BTM:GyT 17 - "Kehancuran 2"

penilaian: 0+x

Namun, tiba-tiba tubuh Shinael bergetar, ia tahu bahwa saat ini ada Manstria yang menyebarkan serangan bertipe serangan psikis yang sangat kuat. Shinael sangat mengenal serangan psikis ini karena hanya ada satu Manstria saja yang mampu melakukannya, salah satu tipe anomali yang sangat ia kenali.

“WAH!” teriak Shinael secara spontan.

Sadar bahwa ada serangan psikis yang menyerang mereka, Shinael kemudian memberitahu James dan yang lainnya untuk segera meminum Air Almon. Tanpa banyak tanya mereka langsung melakukannya.

Ia tahu bahwa serangan psikis itu sebenarnya ditujukan kepada manusia bukan Manstria, tetapi Manstria tetap akan terkena serangan psikisnya walau hanya sekedar menggetarkan tubuh mereka saja karena serangan itu berbentuk “gelombang” yang luas.

Lalu apa dampak untuk manusia? Serangan mental. Manusia tidak menyadari serangan psikis dan dampaknya sehingga tidak sedikit manusia yang menjadi korban serangan psikis ini, mereka berpikir bahwa mereka waras dan berpikiran jernih walau sebenarnya tidak.

Namun, efek ini diketahui masih dapat dicegah dengan meminum Air Almon walau tidak akan efektif lagi jika sudah terlalu parah. Shinael kemudian mengajak mereka untuk terus berbicara untuk memastikan mereka tetap berada dalam kondisi normal, ia kemudian bertanya kepada mereka apa yang hendak mereka lakukan setelah keluar dari sini.

“Mungkin setelah ini aku mau mengusung protes sekaligus menjelajah ke berbagai level lain,” ucap James.

“Aku sama dengan James, namun bedanya aku akan meneruskan pekerjaanku,” ucap Harold.

“Kalau aku sepertinya akan melanjutkan yang biasa aku lakukan, pengarsipan dan menolong orang-orang semampuku,” ucap Arthur.

“Aku ingin melanjutkan penelitianku, terutama karena aku ingin membedahmu,” ucap Carolyne yang masih memberi rasa takut pada Shinael seperti biasanya.

Shinael kemudian berpikir sebentar, sepertinya cukup aman walau ia merasa masih ada yang aneh, tetapi mungkin itu bisa saja hanya perasaannya saja. Di mana pun lokasi Manstria anomali itu berada, Manstria itu telah melakukan serangan kejutan yang luar biasa.

Ia tahu bahwa Manstria anomali itu pasti sudah mengetahui tentang rombongan yang ia jaga, tetapi posisinya masih tidak ia ketahui berada di mana. Ia kemudian memutuskan untuk memberitahukan mereka apa yang terjadi karena mereka sudah pasti sedang kebingungan saat ini.

“Kalian diserang oleh salah satu tipe anomali yang memiliki kemampuan psikis,” ucap Shinael sambil membantu mereka berdiri.

“Mereka bisa menggunakan kekuatan psikis?” tanya Carolyne.

“Sejauh ini baru satu yang kuketahui.”

“Hebat. Mereka semakin aneh saja.” Carolyne menyandarkan dirinya ke tembok dengan wajah heran dan kagum.

Shinael mengangguk, ia tahu bahwa kaumnya itu memang sesuatu sekali.

“Apa dampaknya?” tanya Arthur.

“Apa berbahaya?” sambung Harold.

Shinael menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak berbahaya, bahkan efeknya akan hilang setelah beberapa lama. Tetapi jika muncul suatu pemicunya maka efek psikis itu akan menggerogoti mental kalian.”

“Pemicu?”

“Yah. Pemicu dapat berupa macam-macam, oleh karena itu kalian harus berhati-hati dan waspada pada perubahan perasaan yang kalian alami. Pemicu ini bisa karena rasa takut maupun panik, namun ada pula laporan di mana kondisi parah muncul dengan sendirinya tanpa pemicu, jadi kalian harus benar-benar waspada dan selalu melaporkan hal yang tidak enak di pikiran kalian kepadaku.”

Ia kemudian mengingatkan mereka untuk tidak memaksakan diri mereka kali ini, jika mulai merasa tidak nyaman maka mereka harus memberitahukannya. Tidak ada yang boleh menyembunyikan isi kepala mereka pada saat ini, mereka harus saling memberitahukan apa pun yang mereka rasakan.

Semua mengangguk sebagai respon terhadap perintah Shinael tersebut. Rombongan mereka kemudian melanjutkan perjalanan karena dalam beberapa belokan lorong lagi mereka akan tiba di tangga menuju sektor berikutnya, tidak disangka mereka satu sektor lebih dekat dengan pintu keluar.

Usaha mereka selama ini tidaklah sia-sia, taktik lari dan sembunyi telah berkerja dengan sangat baik sejauh ini. Lalu kemudian, sebuah papan tanda seketika menarik perhatian Carolyne di tengah perjalanan.

“Ah aku mau ke kamar mandi,” ucapnya.

Shinael memberi tanda kalau tidak ada Manstria di kamar mandi, syukurlah, akan mengerikan ketika kamu sedang menikmati waktumu lalu diganggu oleh makhluk setinggi beberapa meter yang sedang mencari dirimu untuk dimakan. James dan yang lainnya kemudian menunggu di luar tempat itu sambil berjaga-jaga jika ada Manstria.

Shinael merasa ini hal yang beresiko karena pada dasarnya saat ini mereka sedang terpisah dan berada di kondisi yang kurang menguntungkan jika kabur dari Manstria—karena satu anggota akan tertinggal. Shinael hendak mendatangi Terminal Merah terdekat untuk mengecek keberadaan Manstria namun ia merasa enggan untuk meninggalkan kelompok.

James kemudian memberitahu Shinael untuk tidak masalah untuk meninggalkan kelompok karena para pria di sini siap menjaga dengan persenjataan mereka. Shinael kemudian mengiyakannya dan segera pergi, lagipula jarak menuju Terminal Merah terdekat tidaklah jauh.

Ia ingin mengecek keberadaan Manstria dan memastikan keberadaan si pemancar serangan psikis tadi—jika masuk ke dalam jangkauannya. Shinael mengambil jalur tempat yang sebelumnya mereka lalui karena jalur itu lebih dekat dan mereka sudah memastikan tidak ada Manstria ketika mereka melewatinya tadi. Lalu, setelah beberapa menit berlalu Shinael lari pontang-panting ke arah mereka dan meneriaki mereka untuk lari.

Shinael kemudian meneriaki Carolyne supaya dirinya bersembunyi di dalam kamar mandi tersebut dan mereka akan datang menjemputnya nanti. Shinael ternyata dijebak, Terminal Merah itu sudah ditunggui oleh beberapa Manstria yang sudah mengetahui tentang Shinael yang membawa rombongan manusia bersamanya.

Mereka ingin manusia, mereka lapar, dan caranya adalah dengan merebut para manusia itu dari Shinael. Para Manstria itu cerdik, mereka membuat diri mereka tidak dapat dideteksi oleh Shinael dengan cara berpura-pura sebagai benda mati karena menyatukan diri dengan Terminal Merah.

Ketika disentuh oleh Shinael, mereka terbangun dan langsung menyerang Shinael. Jumlah mereka terlalu banyak untuk Shinael atasi sendirian, untung saja Shinael masih bisa kabur setelah menghabisi beberapa dari mereka.

Mereka berempat kemudian berlari melewati jalur baru yang di mana jalur ini memutar dan akan kembali ke lokasi kamar mandi tadi, namun, jaraknya sangatlah jauh dan rumit sehingga mereka sudah dipastikan akan kelelahan di tengah perjalanan.

Tangga menuju sektor berikutnya ada di depan mata dan kali ini mereka akan mengabaikannya demi menjemput Carolyne, sebuah perempatan penentu nasib di mana arah kiri adalah jalur yang akan mereka ambil sebagai jalur memutar, namun, hal mengejutkan terjadi.

Seperti ada yang membisikinya, Arthur melakukan sesuatu yang tidak diduga. “Hei kalian para monster payah! Kejar aku!” ucap Arthur sambil berlari memisahkan diri dari kelompok.

Ia benar-benar melakukannya, ia menjadi umpan. Ia berlari secepat kilat melewati jalur yang berlawanan dengan lorong yang diambil anggota kelompoknya yang lain. Jalur sebelah kanan, yang di mana jalur ini akan membawamu entah ke mana.

“Tidak! Arthur! Kembali!” teriak James. Anggotanya itu malah berlari ke arah lain.

Ia mengorbankan diri supaya yang lainnya bisa pergi. Tetapi apa yang terjadi? Manstria mengabaikan Arthur dan tetap mengejar rombongannya James. Kini, entah bagaimana nasib Arthur ke depannya, yang pasti James harus bisa melarikan diri apa pun yang terjadi.

“Whoa, sepertinya efek sampingnya sudah dimulai!”

“Gah!” Shinael tertusuk tombak tulang ketika mencoba untuk memisahkan diri dari rombongan, ia ingin menjemput Arthur namun terhalang oleh para Manstria itu.

“Shina?!” James mencoba meraih Shinael yang langkah kakinya mulai melambat.

Sebuah cambuk berujung pedang tulang terbentuk dari rambut Shinael dan langsung menebas para Manstria yang mengejar mereka, walau para Manstria itu berhasil menangkis, setidaknya itu cukup memberi jarak di antara kedua kelompok itu.
Shinael mencabut tombak itu dan meregenerasi lubang yang ada di kakinya itu, “Aku baik-baik saja. Walau kepalaku hilang pun aku akan masih baik-baik saja kok! Jangan remehkan diriku sebagai Manstria dan teruslah berlari!”

James kemudian kembali ke sisi Harold dan terus berlari sekuat tenaga, “Apa kau ada rencana?!”

“Kalian teruslah berlari, aku akan menahan mereka dengan senjata pamungkasku!” jawab Shinael sambil berhenti di tengah lorong.

Sambil berlari Shinael memutar tubuh bagian atasnya 180 derajat sambil mengarahkan dan menempelkan kedua lengannya ke arah para Manstria yang mengejar mereka. Aliran listrik dapat terlihat mengalir di sepanjang kedua lengan yang telah menyatu membentuk tombak organik itu. Lengan barunya itu berpijar serta dipenuhi percikan listrik yang meledak-ledak di sepanjang permukaannya.

Ketika James melihat apa yang sedang dilakukan oleh Shinael tersebut, James langsung berteriak, “Aku tidak mengerti tetapi selamatkan diri kalian!”

“Shina! Apa yang sebenarnya akan kau lakukan?!” lanjut Harold.

“Pokoknya terus lari saja! Aku akan baik-baik saja!”

“Awas!” Harold menarik James untuk menunduk seketika suara ledakan hebat terdengar di belakang mereka berdua dan gelombang kejut yang dahsyat menekan tubuh mereka.
Ketika mereka berdua melihat ke arah belakang, mereka bisa melihat bahwa lorong dan para Manstria yang mengejar mereka telah hangus terbakar dan sisa berhamburan di sepanjang lorong. Namun, Shinael tidak, dengan tubuh dialiri listrik yang bersinar ia tersenyum sambil berkata, “Tuh kan. Ku bilang juga apa. Ayo kita kembali menjemput teman-teman kita!”

“Aku tidak percaya … itu sudah seperti EMP!” ucap Harold yang terperangah akibat kemampuannya Shinael.

James juga memiliki reaksi yang sama, “Aku tidak tahu apa itu tetapi aku terkejut kalau kau punya kekuatan sehebat itu.”

Berbeda dengan mereka berdua yang gemetar dengan potensi mengerikannya Shinael, di sisi lain Shinael dengan wajah penuh kepuasan menumbuhkan kembali kedua lengannya yang telah musnah akibat menggunakan jurus pamungkasnya.

“Senjata yang berbahaya, kedua lenganku sampai hancur dan harus kutumbuhkan lagi. Jika terlalu sering digunakan maka yang lain bisa saja akan mempelajarinya lalu menirunya. Yah, aku salah satu dari para anomali itu dan aku berhasil merahasiakannya selama ini,” ucap Shinael dengan tubuh yang masih berpijar kebiruan.

Kedua pria itu menelan ludah pahit karena itu benar, bagaimana jika para Manstria lainnya malah jadi memiliki kemampuan yang sama jika Shinael terus-terusan menggunakan kemampuan itu? Tidak heran jika Shinael baru menggunakannya kali ini setelah semua yang terjadi.


Di sisi lain, Manstria “hantu” itu kembali lagi dan memojokkan Carolyne ke sudut ruangan. Manstria itu memanjangkan tentakelnya dan mulai membaluti kaki Carolyne dengan pilinan tentakel kemerahan yang lengket, Carolyne terlalu takut untuk berteriak, bahkan kedua bola matanya terkunci ke arah Manstria itu.

Ia diam membisu seperti patung, tentakel Manstria itu terus membalutinya. Manstria itu mengambil dan membuka kotak obat Carolyne, deretan obat-obatan penyembuh luka dengan cepat yang meniru kecepatan regenerasi Manstria. Manstria itu memakan salah satu pil obat itu, seluruh tubuhnya berdenyut, denyutannya dapat terlihat dan secara perlahan membengkak.

Manstria itu menyadari sesuatu, ia membuka penutup kain yang menutupi tubuhnya. Di situlah Carolyne baru berteriak. Manstria itu langsung membungkam Carolyne dengan pil-pil obatnya sendiri, tentakel itu masuk ke dalam mulutnya, mendorong semua pil itu dengan paksa masuk ke dalam tenggorokannya.

Sang dokter yang begitu bangga akan obatnya dan hendak menggunakan obat-obat itu kepada rekannya sendiri kini merasakannya sendiri. Dosis berlebih, begitulah istilahnya. Manstria itu semakin penasaran dengan entah obat apa yang ia temukan kali ini.

Dua manusia, dua cerita, dua akhir berbeda. Manusia makhluk yang unik, hidup sendirian dan berakhir sendirian, hidup ambisius dan berakhir merasakan nektarnya. Manusia selalu memiliki cerita di awal maupun di akhir kehidupannya. Lalu bagaimana dengan Manstria? Tentu mereka juga punya kehidupan.

Mereka lahir dalam jumlah besar dan harus mengarungi dunia yang tidak jelas ini bersama-sama. Saking banyaknya, Manstria kini dapat ditemui setiap beberapa ratus sampai puluh meter, mereka semakin ramai, kemungkinan untuk tidak bertemu dengan salah satunya sangatlah kecil.

Mereka terus berdatangan, terus mencari, hanya untuk mencicipi rasa daging segar. Tidak ada yang tahu apakah rombongan James dapat menerobos semua deretan Manstria itu karena nyatanya para Manstria kini sudah mengetahui lokasi mereka. Kemana mereka berlari, akan ada Manstria yang akan menghalangi mereka.

Satu demi satu Manstria mungkin telah disingkirkan oleh Shinael, tapi itu tidak ada artinya karena mereka akan terus berdatangan. Tidak seperti manusia yang kini seperti tikus dalam perangkap labirin, mereka lemah dan tak berdaya, hanya menunggu momen sampai mereka berhenti seutuhnya.

“Arthur sudah berada di luar jangkauan deteksiku,” ucap Shinael di hadapan lorong yang diambil oleh Arthur sebelumnya.

“Apa kita bisa menjemputnya?” tanya Harold.

“Aku tidak yakin sudah sejauh apa dia pergi, tetapi tidak ada jaminan ia masih hidup karena aku merasakan beberapa Manstria di arah sana. Ia menembus para Manstria itu dan membuatku menjadi skeptis.” Shinael kemudian menunjuk jauh ke dalam lorong itu.

James dan Harold seketika tidak terima akan hal itu, yang benar saja hal ini terjadi! Mereka berdua kesal karena mereka telah kehilangan salah satu temannya, mereka tidak menyangka bahwa kejadiannya terjadi secepat ini.

“Bagaimana kalau kita menjemput Carolyne saja?” tanya Shinael kepada mereka berdua.

James kemudian berpendapat bahwa memang sebaiknya menjemput Carolyne saja, mereka kemudian setuju. Dalam keadaan sangat kelelahan, mereka akhirnya berhasil tiba di lokasi semula yaitu kamar mandi. Namun, yang mereka dengar hanyalah suara tertawaan yang tidak manusiawi dari dalam kamar mandi tersebut.

Shinael mengkonfirmasi keberadaan dua Manstria dari dalam kamar mandi yang membuat James dan Harold mau tidak mau meninggalkan lokasi tersebut dan terus maju saja.
“Sudah tidak ada harapan lagi,” ucap Shinael sambil menggelengkan kepalanya.

James dan Harold kembali meminta Shinael untuk melakukan sesuatu tentang Carolyne, tetapi dirinya menolak, ia menjelaskan bahwa sudah terlambat untuk menolong karena Manstria telah berada di sana dalam waktu yang lama sehingga Carolyne sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

Jawaban itu membuat James dan Harold terlihat depresi, siapa sangka bahwa mereka kehilangan dua anggota secara bersamaan. Rasanya ini terlalu cepat, rasanya ini tidak benar. Mereka telah berjanji akan keluar bersama-sama tetapi hasilnya malah seperti ini.

Bagi Shinael yang sudah terbiasa akan hal ini, bagi Shinael yang sudah tahu bahwa dampak dari serangan psikis tersebut masih belum hilang sepenuhnya, ia menutup matanya, dan tetap berjalan ke depan menuju sektor berikutnya.

Tidak ada yang tahu entah apa yang ada di pikiran Arthur, tetapi Shinael tahu bahwa itu adalah dampak dari paparan serangan psikis yang tadi. Serangan psikis itu pernah ditembakkan sebelumnya oleh Manstria yang sama, hasilnya adalah kegilaan masal dari orang-orang yang mengunjungi level.

Mereka menyebabkan kekacauan dan saling membunuh, menyatakan rekannya sendiri adalah Manstria yang menyamar, dan bahkan menyerang Shinael. Air Almon tampaknya tidak dapat menyembuhkan para terdampak sehingga penanggulangan terhadap dampak serangan psikis masih belum ditemukan.

Bisa dibilang, si Manstria pengguna kemampuan psikis itu sangatlah hebat dan kuat. Selain itu ia juga sangat ahli dalam bersembunyi untuk melancarkan serangannya sehingga ia benar-benar ahli strategi yang berbahaya. Sedangkan Shinael, ia memutuskan untuk tetap berada di jalurnya dan melakukan apa yang diperlukan saja: jaga mereka yang tersisa sampai ke lokasi berikutnya.

Ia tahu bahwa Manstria misterius itu hanya akan melakukan serangannya sekali dalam kurun waktu yang lama saja sehingga ini adalah giliran dirinya untuk bergerak. Bergerak terus sampai akhir ke berbagai titik tujuan berikutnya, hingga pada akhirnya mereka berhenti seutuhnya.


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License