BTM:GyT 11 - "Momen"

penilaian: +2+x

Shinael kemudian membawa mereka ke sebuah ruangan kecil setelah menendang pintu dengan keras, teman-teman manusianya terkejut akan kekuatan kaki mungil Manstria itu, tetapi mereka tidak bisa melayangkan protes karena Shinael pasti melakukan ini karena suatu hal.

Ternyata isi ruangan itu adalah sebuah dapur normal dengan sebuah ruang makan yang menyatu di dalam satu wilayah. James dan yang lainnya kemudian duduk di atas kursi mengelilingi meja makan yang ada di pojok ruangan, di sisi lain Shinael menyatakan bahwa ia akan membuatkan makanan kepada mereka.

“Wah Shina, ternyata kamu bisa memasak?” James dan yang lainnya kagum dengan bagaimana Shinael menyajikan makanan kepada mereka dengan cepat.

Shinael merasa tersanjung dan senang dengan reaksi orang-orang itu, “Haha, Pak Rizu yang mengajarinya. Aku tidak tahu apakah enak atau tidak karena aku hanya memiliki bahan yang terbatas saja di sini.”

Tempat ini walau memiliki banyak sekali benda-benda yang berlimpah tetap saja masih kurang baginya, keberadaan bumbu dapur dan bahan utama lainnya masih cukup langka untuk ditemui sehingga dulu orang-orang yang tinggal di sini harus melakukan impor dari luar Alvus.

Walau demikian, di level lainnya pun masih sulit untuk menemukan bumbu masakan seperti garam maupun tanaman bumbu. Upaya untuk memproduksi bumbu masakan seperti membudidayakan tanaman tertentu serta memproduksi bahan-bahan tertentu sudah dicoba oleh umat manusia di Backrooms. Namun, penyebaran produk-produk itu terkendala oleh medan di Backrooms sehingga tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Karenanya, Shinael harus kreatif dengan resep masakan yang ia ketahui, berbagai uji coba telah ia lakukan, berbagai resep alternatif telah ia temukan, walau demikian ia masih merasa bahwa dirinya bukan koki ahli atau semacamnya. Setidaknya ia mampu memberi makan mereka yang membutuhkan atau untuk menahan sisi entitasnya dengan masakan buatannya.

Melihat mereka yang melahap masakannya dengan semangat memberi rasa puas baginya, bahkan orang-orang ini menghabiskan semuanya dengan cepat seperti belum pernah memakan makanan ini sebelumnya.

“Erm kurasa kalian benar-benar menyukainya, ya?”

Ucapan Shinael yang merasa bangga itu direspons dengan ringan oleh yang lainnya, mereka memuji bagaimana Shinael mampu membuat sesuatu yang mengenyangkan walau dengan bahan seadanya. Terutama bahan daging yang cukup sulit untuk didapatkan dengan mudah karena perlu usaha ekstra hanya untuk mendapatkan daging yang masih layak makan di Backrooms.

Yeah, menemukan makhluk Bumi seperti binatang ternak itu membutuhkan usaha ekstra. Belum lagi upaya dalam membudidayakan mereka, menyebarkan hasil olahan mereka, dan sebagainya. Karenanya, daging hewan Bumi menjadi salah satu makanan mewah di Backrooms.

“Oh, soal daging. Itu dagingku, jangan dilaporkan ke Pak Rizu, ya?” ucap Shinael sambil mencuci peralatan dapur di tempat pencucian terdekat.
Namun, yang lain menjadi terkejut akan hal itu, memakan dagingnya Shinael? Bukankah itu agak ….

“Daging Manstria pada dasarnya aman dikonsumsi, asal bukan dari Manstria yang buas. Yang tadi itu aku membuat tiruan daging sapi, kurasa seharusnya tidak dapat dibedakan dengan daging sapi asli karena aku sudah tahu bagaimana teksturnya.” Shinael terdengar tidak peduli dengan apa yang ia gunakan untuk memasak, sebab ia telah melakukan ini sejak ia masih kecil dahulu.

“Kau yakin kami tidak akan terkena sakit perut?” tanya Caroline kepadanya, yang lain seketika memasang telinga mereka untuk mendengar jawabannya Shinael.
Shinael menjadi cemberut mendengar pertanyaan itu, “Aku tidak ada niatan meracuni kalian tahu. Lagipula kalau aku ingin menghabisi kalian, seharusnya sudah kulakukan sejak awal heh.”

Shinael tidaklah marah, sudah sering ia menghadapi kecurigaan seperti ini sejak lama. Memakan daging entitas adalah pilihan terakhir jika siapa pun tidak menemukan bahan makanan sama sekali, namun mereka harus waspada karena biasanya ada efek samping yang menyertainya.

Shinael kemudian menambahkan bahwa makanan yang menggunakan daging Manstria adalah hal nyata di Alvus, bahkan peminatnya tidak sedikit di masa lalu. Beberapa Manstria bersikap pasif dan tidak peduli ketika manusia memotongi tubuh mereka, anehnya daging itu malah bisa dimakan. Di sisi lain, Manstria buas yang aktif menyerang justru memiliki daging yang beracun.

Shinael di sisi lain adalah kasus yang berbeda, di mana ia mampu meniru struktur daging yang pernah ia makan seperti unggas, mamalia, dan ikan. Daging tiruan akan ia produksi dalam bentuk tonjolan di salah satu sisi tubuhnya, lalu bagian itu dipotong untuk dimasak setelahnya.

Tunggu! Tidak kah ini terdengar seperti ….

“Ya, itu terjadi. Aku pernah menjadi ‘sapi perah’ untuk kebutuhan konsumsi orang-orang di sini,” jelas Shinael, dan itu membuat mereka yang mendengarnya menjadi terkejut. “Tetapi aku bisa apa? Mereka perlu makan juga dan tidak mungkin setiap hari meminum Air Almon terus, bukan?” sambungnya.

Shinael merasa bahwa gaya hidup mayoritas orang-orang di Backrooms itu tidaklah sehat, bagi mereka yang penting adalah asal kenyang saja. Bagi Shinael, seharusnya orang-orang mengonsumsi sesuatu yang bernutrisi bukan asal kenyang saja. Tetapi, orang-orang di Backrooms bisa apa? Menemukan bahan makanan itu sangatlah sulit tahu!

“Tetapi tetap saja itu melanggar standarku,” komentar James soal memakan daging Manstria, yang lainnya juga setuju.

Lagi-lagi, Shinael tidak lebih dari sekedar hewan ternak di depan mereka yang pernah tinggal di sini sebelumnya. James dan yang lainnya mengerti kenapa Shinael memberi mereka makanan yang dibuat dari bagian tubuhnya, yaitu untuk memberitahu mereka apa yang dinikmati oleh orang-orang serakah di tempat ini sebelumnya.
Apa itu kemanusiaan? Apa itu tidak berlaku untuk entitas manusiawi seperti Shinael? Sepertinya rasisme di Backrooms telah berkembang menjadi sesuatu yang berada diluar logika James dan yang lainnya.
“Jadi ini yang terjadi di luar sana?”

Mereka berempat menyadari hal yang sama di dalam pikiran mereka, mereka terlalu asik dengan pekerjaan mereka sampai-sampai tidak tahu dengan apa yang telah terjadi di tengah masyarakat yang tersebar di Backrooms. Kenyataan yang kelam seperti ini membuat mereka berpikir bahwa kehidupan di Backrooms itu tidak selamanya sulit karena lingkungannya, melainkan karena para manusia di dalamnya juga.

Setidaknya Shinael telah membuka pandangan hidup baru bagi James dan yang lainnya. Hidup tidak selamanya tentang diri mereka saja, tetapi juga harus memperhatikan keadaan sekitar. Karena mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, mereka menjadi syok dengan kenyataan bahwa ada hal tidak manusiawi yang terjadi di luar pengetahuan mereka.

Shinael kemudian duduk di antara mereka, di depan meja makan yang sederhana itu setidaknya mereka bisa berada di masa tenang setelah pertemuan mereka dengan beberapa Manstria di tengah perjalanan mereka sejauh ini. Memang sebuah horor bagi mereka yang tidak terbiasa, Alvus memang sudah bukan tempat yang sama lagi.
Shinael kemudian hendak menunjukkan sesuatu kepada mereka, namun ia merasa enggan untuk melakukannya.

“Kenapa tidak?” tanya James kepadanya.

“Sebenarnya ini sebuah album kenangan selama Alvus masih diramaikan oleh orang-orang. Tapi … aku menyimpan buku itu di dalam tubuhku,” jelas Shinael sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Gesturnya juga menunjukkan rasa tidak nyaman yang jelas.

“Lalu?” tanya James.

Shinael menyeringai untuk menyembunyikan rasa ragunya, “Yah apa kalian tidak masalah jika aku membelah tubuhku lalu sebuah buku keluar darinya?”

“Aku tidak masalah sih, tapi ….” James dan yang lainnya melirik ke arah Harold.
Menyadari yang lainnya merujuk ke arahnya, Harold kemudian menjawab, “Huh? Tidak apa-apa, sebab Shina tidak akan menggigit kita, bukan?”

Shinael tertawa pelan, “Baiklah jika semuanya tidak masalah.” Seketika bunyi benda patah dapat terdengar dengan pelan dari tubuh Shinael.

Bagian dada Shinael kemudian terbelah bersama dengan pakaiannya—sepertinya pakaiannya adalah bagian dari tubuhnya. Apa yang terlihat seperti rongga rusuk yang tidak biasa karena dipenuhi oleh kantong-kantong daging serta adanya benda bulat berdetak berwarna putih di sisi kiri rongga dadanya—mungkin ini yang disebut inti tubuh dari Manstria?

“Kantong-kantong ini isinya benda-benda, ya … ku menyimpan beberapa barang di dalam tubuhku sih. Menjadi Manstria kadang ada gunanya hehe. Lalu yang berwarna putih ini adalah otak sekaligus jantungku, kalau terkena sesuatu maka aku akan mati. Sederhana, kan?”

Salah satu kantong berbentuk kotak kemudian bergerak ke luar rongga dada bersamaan dengan beberapa urat daging yang mulai mengisi rongga yang mulai dikosongkan itu. Beberapa tentakel kemudian berpilin di pangkal penghubung kantong itu dengan rongga dada, lalu mendorong kantong itu keluar ke atas meja.

Sebuah buku album foto kemudian dimuntahkan oleh kantong daging tersebut, dan secara perlahan Shinael menyimpan kembali semua organ tubuhnya itu kembali ke dalam tubuhnya lalu menutup rongga dadanya—bahkan pakaiannya ikut menyatu seperti semula.

“Brrr dingin,” ucap Shinael sambil memegangi dadanya, sepertinya suhu sejuk ruangan yang masuk ke dalam rongga dadanya memberi rasa tidak nyaman yang aneh kepada dirinya terutama pada bagian inti tubuhnya.

Di sisi lain, James dan para lelaki hanya menatap Shinael dengan rasa ketertarikan yang tinggi. Manstria sangat unik bagi mereka dan mereka ingin melihat lebih banyak demonstrasi lagi. Namun, Carolyne malah melihat Shinael dengan rasa haus untuk melakukan sesuatu dengannya.

Shinael seketika merasakan sinyal bahaya dari Carolyne, tetapi ia memilih untuk mengabaikannya karena ia tahu kalau Carolyne tidak akan menyerang dirinya begitu saja. “Oh makhluk yang menarik,” ucap Carolyne dengan tatapan yang menyeramkan, ia seperti benar-benar ingin membongkar tubuh Shinael saat ini juga.

“Erm … lihat ini!” Shinael dengan cepat mengeringkan album foto yang agak basah itu dengan selembar kain yang ia keluarkan dari tas sandangnya. Ia mencoba mengalihkan perhatian semua orang dengan album foto yang ia angkat di atas kepalanya. Wajahnya jelas menunjukkan rasa panik akan potensi bahaya dari temannya sendiri.

“Kurasa tidak masalah jika kita melihat seperti apa level ini sebelumnya, bukan? Anggap saja tur sejarah dariku karena melihat langsung di lokasi sangat beresiko!” sambung Shinael sambil membuka halaman pertama.

Upaya Shinael berhasil menarik perhatian semua orang, album foto itu tentu adalah sebuah benda penting yang dapat menjadi bukti nyata dari berbagai hal yang terjadi di sini, bukan? Mungkin menikmati cerita bersejarah seharusnya bukan hal yang buruk, bukan? Apalagi ini ada sangkut pautnya dengan berbagai konspirasi yang terjadi di tempat ini.

Shinael bersiap untuk bercerita soal asal mula penemuan Alvus serta bagaimana bisa berakhir menjadi seperti saat ini. Ia merasa nostalgia dengan berbagai kenangan dari masa lalunya, juga ada sedikit rasa trauma ketika mengingat masa kelamnya. Apa pun itu, Shinael sudah memutuskan untuk menggali kenangan lamanya untuk memberitahukan segalanya kepada teman-teman barunya.


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License