membawa peralatan medis bersamanya. Wanita berambut pendek itu terlihat memiliki ketertarikan dengan gadis kecil yang sedang menatapnya, ia tersenyum kecil, seolah-olah ia memiliki pemikirannya tersendiri tentang gadis berambut merah itu.

Carolyne Justina, seorang penyintas senior yang berspesialisasi dalam bidang medis, bisa dibilang seorang dokter di kelompok ini. Keberadaan medis itu penting terutama dalam menyembuhkan luka sekaligus pengecekan kesehatan, mereka tidak tahu bahaya macam apa yang mungkin akan mendatangi mereka, jadi memiliki pencegahan adalah hal baik bukan?

Lalu di sebelah wanita tersebut terdapat seorang pria berbadan besar lainnya, ia mengenakan pelindung rompi sambil membawa tas besar di punggungnya. Selain itu ada beberapa peralatan mekanis yang menempel di beberapa bagian tubuhnya layaknya rangka luar.

Harold Joseph, seorang penyintas yang ahli dalam persenjataan sekaligus teknisi di dalam tim. Membuat persenjataan dari benda-benda yang ada di sekitarnya adalah kesukaannya, menjadikan dirinya sangat penting. Ia mampu mengoperasikan radio dan komputer—sebenarnya semua penyintas bisa, namun memperbaiki dan mengembangkannya adalah kemampuan yang tak semua penyintas punya.

Terakhir adalah pria jangkung yang agak kurus, kacamatanya lumayan mencolok dan cukup bagus dalam menyembunyikan kantung matanya. Ia lebih mirip seorang pekerja kantoran yang telah cukup dihajar oleh pekerjaannya daripada ketiga orang-orang yang sebelumnya. Tetapi, karena ia adalah bagian dari kelompok ini maka ia pasti memiliki sesuatu bersamanya.

Arthur Kauffman, pria yang bekerja sebagai arsiparis dan termasuk sosok penting karena ia adalah inti dalam kelompok ini. Kenapa demikian? Karena misi kali ini adalah mengumpulkan seluruh dokumen yang masih tersisa di dalam rumahnya para Manstria. Orang ini memiliki ingatan yang hebat, walau pun semua dokumen itu musnah, ia masih dapat mengingat semuanya dalam kepalanya. Sesuatu yang tidak semua orang memilikinya.

Kombinasi mereka berempat tidaklah terlalu buruk untuk disebut sebuah tim, justru ini kombinasi yang sangat bagus karena saling melengkapi. Kini setelah mereka mengenalkan diri, sekarang giliran gadis berambut merah itu.
“Namaku Shinael, biasa dipanggil Shina. Aku seorang Manstria dan aku akan menjadi pemandu kalian.”

Ah ya, gadis kecil berambut merah ini adalah salah satu dari para monster jahat itu. Yang membedakannya adalah ia dibesarkan oleh manusia, sederhana bukan? Ia memiliki wujud gadis manusia muda dengan ciri khas rambut dan matanya yang berwarna merah darah.

Secara sekilas ia memang tidak jauh beda dengan anak manusia pada umumnya jika kita mengabaikan sebetapa merahnya rambutnya itu, tetapi jika diperhatikan dengan lebih seksama lagi, kamu bisa menemukan kalau ia benar-benar bukan manusia.

Permukaan tubuhnya memiliki garis-garis pudar layaknya Manstria yang baru bisa terlihat jika diperhatikan dengan seksama. Bahkan terdapat corak loreng yang aneh pada rambutnya. Tapi hei, ia menumbuhkan tanduk saat ini sehingga dapat terlihat dengan jelas kalau ia bukan manusia!

Statusnya sebagai Manstria bukan berarti ia sesosok Manstria yang hebat, ia dibesarkan oleh manusia bukan oleh jenisnya. Ini menyebabkan dirinya tidak dapat berpikir seperti layaknya Manstria sungguhan dan tentu saja itu membuat dirinya tidak mampu memperkirakan pola pikir dari kaumnya sendiri. Shinael, produk dari campur tangan manusia terhadap alam.

Keempat manusia itu terlihat sangat tertarik dengan Shinael karena entitas yang katanya berbahaya bisa menjadi ramah seperti ini. Entah metode apa yang digunakan orang-orang sebelumnya untuk menjinakkan Manstria yang satu ini, entah bagaimana orang-orang itu memenuhi kebutuhan nutrisinya, dan entah bagaimana Shinael sanggup untuk memusuhi kaumnya sendiri.

Dua orang pria lainnya kemudian mendatangi sekelompok orang-orang itu, seorang pria paruh baya dan seorang pria muda. Mata Shinael langsung bersinar ketika menatap pria paruh baya itu. Sosok yang begitu ia kenali sekaligus sosok yang sangat berarti baginya.

“Yo, Pak Rizu, selamat pagi, siang, ataupun malam!” sambut James kepada pria paruh baya itu.

Pria bernama Rizu itu pun membalas sapaannya, kedatangannya kemari ialah untuk memberi sedikit arahan kepada mereka berlima. Sebagai seorang senior sekaligus sosok yang telah begitu lama tinggal di dalam rumahnya para Manstria itu, sudah hal wajar jika ia merasa berkewajiban untuk memberi beberapa patah kata kepada mereka.

Sosok penemu Alvus sekaligus sosok pertama yang mempelajari Manstria, dirinya telah menjadi sosok paling disegani di beberapa komunitas penyintas. Ya bagaimana tidak, dia adalah penemu tempat mengerikan itu dan secara ajaib berhasil menyelamatkan diri seorang diri dari sana. Para penyintas penjelajah mana pun pasti akan merasa malu jika mereka tidak mampu bertahan hidup seperti yang dilakukan Rizu.

Pria muda yang ada di sampingnya kemudian mendekati James dan berbicara sebentar dengannya, dirinya adalah adik dari James. Wajar dirinya merasa cemas, beragam berita buruk terus menerpa orang biasa seperti dirinya dan kini saudaranya akan memasuki tempat di mana sumber semua berita buruk itu berasal.

James mencoba menenangkannya dengan menyatakan semua akan baik-baik saja dan memintanya untuk percaya pada dirinya. Pria muda itu tidak banyak membantah dan menurut saja walau masih terlihat jelas ia masih merasa gelisah. Rizu kemudian mendekat untuk memberitahu mereka berdua bahwa ia hendak memulai pengarahannya, mereka berdua mengangguk dan Rizu pun memulai kata-katanya.

“Tuan-tuan dan nona-nona, hari ini kita berkumpul di hari yang cerah ini untuk misi terakhir yang diberikan oleh komunitas penyintas yang kita sama-sama kenal; yaitu mengumpulkan kembali dokumen yang tertinggal … aku sendiri tidak mengerti kenapa mereka mengirim orang-orang hebat seperti kalian, sungguh, tetapi ya sudahlah, siapalah kita untuk menolak.” Yang lainnya tersenyum mendengar komentar pak tua itu karena itu benar, mereka juga merasa enggan untuk menolak permintaan yang dirasa aneh ini.

Pak tua itu pun melanjutkan, “Gadis merah yang ada di hadapan kalian akan menjadi pemandu kalian dan ingatlah untuk selalu mengikuti arahannya, jika ia bilang lari maka larilah, jika ia bilang sembunyi maka sembunyilah, ia lebih mengenal rasnya daripada kita semua.” Pak tua itu sangat mengharapkan mereka untuk mendengarkan arahan gadis Manstria itu, namun sepertinya para orang-orang itu tidak keberatan untuk melakukannya.

Dari wajahnya terlihat rasa cemas yang begitu dalam, apalagi keempat orang ini belum pernah ke tempat itu dan bertemu entitas di dalamnya sama sekali. Rizu tahu siapa orang-orang ini, mereka adalah para orang-orang terkenal yang berasal dari berbagai penjuru dunia yang kemudian dikumpulkan demi misi ini.

Ia merasa bahwa ada yang aneh dengan susunan ini, apa yang dipikirkan para orang-orang berkuasa itu? Rencana apa yang sedang mereka buat sampai harus melibatkan orang-orang ini? Bahkan keempat orang itu saja baru pertama kali ini bertemu! Ia juga tidak yakin kalau mereka berempat mengenal apa itu Alvus yang sebenarnya selain rumornya saja, itu karena mereka berempat adalah tipikal yang terisolasi di dalam kesibukan dunia mereka masing-masing.

Mengetahui bahwa Rizu merasa ragu, Shinael kemudian dengan nada optimis membalas, “Serahkan saja padaku! Aku akan membuat misi ini berjalan dengan sukses!” Sungguh optimisme yang menenangkan, pak tua itu langsung membalasnya dengan senyuman.

“Hei hei! Apakah ini benar-benar aman?! Semua ekspedisi sebelumnya selalu berakhir mengenaskan bukan?!” ucap adiknya James seketika.

Ia tahu sudah berapa banyak korban yang tewas mengenaskan di dalam tempat itu, adalah hal wajar baginya jika ia akan merasa pesimis. Apalagi walau ada Shinael pun jumlah kematian tetap saja tinggi, sehingga tidak heran kalau ia berpikir kalau misi kali ini adalah misi bunuh diri. Baginya, ada atau tidak ada pun Shinael hasilnya akan sama saja.

“Troy, tenanglah, semua akan baik-baik saja. Memang dokumennya penting, tetapi yang lebih penting adalah keselamatan semua anggota tim.” James menunjuk dirinya sendiri dengan menggunakan jempolnya sambil tersenyum percaya diri untuk menenangkan adiknya itu.

“Tidak perlu ragu, kau tahu kan aku ini tidak akan mati dengan mudah, kan? Jika memang tidak menguntungkan maka kami akan meninggalkan dokumennya dan pergi menyelamatkan diri,” lanjut James dengan nada penuh percaya dirinya.

Sosok kakak dengan pengalaman penjelajahan yang mengagumkan, siapa yang tidak merasa tenang setelah mendengarkan keoptimisannya? Tetapi mungkin sebaiknya dirinya jangan terlalu optimis, orang angkuh biasanya mendapat masalah, bukan?
“Nak, tidak usah khawatir, aku sudah menyiapkan peralatan anti-Manstria yang hebat. Aku cukup yakin alatku bisa melindungi kita,” ucap Harold sambil mengeluarkan sebuah bungkusan dari sakunya.

Ia kemudian melanjutkan, “Aku menyebutnya Bom Gas Air Almon! Bukan gas sih, lebih ke bom berisi serbuk Air Almon[ ] yang telah aku kristalkan lalu aku jadikan serbuk. Benda ini lumayan efektif kepada entitas lain, jadi pada Manstria harusnya juga bekerja!”

Troy dan yang lainnya terlihat kagum, sedangkan Shinael terlihat penasaran dengan benda itu karena ia adalah salah satu dari para Manstria. Manstria tidak menyukai sesuatu bernama Air Almon itu karena paparannya dapat menyakiti mereka, oleh karena itu Shinael merasa ia harus waspada terhadap senjata-senjatanya Harold. Bisa saja ia tidak sengaja terkena, bukan?

Rizu kemudian bertanya apakah ada alat lainnya dan Harold langsung menjawab iya, setidaknya ia membawa beberapa alat tempur di dalam tasnya. Sungguh persiapan yang sangat matang. Melihat bagaimana Harold memamerkan peralatannya, Shinael jadi ingin memamerkan apa yang ia miliki juga.

Shinael kemudian mengeluarkan sebuah kotak senjata dari dalam tasnya untuk memamerkan peralatan anti-Manstria miliknya juga, sebuah senapan angin berbentuk senapan pengintai jarak jauh. Harold langsung tertarik dan ingin membicarakan hal itu lebih lanjut dengan Shinael nantinya, tampaknya Shinael menemukan teman untuk membahas persenjataan karena ia turut suka senjata.

Merasa tidak mau kalah, Carolyne pun ikut bergabung. “Yeah, bagaimana aku menjelaskannya, para penyintas medis sudah membuat terobosan baru dalam penyembuhan luka dalam waktu singkat. Obat yang aku bawa secara khusus dibuat untuk misi ini, jika berhasil maka obat ini akan diproduksi secara luas,” jelas Carolyne sambil menunjukkan kotak obatnya.

Oh ayolah dokter, mereka bukan kelinci percobaan, tetapi jika berhasil ya … tidak masalah sih. Sang dokter telah mengetahui bahwa Manstria mampu meregenerasi luka mereka dengan sangat cepat—setidaknya dari dokumen yang pernah ia baca, tentu itu menyebabkan dirinya ingin melihat hal itu secara langsung untuk mempelajarinya. Terutama ada Shinael si Manstria, ia ingin sekali untuk melakukan sesuatu kepada Manstria kecil itu nantinya.

Jika tim medis berhasil mengetahui rahasia di balik kemampuan regenerasi Manstria yang dikenal luar biasa cepat, akan ada harapan bahwa manusia berhasil menemukan cara untuk mempercepat regenerasi manusia seperti layaknya Manstria. Bukankah itu akan sangat berguna sekali?

“Kalau aku sih, aku cuman perlu mengambil dokumennya saja kan? Jadi sekali ambil langsung kumasukkan ke dalam tas, jadi kerjanya bakal cepat,” ucap Arthur yang tampaknya cukup santai dengan misi kali ini.

Tugasnya tidak banyak, hanya mengumpulkan dokumen. Dirinya telah lama menjadi pengarsip dokumen laporan di dunia ini, tentu ia menghapal begitu banyak artikel dan laporan tentang berbagai lokasi unik—tidak terkecuali Alvus. Kita mendapatkan seorang jenius di sini, bukan?

Rizu menghela nafas, di dalam hatinya ia masih merasa cemas. Ia kemudian mendekat ke Shinael dan mencoba meraihnya. Shinael dengan cepat menjauhi pria itu, itu karena jika lengan Rizu masuk ke dalam maka Rizu tidak dapat menariknya keluar kecuali jika seluruh tubuh Rizu ikut masuk ke dalam.

Ini adalah konsep aneh lainnya di dunia ini, sebuah konsep di mana kamu tidak akan bisa keluar dari pintu yang sama dan akan tersangkut jika mencoba untuk keluar. Dan setelah kamu di dalam, kamu tidak dapat keluar melalui pintu yang baru saja kamu masuki sehingga kamu harus melewati neraka dahulu sebelum bisa keluar melalui pintu lainnya yang sangat jauh posisinya. Sungguh konsep yang merepotkan, bukan?

Mereka berdua hanya bertatapan, tetapi keresahan yang ada di dalam hati Rizu tersampaikan pada Shinael. Shinael membalas keresahan itu dengan senyuman manisnya, memberi isyarat untuk percaya padanya dan semua akan baik-baik saja. Kedua ujung bibirnya naik, ia menutup mata sayunya, ia menaruh harapan lainnya pada Shinael.

Pria paruh baya itu sudah tahu betul seperti apa sifat Shinael itu, senyuman itu sudah dipastikan 100% palsu. Gadis kecil itu sangat ahli dalam menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya layaknya mengenakan topeng, kemampuan menutupi perasaan yang asli ini adalah kemampuan khas dari Manstria sebagai makhluk penipu, tetapi untuk Rizu yang sudah membesarkannya, tentu ia sudah tahu akan semua tingkah laku Manstria kecil itu.

Manstria tetaplah Manstria bagaimanapun cara mereka dibesarkan, mereka sangat ahli dalam menyamar dan menutupi kenyataan, mereka sangat ahli menipu serta mempermainkan perasaan. Tidak terkecuali Shinael, walau ia dibesarkan oleh manusia sekalipun sifat aslinya sebagai Manstria akan tetaplah ada.

Shinael mungkin tersenyum manis, tetapi hatinya memiliki perasaan yang sama dengan Rizu yaitu sama-sama gelisah. Kedua individu itu memiliki pemikiran yang sama, mengapa harus mengirim manusia kembali lagi kemari?

Rizu kemudian kembali menghadap ke para penyintas terpilih tersebut setelah cukup berkomunikasi tanpa suara dengan Shinael.

“Baiklah, kalian bisa berangkat kapan pun yang kalian mau tetapi kalian harus kembali sesegera mungkin, hindari kontak yang tidak perlu dengan Manstria dan segera kembali! Tidak ada manusia selain kalian jadi jangan percaya siapa pun yang kalian temui!” ucap Rizu dengan tegas, mereka yang mendengarkan langsung menganggukkan kepala mereka.

Ia lalu melanjutkan kembali pengumumannya, “Yang paling utama, jangan membuat keributan karena mereka ada di sekitar kalian. Shina akan menuntun kalian ke deretan pos perlindungan yang arahnya sama, dan di semua tempat itu terdapat dokumen-dokumen yang kalian butuhkan, instruksi lebih lanjut akan disampaikan oleh Shina.”

James sebagai ketua tim kemudian merespon, “Terima kasih Bapak Rizu atas peringatannya, akan kami ingat semuanya. Kami akan segera keluar secepatnya karena kami juga enggan berlama-lama di dalam tempat itu. Lalu Troy, tetap di sini dan jaga dirimu, oke?”

Troy mengangguk. James kemudian melanjutkan, “Baiklah teman-teman, mari kita jalani misi ini dengan efisien dan cepat sehingga kita dapat tidur nyenyak di rumah. Gagak Terakhir! Pasti bisa!”

Keempat manusia itu bersorak bersama, keoptimisan mereka patut dihargai. Gagak Terakhir, nama kelompok dari sekumpulan manusia pemberani yang siap memasuki tempat itu untuk mengumpulkan dokumen yang tertinggal. Mereka kemudian mengambil foto, memasuki pintu masuk, berkumpul, dan memberi lambaian terakhir sebelum pintu akhirnya ditutup.

Yah, seperti yang kita lihat, para manusia masih belum menyerah bukan? Tetapi jika berkaca dari kejadian-kejadian sebelumnya mereka seharusnya sudah tahu seperti apa masa depan mereka nantinya. Rizu jelas sudah mengetahui akan hal itu, ia merasa bersalah karena telah menemukan tempat terkutuk itu, ia selalu mengutuk dirinya untuk setiap jiwa yang terenggut di dalam neraka itu.

Tetapi, alasan kenapa ia masih hidup sampai saat ini adalah karena kebodohan manusia selain dirinya, bukan salah dirinya jika manusia terus menerus mendatangi tempat itu hanya untuk dijagal. Jika mereka cerdas, seharusnya mereka tidak lagi memasuki tempat itu seperti yang ia lakukan, bukan?

Rizu telah berulang kali meminta supaya tempat tersebut tidak dimasuki manusia lagi, tetapi apa yang terjadi? Para manusia merasa optimis dapat merebut kembali wilayah dengan menggunakan kecerdasan mereka, lalu apa lagi yang terjadi? Siapa yang justru lebih cerdas dan tangguh sebenarnya?

Mereka hanya menyusahkan Shinael saja, mereka yang mati, Shinael yang disalahkan. Ya, Shinael disalahkan atas semua kasus kematian yang terjadi. Mereka menganggap Shinael tidak becus dalam melakukan tugasnya sebagai pengawal. Mereka tidak berpikir, satu Manstria kecil melawan seluruh koloni monster? Yang benar saja!

Kenapa para manusia ini tidak mengurus hal lain saja? Masih banyak hal di seluruh dunia yang aneh ini yang dapat mereka lakukan dan bukannya menghabiskan waktu serta tenaga mereka hanya untuk memasuki kembali tempat berbahaya itu. Masalah suplai, masalah entitas, penampakan individual misterius, munculnya fenomena aneh, pendataan lokasi baru, dan banyak lagi!

Ada begitu banyak yang bisa dilakukan dan mengapa mereka malah masih mengurus tempat berbahaya yang satu ini?! Entah dokumen seperti apa yang membuat para manusia harus kembali lagi ke dalam sana, bahkan Rizu dan Shinael pun juga penasaran akan mengapa, memang sepertinya ada sebuah teka-teki besar yang muncul di luar pengetahuan mereka berdua.

Ada teka-teki aneh yang terjadi di balik labirin raksasa tanpa batas bernama Alvus itu, dan itu membuat Rizu menjadi tidak tenang, ia pun melangkah kembali ke arah tempat para orang-orang berkuasa yang mengirim mereka. Ia ingin mengetahui rencana misterius apa yang sebenarnya mereka sembunyikan.

Di sisi lain, keempat orang itu kini berada di dalam lorong yang panjang nan hening itu, rasa mencekam dapat mereka rasakan di sekujur tubuh mereka. Ini bukan sekedar melakukan perjalan wisata ke rumah berhantu lagi, melainkan ke dalam dunia kematian itu sendiri.

Shinael menegapkan tubuhnya untuk menunjukkan kesiapan hatinya, setelah mengambil nafas untuk menenangkan kegelisahannya ia mengajak mereka untuk mulai melangkah bersama, “Baiklah, mari kita mulai perjalanannya.”


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License