Shinael kemudian menambahkan bahwa semuanya berakhir dengan cepat begitu saja, baginya perkembangan Manstria itu terlalu cepat dan tidak normal. Seperti ada yang memberi mereka sesuatu entah itu kecerdasan atau kemampuan yang tidak seharusnya ada pada Manstria. Seperti sebuah tombol telah ditekan, dan seketika semuanya menjadi luar biasa begitu saja!
Menurutnya semua itu bisa saja terjadi jika memang ada seseorang yang datang untuk mengajari para monster itu, tetapi siapa? Rizu tidak mungkin melakukannya karena pak tua itu sudah disibukkan dengan urusan-urusan SPB, bahkan ia terkejut ketika Manstria telah berkembang di luar pengetahuannya.
Ada beberapa teori yang Shinael pikirkan, namun tidak semuanya benar-benar bisa dibuktikan. Tetapi yang pasti, semua itu telah terlambat untuk dipikirkan karena Alvus sudah disegel sehingga tidak ada yang peduli dengan apa pun yang terjadi di dalamnya. Tunggu, bagaimana dengan James dan yang lainnya?
“Ini hanya dugaanku saja, kurasa, kita dikirim kemari bukan dengan niat yang baik,” ucap James.
James menambahkan mengapa SPB Mega Langit secara spesifik memilih mereka berempat. Empat orang berpengaruh yang sebenarnya kurang mengetahui banyak soal Alvus. Rasanya seperti mereka diincar oleh Mega Langit atau hendak disingkirkan oleh mereka.
“Apa kalian pernah berselisih dengan Mega Langit sebelumnya?” tanya Shinael dengan curiga. Mengapa Mega Langit hendak menyingkirkan orang-orang ini jika itu benar?
James kemudian menjawab, “Aku memang pernah menolak permintaan mereka berulang kali, salah satunya mereka ingin aku menjadi bagian dari tim pencari sumber daya permanen mereka. Jelas aku menolak karena aku memang tidak ingin terikat dengan grup mana pun.”
James kembali menambahkan bahwa hubungannya dengan Mega Langit seharusnya tidak sampai membuat orang-orang itu ingin menyingkirkannya, sehingga ini cukup membingungkan.
James mencoba mengingat kembali hubungan dirinya dengan Mega Langit, ia kemudian teringat akan suatu hal, “Tetapi, aku pernah menjadi promotor level ini sebelumnya, kau tahu, mereka yang menyebarkan informasi soal level ini ke banyak orang di luar sana.”
James kemudian beralasan kalau ia mengikuti permintaan itu karena masih sejalan dengan kegiatannya sebagai penjelajah bebas, ibarat sekali dayung dua pulau terlampaui, James menyebarkan promosi tentang Alvus sekaligus menjelajahi Backrooms. “Mereka seharusnya tidak berniat aneh-aneh denganku karena aku cukup berperan besar dalam meningkatkan ketenaran level ini.”
Selain itu, alasan James menerima undangan mereka kali ini karena Mega Langit membutuhkan seseorang yang berpengalaman dalam perjalanan di Backrooms untuk menjadi bagian dari kelompok kecil buatan mereka. Mega Langit juga menyatakan bahwa ini tidak lebih sebagai Kerjasama sementara saja sehingga James tidak keberatan untuk melakukannya.
James mengaku tidak mengetahui banyak soal tingkat bahaya Alvus yang sebenarnya karena informasi yang diberitahukan kepadanya cukup minim dan hanya sekedar apa yang diperlukan untuk promosi saja. Informasi yang ia dapatkan dari para penyintas juga kurang membantu karena lebih mirip sekumpulan cerita horror daripada petunjuk keselamatan sungguhan.
“Aku bingung, padahal aku ini mitra mereka,” ucap Harold. Tetapi tidak lama kemudian, Harold merasa curiga akan sesuatu, “Mungkin karena aku juga memenuhi permintaan grup-grup lainnya, seperti mendukung rival mereka, mungkin?”
Itu bisa saja terjadi, memasok sumber daya bahan baku serta persenjataan untuk grup rival tentunya memberi rasa tidak terima kepada grup lainnya. Tetapi seharusnya itu tidak cukup untuk membuat SPB Mega Langit sampai ingin menyingkirkan dirinya juga, bukan? Mengingat dampaknya bisa ke banyak grup juga.
Harold kembali menambahkan, “Padahal dahulu aku menyediakan berbagai senjata yang mereka butuhkan untuk keamanan di dalam level ini. Apa salahku memangnya? Seharusnya mereka berterima kasih, bukan?” Ia lanjut menjelaskan bahwa ia memenuhi undangan Mega Langit kali ini karena bayaran serta kontrak yang akan ia terima setelah misi ini berakhir, di mana isinya akan sangat menguntungkan bisnis miliknya untuk jangka panjang.
Di sisi lain, Arthur jauh lebih bingung dari yang lainnya, ia seorang arsiparis dari SPB yang berada di level lainnya. Kenapa Mega Langit malah ingin menyingkirkan dirinya? Hubungan SPB tempat ia berasal dengan Mega Langit tidak seburuk itu. Apa yang terjadi? Arthur memang pernah melempar kritik kepada Mega Langit dahulu, tetapi seharusnya itu juga tidak cukup sebagai alasan untuk menyingkirkan dirinya, bukan?
Sedangkan pada kasus Carolyne, ia mengeluarkan wajah masam dengan aura yang menekan. Yang lainnya tahu benar bahwa saat ini Carolyne sedang menahan emosinya sehingga sebaiknya tidak ada yang mengajaknya berbicara. Carolyne adalah anggota Panah Hijau, sebuah grup yang bergerak di bidang penelitian dan farmasi.
Panah Hijau juga rekan Mega Langit, isi undangan yang diberikan kepadanya adalah pengujian obat terbaru di Alvus hasil keputusan orang-orang penting di Panah Hijau serta di Mega Langit. Ini bisa berarti Carolyne menjadi subjek uji coba performa obat buatan grupnya sendiri, dan jika obatnya berhasil, ada kemungkinan Mega Langit hendak menggunakannya untuk mendatangi Alvus lagi di masa depan.
Tiba-tiba Carolyne memegangi pundaknya Shinael dengan pandangan yang cukup mengecam, “Sebaiknya kamu membawaku keluar dari sini supaya aku bisa menginjak wajah orang-orang Mega Langit itu!”
Shinael tertawa kecil sambil mencoba menenangkannya, “Aku mengerti kok. Akan kucoba ya?” Nada Shinael yang cukup pesimis itu memang tidak membantu sama sekali, namun apa daya yang bisa mereka lakukan saat ini?
“Yah asalkan kita tidak melakukan kontak dengan Manstria mau pun mereka yang beranomali, aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian seutuhnya jadi kita berjuang sebaik mungkin ya?” sambung Shinael.
“Sial, kurasa aku akan sibuk setelah semua ini.” Carolyne masih menggerutu dengan hal ini dan tampaknya akan butuh waktu sampai ia benar-benar kembali tenang.
Di sisi lain, Shinael dapat menyimpulkan suatu hal: James dan Harold terlibat secara tidak langsung dengan berbagai peristiwa yang terjadi di level ini sebelumnya, sedangkan Arthur dan Carolyne memang diseret paksa untuk masuk ke dalam level ini. Sebuah komentar kemudian muncul di dalam kepala Shinael, “Menarik.”
Shinael kemudian tersenyum kecil, ia kepikiran akan sesuatu yang mungkin akan menyenangkan para Manstria jika mereka mendengarkan hal ini nantinya. Pada dasarnya para Manstria masih menaruh rasa dendam pada manusia, masa di mana tanah kelahiran mereka dijajah oleh manusia masih memberi rasa pahit di dalam jiwa mereka.
James adalah salah satu promotor level yang sukses dalam mendatangkan banyak sekali orang-orang ke level ini. Bisa dibilang jumlah korban manusia dan Manstria yang tinggi itu diakibatkan oleh upaya pria itu dalam mendatangkan banyak sekali manusia kemari. Ia mengaku sebagai sosok yang berperan besar? Oh, itu semakin menguatkan posisinya sebagai target amarahnya para Manstria nantinya!
Lalu ada Harold, sosok yang telah menyuplai manusia dengan persenjataan sehingga korban Manstria cukup besar di masa awal penjajahan manusia. Para Manstria akan sangat bahagia jika mereka berhasil menggapai tubuh orang ini nantinya. Sosok yang menyebabkan para manusia menjadi semena-mena dengan persenjataan mereka telah ada di dalam gapaian mereka! Siapa sangka kalau kedua orang itu ada di sini secara bersamaan?
“Seperti kata Shina, ayo kita terus berjuang sampai akhir!” ucap James sambil mengepalkan tangannya di udara untuk menaikkan semangat tim. Yang lainnya turut mengikuti, mereka sudah lelah menyalahkan keadaan karena yang harusnya mereka lakukan adalah bertahan hidup hingga akhir.
Shinael dengan isi pemikiran yang telah berubah menggosok dagunya dengan jemarinya, “Erm, kurasa kita memang harus berhati-hati kali ini. Aku merasa tidak nyaman dengan getaran pelan yang kurasakan di bawah kakiku, beberapa Manstria sedang bergerak menuju suatu tempat.”
“Getaran?” James bingung karena ia tidak merasakan apa pun, bahkan yang lainnya juga demikian.
“Kurasa Manstria sangat peka akan perubahan kecil yang terjadi di lingkungan mereka, memang makhluk yang aneh yah,” sambung Carolyne sambil menatap ke arah Shinael. Komentar ini membuat Shinael merasa curiga akan hal aneh apalagi yang hendak direncakan oleh si dokter kepadanya.
Carolyne melempar sebuah senyum kecil untuk membuat Shinael menjadi merasa ngeri sendiri, wanita ini serius atau tidak, sih?
“Apa kita tidak bisa mengambil jalan pintas seperti melubangi langit-langit saja?” tanya Harold. Itu masuk akal, kenapa tidak ada yang membuat sebuah lubang di langit-langit untuk menuju lantai lainnya tanpa harus melewati jalan yang sangat panjang.
Namun, Shinael menggelengkan kepalanya, “Tidak bisa jika tidak ingin mencari masalah. Seluruh bagian dalam permukaan Alvus terdapat jaringan daging Manstria yang halus, adanya kerusakan akan menyebabkan Manstria lainnya menjadi waspada.”
Itu terdengar tidak menyenangkan sama sekali, selain itu, bukankah keberadaan mereka saat ini bisa dilacak oleh para Manstria karena keberadaan jaringan Manstria tersebut?
“Bisa saja. Tetapi, jaringan itu tidak sepeka yang kalian duga. Keberadaan kita baru dapat dirasakan oleh jaringan itu jika kita benar-benar berisik ketika melangkah,” jelas Shinael kepada mereka.
Shinael kemudian menambahkan bahwa Manstria jauh lebih gampang dilacak daripada manusia, itu karena Manstria suka mengambil wujud berukuran besar sehingga berat tubuh mereka membuat mereka dapat dirasakan oleh jaringan-jaringan yang ada di dalam lantai.
Manstria berukuran kecil serta yang diam saja tentu tidak dapat terdeteksi, karenanya mereka harus lebih diwaspadai karena tidak bisa dilacak dengan mudah. Pada kasus Shinael, pada dasarnya ia termasuk Manstria berukuran kecil sehingga seharusnya ia cukup sulit untuk dilacak oleh Manstria lainnya. Tetapi siapa yang tahu, mungkin saja ada yang sudah memantaunya sejak awal?
“Baiklah, bagaimana kalau kita lanjut saja lagi? Kurasa kita tidak perlu berlama-lama di sini,” tanya Shinael kepada mereka, yang lainnya pun sepakat.
Perjalanan kali ini entah kenapa malah lebih berat dari sebelumnya karena kemungkinan mereka selamat akan terus mengecil jika mereka berbuat kesalahan sekecil apa pun itu. Manstria sudah sangat waspada saat ini tentunya, setidaknya setelah sekian banyak kontak yang terjadi di antara mereka dan Manstria.
Banyak sekali bekas-bekas peradaban manusia di sepanjang perjalanan mereka, keberadaan sisa barang-barang yang tersusun di tepi jalan serta poster-poster yang telah terkoyak memenuhi tembok. Seperti yang dikatakan Shinael sebelumnya, Alvus sebelumnya diramaikan oleh ratusan orang yang sibuk menjarah segalanya.
Carolyne mendapati ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada salah satu tembok, ada sebuah celah di sana. Sambil berjalan bersama dengan yang lainnya, ia terus memperhatikan celah yang diabaikan semua orang itu. Hingga ketika ia menatap ke dalam celah itu. Matanya terbelalak, ada sebuah bola mata berukuran besar sedang memandangi dirinya dari dalam celah.
Dengan cepat tangannya memukul bola mata tersebut sambil mengeluarkan sumpah serapah. Sadar bahwa Carolyne telah melakukan kontak dengan Manstria, James dan Harold dengan cepat menikam Manstria yang sedang mencoba keluar dari dalam celah tersebut dengan pedang baru mereka.
Kedua pria itu seketika merasa keren karena sudah mengalahkan Manstria dengan kedua tangan mereka sendiri, Manstria itu sampai terkapar di atas lantai dan tidak bergerak sama sekali. Di sisi lain Carolyne terlihat tidak terkesan dengan tingkah kekanakan kedua pria itu.
Shinael di sisi lain hanya bisa berkacak pinggang saja, “Oh astaga, Manstria itu sedang tidur!”
“Tidur kok matanya terbuka?! Dan kenapa tidak ngomong dari tadi?!” protes Carolyne kepada Shinael.
“Oh ayolah, kalau aku abai maka biarkan saja.” Shinael mengangkat kedua bahunya. Tetapi, Carolyne langsung menghampiri Shinael dengan aura penuh kemarahan.
Postur tubuh Carolyne yang tinggi itu memberi bayangan pada tubuh Shinael yang mungil, jelas ia sedang menunjukkan dominasi di hadapan Shinael. “Sebenarnya kau tidak sadar ada Manstria di sana kan?”
“Tentu saja aku tahu! Ini bukan berarti kita adalah tim pembasmi Manstria, bukan?” balas Shinael sambil cemberut.
“Sudah-sudah. Tidak perlu ribut lagi. Nanti kalau didengar Manstria yang lain lagi, bagaimana?” ucap Arthur untuk menenangkan semua orang, dan sepertinya itu cukup berhasil.
James dan Harold memberi jempol kepadanya, sedangkan Carolyne mendecikkan lidahnya. Shinael kemudian berbalik untuk kembali memandu perjalanan mereka. Di dalam hatinya ia merasa tenang karena orang-orang ini cukup menyenangkan dan pengalamannya cukup berwarna. Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan sambil mengobrol dengan nada pelan satu sama lainnya.
Tetapi, di sisi lain hatinya Shinael, ia merasa ia tidak ingin membentuk hubungan yang dalam dengan mereka. Sepertinya sisi Manstrianya telah membisikkan sesuatu seperti “kau akan menyesal” atau “kau akan menderita”, dan karena ini adalah instingnya sebagai entitas, Shinael kemudian mendengarkan hal itu.
Sudah sering ia mendapat pengkhianatan dan pemanfaatan dari manusia, karena itulah ia merasa bahwa ia harus waspada saja akan hubungan kedekatan yang terlalu dalam. Tetapi ini tidak berlaku kepada Rizu, hanya pak tua itulah satu-satunya sosok yang benar-benar memiliki hubungan yang kuat dengannya.
Setelah mengambil nafas untuk menenangkan dirinya dan menepis pemikiran dasarnya sebagai entitas. Shinael mencoba untuk merasakan getaran apa pun yang berasal dari lingkungan di sekitarnya. Sayangnya hening sekali tidak seperti sebelumnya. Semakin mereka berjalan, semakin aneh pula rasanya. Rasa hening ini benar-benar menekan dirinya di setiap langkahnya.
“Hei, supaya tidak tegang-tegang amat, mau dengar cerita tidak mengenakkan lainnya?” tawar Shinael kepada mereka. Ia kepikiran untuk menghancurkan keheningan ini dengan mengajak mereka untuk mendengarkan ceritanya.
“Hah?” ucap James dan yang lainnya secara serentak.
“Yah intinya perang antara manusia dan Manstria pernah terjadi di sini,” jelas Shinael untuk memberikan sedikit konteks kepada mereka.
Perang yang sudah merenggut banyak jiwa pada kedua pihak serta memukul para manusia keluar dari Alvus, perang yang membuat Shinael berada di titik kritis kewarasannya, serta perang yang menyatakan bahwa Alvus adalah tanah milik Manstria seutuhnya. Kembali memikirkannya saja membuat Shinael memasang muka tidak nyamannya.
James dan yang lainnya bingung apakah harus menerima tawaran itu atau tidak karena mereka sudah lelah mendengar berbagai hal tentang yang sudah dilakukan oleh orang-orang yang pernah berada di level ini sebelumnya.
“Setelah kupikirkan lagi, tidak jadi deh, hehe.” ekspresinya menunjukkan bahwa ia sengaja mengucapkan sesuatu yang terdengar berat dan gelap untuk dibahas, mungkin ia hanya ingin menggoda mereka saja.
Tetapi rasa penasaran tentunya pasti ada, memang perangnya itu bagaimana? Album sebelumnya tidak membahas soal masa perang yang disebutkan oleh Shinael, sehingga akhirnya Shinael pun ditanya soal masa masa tersebut. Shinael merasa ragu, tetapi pada akhirnya ia pun menuruti.
Di tengah lorong yang panjang itu Shinael mulai bercerita kembali, kali ini ekspresinya jauh lebih serius karena kenangan cerita ini adalah salah satu kenangan buruknya. Ia pun mengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya, deburan kenangan gelap kemudian memenuhi pikirannya, tetapi ia dengan sigap memasang topeng wajah untuk menyembunyikan perasaan aslinya.
“Dahulu manusia sempat unggul, tetapi, karena Manstria terus belajar, keadaan pun berbalik.” Shinael kemudian menjelaskan soal bagaimana Manstria belajar dari manusia untuk mengembangkan diri mereka.
Dahulu Manstria takut terhadap manusia, lalu seketika manusia yang malah takut kepada mereka. Dahulu manstria dijebak, lalu kemudian manusia lah yang dijebak. Dahulu Manstria diserang, lalu giliran manusia yang diserang.
Shinael menyebutkan bahwa apa yang dilakukan oleh Manstria itu sebenarnya cukup menarik karena menjadi contoh bagaimana suatu makhluk belajar dari pengalaman mereka walau mereka harus mengorbankan beberapa dari diri mereka sendiri. Tetapi semua pengorbanan itu berhasil untuk menendang umat manusia keluar dari tanah mereka.
Manstria belajar taktik, pembuatan senjata, serta mengombinasikan sisi buas mereka dengan sisi cerdas mereka, alhasil Manstria menjadi mesin pembunuh yang sulit untuk dihentikan! Bahkan api yang menjadi kelemahan terbesar mereka saja sudah bisa mereka atasi.
Sayangnya manusia tidak begitu, mereka tidak belajar dengan benar dan tetap bersikeras untuk mempertahankan wilayah yang telah mereka rampas dari Manstria. Seharusnya mereka merelakan semua itu begitu saja dan membiarkan Manstria mendapatkan kembali tanahnya, tetapi manusia enggan untuk menerima hal itu.
Di tengah panasnya peperangan itu, Manstria dengan sifat anomali pun muncul sebagai senjata terkuat Manstria. Ada beberapa dari mereka yang mungkin telah dimusnahkan oleh manusia, namun beberapa lagi masih berkeliaran hingga saat ini sehingga mereka yang masih berkeliaran itu lah yang menjadi ancaman utama saat ini.
Seketika atmosfer menjadi lebih suram, para monster yang disebut-sebut sebagai Manstria beranomali ternyata masih berkeliaran di luar sana! Para manusia yang bersama dengan Shinael saat ini mulai merasa takut dan mengkhawatirkan diri mereka, apakah jangan-jangan para monster itu sedang memperhatikan mereka?
“Semuanya, bagaimana kalau kita lanjut saja lagi? Obrolan ini rasanya menurunkan semangat kita,” tanya James kepada mereka semua. Mereka saling berpandangan dan akhirnya mengangguk serentak.
“Yah maaf soal itu. Semakin lama kita di sini, akan semakin ada pihak yang sudah tidak sabar,” sambung Shinael sambil mengangkat kedua bahunya. Yang lainnya turut setuju, mereka sudah tidak sabar untuk keluar dari sini secepatnya karena ada yang menunggu mereka di luar sana.
Jauh di dalam pikiran Shinael, sebuah potongan teka-teki yang telah lama kosong akhirnya terisi, ia akhirnya mengetahui jawaban-jawaban yang selalu ia cari selama ini. Bagaimana para manusia bisa terus berdatangan? Siapa yang membawa mereka? Dan lain sebagainya. Hatinya merasa panas, sepertinya sisi Manstria-nya mulai keluar setelah potongan-potongan jawaban itu berhasil ia dapatkan.



