BTM:GyT 8 - "Monster Daging 2"

penilaian: 0+x

“Maafkan aku! Aku tidak bisa mengelabui ketiga Manstria itu sekaligus!” ucap Shinael sambil memimpin rombongan untuk melarikan diri dari tiga Manstria yang sedang mengejar mereka berlima.

Shinael gagal mengelabui tiga Manstria besar yang menghadang jalan mereka menuju kantor yang dimaksud, parahnya lagi, ketiga Manstria pengejar itu melapisi tubuh mereka dengan pelindung tulang sehingga siraman Air Almon tidak mempan untuk mereka.

Pelindung tulang itu membuat tubuh mereka menjadi berat sehingga kecepatan lari mereka kurang cepat, tetapi tetap saja mereka masih bisa mengejar kalau ada yang sampai lengah.

“Ah sial!” ucap Shinael tiba-tiba.

Sebelum ada yang sempat bertanya kenapa, ternyata ada Manstria lainnya muncul di ujung lorong. Shinael memberi perintah untuk tetap berlari lurus ke depan karena kali ini ia akan bertarung.

Dalam sekejap mata, kedua lengan Shinael berubah menjadi pisau tulang yang besar. Dan dalam sekejap mata pula, ia melompat, menerjang, dan membelah Manstria yang menghalangi jalan mereka menjadi empat bagian seketika.

Kedua pisau tulang itu lepas dari lengannya dan langsung dioper ke James dan Harold sebagai alat perlindungan diri mereka yang baru—sebagai pedang. Memang mengejutkan ketika melihat Shinael menyerang Manstria lain yang hanya sedang berdiri tegak di tengah jalan, tetapi ia melakukannya karena tidak ada pilihan sehingga masih dapat diterima.

Adrenalin terus menendang sampai ke otak, mereka tampaknya tidak merasa lelah walau sudah berlari sangat jauh sambil berbelok-belok melintasi labirin. Apalagi ketika kebanyakan lokasi di sektor ini berupa lorong lurus yang panjang, momen hidup mati ini membuat mereka seperti para atlet lari profesional.

Ketiga Manstria yang mengejar mereka merubah wujudnya, mereka menyatu, membentuk suatu abominasi dari sosok makhluk horor klasik, Kerberos. Gumpalan daging itu menyembulkan tiga buah rahang yang penuh akan taringnya yang keemasan selagi menyebarkan semua tentakelnya untuk merayapi seluruh permukaan lorong dengan cepat.

Lengan-lengan panjang mereka berusaha meraih rombongannya Shinael seperti malam hendak menyelimuti siang dengan ganas, seluruh permukaan tubuh Manstria itu dilapisi oleh sisik yang melindungi tubuh mereka layaknya zirah hitam, bagaimana untuk mengalahkan makhluk seperti itu? Tidak mungkin manusia bisa mengalahkannya bukan?

Sebuah kotak senapan milik Shinael kemudian keluar dari tasnya dan langsung dibuka, senapannya langsung terhubung dengan pilinan tentakel-tentakel mungil yang keluar dari balik jaketnya yang bertindak seperti lengan ketiga.

Tentakel itu langsung membaluti setengah bagian senjata untuk mendapatkan kontrol yang lebih stabil, larasnya langsung dihadapkan ke belakang, ke arah para Manstria yang sedang mengejar mereka dengan tentakel-tentakelnya yang terus berusaha menggapai rombongannya Shinael.

Perintah merunduk dikeluarkan, James dan yang lainnya langsung menurunkan kepala mereka. Setelah belokan di lorong, dengan langsung melompat untuk menancapkan lengan dan kakinya di tembok, enam buah tembakan dilepaskan dan melesat di atas kepala mereka.

Keenam peluru itu pun menghantam para Manstria pengejar dan langsung meledak seketika. Atas kejadian itu, Shinael kemudian memerintahkan mereka untuk tetap berlari sampai dirinya menyuruh mereka untuk berhenti, apa lagi kantor sudah dekat.

“Sektor B ternyata merepotkan juga yah,” ucap James yang sedang kehabisan nafas, yang lainnya hanya bisa mengangguk karena kecapekan.
Pertemuan pertama mereka dengan Manstria selain Shinael ternyata cukup menegangkan, tidak, mereka hanya beruntung. Kantor tempat mereka berada saat ini berukuran kecil, namun setidaknya memiliki hal-hal yang mereka butuhkan untuk mengisi kembali tenaga mereka.

Shinael memasuki ruangan setelah memastikan keadaan sudah aman, ia kemudian bersandar pada dinding sambil menanyakan kondisi mereka. Mereka kelelahan, tampaknya tidak sanggup untuk meneruskan perjalanan untuk sementara. Bahkan untuk berbicara saja sudah susah.

Shinael memberitahu mereka bahwa para Manstria yang mengejar mereka telah mundur menjauh atas tembakan peringatan yang Shinael lakukan, bisa dibilang mereka tidak dihabisi oleh Shinael dan hanya diusir saja. Walau begitu, tidak menutup kemungkinan mereka bisa bertemu kembali lagi nanti.

Arthur mengecek dokumen di ruangan itu dan menemukan bahwa dokumen itu sama saja dengan dokumen di kantor pertama, usang. Ia terlihat kesal, ia datang kemari hanya untuk melihat dokumen yang tidak berguna saja.

Seluruh hidupnya ia habiskan untuk mengarsipkan sehingga ia jarang untuk keluar ruangan, menyebabkan kejadian sebelumnya benar-benar mendorong tubuhnya ke batas maksimal. Setidaknya ia menginginkan balasan berupa artikel yang bukan versi usang, tetapi mau bagaimana lagi, para Staf sebelumnya harus disalahkan karena hal ini.

Carolyne memeriksa perlengkapannya, memastikan semuanya masih tertata rapi, walau terkesan tidak usah terlalu dipikirkan tetapi kegiatan ini lumayan menenangkan dirinya. James mencoba melakukan peregangan, untuk membuat otot-otot di tubuhnya sedikit lebih rileks.

Ia sudah terbiasa dikejar-kejar seperti ini sehingga ia tahu harus berbuat apa jika ia menemukan titik aman sementara seperti kantor kecil ini. Harold … dirinya seperti habis menonton film horor seorang diri.

Shinael kemudian memberitahu mereka untuk beristirahat dan menenangkan pikiran mereka karena mereka akan melanjutkan perjalanan lagi, Shinael berharap tidak ada Manstria yang datang selama mereka beristirahat karena itu akan mengacaukan kondisi James dan yang lainnya. Sebuah ide kemudian muncul di kepalanya, “Hei semuanya, ada yang mau tidur di atas bantal tentakelku?”

Ucapan ini membuat semua yang mendengarnya kaget, mereka tahu bahwa tubuhnya Shinael dapat diubah-ubah sesuka hatinya, namun, bantal? Tidak perlu menanyakannya lagi, pilinan tentakel berukuran besar keluar dari punggungnya yang kemudian menggulung dan membentuk tabung dari daging dan kulit. Shinael kemudian meminta sukarelawan untuk menguji keempukannya, James berkata, “Mungkin sedikit lebih keras lagi.”

Tabung itu menebal, tampaknya timbunan lemak terbentuk di bawah kulit tabung itu. “Ini pas,” ucap James.

Rekan-rekannya kemudian menyandarkan diri mereka kepada tabung itu, sensasi yang aneh, seperti bersandar pada perut sapi yang besar nan padat. Shinael kemudian memanjangkan tabung itu sehingga membentuk ekor barunya yang berukuran besar, ia mempersilahkan siapa pun untuk memeluk bagian ekstra itu.

Carolyne dengan cepat menggapainya, “Hey ayolah, aku yang mendapatkannya lebih dahulu, jadi ini milikku,” ucapnya sambil mengambil semua bagian ekstra itu hanya untuk miliknya sendiri. Momen yang unik di mana manusia dan Manstria dalam jarak yang super dekat.

“Shina, kulihat para Manstria yang tadi bentuknya agak ….” belum sempat James berbicara, Shinael langsung memotongnya, “Yah, tidak jelas kan? Memang begitu bentuk mereka.”

Shinael kembali menjelaskan wujud Manstria, selain berbentuk acak nan tidak karuan, masih ada dari mereka yang memiliki wujud khas yang masih belum mereka tinggalkan dari kebiasaan meniru mereka.

Mereka dikenal sebagai “penipu”, para Manstria yang bersembunyi untuk mendapatkan mangsa. Jumlah mereka cukup banyak, tetapi mereka tidak terlalu mengancam dibandingkan dengan Manstria yang bergerak secara bebas. Manstria datang dalam wujud bervariasi, baik menyerupai orang, hewan, bahkan bentuk tak karuan.

Para Manstria adalah bentuk kehidupan paling kreatif, di mana desain makhluk tergilamu dapat menjadi nyata. Mereka tidak peduli dengan apa itu anatomi, mampu bergerak saja sudah cukup bagi mereka. Manstria memang menentang logika baik dari anatomi maupun morfologi mereka, namun itulah yang membuat mereka unik, menjadi satu dari berbagai hal aneh di dunia yang aneh ini.

Shinael salah satunya, penampilannya memang terlihat seperti anak perempuan manusia, tetapi itu hanya di bagian luarnya saja, di dalam tubuhnya itu terdapat gumpalan daging yang siap berubah menjadi apa saja yang ia butuhkan.

Shinael kembali menyimpan senapannya ke dalam tasnya dan Harold terlihat penasaran dengan senapannya itu. Peluru yang Shinael tembakkan sudah dipastikan berupa peluru peledak—mungkin Garam Api, senjata itu juga menggunakan angin dalam melontarkan pelurunya, tetapi yang unik adalah bagaimana Shinael menggunakan senapan itu dengan ekornya.

“Ini didesain oleh kenalannya Pak Rizu, dirinya juga ahli senjata seperti dirimu. Ia memberiku sebuah senapan yang ia modifikasi sendiri walau aku modifikasi lagi supaya bisa kugunakan dengan lengan tamb- ekorku, ekorku menghasilkan serta memasukkan amunisi ke dalam tempat peluncuran dan ketika pelatuk ditarik angin yang kuhembuskan lewat paru-paru tambahanku memasuki ruang peluncuran, menyebabkan amunisi meluncur,” jelasnya. Harold paham dengan mudah, ia kagum karena Shinael memadukan sisi biologisnya yang aneh dengan sisi mekanis senapan.

Shinael kemudian bercerita bagaimana para penyintas sebelumnya mencoba mempertahankan wilayah di dalam level dengan beragam persenjataan mereka namun akhirnya gagal. Aspek api sempat ampuh hingga akhirnya Manstria tahu cara menangkalnya, namun tersisa satu aspek lagi yaitu listrik.

Listrik sangat efektif dalam menghadapi Manstria, namun penggunaannya dibatasi karena dikhawatirkan Manstria malah menemukan cara dalam menghadapinya. Carolyne memamerkan senjata listrik pribadi miliknya, senjata kejut listrik, ia mengatakan bahwa ia siap menggunakan senjata ini tidak peduli resikonya. Arthur mengingatkannya bagaimana mengenalkan Manstria dengan senjata beraspek listrik akan membahayakan mereka nantinya karena dikhawatirkan Manstria akan mempelajari cara mengatasinya.

Namun Carolyne tampak tidak peduli, yang ia butuhkan saat ini adalah selamat. Ini tidaklah salah karena walaupun para Manstria sudah tahu akan hal baru, mereka pasti sudah keluar dari tempat ini ketika hal itu terjadi. Di sisi lain Shinael tertawa pelan, “Listrik ya? Maksudmu seperti ini?”

Shinael mengangkat tangannya dan percikan listrik terlihat di antara jemarinya. Ingat ketika Manstria telah mencapai tahap anomali? Ya, Shinael adalah contohnya. Percikan listrik itu kemudian mulai menguat dan menimbulkan suara yang cukup bising sampai akhirnya Shinael menghilangkannya karena merasa sudah cukup.
Para manusia itu terkejut dan tidak mampu berkata-kata lagi, jika Shinael mampu menghasilkan listrik, bagaimana dengan aspek listrik yang masih ampuh itu?

“Tenang saja, sejauh yang kutahu hanya diriku sendiri yang mampu menghasilkan listrik sedangkan Manstria lain tidak. Aku merahasiakan kemampuan ini dari mereka jadi mereka tidak akan mempelajarinya,” ucap Shinael.

Tetap saja mereka yang mendengarnya tidak merasa tenang, jika Shinael bisa maka hanya butuh waktu saja sampai Manstria lain menemukan caranya. Manstria adalah makhluk yang kreatif dan penuh dengan keanehan, beberapa dari mereka bahkan memiliki kemampuan khusus yang sangat menonjol seperti Shinael.

Bahkan, para makhluk asli Backrooms pun saling berlomba-lomba untuk menjadi yang teraneh dari yang teraneh. Manstria yang mampu menghasilkan listrik? Lalu berikutnya apa? Manstria yang mampu terbang? Menyerang psikis? Menembus tembok? Hah!

Satu jam kemudian berlalu, mereka kemudian memutuskan untuk lanjut lagi. Fisik James dan yang lain mungkin sudah agak mendingan setelah meminum Air Almon dan makanan ringan, namun mental mereka masih belum. Shinael memberi tahu mereka jika ada yang lelah maka beri tahu saja, mereka yang tidak berbicara atas masalah yang mereka sembunyikan dapat membahayakan kelompok. Dengan kata lain, komunikasi.

James setuju akan hal itu, mereka datang dalam kelompok dan mereka harus saling berkerja sama. Jika ada masalah, laporkan segera. James sudah berulang kali memimpin kelompok, ia setuju kalau komunikasi adalah hal penting, berbuat sesuatu sendirian hanya akan merepotkan banyak orang.

Harold bertanya kepada mereka berdua, “Hei, pedang ini, aku yakin Manstria sudah terbiasa dalam menghadapi senjata ini. Apa ini tidak masalah?”

“Yeah, mereka mungkin sudah tahu cara menangkalnya, tetapi itu lebih baik daripada mengenalkan mereka dengan sesuatu yang baru,” balas Shinael. Itu benar, menggunakan benda baru sama saja dengan menyuapi para Manstria dengan ilmu pengetahuan baru. Terkadang, kembali ke cara primitif tidak ada salahnya walau semua orang tahu itu tidak akan efektif.

James dan Harold mencoba-coba pedang baru mereka, dua buah bilah pedang tulang yang sebelumnya adalah lengan Shinael yang ia modifikasi dalam waktu secepat kilat untuk menebas musuh. Pedang itu ringan namun sangat tajam, tampaknya sangat berbahaya jika tidak digunakan dengan benar.

Yah, semoga itu dapat melindungi mereka, karena Manstria mampu menghasilkan pedang yang sama. Tingkah mereka seperti layaknya para ahli pedang dadakan membuat Shinael tersenyum, ayun sana dan ayun sini, seperti anak-anak dengan tongkat kayu yang mereka temukan di bawah pohon.

Arthur mengeluhkan bahwa ia masih tidak siap untuk perjalanan lebih lanjut setelah apa yang terjadi sebelumnya. James dan Harold memaklumi hal itu namun Carolyne tidak. Carolyne ingin cepat-cepat keluar dari level, dan untuk mewujudkan hal itu, ia harus menepis rasa takut itu untuk bisa terus melangkah maju.

“Sudahlah Carolyne. Arthur, tidak masalah jika kau masih tidak siap. Aku bisa memahami itu karena aku juga sama-sama lelah. Tetapi, Carolyne benar, kita hanya bisa untuk terus maju saja saat ini. Semakin menuju ke pintu keluar akan semakin sulit, dan oleh karena itu kita akan mencari cara untuk ….” ucapan James terpotong ketika Shinael menyuruh mereka untuk segera berbelok ke lorong lain dan langsung masuk ke dalam suatu ruangan. Ada Manstria lagi.

Manstria itu mendekat dan melewati lorong mereka dan berhenti setelah beberapa jarak jauhnya dari pintu tempat rombongan James sembunyi. Mereka berlima mengintip sebentar lalu kembali menutup pintu setelah beberapa saat.

“Bentuk Manstria itu malah lebih aneh lagi,” bisik Harold. James mengiyakannya. Arthur malah tertawa kecil karena wujud Manstria itu memang sesuatu sekali. Di sisi lain, Carolyne terlihat ketakutan. James menanyakan kondisi Carolyne dan dirinya menjawab kalau wujud Manstria itu adalah fobianya.

Bentuk Manstria itu seperti pilar yang ditutupi oleh kain putih dengan tentakel yang menyenbul di bawah kain, seperti hantu kain klasik. Shinael menambahkan kalau Manstria itu mengambang dan tentakelnya menggantung, itu membuat James dan yang lainnya menjadi kaget karena mereka tidak sempat melihat sampai sedetail itu.

Carolyne semakin tidak nyaman, monster itu meniru wujud hantu, sesuatu yang lebih ia takuti daripada entitas. Tetapi, bagaimana mungkin Manstria itu bisa mengambang? Shinael sendiri pun tidak tahu, ia pernah mencoba untuk mengambang karena ia pikir itu keren, tapi tetap saja gagal.

Ia juga pernah mencoba melempar Manstria lain dari sebuah ujung lorong vertikal, yang terjadi adalah Manstria itu tidak terbang dan malah menjadi gepeng setelah menghantam lantai—Manstria itu masih hidup. Bagaimanapun itu caranya, Shinael sudah menyerah untuk mencari tahu jawabannya.

Shinael menyadari bahwa Manstria itu melihat ke arahnya walau mata dari si Manstria misterius itu tidak terlihat, dengan melempar isyarat mata, Manstria itu kemudian bergerak menyusuri lorong dan pergi menjauhi mereka. Setelah menghela nafas lega, Shinael kemudian meminta para manusia yang bersembunyi di belakangnya untuk kali ini berjalan dengan cepat menyusuri lorong karena tangga menuju sektor berikutnya tinggal beberapa ratus meter lagi.

Dan tentu saja, masih banyak Manstria yang sedang berkeliaran di luar sana. Shinael tahu mereka ada di jalan yang sama dengan dirinya, tetapi Shinael memutuskan untuk menerobos mereka karena hanya itu satu-satunya jalan paling cepat menuju sektor berikutnya.

Harold kembali mencoba mengayunkan pedang barunya untuk membiasakan diri, Arthur memintanya untuk berhati-hati karena bisa saja ia mengenai seseorang. Carolyne kemudian dengan bangga menyebutkan kalau itu tidak masalah karena obat yang ia bawa mampu mempercepat regenerasi manusia layaknya Manstria.

Shinael penasaran tetapi tidak mau melihat ada anggota yang terluka, bahkan kalau bisa obat itu tidak digunakan sama sekali. Carolyne terlihat tidak puas, setidaknya ia ingin tahu keefektivitas obat karyanya dalam menyembuhkan luka, ia ingin tahu apakah obatnya benar-benar bisa digunakan untuk level seberbahaya seperti ini atau tidak.

“Hm, terdengar seperti kau sedang menjadikan kami sebagai kelinci percobaan saja,” sindir Arthur. Carolyne kemudian memukul pundaknya Arthur. Arthur mengeluh sakit karena pukulannya cukup keras, namun Carolyne hanya menyindirnya saja.

“Hei ayolah pria besar, sains tidak akan mengecewakanmu, jika kau terluka aku akan menyembuhkanmu,” ucap Carolyne sambil menyodorkan kotak obatnya. Ia cukup percaya diri dengan obat-obatan kreasinya.

“Kalau begitu berikan aku pil itu, aku merasa kecapekan dan kesakitan,” balas Arthur sambil mencoba meraih kotak itu, namun Carolyne langsung menarik kotaknya dan berkata, “Maaf saja, ini hanya untuk luka yang benar-benar luka.”

Arthur menjadi kesal, sebelum ia mulai membalas ucapannya Carolyne, Harold langsung memotong percakapan dan meminta mereka berdua untuk berhenti. Mereka harus fokus pada tujuan mereka sekarang bukan memulai pertengkaran yang tidak berguna, apa lagi dari tadi mereka terus-terusan berselisih.

Detik demi detik sangatlah berharga di sini sehingga mereka tidak menyia-nyiakannya untuk hal sepele. Mereka berdua kemudian terdiam dan saling membuang pandang. Mereka berdua adalah contoh manusia yang masih peduli terhadap manusia lain namun memiliki sifat yang berbeda. Yah, begitulah manusia, sangat beranekaragam baik dari penampilan maupun dari sifat, bahkan orang kembar pun masih memiliki perbedaan.

Manusia memiliki sifat yang berbeda satu sama lainnya, ada yang sifatnya memang murni untuk menolong sesama namun ada pula yang sifatnya menolong namun hanya untuk mendapatkan ketenaran. Memang ada sisi yang baik dan ada sisi yang buruk, namun itulah yang membuat mereka menjadi unik.

Di sisi lain, James dan Harold malah sudah seperti sahabat, Harold membagikan pengetahuannya tentang cara berpedang kepada James dan itu membuat dirinya seketika menjadi gurunya James. Kedua orang ini malah memiliki hubungan yang lebih akrab daripada dua orang yang lain, mereka seperti memiliki langkah yang sama.

Inilah hal unik lainnya dari manusia, dua orang individu dalam satu kelompok dapat menghasilkan berbagai kemungkinan, entah mereka akan saling menentang atau malah saling mendukung. Lalu variasi tersebut akan semakin bertambah jika anggota kelompok itu semakin banyak, tentu akan membentuk keanekaragaman yang unik di dalam kelompok tersebut.

“Uh, Shina, apakah masih ada cara dalam menghadapi Manstria?” tanya James. Shinael hanya memberi jawaban singkat yaitu mereka semua harus lari dari para Manstria.
Bertarung melawan Manstria itu mustahil karena secara fisik mereka lebih unggul dari manusia, satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan saat ini hanya lari. Apa lagi keadaan medan akan semakin gila, sektor B sudah membuktikan bahwa lorong lurus jauh lebih berbahaya daripada lorong berkelok-kelok sehingga stamina James dan yang lainnya akan terkuras habis.

James kemudian memberi saran yaitu sebaiknya mereka memeriksa peta sektor sekali lagi sambil mendeteksi keberadaan Manstria, tujuannya yaitu memetakan keberadaan Manstria supaya mereka dapat mengambil jalur alternatif. Ide itu diterima dan langsung dieksekusi.

Shinael pergi ke Terminal Merah terdekat sedangkan James dan yang lainnya bersembunyi di dalam sebuah ruangan, sekembalinya Shinael mereka pun memetakan kembali jalur mereka. Kali ini mereka mencoba mencari jalur yang aman supaya tidak bertemu dengan Manstria lagi.

Shinael memberitahu mereka bahwa Manstria tidak dapat ditebak sehingga mereka harus siap untuk berlari lagi, dirinya juga akan terus menerus mengakses Terminal Merah untuk memastikan keberadaan Manstria dan terus memperbaharui peta mereka.

Kini, semuanya hanya bisa bergantung pada Shinael, hanya dirinya yang mampu mendeteksi dan menghadapi Manstria. Hm, baru sektor kedua dia sudah memikul beban nyawa sebanyak empat orang. Shinael tidak mempermasalahkan hal itu, ia sudah terbiasa, dan ia sudah berulang kali melakukan hal ini. Karena apa pun yang terjadi, ia harus tetap melangkah maju.

Shinael menyiapkan senapannya, James dan Harold memoles pedang barunya, Carolyne menyalakan senjata kejut listrik miliknya, dan Arthur-

“Hei, aku belum memegang apa pun di sini,” ucapnya.

Carolyne kemudian menyindirnya, mengatakan kalau pria sejati tidak perlu senjata dalam menghadapi musuh. Tentu ini membuat Arthur kembali kesal. James kemudian menyerahkan pedangnya untuk digunakan Arthur, ia kemudian mengambil golok miliknya karena ia lebih terbiasa menggunakan senjata itu.

Carolyne tidak berhenti untuk terus mengganggu Arthur dan tampaknya James dan Harold pun ikut terlibat dalam obrolan itu. Suasana yang sebelumnya agak tegang kembali menjadi rileks. Shinael menghela nafas, kelompok yang ia jaga kali ini tidak kalah hidup dari kelompok-kelompok sebelumnya. Ia senang mereka bukan orang-orang yang kaku ataupun orang-orang yang sembrono, mereka patuh terhadap apa katanya.

Mereka juga telah belajar sedikit tentang Manstria, mereka sudah tahu harus apa jika bertemu dengan para monster itu. Yah, semoga kali ini kepatuhan dan pengetahuan kelompok ini membuat mereka semua selamat. Semoga.

“Hei hei semuanya, tetap waspada dong,” ucap Shinael sambil menyempil di antara rekan-rekannya itu. Bercanda boleh, tetapi kewaspadaan tidak boleh turun. Yah, walau pada akhirnya Shinael pun ikut hanyut dalam suasana yang menyenangkan itu.


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License