Backrooms.
Sebuah realitas di balik realita yang kita kenal. Realitas di mana segala hal yang kita ketahui tidak sepenuhnya berlaku di dalamnya. Backrooms telah mengintai dunia yang kita kenal dari balik realita standar dengan seksama, ia menunggu saat yang tepat untuk mengincar lalu menelan jiwa-jiwa malang dari Bumi tanpa pandang bulu.
Mereka yang terdampar di realitas gila bernama Backrooms akan mencoba yang terbaik untuk terus bertahan hidup selama yang mereka mampu. Backrooms sendiri tidak kenal ampun dalam memberi tantangannya, lupakan ancaman Manstria, hidup di luar habitat para monster itu saja sudah sulit!
Backrooms, sebuah sebutan untuk sekumpulan ragam dunia yang berada di balik realitas kita—Bumi, sekumpulan tempat-tempat aneh dengan beragam isi dan sifat yang aneh pula, sudah jelas sekali bukan tempat untuk kita berada. Tetapi di sinilah tempat untuk mereka yang sangat tidak beruntung di dalam hidupnya.
Backrooms, tidak ada yang tahu apa dirinya yang sebenarnya. Bagaimana ia bisa eksis? Apa alasan ia bisa eksis? Mengapa ia memiliki aturan hukum alamnya sendiri? Dan tentu saja, bagaimana mungkin ia memiliki wujud yang … memberi rasa aneh yang tak terjelaskan kepada siapa pun yang berada di dalamnya?
Banyak yang menyebut Backrooms adalah neraka tanpa akhir karena bentuk wujudnya kebanyakan berupa kompilasi dari deretan struktur serupa yang terus diulang-ulang tanpa akhir dan bisa membuat siapa pun menjadi gila. Kita ambil saja contoh habitat dari para Manstria yaitu Alvus yang menjadi lokasi utama dalam perjalanan kali ini.
Sebuah tempat di mana berbagai jenis ruangan dari Bumi diaduk dalam satu tempat yang kesemuanya dihubungkan dengan lorong dan berakhir membentuk labirin kusut tanpa batas, sudah jelas tempat itu sangat aneh dan melanggar banyak logika standar kita. Tetapi fitur yang paling menariknya adalah ketidak terbatasan semua barang yang ada di dalamnya, ambil satu maka barang serupa akan muncul lagi di tempat sebelumnya, sebuah fitur yang aneh serta menarik, bukan?
Backrooms, di mana banyak dunia saling berlomba-lomba untuk menjadi yang teraneh dari yang teraneh. Alvus adalah satu dari sekian banyak dunia—atau biasa disebut “Level”—yang ada di Backrooms. Tidak diketahui berapa jumlah total mereka semua karena akan ada saja level baru yang ditemukan oleh orang-orang.
Semua level itu saling terhubung, menyebabkan siapa pun bisa menjadi seorang penjelajah jika mereka cukup berani meninggalkan wilayah aman yang melindungi mereka. Para level itu mencoba menonjolkan diri mereka dalam banyak cara, entah dengan menghadirkan suatu bentuk kehidupan yang aneh di dalamnya, atau dengan membiarkan dirinya kosong melompong sehingga mereka yang terjebak di dalamnya merasa kesepian hingga menggila.
Backrooms menyediakan begitu banyak jenis lokasi yang bisa dikunjungi oleh para manusia mulai dari yang bisa ditinggali sampai yang sangat berbahaya, hanya tinggal menunggu manusia mana yang hendak mengunjunginya dengan sukarela layaknya masuk ke dalam perangkap yang sedang terbuka lebar.
Alvus merupakan contoh yang paling cocok dalam konteks level perangkap ini, sebuah level yang begitu menggoda karena jumlah barang-barang gratisnya yang tanpa batas. Tentu siapa saja akan menjadi tergiur untuk datang ke sana, namun mereka terlambat menyadari bahwa level itu benar-benar sebuah jebakan yang nyata.
Banyak konspirasi liar berputar-putar di kalangan para penyintas di Backrooms, sekali lagi, apa itu Backrooms sebenarnya? Apakah jangan-jangan Backrooms adalah produk buatan manusia yang gagal? Bisa saja ada sekelompok orang yang mencoba membuka gerbang lubang cacing atau sesuatu yang serupa namun malah menciptakan realita bernama Backrooms, bukan?
Tunggu, hal itu tidak mungkin. Backrooms itu … “hidup”. Ia “memakan” orang-orang, ia sudah lama ada, ia memiliki sistemnya sendiri, dan ia memiliki selera yang buruk dalam mempermainkan pikiran manusia. Mereka yang selamat akan melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup di dalam Backrooms hingga akhir hayat mereka.
Di sisi lain, Backrooms cukup berbaik hati dengan membiarkan beberapa dari mereka untuk bisa saling bertemu sehingga mereka mampu membentuk kelompok. Dari kelompok kemudian membentuk koloni. Lalu dari koloni kemudian membentuk sebuah struktur sosial yang menyerupai apa yang ada di Bumi.
Contohnya adalah koloni tempat Rizu berasal, sebuah koloni yang dibangun pada level yang berada di luar Alvus. Koloni itu termasuk koloni yang maju karena penjarahan yang mereka lakukan pada level tempat Manstria berada, mereka sampai memiliki pemerintahan milik mereka sendiri dan orang-orang yang cukup berkuasa di dalamnya. Rizu tidak lebih hanyalah orang biasa di sana, yang bisa ia lakukan adalah patuh atau angkat kaki dari koloni yang telah menaunginya selama ini.
Tetapi mari kita lupakan sejenak semua hal itu karena saat ini ada empat orang manusia memasuki level tempat di mana banyak jiwa melayang di dalamnya. Mengapa? Mengapa mengirim manusia kembali lagi ke dalam Alvus? Apa yang sebenarnya para orang-orang berkuasa itu rencanakan? Ini semua benar-benar membingungkan.
Sebuah lorong berwarna putih terbentang sepanjang ratusan meter dengan suasana hening yang menaikkan perasaan tidak nyaman. Rasanya seperti sedang berada di tempat yang seratus persen berbeda ketika pintu itu tertutup rapat—rasanya entah mengapa seperti berada di dalam sebuah mulut hewan buas raksasa.
Hening dan mencekam, itulah dua buah perasaan yang keempat orang manusia itu dapatkan ketika menginjakkan kaki mereka ke dalam level rumahnya Shinael. Uniknya tempat ini sangat bersih sekali seolah-olah masih baru, padahal ada banyak cerita tidak mengenakkan di baliknya dan seharusnya ada banyak tumpukan jasad di sini. Ke mana semua jasad itu pergi?
Pada dasarnya perasaan-perasaan tidak nyaman itu adalah hal yang wajar untuk dirasakan ketika seseorang tiba di sebuah tempat yang memang tidak diperuntukkan untuk mereka. Rasanya seperti keberadaan mereka sedang tidak diterima oleh penghuni tempat ini. Tidak heran karena mereka sedang memasuki wilayah dari para entitas yang berbahaya tanpa diminta, seharusnya itu sudah cukup menjelaskan jika para entitas itu akan bersikap tidak ramah kepada mereka nantinya.
Tetapi apa yang bisa mereka lakukan karena mereka telah terlanjur masuk sehingga tidak ada jalan untuk kembali lagi? Mereka masuk juga karena mereka ingin, bukan karena mereka dijebak … mungkin? Sebab sebenarnya ada hal ganjil yang terjadi saat ini, kenapa mereka yang dikirim kemari?
Mereka mencoba menenangkan diri mereka karena ini bukan pengalaman pertama mereka untuk mendatangi sebuah lokasi dengan konsentrasi entitas tinggi. Secara perlahan perasaan tidak nyaman itu kemudian menghilang setelah beberapa tarikan nafas. Mereka adalah para penyintas ahli yang telah lama tinggal di Backrooms sehingga mereka sudah terbiasa dengan level-level seperti ini, walau hanya James sendiri yang benar-benar seorang penjelajah aktif tidak seperti yang lainnya.
Mereka berlima kemudian saling bercakap-cakap untuk lebih saling mengenal satu sama lain sekaligus mencairkan suasana. Orang-orang ini dipilih bukan karena mereka saling kenal, melainkan karena mereka tampaknya bisa diandalkan, apa lagi mereka adalah ahli dalam bidang mereka masing-masing.
Dari percakapan tersebut, diketahuilah bahwa mereka memiliki koneksi dengan organisasi bernama SPB yang cukup terkenal di kalangan banyak koloni di Backrooms. SPB, Satuan Penyintas Backrooms, sebuah organisasi yang berisi para penyintas yang secara sukarela ingin membantu sesama, sebuah pekerjaan yang mulia bukan? Sebenarnya, SPB hanyalah sebutan umum untuk seluruh organisasi penyintas yang tersebar di Backrooms.
Kebanyakan dari mereka menjalankan tugas bajik yaitu menemukan sumber daya dan menolong mereka yang kesulitan. Mereka bak pahlawan kepada para penyintas di Backrooms, tetapi, mereka tetap saja sekumpulan manusia normal sehingga ada beberapa dari mereka yang busuk—para penjarah rumahnya Manstria adalah contohnya.
Lalu karena mereka ada hampir di banyak level, kelompok kecil mereka yang berada di suatu level akan menamai diri mereka sesuai dengan sebutan umum level tersebut. Misalnya SPB Mega Langit, memiliki basis operasi di Level “Jembatan Mega Langit” yang terhubung secara langsung dengan Level Alvus. Mereka juga lah yang menjarah level rumah para Manstria dan mengirim orang-orang ini kemari.
Kembali ke keempat manusia yang mendatangi Alvus saat ini. Perkenalan dimulai dari Arthur, seorang arsiparis ahli yang telah berada di Backrooms sejak puluhan tahun yang lalu. Ia bukan dari SPB Mega Langit melainkan dari kelompok SPB yang berasal dari level yang jauh dari sini, atas kontrak kerja sama antar kedua kelompok SPB dirinya pun mengikuti perjalanan ini karena memang bagian dari pekerjaannya.
Ia biasanya selalu berkerja di kantornya, walau sesekali ia akan pergi ke suatu level untuk memeriksa keabsahan dokumen yang telah ia terima. Secara fisik ia mungkin lemah, namun secara kemampuan ingatan ia ahlinya. Ia mampu mengingat sesuatu dengan sangat baik dan mendetail, karena itulah ia dipilih dalam misi ini sebagai seorang saksi. Arthur mengaku ia menikmati pekerjaannya, walau itu membuatnya menjadi sosok penyendiri sebagai biayanya.
Mengarsipkan, mengesahkan, memastikan keabsahan suatu dokumen, mengunggahnya ke basis data baik fisik maupun digital supaya bisa disebarkan secara luas oleh rekannya, dan selalu serius dalam melaksanakan tugasnya, Arthur menghitung semua itu sebagaimana cara dirinya dalam menolong orang-orang.
Ia orang yang tulus dan akan melakukan apa pun yang ia mampu dalam menolong, tetapi karena ia ahli dalam bidang pengarsipan, maka ia harus selalu menekuni pekerjaannya itu tidak peduli kalau pekerjaan itu dirasa monoton oleh sebagian besar orang.
“Aku mungkin sering dianggap nerd, tetapi nerd inilah yang memberi lampu hijau pada kebanyakan entri di basis data yang sering kalian baca,” ucap Arthur dengan nada bangga akan dirinya.
James langsung berterima kasih padanya karena James selalu menggunakan entri di basis data sebagai panduan di perjalanannya, siapa yang tahu kalau akhirnya ia bertemu dengan sosok yang telah menyelamatkan hidupnya dengan cara menghadirkan entri yang sangat membantu.
Arthur hanya bisa tertawa kecil, ia belum pernah menerima terima kasih oleh pembaca entri sebelumnya. Di dalam hatinya, ia ingin segera kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan sehari-harinya. Ditemani secangkir kopi favoritnya, ia ingin menjalani kehidupan monotonnya dengan penuh ketulusan.
Arthur kemudian melanjutkan tentang siapa dirinya sebelum memasuki dunia ini, dan sama saja, ia ternyata seorang arsiparis di sebuah instansi pemerintahan. Ia memasuki Backrooms ketika ia berada di ruang kerjanya sendiri, sempat panik dan kebingungan, ia akhirnya menerima kondisinya dan menjadikan dunia ini sebagai rumah barunya.
Ia tidak terlalu memikirkan kehidupan lamanya, ia hidup sendirian sehingga tidak ada beban ketika ia berpindah dunia. Tidak seperti kebanyakan orang yang ingin segera kembali ke rumah asalnya, Arthur tidak masalah di mana pun ia berada—sosok yang fleksibel. Ia bahkan merasa cukup lega ketika semua beban pekerjaan itu akhirnya pergi dari hidupnya, walau kehidupan di Backrooms tidaklah seenak itu.
Carolyne sekarang menceritakan tentang dirinya, ia adalah bagian dari sebuah komunitas penyintas yang berfokus dalam penelitian medis dan terkadang berkolaborasi dengan banyak SPB dalam hal terkait—komunitas Panah Hijau.
Dirinya termasuk sosok yang mendedikasikan diri mereka dalam pengembangan obat-obatan demi kesejahteraan para penyintas. Ia sosok yang ambisius dan gigih yang selalu mengedepankan pengembangan, tidak heran ia cukup dikenal di antara para penyintas medis. Produknya memang telah digunakan secara luas namun ia mengaku masih belum merasa cukup, ia ingin membuat sesuatu yang lebih, sesuatu yang tentunya akan mengubah kehidupan para penyintas secara drastis.
“Uh nona, tampaknya kau ingin mengejar hadiah nobel,” ucap Harold dengan nada ragu.
“Wojelas! Itu pun kalau ada di dunia ini, hmph!” balasnya dengan rasa bangga sekaligus kecewa.
Ia sangat suka akan penghargaan, namun sayangnya semua itu tidak ada di dunia ini. Dirinya yang dahulu selalu berkerja untuk mengejar penghargaan semata untuk menaikkan statusnya, namun kini ia berubah semenjak ia terdampar di Backrooms, ia ingin semua orang merasakan hidup yang lebih baik bersamanya dan ia tidak pernah merasa cukup untuk melakukannya.
Sosok yang tidak pernah merasa cukup dalam menolong orang-orang adalah sosok yang jarang di dunia ini, kebanyakan hanya mencoba mencari aman dan hidup dengan tenang saja. Sedangkan untuk Carolyne, sisi angkuh dan penuh dedikasinya lah yang mendorongnya untuk terus menolong—kombinasi yang aneh namun dibutuhkan.
Carolyne tidak bisa hidup dengan santai, ia ingin menolong karena ia merasa percaya diri akan obat terbarunya dan hendak menggunakannya jika saja ada yang terluka. Namun tampaknya Harold dan Arthur agak kurang nyaman ketika mendengar hal itu—rasanya seperti menjadi kelinci percobaan.
“Hei ayolah, aku sudah menghabiskan banyak waktuku hanya untuk membuat obat-obatan ini tahu!” ucap Carolyne sambil menghadap ke arah dua pria itu, ia kemudian lanjut berkata, “Jadi terlukalah untukku!” dengan wajah yang menakutkan. Kedua pria itu pun langsung bergerak ke belakang Shinael.
Carolyne mengaku penasaran dengan bagaimana regenerasinya Manstria, bahkan ingin sekali mempelajari Shinael baik luar dan dalamnya dengan kedua tangannya sendiri. Mendengar hal itu, Harold dan Arthur langsung menahan pundak Shinael demi mencegah Shinael pergi ke mana-mana, Shinael hanya bisa menyilangkan kedua tangannya saja sambil mengucapkan, “Nggaaaaaaaaa.”
Kini giliran Harold untuk mengenalkan dirinya, sosok teknisi sekaligus pengrajin peralatan yang lumayan terkenal di antara para penyintas, bahkan terkadang beberapa grup SPB melakukan kontak dengannya. Ia melakukan semua hal ini sebagai hobi dan semakin intensif semenjak ia tiba di dunia ini.
“Aku sebenarnya orang yang paranoid,” lanjutnya.
Ini menjelaskan mengapa ia juga membuat senjata, ia merasa khawatir, ia gelisah, ia mencoba membuat sesuatu supaya dirinya dan semua orang dapat melindungi diri mereka dari berbagai horor di dunia ini.
Ia biasanya membuat senjata untuk siapa pun dari berbagai rongsokan yang ia—atau orang lain—temukan, ia juga memperbaiki barang dan mencoba untuk membuat barang itu kembali berfungsi sehingga dirinya termasuk deretan orang-orang yang dibutuhkan.
Ia termasuk sosok yang cukup kreatif, hanya saja ia memilih untuk tidak menjadi liar dengan kreasinya. Ia khawatir bahwa kreasinya nanti akan disalahgunakan jika ia benar-benar membuatnya, ini membuat dirinya menjadi pilih-pilih dalam memilih ide mana yang hendak ia buat menjadi barang nyata. Ia tidak ingin malah manusia lah yang menjadi horor berikutnya melampaui para monster asli dari Backrooms.
“Aku sudah membuat beberapa senjata jarak dekat dan senjata jarak jauh yang kupikir akan berguna untuk kita, tetapi, seperti yang Shinael katakan, mereka akan belajar sesuatu jika kita menggunakan persenjataan itu. Aku … menjadi takut untuk menggunakan semua itu,” ucap Harold.
James memegangi pundaknya, ia mengerti rasa khawatirnya. Bagaimana tidak, intervensi manusia selalu menjadi sumber masalah tidak peduli di mana pun lokasinya, dan pada kasus ini, sebuah spesies entitas yang berbahaya menjadi semakin pintar karena intervensi manusia.
Carolyne tidak senang, Harold memiliki persenjataan tetapi takut untuk menggunakannya sehingga ia mencap Harold “cupu”. Harold tidaklah tersinggung. Carolyne berpendapat bahwa seharusnya tidak masalah menggunakan semua itu karena pada akhirnya tidak akan ada manusia lagi yang akan datang kemari walaupun para monster itu telah berkembang.
Arthur tidak setuju akan hal itu, opininya berbeda, ia beranggapan kalau mungkin saja ada pintu masuk lainnya di luar sana karena Alvus masih belum terpetakan sepenuhnya akibat keberadaan Manstria. Jika ada pintu lainnya maka itu akan menjadi sumber bahaya lainnya, dan berkembangnya Manstria akibat mereka bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan begitu saja.
James kemudian menengahi mereka berdua, “Yang dilakukan Harold sudah benar dan apa yang dikatakan Arthur juga tidak salah, sebisa mungkin kita menghindari kontak dan jika pun terpaksa maka baru akan kita gunakan. Jujur saja Arthur, aku berharap tidak ada pintu masuk lainnya, sungguh.” Ya, itu memang cukup membahayakan jika ada pintu lainnya.
James lalu menjadi serius untuk membahas masalah pertengkaran ini, ia kemudian menambahkan, “Tetapi aku mohon kepada kalian semua, jangan membuat pertengkaran yang tidak perlu, pertengkaran akan selalu berakhir pada kehancuran tim, dan aku sangat tidak mau hal itu terjadi pada kita. Apa lagi kita sedang berada di level yang sedang dalam pengklasifikasian ulang.”
Ketiga rekannya itu pun saling meminta maaf karena hampir saja membuat pertengkaran yang tidak perlu. Harold tahu dirinya pasti akan diremehkan, tetapi ia tidak marah. Bertahun-tahun ia membuat senjata, tidak pernah ia menggunakan semua karyanya itu untuk melindungi dirinya—mungkin pernah, cuman sangat sedikit sehingga ia tidak ingat kapan terakhir kali ia pernah menggunakannya.
Harold mengaku dirinya adalah seorang penakut, tetapi itulah yang membuat dirinya sangat waspada akan keadaan sekitar dan sangat kreatif dalam menggunakan barang acak yang ia temui. Terkadang orang penakut itu dapat menyelamatkan hidupmu karena insting mereka jauh lebih peka daripada orang biasa.
Sekarang giliran Sang Kapten untuk memperkenalkan dirinya. James Holmes, sosok penyintas senior yang cukup terkemuka, dirinya sudah banyak melakukan penjelajahan di berbagai level dengan beragam tingkat kesulitan menyintas sehingga membuat dirinya dikenal sebagai sosok penjelajah profesional.
Laporan penjelajahan yang ia lakukan biasanya akan tiba ke komunitas penyintas yang melakukan pengarsipan seperti grup SPB di mana Arthur berkerja, hubungan timbal balik yang saling menguntungkan ini tentu sangat dibutuhkan di Backrooms. Ada yang pergi keluar, lalu ada yang menerima laporan dan menyebarkannya secara publik.
James sudah cukup lama berada di dunia ini sehingga ia sangat berpengalaman dalam bagaimana harus dan tidak melakukan sesuatu dalam menjelajah. Ia termasuk sosok yang pemberani, namun ia tidak suka berbuat gegabah. Semua masukan akan ia dengarkan dan kali ini adalah rasa takutnya Harold dan perintahnya Shinael.
“Yah, intinya kita akan tetap mengikuti arahannya Shina, jadi mohon bantuannya ya,” ucapnya kepada Shinael.
Berbeda dengan Shinael, James memiliki lebih banyak pengalaman, tentu ia merasa canggung jika seseorang seprofesional James meminta bantuan kepada dirinya, “Tidak, tidak. Justru aku lah yang harus belajar darimu.”
Ucapan Shinael itu membuat James tertawa pelan, dibandingkan dengan Manstria kecil itu dirinya tidak tahu banyak soal level ini.
Terakhir, giliran Shinael untuk memperkenalkan dirinya lebih dalam lagi, apa lagi ia adalah Manstria yang merupakan predatornya manusia, beragam pertanyaan pasti muncul untuk mengetahui tentang dirinya.
Bagaimana ia bisa dibesarkan oleh Rizu? Apa yang biasa ia makan? Apakah mungkin Manstria lain bisa menjadi seperti dirinya? Apakah ia pernah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari manusia? Deretan pertanyaan terus membanjiri telinganya dan ia pun menjawab semuanya dengan berurutan.
Yang pasti ia dibesarkan oleh Rizu, seorang penyintas yang sebelumnya tersesat lalu sempat tinggal di level ini, Rizu awalnya menemukan sebuah inti Manstria di dalam sebuah loker dan hendak menjadikannya makanan. Namun tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam kepala Rizu pada waktu itu, ia memutuskan untuk merawat Manstria itu.
Shinael kemudian dilatih dan diajari oleh Rizu secara serius, ini karena awalnya Rizu ingin menjadikan Shinael sebagai hewan peliharaan. Namun siapa sangka, setelah beberapa bulan lamanya, Shinael malah menjadi lebih manusiawi dan ini membuat Rizu secara perlahan menganggap Shinael sebagai anaknya.
Soal makanan, tidak seperti Manstria lain yang benar-benar karnivora, dirinya cenderung bersifat omnivora sehingga ia mampu memakan apa saja yang diberikan padanya—tentu Air Almon adalah musuhnya. Setelah level ini dibuka untuk umum ia menjadi sorotan oleh banyak orang terutama pihak yang ingin menjadikan lebih banyak Shinael lainnya.
Tapi sayangnya, yah kita semua tahu kelanjutannya. Semua itu tidaklah mudah, tidak ada Manstria normal yang ingin anaknya diambil oleh manusia. Kasus Shinael adalah sebuah anomali, entah Manstria mana yang meninggalkan anaknya begitu saja di dalam sebuah loker di lorong yang sunyi.
Kematian demi kematian terus terjadi di tengah upaya itu, dan ini sangat berdampak pada diri Shinael, ia yang selalu berusaha keras untuk melindungi orang-orang malah mendapat pengalaman yang tak menyenangkan dari orang lain—perlakuan tak pantas.
Tetapi, seperti Manstria lainnya, ia tetap gigih dan terus melangkah ke depan. Tampaknya darah Manstria-nya lah yang membuat dirinya menjadi tahan banting terhadap segala macam cacian dan tetap bersabar menghadapi rintangan. Sungguh entitas yang tangguh dan selalu bangkit dari keterpurukan, benar-benar cocok untuk dirinya yang hidup dalam tekanan konstan.
Shinael juga menjelaskan kalau menjadi Manstria itu terkadang tidak selamanya menyenangkan, “Kau tahu, Pak Rizu terkadang menggangguku dengan memberiku sebuah captcha untuk kuselesaikan, bagaimana mungkin aku bisa melakukannya karena aku jelas-jelas bukan manusia?”
Yang lainnya tertawa mendengarnya, ia mengaku terkadang ia dijadikan bahan guyonan oleh Rizu sendiri, mengatakan bahwa Shinael itu adalah plastisin merah berjalan karena bentuk tubuhnya dapat berubah-ubah sesuka hatinya.
Ia bisa memilin, menarik, memanjang, memendek, menggepeng, dan sebagainya dengan bebas. Karena Shinael adalah sebuah plastisin, maka anak-anak pasti akan senang bermain dengannya. Yang lain kembali tertawa karena itu benar, wujud Shinael sangatlah tidak tetap.
Wujud anak-anak yang ia gunakan adalah kreasinya sendiri sekaligus dengan menjadikan foto anak kandungnya Rizu yang masih ada di Bumi sebagai referensi, ia berharap dirinya diterima oleh Rizu sebagai bagian dari keluarga barunya—dan itu berhasil.
Sosok yang tulus, sosok yang ambisius, sosok yang penuh waspada, sosok pemimpin, dan sosok yang “mudah berbaur”, mereka berlima terdiri dari berbagai latar belakang dan sifat yang saling menyatu dalam satu kesatuan.



