BTM:GyT 15 - "Kilas Balik 4"

penilaian: 0+x

LOG #1

Aku memang mengizinkan mereka untuk mengeksplorasi dan mendata level ini beberapa hari setelah aku keluar dari level ini. Namun, tim eksplorasi terus berdatangan dan kemudian mereka menetapkan suatu hal yang mengejutkan: menjadikan level ini sebagai tempat memanen suplai permanen.

Aku menentang ide itu namun aku gagal karena aku tidak mampu meyakinkan banyak orang yang memiliki pemikiran yang sama. "Demi keuntungan orang banyak" katanya, tetapi itu jelas tidak sebanding dengan resiko ancaman Manstria di dalamnya.
Memang para Manstria itu bisa ditebak dan dikelabui, tetapi bukan berarti kita bisa terus menerus memanfaatkan hal itu bukan? Bagaimana jika segalanya berubah menjadi tidak sesuai perkiraan kita lagi?

Lalu di sisi lain, Shinael, ia terlihat bersemangat karena dapat bertemu dengan "orang luar" seperti mereka. Aku bisa memahami bagaimana anak itu menjadi bahagia setelah mendapat teman-teman baru, jadi aku merasa dilema akan hal ini.

Tetapi apa dayaku yang ternyata berakhir sebagai orang biasa bukannya orang berkuasa, secara fisik dan status aku tidak bisa menentang mereka. Tim eksplorasi itu bahkan kemudian mendatangkan tim khusus yang secara khusus memodifikasi kondisi level menjadi lebih bisa dihuni. Entah apa lagi yang hendak mereka lakukan seterusnya.

===

"Apa maksud kalian 'hendak menjadikan level ini terbuka untuk publik'?" ucap Rizu di dalam ruangan yang sempit itu.

Dia terlihat gelisah dengan keputusan SPB Mega Langit yang hendak menjadikan level ini terbuka untuk publik yang padahal level ini sudah jelas-jelas memiliki entitas berbahaya di dalamnya.

Orang-orang yang menghadiri rapat tertutup itu kemudian tertawa seperti meremehkan pria itu, dengan santai mereka hanya menjawab, "Pikirkan lagi, Rizu. Level itu memiliki sumber daya yang tidak terbatas, itu akan membantu semua orang tahu!"

Rizu tahu itu akan membantu semua orang namun tetap saja resikonya terlalu besar, siapa yang mau membahayakan diri hanya untuk memungut barang-barang? Hanya orang tidak waras saja yang mau melakukannya, bukan?

"Ya aku tahu itu akan membantu, apalagi dengan kondisi banyak koloni yang akhir-akhir ini terus memburuk. Tetapi tetap saja; resikonya!" Rizu sudah jelas-jelas khawatir dan menentang ide ini.

Baginya ini terlalu berlebihan hanya untuk memenuhi sumber daya yang sedang kurang dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Orang-orang itu menggelengkan kepala mereka, mereka menganggap Rizu itu seperti orang paranoid yang egois serta tidak memikirkan kebaikan orang banyak.

Mereka kemudian mencoba lagi untuk menyakinkan Rizu, "Hei ayolah kawan, begini saja deh, kita membuat SPB Alvus, sebuah anak cabang kita yang akan dikhususkan untuk mengurus sumber daya yang ada di dalam level. Tidak hanya sampai di situ saja, kau turut terlibat di dalamnya, bagaimana? Kau jadi bisa mengawasi ini itunya, kan?"

Mereka yang mendengarnya langsung setuju, namun Rizu masih membutuhkan waktu ekstra untuk mempertimbangkan hal itu. Mungkin … mungkin itu bukan ide buruk, kan? Dia terlibat di dalam kelompok SPB itu jadi dia bisa melakukan sesuatu kepada kelompok itu, kan? Apalagi dia adalah penemu sekaligus penjelajah pertama di level itu, pasti ia akan menjadi atasan mereka, bukan?

Jika memang demikian, maka ia akan bisa mengontrol jumlah orang-orang yang masuk supaya resiko bahaya tidak membesar. Selain itu, dengan jumlah orang yang sedikit, ia yakin kalau para Manstria tidak akan terlalu terganggu ketika ada beberapa orang yang memasuki wilayah mereka.


LOG #2

Aku dijadikan anggota SPB Alvus, hanya anggota saja! Mereka membangun markas SPB lainnya di sini, tujuannya untuk mengekstrasi suplai level demi orang-orang di Backrooms sehingga kedengarannya tidaklah buruk. Namun, aku tidak mengerti mengapa aku dan Shina dijadikan anggota padahal kami jauh lebih memahami level ini dari mereka?! Dan siapa pula orang-orang asing ini?!

Mereka tidak membiarkan teman-temanku sebagai rekan kerjaku melainkan menjadikan orang-orang yang tidak kukenal ini sebagai rekan kerja dan atasanku. Sebenarnya aku tidak masalah dengan bertemu orang baru sekali pun, tetapi, entah mengapa aku sangat sulit untuk mempercayai mereka.

Ada banyak sekali kecurigaan ketika ku melihat wajah-wajah mereka, rasanya seperti melihat sekumpulan bedebah. Bahkan rekan-rekanku yang sudah lama tinggal di Gagak Merah tidak ada satu pun yang mengenal mereka, rasanya mereka seperti orang-orang yang muncul entah dari mana lalu mengklaim segalanya.

Aku juga mendapatkan informasi bahwa ketua SPB Mega Langit yang bertubuh besar itu juga baru dilantik tahun kemarin, anehnya pelantikannya memang dipenuhi banyak konspirasi yang menyebabkan aku tidak bisa mempercayainya sedikit pun!
Aku harus menemukan cara sesegera mungkin untuk membebaskan level ini dari orang mencurigakan seperti dirinya. Tetapi bagaimana … ah, sial! Semoga mereka tidak mengusik habitat para Manstria ….

===

Rizu dan Shinael bersama-sama mengangkat sofa itu ke arah pintu keluar, dengan fleksibilitas wujud dan kekuatannya sebagai Manstria, Shinael mampu membawa dua buah kursi lainnya bersamanya hanya dengan memodifikasi bentuk tubuhnya.

Mereka berdua diminta untuk mengangkat barang dan memindahkannya ke pintu keluar untuk dikumpulkan, mereka berdua tidak mengerti dan kebingungan mengapa mereka seperti menjadi pesuruh saja di sini? Mungkin Shinael merasa tidak masalah tetapi Rizu tentu saja merasa sangat keberatan, ia mengenal level ini dengan baik dan mengapa ia tidak menjadi yang berkuasa? Apa yang sebenarnya orang-orang itu pikirkan?

Mereka berdua berjalan menyelusuri lorong yang sama untuk kesekian kalinya sampai-sampai Rizu menghapal semua detail di lorong itu dengan baik. Ia sampai menggerutu karena tidak memiliki kekuatan untuk menyakinkan orang-orang itu yang akhirnya hanya bisa mengikuti jalur yang telah mereka tentukan untuknya.

Level ini sudah terlanjur diketahui secara publik dan informasinya pun mulai tersebar ke seluruh penjuru layaknya kobaran api yang membakar padang rumput yang kering, ini sangatlah tidak benar dan tidak seharusnya terjadi, level ini sangat berbahaya dan bukan dimaksudkan untuk dijadikan tempat pengambilan suplai!

Tetapi mereka tetap melakukannya sambil merasa yakin kalau mereka bisa mengatasi berbagai bentuk bahayanya. Ditambah apa yang bisa Rizu dan Shinael lakukan saat ini untuk mengkritik orang-orang itu tanpa ada dukungan yang mencukupi? Yang bisa mereka berdua lakukan saat ini hanyalah menunggu kesempatan yang bagus saja untuk menghentikan mereka semua.


LOG #3

Orang-orang terus berdatangan dari berbagai arah memenuhi bagian depan gedung tempat Alvus berada. Mereka memiliki tujuan yang sama; penjelajahan dan pengumpulan suplai, terlepas dari latar belakang mereka yang berbeda-beda.

Mereka terlihat antusias untuk mengunjungi level tidak peduli seperti apa resikonya, mereka hanya ingin mengumpulkan barang yang dapat mereka bawa pulang ke rumah mereka masing-masing atau untuk diperdagangkan entah di mana lokasinya.

Beberapa memilih untuk menjelajahi level mengingat level ini tidak kalah aneh dengan level aneh lainnya, sebuah level yang tidak kalah menarik untuk dijelajahi kata mereka. Aku tidak mengerti mengapa mereka malah antusias untuk memasuki level seperti ini?

Mengapa mereka tidak duduk diam saja di dalam rumah mereka dan membiarkan SPB saja yang melakukan semuanya? Mereka terus berdatangan seperti rombongan semut yang menemukan gula saja! Selain itu, aku berharap mereka tidak melakukan sesuatu yang konyol sehingga akan mendatangkan kerugian ke banyak pihak.

Ah, semua ini membuatku merasa pusing dengan betapa banyaknya orang-orang yang masuk itu. Aku harus terus mengawasi Shina atau anak itu akan kenapa-napa oleh ulah mereka. Anak itu masih muda dan tidak tahu apa-apa, semoga ia bisa menjaga dirinya ketika aku sedang berurusan dengan para pengunjung yang meresahkan ini.

===

Selebaran itu disebar ke seluruh koloni yang mereka temukan, informasi juga dibawa ke level-level lain ketika ada kesempatan. Tidak heran orang-orang ini terus berdatangan dan mencoba mengumpulkan barang-barang yang mereka inginkan sesuka hati mereka.

Yah walau Shinael terlihat antusias dengan orang-orang baru, di sisi lain, Rizu merasa sangat cemas. Mengatur SPB Alvus mungkin masih bisa ia lakukan walau mereka belum tentu mendengarkan dirinya, tetapi mengatur para penyintas asing yang terus berdatangan? Itu seperti satu orang yang dengan berani mengatur seluruh gabungan koloni, tidak, Rizu tidak memiliki kekuatan sehebat itu.

Level ini secara aneh menjadi populer begitu saja, entah sihir apa yang orang-orang itu gunakan untuk membuat level ini menjadi bak selebriti di antara level lainnya. Karenanya, orang-orang semakin sering datang untuk mengambil suplai dan semakin meningkat pula kuantitas suplai yang telah diekstraksi oleh publik dari dalam level.

Mereka semua mengambil segala bentuk barang mulai dari barang-barang berukuran kecil sampai barang-barang berukuran besar sesuka mereka. Mereka mengambil segalanya hanya karena semuanya gratis dan tidak terbatas, bahkan mereka sampai rela menunggu suatu ruangan yang telah kosong terisi barang-barang lagi dengan sendirinya karena sifat alami level. Mereka benar-benar seperti semut yang menemukan setumpuk gula.

Shinael juga mendapat imbasnya, dirinya dengan cepat menjadi layaknya selebriti karena orang-orang tertarik untuk melihat "entitas yang baik". Memang entitas yang tidak bermusuhan itu cukup jarang di Backrooms, tetapi ini membuat Rizu merasa tidak nyaman karena ia khawatir Shinael akan menjadi besar kepala karena dirinya "terkenal" dan khawatir ia akan menjadi angkuh karena dirinya "kuat".

Tetapi ia beruntung, Shinael tidak tumbuh menjadi anak yang seperti itu, entah itu karena ajarannya atau memang Shinael itu memiliki sikap rendah hati sejak awal, apa pun itu Rizu merasa bersyukur karena Shinael tetap menjadi seperti dirinya yang biasanya.


LOG #4

Hm, keadaan koloni-koloni di Mega Langit mulai membaik? Yah, selama aku terjebak di dalam level ini memang sedang terjadi penurunan total suplai layak pakai sehingga banyak koloni yang sangat membutuhkan suplai baru, entah itu pangan, papan, maupun sandang.

Alvus memang seperti sebuah harta karun karena semua orang kini bisa memenuhi kebutuhan suplai mereka, tapi, entah mengapa semua ini mulai terasa terlalu berlebihan. Yah, apa yang bisa kulakukan untuk memperingatkan mereka?

Aku hanya seorang pesuruh saja, tugasku membantu orang-orang ini dalam memindahkan barang saja sedangkan Shinael dijadikan seorang penjaga rombongan penyintas. Jika level ini membuat kehidupan mereka membaik ya … kurasa aku tidak akan bisa protes karena ku juga berharap sesuatu yang baik terjadi kepada para orang-orang yang juga dijebak oleh Backrooms sepertiku.

Tetapi ada yang aneh, mengapa mereka melakukannya secara berlebihan? Apa yang sedang mereka lakukan sebenarnya? Rasanya seperti melihat sekumpulan orang-orang rakus saja. Mungkin sebaiknya aku mengecek catatan detail pengumpulan barang mereka nanti.

===

Kondisi para koloni di Mega Langit mulai membaik setelah pembukaan Alvus untuk publik, sumber daya tak terbatas sekaligus entitas yang mudah diatasi menjadikan level itu seperti layaknya sebuah harta karun yang sayang untuk dilewatkan.

Sumber pangan di level ini tidak terbatas dan bervariasi, tentu siapa pun yang sudah lelah menahan lapar akan mendatangi level untuk memenuhi tas mereka dengan bahan makanan, bukan? Mereka yang membutuhkan berbagai barang gratis akan dengan senang hati mengambil apa pun yang mereka bisa bawa pulang, lalu datang lagi kemari, lalu mengulangi proses ini lagi dan lagi.

Ya bagaimana tidak, ternyata selama Rizu terjebak di dalam level, bahan pangan para koloni terus berkurang dan sumber pangan yang bisa mereka dapatkan juga tidaklah mudah untuk didapatkan. Upaya mengimpor bantuan pangan dari level lain telah dilakukan, namun dinilai masih belum cukup untuk membantu para koloni yang tersebar di sepanjang jembatan. Tidak heran kasus kelaparan, penjarahan, dan migrasi ke level lain selalu terjadi selama Rizu sedang tidak ada di level ini.

Ketika informasi ada level yang memiliki suplai pangan yang tak terbatas tiba pada mereka, mereka langsung berdatangan untuk mendapatkannya seperti sekumpulan orang gila. Tetapi, ada sesuatu yang mengganggu Rizu, kenapa pengekstraksian ini terkesan agak berlebihan? Bukankah semua koloni akan mendapat bagiannya juga?


LOG #5

Aku dan Shina baru saja menyadarinya, orang-orang SPB ini sakit! Mereka memonopoli perdagangan ratusan kilogram atau bahkan berton-ton suplai yang telah mereka jarah dari dalam level ini. Shina bahkan menangis karena rumahnya telah "dirampok" dan kami berdua tidak mampu melakukan apa pun karena orang-orang SPB dan para penyintas ini lebih kuat secara status dan kekuatan dari kami. Mereka bahkan mulai mengusik habitat Manstria dengan persenjataan yang mereka bawa, mengklaim banyak wilayah dengan begitu kasarnya!

Kami paham mengapa kami hanya dijadikan sebagai pesuruh, itu untuk membatasi semua aktivitasku dan memanfaatkan kemampuannya Shina. Tch, orang-orang ini gila, konsep suplai tak terbatas telah membuat semua orang menjadi haus untuk memenuhi kebutuhan diri mereka sendiri. Dasar sekumpulan orang rakus nan tamak!
Semoga saja kalian mendapat balasannya!

===

"Backrooms tampaknya menghapus keegoisan manusia sampai keakar-akarnya."
Siapa yang menulis omong kosong ini?! Orang-orang itu tidak lebih adalah sekumpulan manusia-manusia hina yang termakan hawa nafsu duniawi mereka sendiri, mereka menjarah dan menyalahgunakan sifat barang tidak terbatas dari level demi keuntungan mereka sendiri!

Mereka orang-orang menyebalkan yang seharusnya tidak pernah ada di realitas ini, mereka datang memanfaatkan situasi dan mencoba mengambil alih sepenuhnya. Kolonialisme, itulah yang sedang terjadi, mereka merasa berkuasa terhadap level hanya karena Rizu cuma seorang pria paruh baya yang bukan siapa-siapa dan lemah di mata mereka.

Monopoli suplai … tidak heran para penyintas lainnya datang ke level ini untuk mendapatkan suplai dengan kedua tangan mereka sendiri karena segala kemudahan yang diberikan oleh para orang-orang berkuasa itu. Karena orang-orang yang berkuasa itu sakit mental dan jiwanya, orang-orang biasa seperti para penyintas itu pun terlibat tanpa mereka sadari.

"Siapa pun bisa menemukan level baru, tetapi mengolahnya belum tentu bisa, bukan?"

… ucapan yang dapat membuat siapa pun naik pitam hanya dengan mendengarnya. Orang-orang itu angkuh dan picik, selalu merasa benar terhadap banyak hal dan enggan mendengarkan pendapat pihak lain. Mereka merasa kepintaran mereka harus didengarkan, mereka merasa yang lain hanyalah para orang-orang bodoh yang harus mengikuti apa kata mereka.

Hanya karena mereka orang-orang berstatus lebih tinggi dan berpengalaman lebih bukan berarti mereka bisa melakukan hal seperti itu, bukan?! Apakah harus menunggu datangnya kehancuran dahulu baru mereka sadar akan keangkuhan mereka?!


LOG #6

Pemandangan ini, aku sangat merindukan pemandangan seperti ini. Pemandangan dari keheningan level selain diriku, Shina, dan Manstria. Backrooms biasanya menggunakan tema ruang liminal[ ] atau dunia yang aneh, yah, kebanyakan level Backrooms seperti itu walau ada yang lebih mirip sebuah "bumi lainnya".

Ruang liminal adalah makanan sehari-hariku selama aku berada di sini, ruang yang entah bagaimana membuatku merasa aneh tapi nyaman di saat yang sama. Sebuah ciri khas dari Backrooms yang secara perlahan mulai tinggal cerita karena semakin ramainya keberadaan manusia.

Namun perasaan itu sudah tidak ada lagi karena pemandangan seperti ini hanya dapat ditemukan di luar jalur yang dipetakan … terlalu banyak orang di sini, aura liminal level ini sudah tinggal kenangan. Tetapi apa dayaku, mana mungkin aku mengusir mereka semua yang sudah jauh-jauh datang kemari bukan?

===

Mereka memenuhi lorong-lorong sepi yang mengerikan ini dengan ego mereka, mereka menginjak-injak para entitas seperti menginjak tumpukan karpet, mereka tidak menghargai alam dengan menjarah dan menguasai lingkungan dengan merasa sebagai sosok puncak.

Sepertinya begitulah manusia, mereka mencoba menguasai dan mengontrol sesuatu, apalagi jika sesuatu itu menguntungkan mereka. Terkadang melihat para Manstria itu memberi rasa kasihan juga, mereka hanya ingin hidup dengan cara menyamar menjadi barang karena hanya itu yang bisa mereka lakukan, namun, para manusia memanfaatkan itu untuk menyakiti mereka dengan peralatan yang manusia miliki.

Para Manstria juga makhluk hidup walau mereka predator, bahkan Shinael akhirnya merasa iba dengan kaumnya sendiri akibat apa yang telah dilakukan para pemburu maniak itu. Rizu mencoba melawan balik tapi dirinya berakhir menjadi karung tinju, ia tidak berbuat apa pun di hadapan genosida yang sedang terjadi.

Beberapa kelompok penyintas kemudian muncul untuk menolak perilaku genosida yang dilakukan oleh para orang-orang SPB Alvus itu, mungkin mereka bisa disamakan dengan aktivis anti genosida. Mereka mencoba menentang rencana pembasmian walau pada akhirnya pergerakan mereka ditekan oleh kekuatan pihak yang lebih besar dari mereka.

Para orang SPB itu mencap mereka sebagai pengganggu sehingga para penyintas lain pun turut mengecap mereka dengan sebutan yang sama, Alvus adalah surga yang seharusnya milik manusia, dan mereka yang menentang hal itu akan dicap sebagai pengkhianat umat manusia.

Memang terdengar berlebihan tetapi apa yang terjadi berikutnya jauh lebih berlebihan lagi, para aktivis itu dipaksa untuk memasuki wilayah di luar peta yang jelas tidak aman sebagai bentuk hukuman pengusiran.

“Mereka yang mendukung Manstria harus hidup bersama Manstria” kata para orang SPB itu, anehnya para penyintas biasa malah setuju dan tidak menentang ketika saudara sesama manusia mereka diperlakukan seperti itu.

Rizu dan Shinael tidak dapat berbuat apa pun ketika orang-orang yang selalu beratribut serba merah itu diusir ke dalam wilayah tak terpetakan karena mereka berdua telah dibelenggu. Mereka hanya bisa berharap para aktivis itu baik-baik saja dan menemukan jalan keluar dari level ini dan menempuh hidup baru setelahnya.

Mereka yang tersisa kemudian melakukan Gerakan dengan lebih diam-diam dan berbaur di antara orang-orang, bahkan selalu berkonsultasi dengan Rizu dalam bagaimana menghentikan masalah ini. Para Manstria juga ternyata tidak memusuhi para aktivis ini, bagi para monster itu dukungan sangatlah berarti walau tidak terlalu memberikan efek banyak.


LOG #7

Namun keramaian itu tidak bertahan selamanya karena akhirnya para Manstria itu mulai bergerak. Mereka tidak lagi bersembunyi dan dikelabui oleh manusia, mereka sudah berubah karena akhirnya mereka berburu secara terang-terangan. Tampaknya mereka sadar bahwa bersembunyi itu tidak berguna dan memutuskan mengambil langkah pertama dalam meninggalkan metode lama mereka.

Bagiku pribadi, ini adalah momen yang menarik karena Manstria mengubah pola perilakunya secara serentak dan dalam jumlah besar. Layaknya Shina yang beradaptasi sesuai kondisi medan sulit yang ia hadapi, para Manstria ini pun turut beradaptasi dengan cara mengubah taktik berburunya. Entitas yang menarik, bukan?

Aku tidak menyangka bahwa aku akan menyaksikan sebuah evolusi dengan kedua mataku sendiri apalagi secepat ini. Yah aku senang mereka akhirnya sadar walau aku tidak tahu bagaimana cara mereka melakukannya karena rasanya cukup tiba-tiba. Yah apa pun itu, cepat ambil kembali tanah kelahiranmu!

===

Mereka berevolusi … dengan melihat manusia. Mereka menjadi seperti Shinael, tetapi versi predator yang ganas. Cerdas, namun mematikan. Mereka meniru kita, mereka menjadi kita, Pencuri Kulit[ ] hanya menjadi lawakan saja jika dibandingkan dengan mereka. Mereka bisa merubah wujud mereka secara total, baik penampilan, gerak gerik, maupun bagaimana cara kita berbicara.

Bahkan, mereka mampu membuat senjata, menggunakan teknologi kita, dan mengacak-acak sistem radio kita. Mereka bisa menjadi siapa saja saat ini sampai-sampai siapa pun akan kehilangan rasa kepercayaan terhadap sesamanya dengan seketika.

Mereka berubah menjadi siapa pun yang mereka lihat, membuat orang-orang kebingungan dan saling tak percaya bahkan saling menuduh. Para Manstria itu tentu menikmati pemandangan baru yang mereka lihat, pemandangan dari para orang-orang payah yang saling membunuh satu sama lain hanya karena saling mencurigai.

"Jika aku adalah Manstria, apa yang akan kau lakukan untuk membuktikan aku adalah Manstria?"

Sebuah pertanyaan umum yang muncul setelah Manstria memecah belah persatuan manusia di dalam labirin milik mereka, para manusia itu terpecah belah menjadi banyak serpihan kecil layaknya kertas yang disobek-sobek.

Lalu mereka terbawa kesana kemari oleh hembusan angin yang kemudian terdampar di antah berantah dan akhirnya musnah dengan sendirinya atau pun dimusnahkan oleh para Manstria itu sendiri.

Para manusia itu seharusnya sadar akan posisi mereka dan segera meninggalkan level karena sudah tidak ada gunanya lagi untuk tetap berada di sini — berlama-lama di sini hanya akan mengubahmu menjadi jasad lainnya.

Tetapi para manusia itu masih tidak menyerah dalam mempertahankan wilayah dan barang-barang jarahan mereka, walau beragam upaya untuk menaklukkan para entitas itu selalu berujung gagal, mereka terus mencoba dan mencoba.

Sedangkan para entitas, mereka akan mempelajari upaya perlawanan manusia itu dan menemukan celah untuk dimanfaatkan, kemampuan belajar mereka sangat mengerikan dan kecerdasan mereka sangat patut untuk ditakuti.

Para entitas itu cerdas, terlalu cerdas. Tidak ada yang tahu mengapa mereka tiba-tiba berubah menjadi seperti ini hanya dalam waktu singkat dan dalam jumlah besar, tetapi yang pasti, mereka berusaha mengambil alih apa yang pernah menjadi milik mereka sebelumnya.


LOG #8

… kematian demi kematian mulai terjadi, Shina mulai kerepotan dalam melindungi para penyintas karena kaumnya menjadi lebih pintar dari sebelumnya. Orang-orang ini tidak menyerah, mereka melawan balik para Manstria itu tetapi tampaknya berujung berantakan … aku tidak percaya para Manstria mampu beradaptasi dengan semua itu … mereka pintar.

Jujur, aku kagum dengan para entitas itu terutama ketika mereka membalikkan keadaan dengan cara memusnahkan para manusia di dalam level dengan cepat. Kabar kematian terus berdatangan dari berbagai penjuru, momen yang tidak mengenakkan sekali bukan?

Bahkan ketua SPB Mega Langit dan sebagian besar staf SPB Alvus pun menjadi korban keganasan para monster itu, hah, orang-orang itu memang pantas mendapatkannya! Mereka membuat semua orang-orang itu datang kemari dan berujung pada bencana. Rasakan itu, bajingan!

===

Berita itu kemudian menyebar dan menggetarkan semua anggota SPB Mega Langit dan SPB Alvus sekaligus, sosok yang sudah sangat dikenal itu tewas menjadi santapan para monster itu. Anehnya para Manstria itu seperti tahu siapa target mereka, mereka sengaja mengincar orang itu dan mempermainkannya di dalam labirin sebelum akhirnya memberikan akhir yang sangat mengerikan untuknya.

Ini merupakan akhir yang tak diduga dari sosok pemimpin kedua basis SPB itu, dan ini juga membuat orang-orang seketika menjadi murka. Para Manstria ini tentu membuat siapa pun bergidik ngeri dan berujung membenci mereka.

Bahkan Shinael tidak luput dari hal itu karena ia juga salah satu dari para entitas itu. Rizu juga kena imbasnya karena ia adalah penemu level, mengapa Rizu tidak memberhentikan semua ini sejak awal kata mereka.

Orang-orang ini benar-benar sudah tidak terselamatkan karena mereka sudah tidak bisa berpikir dengan benar; mereka masuk, menjarah, dan kemudian mengganggu kehidupan para Manstria. Tidak heran para Manstria menjadi murka, seharusnya mereka tidak pernah datang supaya semua ini tidak pernah terjadi.

Mereka lah yang salah sejak awal, mereka yang tidak mau mendengar peringatan, mereka yang merasa angkuh, dan ketika mereka terpuruk mereka malah menyalahkan Shinael dan Rizu. Tidak heran pula Shinael dan Rizu mulai enggan untuk menolong pihak manusia, karena rantai kepercayaan mereka terhadap manusia telah rusak karena ulah para manusia itu sendiri.


Pada hari itu, awan kelabu nan gelap menutupi langit Mega Langit. Begitu banyak penyintas yang berduka atas banyaknya orang terkasih yang tewas di Alvus. Laporan korban datang dari kiri, kanan, atas, dan bawah serta telah berlangsung selama berbulan-bulan sampai saat ini. Dan dengan setiap kematian, para Manstria belajar sesuatu yang baru. Mereka beradaptasi.

Mereka belajar beradaptasi, mengambil keuntungan dari betapa sombongnya manusia. Mereka akan meniru senjata mereka, taktik militer mereka, teknik bertahan hidup mereka. Akhirnya, Manstria tumbuh menjadi jauh lebih cerdas daripada sebelumnya. Jauh lebih tangguh dari sebelumnya.

Untuk berpikir, orang-orang menyebut mereka gumpalan daging tanpa otak—mereka menunjukkan bahwa mereka adalah mesin pembunuh tanpa empati sama sekali. Pada akhirnya, kesalahan para manusia yang bodoh ini, keinginan manusia untuk menguasai tempat baru itulah yang membuat manusia kehilangan banyak nyawa.
Banyak yang meneteskan air mata untuk mereka saat ada yang memikirkan mereka, tentang bagaimana mereka tidak akan pernah kembali dari perjalanan singkat ke tempat yang mengerikan itu.

Alvus tidak lagi seperti yang dipikirkan orang-orang. Tempat itu dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk terburuk semua orang. Oleh karena itu pihak SPB pun menetapkan kebijakan baru setelah mengetahui hal ini yang sebenarnya sudah terlambat.

Momen yang benar-benar tak terlupakan. Dari puncak popularitasnya, Alvus telah menjadi TKP yang dibenci semua orang dengan cepat. Jika ada yang bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi? Semua orang langsung tahu bahwa jawabannya adalah Manstria, sosok entitas cerdas yang di mana mereka tidak pernah mengharapkan tingkat kecerdasan seperti ini.

Layaknya film horor yang menjadi nyata, mereka akan mengelilingimu dan dalam hitungan detik kamu akan menjadi seonggok tulang. Shinael sendiri telah menjadi karung tinju terlepas dari kekuatannya sendiri, meskipun dia tidak pernah menyerah. Dia telah melihat banyak yang binasa yang pasti akan berdampak pada mentalnya, tetapi ia tetap melangkah ke depan.

Masih ada beberapa penyintas yang terjebak di sana. Banyak yang mencoba mengeluarkan mereka, tetapi mereka tentu saja bukan tandingan Manstria. Akhirnya, karena jumlah mereka yang terus berkurang dan moral mereka rusak, populasi terakhir di Alvus kini hanya tinggal cerita.

Kini mereka ingin mengirim beberapa orang lagi ke sana untuk suatu tujuan yang tidak diketahui. Mereka mencoba mencari siapa yang akan mereka kirim ke sana, sebuah hal yang jelas akan ditolak semua orang yang tahu akan bagaimana level itu sebenarnya. Mereka akhirnya menemukan empat orang yang diketahui sangat berpengaruh di masyarakat setelah banyak orang-orang serupa yang menolak.


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License