BTM:GyT 13 - "Kilas Balik 2"

penilaian: 0+x

Benda itu berwarna putih keabuan dan berpendar di kegelapan yang dingin, benda itu berdenyut, urat kemerahan terlihat melintang pada beberapa bagian permukaannya seperti coretan pensil warna merah di atas kanvas putih.
Benda itu dikelilingi oleh sesuatu yang organik, terlihat seperti daging merah segar yang ikut berdenyut sesuai irama benda putih tersebut. Iramanya teratur, begitu tenang di tengah kegelapan yang dingin.

Sebuah pintu terbuka dan cahaya dari luar menyelimuti benda itu untuk pertama kalinya. Sebuah wajah yang tampak sayu dengan kacamata kotaknya menatap ke arah benda itu, tangannya kemudian meraih dan menggenggam benda itu dengan erat.
Irama denyutnya menjadi kacau balau dan semakin sangat acak-acakan ketika sosok itu menarik benda itu dengan paksa mengeluarkannya dari tempat gelap itu. Benda itu jelas merasa panik, ini adalah pengalaman pertamanya melihat makhluk lain selain dirinya.

"Hm, ternyata hanya sebuah larva," ucap pria sayu itu sambil meremas benda berukuran kecil itu di genggamannya, ternyata benda putih itu adalah sebuah larva dari suatu makhluk yang asing.

Ukurannya yang hanya sebesar buah jeruk, permukaannya basah, dan sangat kenyal membuatnya cukup nyaman untuk diremas tidak peduli seberapa kuat pria itu meremasnya—seperti balon air. Ia terus memperhatikannya, beragam pikiran membanjiri pikirannya.

"Ini tidak akan mengenyangkanku," ucapnya sambil menaruh larva itu ke dalam sebuah toples kaca. Ternyata ia hendak mencari makanan dan malah menemukan larva berukuran kecil di tengah usahanya.

Ia menutup gardu listrik itu lalu memeriksa deretan loker besi yang ada di sebelahnya, berharap menemukan makanan atau pun sesuatu yang bisa ia masukkan ke dalam mulutnya. Sebelumnya ia mendapatkan larva, tetapi itu mana cukup untuk memuaskan rasa laparnya, apalagi larva itu harus dimasak terlebih dahulu supaya layak dimakan.

Namun masalahnya ia tidak tahu cara memasak larva ini dan bahan-bahan apa yang diperlukan untuk memasaknya. Ia memutuskan untuk menyimpannya saja karena ia pikir mungkin suatu saat nanti akan berguna.

Larva itu merasa takut dengan apa yang akan ia alami ke depannya, antara dimakan atau tidak, dua takdir yang saling berseberangan namun sama-sama menakuti larva itu. Ia tidak tahu apa yang terjadi jika ia dibiarkan tetap hidup, rasa takut akan ketidaktahuan menyelimuti tubuhnya dan membuatnya mencoba untuk keluar dari dalam toples. Namun, ia hanya bisa pasrah, toples itu telah tertutup dengan rapat.

Mereka berdua kemudian memasuki suatu ruangan, terlihat seperti sebuah kamar tidur normal pada umumnya karena ada kasur dan … lemari dokumen? Ini kan seharusnya kamar tidur, kenapa ada furnitur kantoran ada di sini?

Sosok itu mengabaikan keanehan itu dan memilih untuk duduk di atas kasur itu dan meletakkan toples itu di sampingnya. Ia kemudian membongkar tasnya dan mengambil sebuah alat perekam, larva itu mengamatinya dengan penuh penasaran.

"Di sini Rizu, sudah satu minggu aku terjebak di dalam level ini. Level ini memang berbahaya jika kalian tidak hati-hati, entitas di sini sangat pintar menyamar sampai-sampai aku sulit untuk mempercayai semua benda di sini. Aku tidak berharap aku selamat, tetapi aku berharap aku bisa menikmati hidupku lebih lama lagi. Para entitas ini ada di mana-mana, sungguh, aku merasa aku ini sebenarnya sudah mati, hahaha …."

Ia langsung berhenti merekam suaranya, terdengar jelas bahwa ia sudah sangat putus asa. Larva itu hanya memperhatikannya, pandangannya tertuju dengan fokus ke arah pria tua bernama Rizu itu. Rizu sudah sangat pesimis, level ini memberi tekanan mental tersendiri untuknya dan membuatnya perlahan menjadi gila.

Labirin lorong dan ruangan dengan beragam barang-barang yang berserakan di sana sini seolah-olah tempat ini seperti habis terkena badai, keadaan ini makin diperparah dengan keberadaan entitas yang menyamar sebagai salah satu dari semua barang-barang itu.

Entitas yang menyamar menjadi barang? Wajar jika siapa pun menjadi gila karena tidak ada satu pun tempat beristirahat yang dapat dipercaya. Ancaman ada di mana-mana. Bahkan tidak akan ada yang bisa tidur dengan tenang di sini.

Level ini berbentuk seperti campuran tanpa batas dari berbagai jenis interior bangunan di tempat yang sama. Arsitektur level, sebagian besar, cukup membingungkan dan sulit dipahami seperti: lorong-lorong yang tersegmentasi secara acak yang sering kali mengarah ke jalan buntu atau pintu yang dibangun secara tidak teratur.

Lorong labirin yang sangat menyesatkan, tangga yang rumit dan terkesan dibangun sembarangan, lorong vertikal yang jelas-jelas sulit dilalui tanpa peralatan yang memadai, dan dinding yang tidak stabil yang entah bagaimana bisa ditembus. Terdengar aneh, namun memang begitulah Backrooms dan seperti inilah tempat tinggal baru Rizu, level yang aneh.

Level ini sangat aneh, tampaknya mampu berkompetisi dalam lomba konsep paling aneh di antara para level yang turut dikenal aneh di Backrooms. Larva itu sampai kebingungan dengan level tempat ia lahir, maksudnya seperti, furnitur abnormal yang menyatu dengan objek lain atau memiliki wujud yang tidak proporsional?

Perpaduan ruangan yang dimaksudkan untuk menjadi rumah sakit, kantor, sekolah, kamar tidur, dan pabrik yang malah dapat ditemukan menyatu dalam satu tempat? Berbagai objek-objek dalam jumlah tak masuk akal dan dapat muncul lagi walau sudah diambil? Pikiran larva itu tidak mampu memahami semua keanehan ini walau tempat ini adalah tempat lahirnya.

Larva itu hanya bisa menggeliat di dalam toples kaca itu, entah bagaimana tampaknya ia bisa memahami perasaan pria tua bernama Rizu itu, wajar jika Rizu sudah menjadi seperti orang aneh di dalam level ini karena ia sudah menyerah untuk memahami berbagai hal yang ada di sekitarnya.

Namun, larva itu mencoba menghibur pria itu dengan memproduksi lapisan daging lalu membiarkan lapisan daging itu memenuhi bagian atas toples, ini supaya Rizu dapat memotong dan mengambilnya kapan pun yang pria itu butuhkan. Ia entah bagaimana mampu meregenerasi tubuhnya dengan cepat, sehingga membuat dirinya sangat berguna dalam penyediaan sumber nutrisi protein.

Berhari-hari tinggal bersama Rizu, larva itu tampaknya mulai memahami perkataan Rizu setelah berkali-kali mendengar Rizu terus menerus berbicara sendiri, yah, itu wajar saja karena pada dasarnya ia kesepian.

Ia ingin berbicara kepada Rizu dan mencoba mengurangi rasa kesepian yang dialami pria itu, tetapi ia merasa khawatir dan akhirnya tidak berbicara sama sekali. Rizu sudah berulang kali mengeluarkannya dari toples untuk menggenggam tubuh mungilnya layaknya balon air, dan ini juga berarti ia telah berulang kali menyia-nyiakan kesempatannya untuk berbicara.

Walau ia tidak tahu apa yang hendak ia katakan, ia sangat ingin mengatakan sesuatu namun selalu gagal karena rasa ragunya. Namun, hanya ada dua kata, dua kata saja yang ingin sekali ia ucapkan karena selalu mengganjal di dalam pikirannya.

Setelah sekian lama dan mengumpulkan begitu banyak keberanian, ia pun berhasil mengatakan kata-kata yang selama ini ingin ia ucapkan sekaligus kata-kata pertamanya.

"Aku … apa …?"

Dua buah kata yang cukup membuat Rizu sendiri pusing, mengapa kata-kata pertamanya malah berupa pertanyaan? Dan bagaimana mungkin ia tahu apa yang hendak ucapkan seolah-olah ia sudah paham bahasa manusia? Dari mana ia belajar?
Larva itu sadar bahwa dirinya bukan sesuatu seperti Rizu, ia sadar bahwa ia adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang bukan … manusia. Rizu mencoba menyusun kata-kata dari apa pun yang telah ia ketahui sejauh ini, tentang spesies dari larva kecil ini.

"Dengar, kau itu salah satu dari entitas bernama Manstria. Entitas tanpa wujud tetap dan memangsa makhluk lain," jelas Rizu, ia mencoba menambahkan informasi lainnya tetapi ia khawatir larva itu malah tidak mengerti nantinya.

Ia menatap si larva yang kini telah tumbuh besar hanya dalam hitungan hari saja, kini ia setinggi lutut dengan penampilan seperti gumpalan daging yang mampu bergerak seperti amuba. Larva itu juga sudah bisa berbicara dan berpikir, tentu itu membuat Rizu agak risih karena larva ini sudah memiliki kesadaran akan dirinya sendiri.

Manstria, sebutan dari Rizu untuk kelompok entitas yang memiliki wujud seperti massa daging yang amorf, sangat kuat dan tahan banting, serta sangat buas. Entitas ini tidak menunjukkan rasa takut terhadap apa pun dan mampu meregenerasi cedera dengan kecepatan tinggi.

Mereka hidup dengan cara menyamarkan diri mereka sebagai berbagai barang di level ini lalu menyerang korban yang terkecoh dengan penyamaran mereka. Dengan kata lain, gumpalan daging amorf yang buas dan berburu dengan cara menjebak mangsa.

Larva itu seketika memipihkan tubuhnya, tampaknya ia agak kurang mengerti dengan apa yang dikatakan Rizu. Ia adalah Manstria dan Manstria adalah predator, lalu apakah artinya dia adalah predator juga?

Semua itu memberi konflik batin di dalam dirinya karena dia tidak yakin apakah ia harus menjadi predator juga hanya karena ia Manstria? Ia kemudian tiba pada suatu pertanyaan baru dan mengembalikan bentuk tubuhnya ke bentuk semula, "Aku … jahat?"

Rizu terdiam sebentar karena itu pertanyaan yang bagus karena larva itu sadar akan eksistensinya, dalam beberapa detik kemudian Rizu kemudian menjawab, "Tidak, yang lain iya sedangkan kau tidak, kau itu mungkin Manstria tetapi aku tahu kau itu berbeda. Kau memiliki jalanmu sendiri," ucapnya.

Ia mengelus tubuh larva itu dengan lembut, mencoba memberi kasih sayang padanya. Larva itu menempelkan dirinya ke tangan Rizu seperti kucing yang mengharap lebih banyak elusan. Ia tahu bahwa ia salah satu dari spesies entitas predator itu tetapi ia enggan menjadi salah satu dari mereka, ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri dan memilih jalannya sendiri. Sebuah pemikiran yang akhirnya ia terapkan.

Spesies Manstria memang spesies yang aneh, mereka menyamar menjadi apa pun karena mereka tidak memiliki wujud yang tetap dan kemampuan ini digunakan untuk menangkap mangsa yang terkecoh. Tidak terkecuali dengan larva ini, ia adalah salah satu dari Manstria sehingga wujudnya juga tidak tetap.

Tetapi ia dirawat oleh Rizu sehingga tidak heran ia menjadi loyal serta tidak akan mengecoh Rizu dengan kemampuan perubahan wujudnya itu. Ia merasa tidak pantas untuk melakukannya karena ia bukan sosok penipu seperti Manstria lainnya. Baginya, Rizu itu sudah seperti orang tuanya.

Setelah satu bulan, larva yang ia rawat telah tumbuh menjadi Manstria muda dengan wujud tubuh tetap—wujud anak kecil perempuan manusia. Rambut dan matanya berwarna merah darah khas warna tubuh Manstria pada umumnya, sangat kontras dengan warna permukaan level yang kebanyakan dicat dengan cat berwarna cerah.

Rizu entah mengapa merasa familiar dengan wajah yang dipilih oleh Manstria itu, tetapi ia enggan menanyakannya. Ia juga enggan menanyakan mengapa larva itu memilih wujud manusia perempuan? Apakah Manstria punya jenis kelamin? Tetapi, ia memilih untuk tidak memusingkan hal itu.

"Jadi, namaku Shinael?" tanya Manstria itu.

Ia bingung mengapa Rizu memberikan nama yang mirip dengan nama anak kandungnya Rizu kepada dirinya, ia merasa tidak enak dan tidak pantas untuk disandingkan dengan anak kandungnya Rizu, apalagi bahwa dirinya itu bukan manusia.

Rizu mengangguk, "Anggap saja kau sudah menjadi bagian dari keluargaku. Lagi pula namamu itu berarti ‘cahaya’, karena aku ingin dirimu menjadi cahaya penyelamat di tempat yang penuh bahaya ini," jelasnya.

Rizu mengangkat Manstria itu sebagai anaknya, bukan karena ia gila, tetapi karena hubungan yang telah mereka bangun selama satu bulan ini … yah mungkin dia memang sudah gila.

Manstria itu, Shinael, hanya bisa tersenyum. Ia mencoba untuk menahan perasaan bahagianya dan menerima fakta itu dengan tenang. Rizu tahu bahwa Shinael sedang menyembunyikan perasaannya dengan memasang "topeng" karena Shinael selalu melakukan itu pada setiap momen emosional terjadi. Rizu tidak tahu mengapa Shinael melakukan itu, tetapi, ia tidak mempermasalahkan hal itu.

Shinael adalah Shinael, dan dia akan tetap menjadi Shinael, si Manstria paling manusiawi yang pernah ada. Namun di situlah masalahnya, setelah beberapa lama Shinael kemudian tumbuh menjadi Manstria yang jauh lebih manusiawi dari pada rasnya sendiri.

Ia memiliki emosi dan akal pikiran, ia mampu membuat keputusan dan bersikap kreatif, ia mampu memimpin dan memberi masukan, bisa dibilang ia menjadi satu-satunya yang berbeda dari rasnya. Ia akan bersikap dingin setiap kali bertemu dengan jenisnya sendiri, bahkan akan menyerang jika Manstria itu terlalu dekat, dengan kata lain ia menjadi sangat memusuhi rasnya sendiri.

Shinael itu cerdas, sangat cerdas. Ia belajar dengan cepat, terlalu cepat. Pengetahuan tentang Backrooms seperti level, entitas, objek, dan fenomena menjadi topik materi favoritnya setelah materi sains. Ia selalu penasaran akan dunia luar dan tentu saja Rizu tidak keberatan untuk mengenalkannya tentang dunia luar, memangnya kenapa tidak?

Mungkin seperti inilah Manstria, mereka belajar dengan cepat dan itu membuat Rizu khawatir. Ia kemudian menyadari akan suatu hal, cukup Shinael saja yang terlihat seperti manusia dan memiliki kecerdasan manusia sedangkan yang lainnya jangan.

Bagaimana jika Manstria menggunakan kecerdasan yang telah mereka dapatkan untuk membuat sisi buasnya menjadi lebih efektif? Bukankah itu berbahaya? Apalagi jika Shinael mampu belajar secepat ini, bukankah yang lainnya juga bisa seperti itu?
Shinael membuktikan hal itu dengan menjadi buas layaknya Manstria namun tetap berpikiran taktis layaknya manusia, dua kombinasi yang membuat dirinya mampu mengambil alih suplai makanan dari Manstria lainnya untuk dimakan bersama Rizu atau mengalahkan Manstria lain dengan cara mengelabui mereka.

Ia juga menunjukkan kecerdasan dalam memecahkan masalah, membuat beragam alternatif rute pelarian untuk Rizu atau bagaimana mengatasi rintangan pada jalur yang mereka lalui. Ia mampu mengubah wujudnya dan membuat peralatan sesuai keperluan. Shinael telah menjadi sesuatu yang tidak bisa dipandang sebelah mata jika ada yang berniat menyakitinya.

Rizu menyadari hal ini dan memberi pesan padanya untuk tidak berbuat semena-mena kepada siapa pun serta memusuhi jenisnya sendiri, tidak boleh ada alasan membenci kaumnya sendiri karena ia adalah salah satu dari mereka, bukan?

Shinael kurang menyukai ini, ia menganggap dirinya lebih baik dari Manstria lain dan tidak ingin berteman dengan para gumpalan daging yang tahunya hanya makan saja, ya, ia bahkan merendahkan jenisnya sendiri. Tentu saja Rizu langsung memarahinya, sikap angkuh hanya akan membuat seseorang hancur walaupun Shinael sendiri bukanlah "orang".

Ia harus menerima fakta bahwa dirinya adalah Manstria dan bukanlah manusia, ia harus menerima Manstria lain sebagai jenisnya bukan membenci mereka, ia harus bergabung dalam kultur sosial Manstria bukan menjauhinya, Shinael harus menjadi Manstria karena seluruh sel di tubuhnya adalah sel Manstria, bukan manusia.

"Tetapi … aku tidak mau menjadi Manstria, ayah …." keluh Shinael. Ia enggan menjadi spesies predator dan ingin menjadi manusia saja.

Ucapan itu membuat Rizu menjadi kesal, "Shina, harus berapa kali ayah katakan padamu supaya kamu mengerti? Apa kamu senang melihat ayah marah terus padamu? Ayah tidak mau tahu, kamu harus berinteraksi dengan Manstria!"

Yeah, dia harus belajar secara perlahan karena pada dasarnya memaksa dirinya untuk berubah dengan seketika akan berdampak buruk pada sikapnya. Perlahan tapi pasti, Shinael mulai mencoba untuk berkomunikasi dan hasilnya mengejutkan, para Manstria menerima dirinya dan bahkan mengajarinya pengetahuan Manstria.

Yah, walau Shinael dianggap sebagai "anak bermasalah yang membawa mangsanya ke sana kemari tanpa memakannya" oleh mereka, tetapi mereka tidak memusuhi Shinael walau Shinael sering menyakiti mereka sebelumnya. Mereka juga tidak akan bertanya apa pun yang Shinael ketahui jika ia tidak mau berbagi, mereka memang sangat menghormati privasi dari Manstria muda itu.

Shinael kemudian mengalami perkembangan yang signifikan dan membuat dirinya menjadi bentuk keseimbangan antara dua spesies yang berbeda. Awalnya memang sulit untuk melakukan kontak, tapi kemudian ia dapat berkomunikasi dengan mudah dengan jenisnya sendiri. Ia bahkan mendapatkan teman-teman sesama Manstria muda seperti dirinya setelah beberapa kali berinteraksi, siapa sangka kalau para monster itu benar-benar menerima Shinael?

"Kau lihat? Bahkan mereka menerimamu, kenapa kamu tidak manfaatkan saja untuk belajar lebih banyak dari mereka?" ujar Rizu, Shinael kemudian terdiam mendengar hal itu karena itu ada benarnya. Ia kemudian memutuskan untuk mempelajari Manstria lebih lanjut dari rasnya sendiri.

Shinael kemudian dikenalkan dengan Sistem Jaringan Manstria (SJM) oleh jenisnya, singkatnya sebuah saluran organik serupa pembuluh yang tersebar di dalam setiap permukaan level seperti lantai, tembok, dan langit-langit.

SJM menyelimuti seluruh tempat dan digunakan oleh Manstria sebagai alat deteksi dan alat transportasi dengan cara menyatukan diri mereka dengan SJM, terdengar aneh dan tidak masuk akal memang. Apalagi ketika Shinael menempelkan dirinya ke SJM itu, dia langsung terhubung ke sebuah sarang pikiran milik Manstria.

Ia mendeskripsikannya sebagai suatu tempat yang berisik di mana para Manstria saling berbicara secara publik, terdengar seperti sebuah media sosial jika kita menggunakan konsep Bumi. Namun, berkat Shinael yang telah berinteraksi dengan Manstria, Rizu mampu mempelajari lebih banyak tentang Manstria pula.

Tentu saja ini memberi manfaat besar untuk ke depannya, baik untuk dirinya, maupun untuk manusia lain jika ia menemukan jalan keluar nantinya. Benar juga, Rizu kemudian kepikiran untuk memanfaatkan SJM untuk mendeteksi keberadaan jalan keluar dan Shinael langsung bersemangat karenanya. Cepat atau lambat, mereka akan menemukan jalan keluar.


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License