BTM:GyT 12 - "Kilas Balik 1"

penilaian: 0+x

Seorang pria terlihat sedang berjalan di tepi jalanan aspal yang sepi. Rizu, seorang pria paruh baya yang telah terjebak selama bertahun-tahun di neraka tanpa akhir bernama Backrooms ini. Tidak ada jalan keluar dari dunia ini dan hanya ada masa depan yang tidak jelas di hadapannya.

Ia sebelumnya hanyalah orang biasa dengan keluarga sederhana sekaligus seorang karyawan yang baru saja menikmati jabatannya di sebuah perusahaan biasa, namun, Backrooms merenggut dan memisahkan dirinya dari apa yang ia miliki begitu saja.
Suatu takdir yang kejam dan tidak adil, tetapi apa yang bisa ia lakukan?

Backrooms selalu menangkap siapa pun tanpa pandang bulu sesukanya. Kini, pria malang itu hanya bisa menikmati sisa hidupnya tanpa keluarga dan tanpa masa depan yang jelas. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah berkelana tanpa tujuan sampai Backrooms mengambil nyawanya.

Ia adalah satu dari sekian banyak jiwa malang yang terperangkap di dunia yang kejam ini, dia harus mati-matian bertahan hidup selama yang ia mampu karena ia tidak ingin mati di dunia yang rusak ini. Entah apa yang masih mendorongnya hingga saat ini karena kebanyakan orang akan memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Mungkin sebuah tujuan super ambisius yang tidak semua orang miliki? Entahlah, apa pun itu, dorongan itu cukup kuat untuk membuatnya tetap hidup hingga saat ini. Karena tidak semua orang bisa membuat lalu mempertahankan dorongan seperti ini, maka Rizu patut untuk diacungi jempol.

Backrooms mungkin telah bersikap lembut karena masih membiarkan manusia pergi ke mana pun yang mereka mau dan memberi kesempatan untuk bertahan hidup selama yang manusia itu mampu. Backrooms bahkan menyediakan berbagai hal yang mampu dimanfaatkan oleh para manusia untuk terus bertahan seperti keberadaan sumber daya dan level yang aman untuk ditinggali.

Tetapi tetap saja para manusia tidak boleh terlena akan anugerah yang diberikan oleh Backrooms karena bisa saja anugerah itu dapat berubah menjadi kutukan yang pedih, bukan? Jangan percaya begitu saja kata mereka, ya itu memang benar dan harus didengarkan karena Backrooms penuh dengan tipu muslihat.

Rizu merasa lelah dengan semua itu dan ingin sekali beristirahat setelah menelusuri dunia bernama "Level Mega Langit" ini selama berhari-hari. Penjelajahan ini benar-benar sangat melelahkan sampai-sampai menuntut fisik dan mentalnya ke ujung ubun-ubunnya. Sebentar, Mega Langit? Apa itu? Seperti apa wujudnya?

Informasi tentang berbagai dunia yang telah ditemukan sejauh ini telah dikumpulkan oleh mereka yang juga terjebak di dalam Backrooms, dan akhirnya disebarkan secara publik tanpa ada manipulasi informasi. Tidak heran informasi tentang Mega Langit bisa ia dapatkan dari orang lain dengan mudah.

Mega Langit merupakan sebuah jembatan suspensi tunggal tanpa batas yang tampaknya berada di atas awan, tidak ditemukan struktur selain jembatan dan gedung-gedung di level ini sejauh mata memandang.

Tempat yang aneh bukan? Entah sudah berapa lama ia terus melangkah di jalanan hening ini karena satu hari di sini tidak sama dengan satu hari di bumi, dua kali lipat menurutnya. Ia tidak ada waktu untuk mengeluhkan durasi siang malam yang dua kali lipat lebih lama sampai-sampai membuatnya harus kesulitan dalam menentukan waktu tidur.

Ia harus segera menemukan koloni dari korban Backrooms lainnya yang dikabarkan telah membuat tempat tinggal pada suatu tempat di jembatan ini — koloni dari para penyintas Backrooms. Ia ingin melihat peradaban kembali walau itu hanya sebatas koloni kecil saja, mungkin karena ia adalah makhluk sosial karenanya ia ingin kembali melihat manusia lainnya.

Para penyintas diketahui telah membentuk koloni dan tersebar di sepanjang jembatan, dan Rizu hanya perlu menemukan mereka entah di mana pun mereka. Jembatan ini tidak jelas panjangnya, walau terkesan mustahil untuk menemukan mereka, tetapi kemungkinannya tidak lah nol. Mereka yang memiliki sisi optimis pasti akan berupaya meraih kemungkinan itu, bukan?

Pria itu kemudian beristirahat sebentar pada sebuah rongsokan kendaraan mobil yang terdapat pada tepi jembatan, ia mengecek rongsokan itu dan tidak menemukan apa pun yang dapat ia manfaatkan, akhirnya ia memilih untuk mengistirahatkan kedua kakinya di dalam kendaraan itu. Sambil menyandarkan diri pada kursi kendaraan itu ia kembali membuka buku catatannya, ia memperbaiki posisi kacamatanya yang agak turun karena keringat yang telah membasahi pelipisnya.

Rambu-rambu penanda jarak dalam satuan kilometer dapat ditemukan di sepanjang jembatan, namun rambu-rambu ini tidak dipasang secara berurut dan jarak antara rambunya bervariasi, beberapa rambu bahkan menunjukkan karakter tak dikenal atau berupa rambu kosong.

Rambu-rambu ini biasanya dijadikan penanda terhadap suatu hal, misal keberadaan gedung layak huni yang dapat diraih atau sebagai penanda keberadaan koloni penyintas di atas jembatan.

Sesuai catatan tersebut, rambu-rambu di jembatan ini dalam keadaan acak nan tak teratur dan tentu saja sesuai dengan tema Backrooms yang acak nan tidak jelas. Ia bahkan tidak tahu apakah ia sudah berjalan ke arah yang benar atau tidak. Sudah berhari-hari ia berjalan di sepanjang jembatan dan menemukan beberapa rambu-rambu, namun tidak satu pun koloni yang ia temukan.

Ia hanya harus untuk terus berjalan maju mengingat ia sudah melakukan hal ini sejak bertahun-tahun ia di Backrooms, ketika sudah tidak ada harapan untuk pulang ia kemudian memilih untuk berputar-putar di berbagai dunia Backrooms hingga akhirnya ia memilih untuk tinggal secara permanen suatu saat nanti.

Berbicara tentang tempat tinggal permanen, ada beberapa level yang dapat dijadikan tempat tinggal permanen karena level itu sangat mendukung kehidupan berkelanjutan. Entah aman dari ancaman bentuk kehidupan berbahaya, medan yang tidak berbahaya, atau level itu memiliki dukungan terhadap penyediaan sumber daya berkelanjutan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan level tersebut menjadi tempat tinggal permanen oleh para manusia.

Mega Langit termasuk dari deretan level aman tersebut, walau sebenarnya level ini kurang direkomendasikan untuk ditinggali karena masalah logistik dan sumber daya yang sebenarnya kurang mencukupi untuk mendukung kehidupan berkelanjutan. Namun tetap saja para manusia membangun tempat tinggal di sini entah apa alasannya.

Selama ia beristirahat ia teringat akan masa lalunya, masa sebelum Backrooms datang menangkap kedua kakinya untuk menyeret dirinya ke dalam dunia ini. Waktu itu adalah hari yang biasa di kehidupannya, pergi pagi lalu pulang ketika petang, berjuang untuk mendapatkan uang agar kehidupannya semakin mapan.

Dan sama seperti para korban Backrooms lainnya, tanpa peringatan dan muncul tanpa diduga, kedua kaki Rizu tiba-tiba tidak menapak di atas lantai itu — menembus lalu terjatuh ke bawah. Bukannya masuk ke dalam tanah, ia mendapati dirinya berada di dunia yang aneh, yang bukan bumi tentunya.

Seharusnya waktu itu menjadi petang lainnya dalam hidupnya, tetapi malah menjadi sebuah bencana yang tak terjelaskan. Ia langsung menepis ingatan lama itu sebelum membuatnya tenggelam semakin dalam di dalam masa lalu dan berujung pada depresi, ia tahu bahwa ia harus terus melangkah maju bukan terus melihat ke belakang.

Sepertinya istirahatnya sudah cukup, ia sudah merasa sedikit segar dan memutuskan untuk naik ke atas rongsokan mobil itu untuk menikmati angin yang terus berhembus di sepanjang jembatan. Ia merentangkan kedua tangannya di atas rongsokan itu dan menikmati balutan angin sejuk yang mulai menghapus keringatnya.

Level ini sangat sejuk tidak peduli seberapa terik sinar mataharinya … walau hanya ada cahayanya saja tidak dengan mataharinya — aneh. Ia memandang ke arah luar jembatan, tampaklah kepulan awan yang terlihat seperti ombak karena diterpa oleh angin.

Pemandangan yang sangat menenangkan itu dan suara hembusan angin lembut membuat mentalnya sedikit lebih tenang. Mungkin inilah yang menjadi daya tarik level ini, perasaan damai kepada siapa pun yang melihat pemandangan indahnya.

Perasaan damai itu kemudian berakhir ketika ia mendengar sesuatu dari kejauhan yang mendekati dirinya, suara kendaraan yang sedang bergerak. Ia kemudian melihat ada sebuah mobil bergerak ke arahnya dari arah tempat ia berjalan sebelumnya, dengan sigap ia bersiap untuk melompat ke arah mobil tersebut.

Sebuah bunyi hantaman dapat terdengar, ia dengan berani melompat ke arah mobil yang sedang melaju itu dan berhasil berpegangan di atas penutup mesinnya. Yah, walau itu terasa cukup menyakitkan, setidaknya kini ia dapat menumpang di atas mobil itu.

Rongsokan kendaraan mobil maupun truk dapat ditemukan di beberapa tempat, rongsokan-rongsokan ini masih dapat diperbaiki lalu digunakan dengan normal. Namun, para penyintas lebih memilih untuk "menangkap" kendaraan-kendaraan yang melaju dengan sendirinya (tanpa ada yang mengendarai) di sepanjang jembatan dengan menggunakan ranjau paku.

Keberadaan kendaraan seperti ini sangat jarang dan dapat tiba-tiba muncul begitu saja, sehingga para penyintas akan selalu waspada untuk menangkap kendaraan-kendaraan ini.

Yup, tidak ada pengemudinya, aneh bukan? Tetapi Rizu memanfaatkan keanehan ini untuk mempermudah perjalanannya, bukan menangkapnya, melainkan memilih untuk menumpang supaya dirinya bisa sampai ke koloni terdekat.


Koloni "Gagak Merah", sebuah koloni kecil yang terletak di sekitar rambu bertuliskan KM 66 dan dinamai demikian karena warna rambunya yang merah dan populasi burung gagak di daerah itu yang cukup menonjol.

Sebuah gedung pencakar langit dapat terlihat berdiri di salah satu sisi jembatan, gedung ini berjarak sekitar belasan meter dari tepi jembatan dan para penyintas sudah membangun jembatan untuk menghubungkan gedung itu dengan koloni mereka.

Pada momen itu, gedung itu digunakan untuk keperluan hal-hal penting koloni dan sebagai gudang suplai. Para penyintas yang tinggal di koloni tidaklah besar, hanya beberapa puluh orang saja dan membangun tempat tinggal dari rongsokan-rongsokan kendaraan yang telah dimodifikasi menjadi rumah mungil serta disusun berderetan di sepanjang jembatan.

Koloni ini bisa dibilang memiliki daya tarik tersendiri, ornamen gagak berwarna merah dapat terlihat pada setiap rumah seolah-olah telah menjadi jati diri mereka. Secara simbol warna merah berarti keberanian, yang berarti para penyintas yang tinggal di koloni adalah para pemberani yang telah menjajalkan kaki mereka sampai sejauh ini.

Sedangkan untuk gagak sendiri, sebenarnya karena hewan ini cukup banyak saja maka mereka dijadikan simbol. Namun, jika kita telusuri secara simbolis hewan gagak selalu dikaitkan pada hal-hal yang berkaitan dengan bencana, dan tampaknya cocok dengan para penyintas yang merupakan korban dari bencana kerusakan realitas yang membuat mereka terdampar di dalam Backrooms.

Terlepas dari semua itu, Gagak Merah merupakan koloni yang ramah dan sangat membantu Rizu, mereka menerima orang biasa seperti dirinya sebagai bagian dari mereka. Sepertinya ini menjadi bukti bahwa orang-orang di Backrooms tidaklah sama dengan orang-orang di Bumi.

Mereka memang hidup susah dan sedikit aneh, tetapi mereka tahu bahwa mereka sama-sama korban dari Backrooms dan itu membuat mereka menjadi lebih sadar akan status mereka sebagai makhluk sosial. Tanpa membantu atau dibantu mereka akan musnah lebih cepat dan mustahil dapat bertahan sejauh ini.

Orang-orang di Backrooms hidup dengan satu tujuan yang sama, bertahan hidup, tentu itu membuat mereka harus saling menolong karena tidak mungkin bagi mereka untuk berjuang sendirian saja. Berjuang sendirian? Orang aneh mana yang mampu hidup sendirian di dunia yang gila ini?

Backrooms tampaknya menghapus keegoisan manusia sampai keakar-akarnya, membuat mereka menjadi lebih terbuka pada sesamanya karena kebersamaan akan membuat mereka mampu bertahan layaknya kumpulan lidi rapuh membentuk sapu lidi yang kuat.

Mungkin memang terdengar gila karena ada saja orang-orang yang mendedikasikan diri mereka untuk menolong orang lain atau mencari tempat tinggal baru untuk orang lain, tetapi begitulah para penyintas Backrooms, mereka benar-benar berbeda dengan orang-orang di Bumi.

Pada dasarnya mereka tidak peduli dengan bagaimana cara mereka meninggal nantinya karena Backrooms tetap akan memanen nyawa-nyawa mereka, oleh karena itu mereka memilih untuk setidaknya melakukan sesuatu yang baik ketika momen itu terjadi—tidak ada penyesalan lagi katanya.

Tidak terkecuali Rizu, ia ingin bergabung dengan sekelompok penyintas yang menyebut diri mereka sebagai Satuan Penyintas Backrooms (SPB) karena ia ingin setidaknya melakukan sesuatu yang baik kepada sesamanya dan … supaya terdengar sedikit lebih keren dibanding para penyintas lainnya.

Para penyintas ini bisa dibilang cukup disegani karena merekalah yang akan menyediakan bantuan suplai maupun keamanan untuk sesamanya, mungkin bisa dianggap sebagai pahlawan. Siapa yang tidak mau dikatakan pahlawan?

Tentu menjadi pahlawan yang menolong orang banyak adalah keinginan para orang-orang berhati besar dan Rizu pun ingin dianggap demikian. Alasannya sederhana, ia sudah lelah dengan kehidupannya yang menyedihkan dan ingin melakukan sesuatu yang baru. Bertindak layaknya pahlawan sungguhan sepertinya bukan ide buruk, bukan?

Para SPB yang beroperasi di dalam level ini bermarkas pada suatu gedung, SPB Mega Langit. Yah, gedung bernama SPB Mega Langit itu berjarak cukup jauh dari koloni tempat ia tinggal saat ini walau sebenarnya tidak terlalu jauh jika ia menaiki mobil, tetapi akhir-akhir ini kendaraan itu tidak terlihat lagi.

Mau bagaimana lagi, ia kemudian mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan lagi dengan berjalan kaki setelah beberapa hari tinggal bersama koloni yang telah menaunginya, dan tentu saja ini bukanlah sebuah perpisahan karena ia akan kembali ke koloni ini lagi.

Perjalanan kali ini akan berbeda karena di tengah perjalanan nanti akan ada sebuah gedung yang tidak ada satu pun orang-orang yang tinggal di dalamnya. SPB diketahui telah memeriksa gedung tersebut dan menetapkan bahwa gedung tersebut tidak layak huni sehingga tidak ada satu pun yang mau mendekatinya.

Ketidaklayakan itu dapat terjadi karena banyak faktor, namun biasanya karena kondisi gedung yang tidak memungkinkan untuk ditinggali atau karena faktor lain. Tetapi apa pun alasannya, Rizu hendak mengunjungi gedung tersebut untuk dijadikan sebagai tempat beristirahat sementara nantinya. Bagaimana tidak, perjalanannya kali ini akan cukup jauh ditambah ia melakukannya dengan berjalan kaki.

Perjalanan itu tampaknya akan memakan waktu yang cukup lama, ia sudah berjalan dua harian dan masih ada sekitar tiga sampai empat harian lagi untuk bisa tiba pada koloni berikutnya, setidaknya demikian kata orang-orang dari koloni Gagak Merah.

Awalnya semuanya berjalan lancar hingga keadaan awan di luar jembatan berubah menjadi kehitaman, awan hujan beserta petir mendekati jembatan dan menjadi pengalaman pertama bagi Rizu. Fenomena hujan biasanya cukup jarang dan biasanya hanya berupa hujan ringan, tetapi tidak menutup kemungkinan akan adanya hujan deras.

Hujan yang deras itu mendorong Rizu untuk menerobos pagar pembatas gedung tersebut, ia harus segera berteduh. Gedung ini terletak sangat dekat dengan jembatan dan melompat keluar jembatan adalah satu-satunya cara untuk memasuki area gedung, apalagi ada sebuah balkon beton yang bisa ia jadikan tempat mendarat.

Ia kemudian melompat keluar jembatan dan berhasil mendarat di balkon itu dengan selamat walau lawannya adalah angin yang kencang, sungguh pria yang sangat nekat. Ia melihat sekeliling dan menemukan sebuah jendela yang sudah disegel—sepertinya dahulu bisa dimasuki.

Ia memeriksa segel tersebut dan ternyata ia tidak mampu membukanya. Ia mencoba memecahkan jendela lainnya namun tidak berhasil, entah mengapa jendela tersebut sekeras beton sehingga ia pun menyerah setelahnya. Ia tidak mengerti mengapa jendela yang satu itu bisa dimasuki sebelumnya, entah apa yang dilakukan SPB supaya bisa masuk.

Ia kemudian mencari jalan lain untuk memasuki gedung dan menelurusi balkon itu, terdapat sebuah pagar besi yang cukup tinggi menghalangi jalannya. Angin semakin kuat, awan hujan menghantam tubuhnya yang sedang menaiki pagar tersebut, ia harus melewatinya dengan cepat karena keadaan hujan semakin memburuk sehingga ia harus segera berlindung.

Di balik pagar ia menemukan sebuah pintu besi dan tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalamnya. Di dalam gedung, ia kemudian mencoba mengeringkan pakaiannya. Ia mencoba untuk membuka pintu besi tersebut untuk membuang beberapa sampah yang terbawa oleh angin dan entah dari mana asalnya.

Namun, sekeras apa pun usahanya, gagang pintu tersebut tidak bergerak sama sekali. Dan ketika ia berbalik, hanya ada pemandangan lorong yang memancarkan aura yang tidak mengenakkan tepat ke arah jiwanya.


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License