BTM:GyT 20 - "Penutupan"

penilaian: 0+x

Orang-orang berkumpul di depan markas Basis SPB Mega Langit, mengobrol. Mereka semua berebut untuk mendapatkan pemandangan yang bagus dari tontonan utama hari itu, sebuah pengumuman oleh tim SPB yang selama ini telah membantu mereka untuk hidup di Backrooms.

Namun, SPB Mega Langit yang sekarang itu sudah berbeda karena deretan anggota yang sebelumnya telah menghilang entah kemana setelah laporan perjalanannya tim Gagak Terakhir diumumkan. Para anggota baru SPB kali ini tidak lain adalah teman-teman terdekatnya Rizu di masa lalu, dan para orang-orang ini harus melakukan sesuatu untuk ke depannya.

Tentu saja para penyintas biasa itu semua sudah tahu apa yang akan terjadi, mereka tahu para anggota SPB yang baru itu akan menentukan apa yang akan terjadi pada level yang selalu menjadi pembicaraan di seluruh koloni—Alvus. Seorang pria berjalan ke tribun dan semua orang langsung diam seketika, sosok yang baru diangkat menjadi pemimpin itu sepertinya terlihat lebih bisa diandalkan dibandingkan pemimpin sebelumnya.

Dia mengetuk pelantang suara di tangannya, lalu menyesuaikan sepasang kacamata tanpa bingkai yang direkatkan. Mata semua orang tertuju padanya saat dia menarik napas dan memulai ucapannya dengan suara yang lantang.

Pria itu kemudian turun dari panggung dan orang-orang yang hadir kemudian bubar dengan tertib. Prosesi kemudian dilanjutkan ke acara berikutnya, acara utama. Semua orang serentak menaiki kendaraan menuju gedung tempat Alvus berada, bersiap untuk menyaksikan penutupan akses menuju level tersebut untuk selamanya.

Mereka membawa balok-balok besi, papan peringatan, dan berbagai perkakas, tampaknya mereka akan melakukan penyegelan habis-habisan sehingga benar-benar tidak akan ada yang memasuki … tidak, bahkan mendekati gedung tempat akses masuk menuju level tersebut selamanya. Deretan kendaraan-kendaraan berbaris secara rapi dengan kecepatan maksimum supaya bisa tiba di sana dengan cepat sambil ditemani terpaan angin dingin dan awan kelabu di hari yang penting itu.

Wajah mereka datar, tetapi hati mereka berbeda. Mereka yang mendapatkan kebahagiaan dari level itu akan bersedih, mereka yang mendapatkan kesedihan dari level itu akan berduka. Banyak yang menjadi korban dari level tersebut, baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada.

Level ini berhasil menanamkan apa itu kepedihan dalam hati para manusia yang pernah melakukan kontak dengannya. Tidak ada yang tahu apakah mereka belajar dari kesalahan mereka … atau mereka sadar kalau mereka salah? Mereka hanya ingin menikmati apa yang dimiliki oleh level itu saja, tidak lebih. Tetapi entah mengapa level itu memberi hukuman yang mengerikan pada mereka.

Rizu sudah berada di sana lebih dahulu dan sedang bersama Shinael, mereka sedang bercakap-cakap untuk terakhir kalinya walau waktu mereka saat ini terbatas. Rizu kemudian memberinya sebuah tas baru sebagai hadiah perpisahan yang memang terkesan tidak seberapa.

Namun yang penting adalah maknanya, makna bahwa Rizu akan selalu ada bersamanya. Shinael memeluk tas itu dan langsung mengenakannya, wajahnya terlihat sangat bahagia. Dan kebahagian itu asli, tidak seperti biasanya yang masih dapat dirasakan kepalsuannya.

Rizu kemudian menggerogoh isi sakunya, sebuah kertas laporan, “Shina, pertanyaanmu soal siapa yang mengirim mereka berempat ternyata adalah salah satu anggota dari SPB Mega Langit yang sebelumnya. Informasi ini dibocorkan oleh orang yang sama begitu saja dan ini memberi rasa kecurigaan bagi kami.”

Misterinya semakin dalam saja, siapa pun orang itu, lusinan pertanyaan akan diperlukan untuk membongkar motif dari tindakannya.

Rizu kemudian melanjutkan, “Dan kemudian mereka semua langsung menghilang ketika diselidiki dan kini SPB telah digantikan oleh orang-orang baru yaitu teman-teman lama kita. Kami berencana memburu orang-orang itu untuk diadili tetapi akan membutuhkan waktu yang sangat lama, jadi kami akan mengumpulkan lebih banyak bukti kebusukan mereka selagi menunggu kabar dari tim pencari.”

Shinael tertawa pelan setelah mendengar penjelasan yang begitu panjang dari Rizu, “Sudah kuduga mereka akan melarikan diri, semoga saja mereka tidak membuat masalah di luar sana.”

“Yah. Kuharap begitu juga.”

Rizu kemudian kembali menyimpan kertas tersebut dan menatap Shinael dengan pandangan sedih, ia kemudian kembali bertanya kepada Shinael. “Lalu Shina, bagaimana pendapatmu soal keempat orang itu?”

Shinael terdiam untuk memikirkan kata-kata yang jujur namun tidak terkesan negatif kepada pak tua itu, ia kemudian mengutarakan jawabannya dengan jujur setelah beberapa saat kemudian.

“Korban yang sebenarnya di sini adalah Arthur dan Carolyne, sedangkan James dan Harold terlibat di masa ramainya Alvus dahulu walau secara tidak langsung. Dan … aku kurang respek dengan mereka berdua karena … ternyata mereka penyebab dari banyaknya manusia yang datang kemari sambil membawa senjata ….”

Pak tua itu tidak mengomentari hal itu, pikirannya tidak karuan karena pendapatnya Shinael. Apa tujuan anggota SPB sebelumnya dalam mengirim orang-orang itu? Yah, setidaknya Shinael telah mengutarakan isi hatinya sehingga semoga saja anak itu merasa lega. Ia mengalihkan topik pikirannya ke hal baru, ia kini harus memikirkan sesuatu tentang SPB yang baru saja dibentuk sebagai pengganti.

Staf SPB yang baru jauh lebih bisa diajak berkerja sama dibanding staf lama karena pada dasarnya mereka adalah kelompoknya Rizu dahulu, mereka sangat setuju dengan usulan Rizu untuk menyegel pintu masuk menuju level rumahnya Shinael untuk selamanya. Memang ini demi kebaikan banyak orang, tetapi apa ganjaran yang harus ia dapatkan untuk hal ini? Ia harus berpisah dari keluarganya demi kebaikan banyak orang!

“Shina ….” Rizu tidak mampu berkata-kata lagi, hatinya sangat perih karena harus melakukan ini.

Mengapa takdir harus seperti ini? Mengapa mereka berdua harus berpisah seperti ini? Rizu hanya bisa menahan rasa sesak di dadanya dan itu membuatnya menjadi sulit untuk berbicara. Backrooms sekali lagi memaksa dirinya untuk harus berpisah dengan keluarganya, lagi.

Shinael menanggapi pria yang telah ia anggap Ayahnya itu dengan tenang dan dengan senyum manisnya—seperti mengenakan topeng, ia mengusap-usap pipinya pada tas itu, memberi gestur seolah-olah ia sedang menikmati usapan dari Rizu walau tidak secara langsung.

Rizu hanya bisa tersenyum melihat kebiasaan anak entitasnya itu, sebuah kebiasaan mengusap dirinya pada benda-benda milik Rizu jika ia sedang tidak bisa memberinya kasih sayang, kebiasaan yang sudah ada semenjak Shinael masih berupa larva kecil yang hanya mampu mengusapkan dirinya pada sepatunya Rizu.

Orang-orang dari SPB bersama para hadirin acara akhirnya tiba, Rizu dan Shinael kemudian menyadari bahwa waktu berbicara mereka sudah habis. Orang-orang dapat terlihat berbondong-bondong berbaris pada tepi jembatan untuk menyaksikan mereka berdua dari atas.

Balok-balok besi tersebut diturunkan lalu dipindahkan ke gedung dan para penyintas yang hendak menyegel pintu itu telah berkumpul sambil berbaris dengan rapi. Sudah saatnya pintu itu ditutup sekaligus menyegel gedung itu untuk selamanya.

Rizu kemudian, untuk pertama kalinya, menyaksikan “topeng wajah” milik Shinael retak. Ekspresi Shinael untuk momen emosional siapa sangka akhirnya terlihat, gurat sedih dan linangan air mata dapat terlihat dengan jelas ketika pintu itu mulai menutup.

Rizu kemudian memberi ucapan terakhir padanya, ucapan selamat tinggal. Rizu kemudian mundur dari pintu karena orang-orang itu hendak melakukan tugasnya dalam menyegel pintu tersebut, hantaman balok-balok besi yang saling bertubrukan dan bunyi hantaman palu besi membuat hati Shinael yang ada di balik pintu berdebar-debar.

Mereka menyalakan alat-alat mereka dan siap untuk mengelas besi-besi itu pada pintu, tidak lupa pula peserta lainnya memasang pagar pembatas di depan gedung supaya tidak ada yang mendekati gedung itu lagi—penyegelan total. Suara-suara perkakas yang berisik itu dapat terdengar dari balik pintu, Shinael terduduk, mereka benar-benar melakukannya.

Setelah beberapa lama suasana menjadi hening, hanya ada dirinya saja di lorong yang sepi itu, momen di mana ia bisa mengenang masa-masa yang pernah ia lalui di dalam level itu. Beragam kilas balik menerpa dirinya bak ombak di pantai yang landai, lembut dan menenangkan. Rizu telah menjadi sosok yang sangat berarti baginya dan tentu saja hatinya terluka ketika ia harus berpisah dengannya untuk selamanya. Namun, seperti biasa, ia harus melangkah maju.

Shinael mencoba menyatukan pecahan-pecahan memori indah yang tersebar di antara memori-memori pahit yang telah memenuhi kepalanya, yah sudah begitu banyak kejadian pahit yang terjadi dan merusak segalanya termasuk hubungan antara dirinya dengan sosok Ayahnya itu.

Orang-orang itu adalah sumber masalah dalam rentetan kejadian yang terjadi di dalam level, orang-orang yang serakah dan tamak sampai-sampai mereka lebih mementingkan diri mereka daripada keselamatan semua orang. Shinael mengepalkan kedua tangannya, seluruh bagian tubuhnya seperti hendak meledak, ia marah dan murka kepada orang-orang itu.

Tetapi wajahnya biasa saja, seperti mengenakan topeng untuk menyembunyikan emosinya. Dia tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah keadaan, siapalah dirinya di dunia ini, kekuatan satu individu saja mana bisa mengubah seluruh pemikiran orang-orang. Apalagi ia hanyalah entitas, jika ia bertindak maka ia akan dianggap sebagai monster yang jahat.

Ia tahu bahwa orang-orang membutuhkan suplai tidak terbatas yang dimiliki oleh Alvus, namun bukan berarti mereka harus bisa bertindak semena-mena. Backrooms kembali menunjukkan taringnya dengan menundukkan manusia-manusia angkuh yang mencoba mengklaim sesuatu yang bukan milik mereka.

Para manusia itu adalah contoh bahwa satu konsep saja mampu mengembalikan manusia ke sifat aslinya, konsep suplai tanpa batas, konsep yang sebenarnya biasa saja namun dapat mengubah sifat manusia secara total. Mereka tidak mendengar dan menutup telinga mereka dari peringatan Rizu, mereka mengabaikan peringatan dari orang biasa seperti Rizu sekalian merendahkan para entitas yang tinggal di dalamnya.

Mereka merasa diri mereka adalah spesies terbaik, mencoba memusnahkan seluruh entitas Manstria dengan peralatan mereka dan mengambil alih banyak wilayah level untuk dijarah. Mereka mencoba untuk mengontrol, mereka mencoba berada di puncak, mereka ingin menguasai salah satu realitas Backrooms, mereka adalah orang-orang yang layak untuk diberi pelajaran dan diingatkan kembali mereka sedang berada di mana.

Semua Manstria itu beradaptasi lalu membalikkan keadaan, membuat umat manusia merasakan rasa takut untuk pertama kalinya. Namun, di tengah kekacauan itu mereka terus berjuang dan malah menyalahkan sekaligus membenci Shinael jika ada salah satu dari mereka yang terluka atau tewas.

Orang-orang itu picik, mereka tidak menyadari bahwa mereka harus bersyukur bahwa mereka masih bisa bernafas hingga detik ini. Meski begitu, Shinael menghadapi semua kebencian itu tanpa pernah mengarahkan taringnya ke para penyintas, membuang sisi buasnya dan tetap melangkah maju dengan terus tersenyum.

Rizu dan Shinael, dua sosok yang sama-sama ditindas oleh kekuatan yang lebih besar dari mereka. Niat mereka tulus, namun para manusia itu menginjak-injak mereka berdua. Rizu sebagai orang yang sangat mengenal level itu tidak mampu memberi pengaruh yang cukup karena dihalangi oleh manusia-manusia yang memiliki kuasa dan “pengalaman” yang lebih darinya.

Shinael malah mendapatkan perlakukan yang tidak kalah buruknya, di mana ia diperlakukan seperti anjing pesuruh untuk melayani para manusia yang lebih “tinggi” darinya. Di tengah kegelapan ruangan yang hening, Shinael harus menahan tangisannya di dalam pelukan Rizu, menahan segala beban yang ia rasakan sepanjang hari, setiap hari.

Gadis Manstria itu terlalu muda untuk semua ini, pria tua itu pun juga sudah tidak kuasa menahan semua beban di tubuhnya yang rapuh. Anehnya, tampaknya Backrooms mengetahui kesulitan mereka dan mendukung mereka. Sang Backrooms seperti menekan saklar dan semua berbalik seketika, akhirnya manusia sadar akan posisi mereka dan pergi dari level itu … termasuk Rizu.

Mungkin ini yang terbaik untuk mereka berdua, yaitu kehidupan masing-masing dengan spesies masing-masing dan tidak ada lagi persinggungan dari kedua ras. Yah, mau bagaimana lagi, Backrooms sudah menentukan nasib terbaik untuk mereka berdua.

“Ah … benar juga. Masih ada yang harus kulakukan sekarang. Orang-orang itu memberiku sebuah misi baru ….”

Ia kemudian melihat buku sakunya untuk melihat misi baru yang diberikan oleh para orang-orang SPB yang baru itu. Misi eksplorasi, sebuah misi sederhana yang menuntutnya melakukan penjelajahan di dalam level rumahnya. Selain itu ia juga harus melaporkan berbagai penemuan yang belum pernah ada sebelumnya.

Bukan misi yang buruk untuknya dan malah sangat cocok untuknya, memang hal buruk apa yang bisa terjadi nantinya? Ia kemudian kembali berdiri dan mulai melangkah ke dalam lorong yang hening itu, ia kembali bersemangat, itu karena Alvus masih memiliki banyak misteri yang belum sempat ia temukan selama ini karena ia terlalu sibuk berurusan dengan para manusia serakah itu.

Kini ia merasa bebas dari apa pun yang telah membelenggunya selama ini, memang ia memiliki misi saat ini, tetapi misi itu sebenarnya sebuah perintah untuk menikmati kebebasannya sebagai entitas mandiri yang bebas. Tidak ada kewajiban, tidak ada tuntutan, hanya berkeliling tanpa arah di dalam Alvus yang dipercayai tanpa batas.

Dengan langkah ringan ia mulai menelusuri jauh ke dalam level yang telah menjadi rumahnya selama ini, entah keajaiban macam apa yang akan ia temukan nanti di dalam. Level ini sudah berbeda tentunya, sudah tidak sama lagi dengan masa-masa awal ia dan Rizu menjelajahi tempat ini bersama-sama.

Seluruh mata dari kejahatan berwarna merah kini manatap tajam ke arahnya, mereka mengelilinginya dari segala arah dan bersiaga untuk bergerak serentak menghampiri dirinya. Ia sadar akan ancaman ini, kedua lengannya langsung berubah menjadi pedang dan ia pun menyeringai ke arah kedalaman lorong yang hening.

“Baiklah, mari kita mulai perjalanannya! Ayo saudara-saudaraku! Mari kita berpesta!”


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License