BTM:GyT 14 - "Kilas Balik 3"

penilaian: 0+x

Lima tahun mereka bersama di dalam level ini dan tampaknya akan berakhir. Setelah sekian lama melalui berbagai suka duka sebagai ayah dan anak yang saling mengasihi, mereka akhirnya akan berpisah. Mereka menemukan jalan keluar setelah terus menaiki setiap tangga yang mereka berdua temukan dan terus naik ke atas sampai akhirnya Shinael merasakan sesuatu yang aneh pada sebuah pintu di tingkat ke-25 dari tingkat pertama Rizu memasuki level ini.

"Kau yakin ini pintunya?" tanya Rizu kepada Shinael.

Shinael mengangguk, ia sangat yakin bahwa itu adalah pintu keluar karena ketika ia menggunakan SJM ia dapat merasakan hal yang sangat berbeda dari balik pintu. Hampa, tidak dapat merasakan apa pun yang ada di baliknya, seperti ada sesuatu yang bukan bagian dari level tempat mereka tempati saat ini.

Rizu kemudian membuka pintu dan kemudian terkejut akan pemandangan yang ia lihat, pemandangan yang begitu familiar bagi dirinya, pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat semenjak lima tahun terakhir.

Bentangan jembatan yang sangat panjang dan kepulan awan sejauh mata memandang, sebuah pemandangan dari level tempat Rizu berasal sebelum ia terjebak di level sialan yang berisi Manstria yang buas ini. Setelah lima tahun terus berjalan dan mencurigai sebuah pintu, mereka menemukan jalan keluar.

Sebuah keajaiban ia masih bertahan hidup hingga sekarang tanpa tergores, lima tahun, mungkin ini karena berkat Shinael yang bersama dengan dirinya sehingga ia mampu bertahan hidup sejauh ini dan tentu saja ia memeluk Shinael dengan erat sebagai bentuk terima kasihnya.

"Shina, sungguh, aku sangat berterima kasih padamu …," ucap Rizu sambil memeluk tubuh mungil Shinael.

Shinael memeluknya kembali sambil memodifikasi wujudnya dengan menambah beberapa sulur daging yang mencuat dan memanjang layaknya tanaman rambat dari sisi tubuhnya untuk menyelimuti tubuh Rizu dengan erat.

"Ayah, tidak perlu berterima kasih karena pada dasarnya ini adalah bagaimana diriku membalas semua kebaikanmu, sungguh, ayah adalah manusia gila pertama yang tidak memperlakukanku sebagai monster" balasnya dengan lembut sambil mulai melepaskan balutannya.

Rizu kemudian mengusap kepalanya Shinael dengan lembut, ia hanya mampu tersenyum karena anak Manstrianya benar-benar tumbuh menjadi anak yang berhati besar, “Tapi kau kan memang monster.”

Mereka berdua saling tertawa pelan bersama, sepertinya mereka sudah saling sepemikiran sekarang. Rizu kemudian menatap keluar, angin lembut memasuki tempat itu dan membuat Shinael merasa aneh karena ini adalah pertama kalinya ia merasakan hembusan angin sungguhan.

Rizu kemudian mengulurkan tangannya keluar pintu dan tertahan ketika ia mencoba menariknya. Rizu sadar akan adanya penghalang satu arah yang tak terlihat, ia langsung keluar dari penghalang itu dan tidak akan mencoba masuk kembali karena pasti akan terhalangi.

Shinael mencoba mengikutinya namun terhalang oleh penghalang tak terlihat itu, ini membuat Shinael langsung memukul-mukul penghalang itu sekuat tenanganya. Rizu kemudian menyuruhnya untuk berhenti dan menenangkan dirinya.

Ia langsung mengeluarkan buku catatannya dan menulis bahwa penghalang ini hanya dapat dilewati dari dalam level dan Manstria tidak bisa keluar dari penghalang itu—sebuah kenyataan yang pahit bagi hubungan mereka berdua.

Tampaknya mereka berdua akan berpisah entah untuk berapa lama, dan seperti biasa pada momen emosional seperti ini Shinael kembali memasang topengnya. Rizu melakukan hal yang sama dengannya dan menanggapi momen ini dengan tenang karena mereka berdua saling percaya sehingga mampu saling merelakan.

Rizu memberinya pesan bahwa ia akan kembali sesegera mungkin dan ia ingin Shinael menjaga pintu itu supaya tidak ada Manstria yang mendekatinya, Shinael langsung mengangguk dan siap melaksanakan tugas itu.

Rizu akan melaporkan level ini supaya manusia lain akan tahu tentang level dan tentu saja diharapkan untuk menghindari level ini demi keamanan. Dan ia ingin Shinael untuk tetap bersabar sampai mereka bertemu lagi — Shinael pun mengangguk.

Shinael memberi lambaian tangan ke arah Rizu yang sedang berlari dan dengan cepat memanjat pagar besi yang pernah menghalanginya, balkon beton dan keadaan gedung masih sama walau telah lima tahun berlalu, namun, bagaimana cara ia bisa naik ke atas jembatan?

Mengingat sebelumnya sampai ke gedung ini dengan cara melompat ke luar jembatan. Ia kemudian membuka tasnya dan mengambil sebuah pengait bertali untuk dilempar ke arah pagar jembatan, lemparan itu berhasil dan ia pun mulai memanjat tali tersebut dengan semangat.

Rizu … setelah lima tahun lamanya … ia kembali pulang ke level tempat ia tinggal, Mega Langit, jembatan tanpa batas di atas awan. Ia langsung kembali pulang ke koloni tempat ia pernah tinggal dahulu tidak peduli seberapa jauh perjalanan yang akan ia habiskan, ia hanya ingin pulang ke tempat di mana ia pernah tinggal.

Dan yah, setibanya di sana, semua orang tidak menyangka, semua orang terpana, semua orang telah mengira ia tiada. Lima tahun tanpa kabar akhirnya kembali tanpa kenapa-napa, semua orang penasaran akan apa yang terjadi dan mengerubungi dirinya bak semut dan gula.

Cerita dari seorang penyintas yang selamat dari sebuah level berbahaya seorang diri melambungkan namanya bak selebriti, mungkin semua orang jadi mengetahui dirinya tak terkecuali orang-orang dari markas SPB Mega Langit, rumah dari para “pahlawan” di level ini.

Mereka kemudian mengundang Rizu untuk wawancara karena penasaran sekaligus meminta informasi tentang level, dan tentu saja, Rizu langsung datang memenuhi undangan mereka karena sejak dahulu ia memang ingin mendatangi mereka.

Rizu langsung memberitahukan semua yang ia tahu, si notulis dengan asyik menggerakkan penanya dalam menyalin apa yang diucapkan Rizu; penampilan level lengkap dengan entitasnya. Orang-orang yang sedari tadi mendengarkannya kagum dengan bagaimana usaha Rizu dalam mempelajari level mematikan tersebut … seorang diri.

Ah, tidak lupa Rizu bercerita tentang Shinael, seketika wajah mereka langsung berbeda. Mereka seperti melihat adanya cahaya harapan yang sangat cerah di suatu keadaan yang sedang mencekam. Entitas berbahaya di level itu ternyata bisa dijinakkan, sebuah kesempatan emas yang tidak bisa dilewatkan pikir mereka.

Seseorang kemudian bertanya tentang suplai di dalam level itu, dijawab tidak terbatas oleh Rizu. Wajah mereka langsung berseri mendengarnya. Tampaknya mendengar kata suplai tidak terbatas membuat suasana sekitar menjadi cerah, Rizu tidak tahu entah apa yang terjadi selama ia pergi dan pastinya itu tidak baik.

Dan demikianlah wawancaranya, berakhir sudah. Ketua SPB yang turut mendengarkan wawancara ini menyipitkan matanya sambil tersenyum, terlihat mencurigakan karena entah apa yang ada di pikirannya. Ia mendekati Rizu dan menawarkan posisi sebagai anggota SPB padanya dan tentu saja itu adalah sebuah kehormatan yang sangat sulit untuk ditolak bagi Rizu.

Bagaimana tidak, semua orang ingin menjadi anggota resmi supaya dapat turut andil dalam kegiatan kemanusiaan dan bukannya mengaku-ngaku sebagai salah satu dari mereka. Pria itu ingin menjadikan Rizu sebagai orang penting di SPB, terutama dalam hal yang berurusan dengan level baru tersebut seperti penjelajahan atau pun pemanfaatan sumber daya.

Tentu saja Rizu menolak hal ini demi keamanan banyak orang, ia tahu betul tentang bahaya level itu sampai ke akar-akarnya. Namun, pada akhirnya ia berhasil diyakinkan dengan alasan bahwa SPB Mega Langit diisi oleh orang-orang yang jauh lebih berpengalaman dalam menjelajahi banyak level-level gila daripada pak tua itu

Yah, sebenarnya mereka itu tidak salah karena selama ini level-level di Backrooms dapat dijelajahi karena jasa para penyintas berpengalaman tersebut, tapi … yah, hal buruk apa yang akan terjadi nantinya bukan? Mereka adalah orang-orang tangguh yang sudah menjelajahi banyak level berbahaya, jadi kalau dibandingkan dengan orang tua seperti Rizu ya seharusnya tidak akan ada masalah jika mereka ingin memasuki level tersebut, bukan?

Dengan demikian, Rizu akhirnya mengiyakan usulan mereka untuk memasuki level demi keperluan penjelajahan dan penemuan sumber daya karena ia percaya akan kemampuan mereka. Tentu saja semua itu akan dilakukan oleh para orang-orang ahli saja bukannya oleh orang awam, tempat itu mana mungkin akan dibuka untuk umum tentunya.
Para penjelajah ahli akan datang dan melakukan tugas mereka, lalu menyebarkan temuan mereka kepada publik, bukan hal yang buruk dan malah merupakan rencana yang bagus karena tidak mengancam keamanan banyak orang apa lagi publik.

Lalu di sisi lain, Shinael menunggu dengan sabar di depan pintu untuk berharap ayahnya itu kembali sesegera mungkin. Ia duduk dengan tenang, sekumpulan suplai objek telah ia kumpulkan sebagai hadiah dalam menyambut ayahnya pulang. Bahkan para Manstria lain juga menanti pak tua yang aneh itu karena Rizu telah dianggap sebagai bagian dari mereka karena upaya Shinael. Mereka bersama-sama terus fokus kepada pintu itu, berharap suatu saat nanti, gagangnya bergerak ….


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License