BTM:GyT 10 - "Belenggu di Leher 2"

penilaian: 0+x

Kali ini mereka memasuki sebuah kamar lagi, kamar-kamar di level ini sangat melimpah dan tidak terkunci sehingga siapa saja dapat masuk dengan mudah. Namun, sekelebat bayangan merah menerjang Shinael yang baru saja memasuki ruangan, Manstria ternyata sedang bersembunyi di dalam ruangan tersebut.

Tetapi, seketika Manstria itu langsung terbelah-belah dan potongan tubuhnya berserakan ke luar kamar—dan semua potongan itu langsung bergerak menjauh dari lokasi itu. James dan yang lainnya dapat menyaksikan bahwa rambutnya Shinael telah berubah menjadi pisau-pisau yang tajam lalu berubah menjadi rambut kembali.

Pada dasarnya, mereka kagum dengan kemampuan Shinael yang dengan begitu cepat mengatasi Manstria, namun Shinael mengaku bahwa ia tidak sehebat itu dan bahkan dirinya masih dapat dikalahkan dalam pertarungan satu lawan satu.

Taktik Shinael selama ini adalah serangan mendadak yang diketahui cukup efektif, jika itu adalah pertarungan yang adil, maka kemungkinan Shinael untuk kalah itu ternyata cukup besar. Secara fisik ia lemah, secara teknik ia ternyata masih pemula.

Bahkan ia tidak ada tandingannya dari para Manstria “anomali” lain yang diketahui lebih kuat, cerdas, dan cepat. Para anomali ini berbeda, mereka memiliki kemampuan khusus yang sangat jarang ada pada Manstria lainnya, bahkan Shinael sendiri tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.

Para anomali ini dapat dibedakan dari bagaimana mereka bertarung, entah dari taktik atau menggunakan serangan yang tidak lazim, tipe seperti ini dinilai cukup merepotkan untuk ditangani karena cara mereka bertarung yang sangat berbeda dan baru.

Manstria Anomali, alias para anomali di antara Manstria. Kemampuan khusus mereka sangat aneh dan tidak masuk akal layaknya Backrooms yang juga tidak masuk akal. Shinael mengatakan ia tidak mengerti mengapa mereka bisa ada sedangkan yang lainnya tidak bisa mencapai tingkat mereka, seolah-olah mereka itu seperti terpilih begitu saja.

Mungkin dirinya juga salah satu dari para anomali itu karena ia mampu menghasilkan listrik seperti sebuah generator listrik. Tetapi ia merasa ragu apakah ia bisa masuk ke dalam kategori itu karena ia hampir tidak pernah menggunakan kemampuannya sehingga ia sangat payah dalam menggunakannya.

“Kau benar-benar Manstria yang unik, aku benar-benar akan membedahmu,” ucap Carolyne yang dengan cepat memegang lengan Shinael karena rasa penasarannya, Shinael langsung terkejut.

“Tidak! Kau tidak perlu melakukannya!” Shinael berhasil melepaskan diri setelah memodifikasi bentuk lengannya dan langsung bersembunyi di belakang James.

“Oh ayolah demi kebaikan orang banyak, biarkan aku mengetahui rahasia dari kecepatan regenerasimu itu.” Carolyne mencoba mendekati Shinael tetapi dihalangi oleh James, membuatnya menjadi cemberut.

“Tapi bukankah obatmu itu sudah cukup cepat dalam menyembuhkan luka?” tanya James.
“Memang benar, tetapi masih belum cukup.” Carolyne membuang nafas yang dipenuhi ketidak puasan.

“Aku tidak tahu seperti apa targetmu, tapi, mungkin sebaiknya kita urus saja semua itu nanti setelah semuanya berakhir. Kita sedang berada di situasi yang tidak menyenangkan di sini.”

“Baiklah, baiklah. Aku mengerti. Lagi pula aku memang tidak serius untuk melakukan sesuatu pada Shinael … aku ingin sih, tapi sebaiknya jangan dulu deh.”

Shinael tetap tidak merasa tenang walau Carolyne sudah mengatakan hal itu, ia menjadi teringat akan masa dahulu yang di mana ada beberapa peneliti yang ingin mempelajari tubuhnya. Memang ia bisa lolos dari mereka semua atas bantuannya Rizu, tetapi siapa sangka ia akan bertemu lagi dengan orang yang mirip dengan para peneliti aneh itu.

“Carolyne, apa kau juga bagian dari komunitas penyintas yang berdedikasi dalam membedah entitas sepertiku?” tanya Shinael.

“Hm? Tidak. Bidangku farmasi, kurang lebih aku berkerja sebagai seorang dokter pengembara bukan pembedah entitas,” jawab Carolyne.
“Lalu kenapa kau ingin membedahku?”

“Karena penasaran? Ilmu pengetahuan tidak bisa hanya terpaku di satu hal saja, kau harus melebarkan jangkauanmu juga, nak.”

Shinael tertegun, jawaban Carolyne ada benarnya. Tetapi tetap saja ini masih mengganggunya, “Jadi apa kau benar-benar akan membedahku?”

“Mungkin.”

Jawaban Carolyne itu membuat Shinael menjadi bergidik ngeri, ekspresinya pun turut berubah. Ia tidak ingin mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan itu lagi. Tetapi karena Carolyne mengatakan “mungkin”, berarti masih ada kesempatan untuk membuatnya berubah pikiran bukan?

Demi pengetahuan kata mereka, itu mengingatkan Shinael akan masa di mana ia berulang kali berada di atas meja yang dingin itu sambil dikelilingi oleh orang-orang aneh yang ingin mempelajari kemampuannya sebagai Manstria. Mungkin bisa dibilang para peneliti gila.

Mereka adalah para orang-orang yang mengabaikan sisi kemanusiaan demi mempelajari suatu hal, tunggu, bukankah Shinael itu bukan manusia? Bukankah itu tidak masalah untuk melakukan eksperimen padanya?

Pemikiran yang sungguh gelap namun tidak salah pula, mereka bermain pada batas abu-abu suatu konsep yang anehnya mereka baik-baik saja di sana. Shinael adalah suatu makhluk yang berada di batas abu-abu itu, dia entitas yang manusiawi, dia berada di batas antara buas dan beradab.

Tidak heran akan ada pihak yang sama-sama berada di batas itu tertarik untuk memanfaatkannya. Tetapi pada akhirnya Shinael benar-benar tidak lebih hanya sekedar entitas saja di mata mereka semua, tidak peduli sudah seberapa manusiawinya dirinya itu. Ia tetap dikekang dan dipaksa menurut layaknya seekor anjing, hebatnya ia tetap menahan semua itu.

Kehidupan itu tidak adil baginya, di satu sisi ia tidak ingin menjadi entitas karena ia ingin diterima di antara manusia, namun di sisi lain para manusia memperlakukannya sebagai entitas yang hina. Memang entitas bukanlah manusia, tetapi jika entitas itu mendekati atau setara dengan manusia bukankah sebaiknya keberadaan mereka harus dipertimbangkan?

“Lalu … aku ini apa di matamu? Apa aku ini hanya sesosok entitas semata bagimu sehingga dirimu merasa berhak untuk membedahku?”

Pertanyaan Shinael yang terdengar agresif itu seketika membuat Carolyne menjadi tidak bisa mengatakan apa pun, itu adalah pertanyaan yang cukup sulit untuk ia jawab begitu saja.

“Yah karena kita baru bertemu aku masih tidak terlalu mengenalmu …” ucapnya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya karena ia tidak menduga akan mendengar pertanyaan seperti ini dari Shinael.

Setelah ia membuang nafas panjang ia pun melanjutkan, “… tidak perlu anggap serius apa yang hendak kulakukan padamu karena aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu padamu tanpa persetujuanmu dulu tentunya.”

Shinael merasa lega karena setidaknya Carolyne tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya begitu saja. “Maaf kalau aku terdengar cukup agresif tadi, aku hanya teringat kembali akan masa-masa gelap yang terjadi di tempat ini sebelumnya.”

“Pasti berat ya? Semua orang mencoba memanfaatkanmu begitu,” balas Carolyne. Yang lainnya melempar wajah iba kepada Manstria kecil itu.

“Hm, jika kemampuan listriknya Shina diketahui, apakah ia akan dirubah menjadi sebuah alat penghasil listrik?” tanya Arthur yang tiba-tiba mendapat sesuatu di dalam pikirannya.

“Tidakkah itu terdengar cukup kacau?” balas Harold. Ia tahu bahwa alat seperti itu cukup langka dan sangat diburu, tetapi ia tidak menyangka kalau kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi.

“Pembangkit listrik tenaga Manstria memang terdengar kejam, tetapi jika saja kemampuannya ketahuan di masa lalu, bukankah kemungkinan itu bisa saja terjadi?” sambung Arthur.

James kemudian ikut bergabung dalam percakapan mereka, “Kurasa kita malah jadi lebih parah daripada para entitas itu sendiri.” Mendengar hal itu, ketiga pria itu mengangguk bersama.

Di sisi lain, Carolyne kembali berkacak pinggang, “Kalian para cowok-cowok memang punya jalan pikiran yang aneh, dengar, semua itu tidak mungkin terjadi karena Shina masih utuh hingga saat ini … dan ia juga tahu cara menyembunyikan sesuatu dari orang-orang.”

Shinael merasa tersinggung, “Um, dirimu membuatku terdengar seperti seorang pendusta.”

Dengan cepat Carolyne langsung membalas, “Tidak Shina, kau mungkin memang seorang pendusta karena mampu menyembunyikan suatu hal dari kami semua.”

Carolyne seketika merasa canggung dengan pernyataannya barusan, ia kemudian langsung mengoreksinya, “Tetapi aku tahu bahwa kau melakukan hal itu untuk kebaikan dirimu sendiri dan demi orang banyak pula. Bagiku, dirimu adalah pendusta paling baik hati yang pernah ku kenal.”

Shinael terlihat kebingungan karena ia tidak tahu bagaimana harus merespon perkataannya Carolyne, ia merasa bahwa itu pujian yang aneh dan tidak biasa karena ada dua hal yang saling bertentangan dalam satu kalimat yang sama.
“Um terima kasih?” ucapnya.

“Tidak perlu. Aku belum melakukan hal yang besar sama sekali,” balas Carolyne.

Di sisi lain, para pria sedang berdiskusi akan sesuatu, setelah beberapa saat James kemudian bertanya pada Carolyne, “Carolyne, jika boleh tahu, sebenarnya di mana kelompokmu itu beroperasi? Pengaruh kalian sebenarnya cukup besar namun tidak banyak yang kami ketahui tentang kalian. Jadi, maukah kamu berbagi?”

Shinael turut tertarik akan hal itu, “Ah benar juga, dulu bantuan obat-obatan dari kelompok Panah Hijau juga pernah tiba di tempat ini. Walau bantuan kalian lumayan membantu pada waktu itu, aku tidak tahu banyak tentang kalian.”

Carolyne kemudian menjawab, “Bagaimana aku menjawabnya yah … Panah Hijau tidak menetap di satu tempat melainkan terus berpindah-pindah. Jika kalian melihat tenda putih dengan logo yang sama dengan yang kalian lihat pada seragamku maka kalian akan tahu bahwa itu kelompokku.”

“Ah begitu, tetapi di mana kalian bisa ditemui?” sambung James.

“Di tempat-tempat yang memiliki keberadaan tanaman obat maupun pada lokasi yang sedang membutuhkan bantuan kemanusiaan. Kalau tidak salah Alvus juga pernah didatangi oleh kelompokku sebelumnya,” jawab Carolyne.

James dan yang lainnya kemudian mengangguk karena mereka akhirnya mendapatkan jawaban yang mereka butuhkan, kelompoknya Carolyne itu bisa dibilang lumayan berpengaruh karena usaha mereka dalam menemukan dan membuat obat-obatan dari apa yang disediakan oleh Backrooms di alam liar.

Shinael kemudian turut berkomentar, “Ya benar! Kelompokmu pernah datang sebelumnya! Dahulu aku menjadi pengantar barang dan menjadi subjek percobaan juga ….”

“Hm? Aku tidak tahu bahwa kami pernah membedahmu,” balas Carolyne dengan wajah bingung, ia tidak ingat ada laporan tentang pembedahan terhadap Manstria yang pernah dilakukan oleh Panah Hijau sebelumnya.

“Apa kau yakin mereka dari kelompokku?” tanya Carolyne lagi. Ia memang pernah membaca laporan terhadap Manstria sebelumnya, tetapi tidak ada identitas dari kelompok mana yang melakukannya pada laporan tersebut.

Tetapi ada sebuah keganjalan di sini dan itu mulai mengganggu pikirannya Carolyne. Shinael langsung menegaskan kalau pengalamannya itu asli, “Entahlah, mereka terlihat seperti orang-orang dari Panah Hijau jika melihat seragamnya. Lalu mereka memaksaku untuk membiarkan mereka membongkar tubuhku dan melakukan beberapa uji coba yang menyakitkan.”

Carolyne kemudian terdiam dan wajahnya menjadi serius, jari jemarinya dengan pelan meraba kotak obat yang terus ia bawa. Seketika pikirannya berkecamuk karena obat yang ia bawa merupakan purwarupa dari obat yang bisa mempercepat regenerasi luka.
Arthur kemudian melihat ke arah kotak obatnya Carolyne, “Carolyne, obatmu itu kan-“

“Ya itu dia masalahnya!”

Carolyne seketika menaikkan suaranya kepada Arthur yang terlihat mencurigai obat yang ia bawa. Ia kemudian melanjutkan ucapannya, “Aku tahu kalian curiga padaku saat ini karena obatku entah mengapa sekarang terhubung dengan tindakan semena-mena yang terjadi pada Shina.”

“Aku dan timku membuat obat yang mampu meregenerasi luka dengan cepat yang memang didasarkan pada laporan tentang kemampuan regenerasinya Manstria. Tetapi aku dan Panah Hijau tidak terlibat pada apa yang terjadi pada Shina, oke?! Kami hanya membaca laporan orang saja tahu!” lanjut Carolyne dengan tegas.

Carolyne langsung menenangkan dirinya, akhirnya kepalanya cukup dingin untuk melanjutkan ucapannya “Sial, aku tidak menduga kalau ada yang mencoba mengotori nama Panah Hijau dengan menggunakan atribut seperti kami dan mengatasnamakan ilmu pengetahuan. Setelah keluar dari sini aku akan mencoba mencari tahu kebenarannya.”

Shinael menarik jubah putihnya Carolyne, “Tidak apa-apa, semua itu sudah berlalu.” Shinael kemudian memberinya senyuman lembut yang memberi tanda bahwa ia telah melangkah maju dari masa kegelapan itu.

“Ah kamu ternyata lebih besar hati dari yang terlihat,” puji Arthur, yang lainnya turut mengangguk karena setuju.

Shinael berterima kasih kepada mereka, ia merasa senang karena ada yang masih bersikap baik padanya. “Yah banyak hal yang sudah terjadi, dahulu aku terlalu naif untuk percaya kepada semua orang begitu saja. Mereka datang dan melakukan penjajahan di Alvus, sedangkan diriku tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan balik.”

“Tidakkah kalian berpikir bahwa Shina benar-benar dalam keadaan yang buruk sekali dahulu? Kemampuannya dimanfaatkan secara semena-mena oleh orang-orang, ia benar-benar dibelenggu, bukan?” ucap James dengan rasa kesal.

“Ya, sayang sekali dahulu informasi yang kudengar hanya hal-hal baik saja.” Arthur mendecikkan lidahnya, ia mengaku bahwa informasi-informasi yang tiba kepada para arsiparis seperti dirinya tidaklah detail dan tidak mencakup apa yang sebenarnya terjadi.

“Ya bagaimana ya, mereka menjaga wajah mereka di hadapan publik, bukan?” balas Shinael.

“Dan aku pernah mendapat pesanan lusinan senjata dari SPB Alvus. Aku tahu bahwa mereka punya isu entitas, tetapi jika saja aku tahu akan menjadi begini maka aku akan menolak semua permintaan mereka.” Harold menggosokkan telapak tangannya pada pipinya, ia teringat bahwa ada sekelompok orang datang meminta bantuan padanya, dia tidak tahu bahwa ia akan turut terlibat dalam pembasmian entitas berskala besar di Alvus.

“Hm aku masih ingat masa di mana mereka membasmi kaumku secara masif sebelum akhirnya kaumku melawan balik. Padahal kaumku itu tidak mengganggu sama sekali dan hanya berdiam di tempatnya saja,” balas Shinael dengan nada pelan sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Carolyne tertawa pelan, “Haha, sudah terlambat mau diapain lagi emangnya?”
“Yah, ayo terus melangkah ke depan saja, bagaimana?” Shinael melemparkan senyum lebar pada mereka, keempat manusia itu kagum akan keteguhan hatinya Shinael setelah banyak hal yang terjadi selama ini.

“Manstria benar-benar makhluk yang tahan banting, bukan?” ucap Harold, ucapannya langsung disetujui oleh para rekan-rekan manusianya dan Shinael merasa tersanjung dengan komentar itu.

Manstria memang dikenal sebagai spesies yang sangat tahan banting dan masih tetap bertahan setelah upaya manusia dalam memusnahkan mereka, maka tidak heran jika Shinael turut tahan banting karena ia adalah salah satu para monster itu. Ia masih tetap melangkah maju dan terus menjaga horor dari masa lalu tidak mengambil alih emosinya, jika itu orang biasa maka sudah jelas mereka tidak akan bisa seperti Shinael.

Tetap melangkah maju setelah genosida yang dilakukan oleh spesies lain, bahkan setelah bagaimana mereka memperbudak dirinya, entah sekuat apa mentalnya itu sebenarnya. Mungkin ini lah Manstria, bagaimana pun manusia mencoba menghancurkan mereka baik fisik dan mental, para monster itu dengan tangguh tetap berdiri dengan kokoh.


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License