BTM:GyT 21 - "Legenda Urban"

penilaian: 0+x

Orang-orang yang menyaksikan prosesi itu pun bubar ketika gedung itu tersegel untuk selamanya. Rizu masih di depan gedung tersebut, mungkin hendak memandanginya lebih lama lagi. Rekan sejawat Rizu kemudian memutuskan untuk pulang dan membiarkan Rizu untuk menikmati waktu sendirinya, mereka kembali bersamaan dan meninggalkan Rizu sendirian dengan sebuah mobil karena tidak mungkin mereka membiarkan Rizu untuk pulang dengan berjalan kaki. Suasana menjadi hening, hanya ada dirinya saja, momen di mana ia bisa mengenang masa-masa yang pernah ia lalui di dalam level itu.

Beragam kilas balik menerpa dirinya bak ombak di pantai yang landai, lembut dan menenangkan. Shinael telah menjadi sosok yang sangat berarti baginya dan tentu saja hatinya terluka ketika ia harus berpisah dengannya untuk selamanya. Namun, seperti biasa, ia harus melangkah maju. Sekali lagi ia terpisah dari keluarganya, sekali lagi ia terpisah dari anaknya. Rizu mencoba menyatukan pecahan-pecahan memori indah yang tersebar di antara memori-memori pahit yang telah memenuhi kepalanya, yah sudah begitu banyak kejadian pahit yang terjadi dan merusak segalanya termasuk hubungan antara dirinya dengan Shinael.

Orang-orang itu adalah sumber masalah dalam rentetan kejadian yang terjadi di dalam level, orang-orang yang serakah dan tamak sampai-sampai mereka lebih mementingkan diri mereka daripada keselamatan semua orang. Rizu mengepalkan kedua tangannya, ia marah dan murka kepada orang-orang itu. Tetapi wajahnya biasa saja, seperti mengenakan topeng untuk menyembunyikan emosinya. Dia tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah keadaan, siapalah dirinya di dunia ini, kekuatan satu orang mana bisa mengubah seluruh pemikiran orang-orang.

Ia tahu bahwa orang-orang membutuhkan suplai tak terbatas yang dimiliki oleh Alvus, namun bukan berarti mereka harus bisa bertindak semena-mena. Backrooms kembali menunjukkan taringnya dengan menundukkan manusia-manusia angkuh yang mencoba mengklaim sesuatu yang bukan milik mereka. Para manusia itu adalah contoh bahwa satu konsep saja mampu mengembalikan manusia ke sifat aslinya, konsep suplai tanpa batas, konsep yang sebenarnya biasa saja namun dapat mengubah sifat manusia secara total.

Mereka tidak mendengar dan menutup telinga mereka dari peringatannya Rizu hanya karena ia orang biasa, mereka bahkan turut merendahkan para entitas yang tinggal di dalam Alvus. Mereka merasa diri mereka adalah yang terbaik, mencoba memusnahkan seluruh entitas Manstria dengan peralatan mereka dan mengambil alih banyak wilayah level untuk dijarah. Mereka mencoba untuk mengontrol, mereka mencoba untuk berada di puncak, mereka ingin menguasai salah satu realitas Backrooms, mereka adalah orang-orang yang layak untuk diberi pelajaran dan diingatkan kembali akan posisi mereka di Backrooms yang luas ini.

Semua Manstria itu beradaptasi lalu membalikkan keadaan, membuat umat manusia merasakan rasa takut untuk pertama kalinya. Namun, ditengah kekacauan itu mereka terus berjuang dan malah menyalahkan sekaligus membenci Shinael jika ada salah satu dari mereka yang terluka atau tewas. Orang-orang itu picik, mereka tidak menyadari bahwa mereka harus bersyukur bahwa mereka masih bisa bernafas hingga detik ini. Meski begitu, Shinael menghadapi semua kebencian itu tanpa pernah mengarahkan taringnya kepada siapa pun.

Rizu dan Shinael, dua sosok yang sama-sama ditindas oleh kekuatan yang lebih besar dari mereka. Niat mereka tulus, namun para manusia itu memanfaatkan ketulusan mereka berdua. Rizu sebagai orang yang sangat mengenal level itu tidak mampu memberi pengaruh yang cukup karena dihalangi oleh manusia-manusia yang memiliki kuasa yang lebih darinya. Di sisi lain, Shinael malah mendapatkan perlakukan yang tidak kalah buruknya, di mana ia diperlakukan seperti anjing pesuruh untuk melayani para manusia yang lebih "tinggi" darinya. Di tengah kegelapan ruangan yang hening, Shinael harus menahan tangisannya di dalam pelukan Rizu, menahan segala beban yang ia rasakan sepanjang hari, setiap hari.

Gadis Manstria itu terlalu muda untuk semua ini, pria tua itu pun juga sudah tidak kuasa menahan semua beban di tubuhnya yang rapuh. Anehnya, tampaknya Backrooms mengetahui kesulitan mereka dan mendukung mereka. Sang Backrooms seperti menekan sakelar dan semua berbalik seketika, akhirnya manusia sadar akan posisi mereka dan pergi dari Alvus untuk selamanya … termasuk Rizu. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka berdua yaitu kehidupan masing-masing dengan spesies masing-masing dan tidak ada lagi persinggungan dari kedua spesies. Yah, mau bagaimana lagi, Backrooms sudah menentukan nasib mereka berdua.


Di tengah momen nostalgia yang penuh emosional itu, seorang wanita yang belum pernah ia temui tiba-tiba mendekatinya, seorang gadis muda dengan halo kebiruan di atas kepalanya—sudah jelas ia ini bukan manusia. Rizu kemudian menepis semua perasaan nostalgianya dan langsung mencoba bertanya dengan ramah pada gadis muda berambut merah muda itu, namun, anehnya gadis itu tidak mampu memberikan jawaban dengan jelas seperti ada masalah komunikasi pada dirinyanya. Rizu kemudian menyimpulkan bahwa gadis ini pasti sedang berusaha berkomunikasi dengan bahasa manusia atau ia adalah tipe orang yang sangat pemalu.

Setelah menatapi wajahnya beberapa lama, Rizu akhirnya teringat akan siapa gadis ini sebenarnya, gadis ini ternyata adalah sosok yang sedang menjadi topik hangat di antara para penyintas dan dianggap sebagai legenda urban akhir-akhir ini. Sosok yang berulang kali menjadi buah bibir karena keanehan dan kemisteriusan tingkah lakunya sampai-sampai banyak kelompok SPB yang berusaha untuk mengincarnya. Sera, sosok entitas misterius yang sangat jarang terlihat dan dijuluki sebagai Sang Pemburu karena dikabarkan selalu memburu entitas lain serta … manusia.

Informasi mengatakan kalau Sera harus diwaspadai karena sulit untuk diajak berkomunikasi dan perilakunya tidak dapat ditebak, semua orang yang mengetahui informasi itu telah diperingatkan untuk tidak memprovokasinya jika tidak sengaja melakukan kontak dengannya atau mereka akan terbunuh. Namun pada momen ini, Rizu mencoba untuk tenang dan tidak panik, ia memilih untuk memberanikan diri untuk mengajaknya ke suatu tempat yang tidak terbuka seperti ini untuk mengobrol berdua, ajaibnya Sera menyetujuinya. Ia melakukan ini karena ia tidak punya banyak pilihan, apa yang harus ia lakukan jika sesosok entitas pembunuh mendekatinya? Melawan atau lari? Dan apakah dengan melakukan itu akan berhasil membuatnya selamat sepenuhnya? Nasibnya saat ini ditentukan dari bagaimana usahanya dalam menjaga sikapnya di hadapan Sera.

Perjalanan itu cukup lama walau dengan menggunakan mobil, tetapi tetap saja di sepanjang perjalanan Sera tidak mengucapkan apa pun dan hanya memandang ke luar jembatan. Rizu mencoba berbicara namun selalu diabaikan, mungkin Sera tidak mengerti bahasa yang ia gunakan karena itu mungkin saja. Mereka kemudian tiba disebuah tempat makan sederhana di dekat koloni Gagak Merah. Rizu mempersilahkannya untuk memesan terlebih dahulu dan Sera terlihat antusias ketika memeriksa daftar menu, ini hal yang menarik, ia tidak menduga kalau sosok yang sangat pendiam ini bisa menjadi bersemangat jika berhadapan dengan daftar makanan. Kedua mata Sera memgobservasi semua daftar menu dan akhirnya jemarinya mendarat pada sebuah menu sederhana. Kopi hitam dan roti manis.

Setelah menunggu beberapa saat, pesanannya tiba.

Sera meminum kopi yang telah ia pesan dengan ditemani sebuah roti bundar sebagai pelengkap. Ia membelah roti itu dan mencelupkannya ke dalam gelas kopi itu dan membiarkan kopi itu meresap ke dalam rotinya, roti yang manis dipadukan dengan pahitnya kopi, wajahnya terlihat senang ketika memasukkan roti itu ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya secara perlahan dan membiarkan paduan kedua rasa yang saling berlawanan itu meresap di dalam mulutnya.

"Um, nona, jadi ada urusan apa dirimu menemuiku?" tanya Rizu yang sedari tadi berada di hadapan Sera. Tetapi Sera hanya menguyah dan menatap ke arah gelas kopinya, sepertinya ia mengabaikan Rizu yang sedang bertanya padanya.

Rizu menghela nafas dan mencoba untuk bersabar, di hadapannya saat ini terdapat sesosok entitas berwujud manusia wanita yang sedang memakan roti di siang hari. Gadis itu bukanlah manusia, terdapat halo kebiruan di sisi kepalanya—seperti malaikat. Namun, jika ia memang malaikat, kenapa terlihat mencurigakan? Kenapa ia tidak memancarkan aura yang … seperti malaikat? Rizu tidak mau mengambil keputusan terlalu cepat dan tetap bersabar bahkan sampai gadis itu selesai makan jika perlu.

Namun, Sera tetap tidak berbicara sampai ia selesai makan dan hanya melakukan gestur seperti orang aneh. Rizu kemudian mencoba menarik perhatiannya dengan mencoba memulai pembicaraan lagi, "Nona, aku akan membayar tagihanmu sekarang, terima kasih telah menikmati makanan buatan manusia."

Mendengar hal itu, Sera akhirnya mengeluarkan suaranya, ia hanya berkata terima kasih dengan pelan tanpa melakukan kontak mata dengan Rizu. Rizu hanya mengangguk sebentar lalu mulai meninggalkannya, tetapi gadis itu langsung memberhentikan Rizu sebelum Rizu sempat pergi ke kasir untuk membayar tagihan gadis itu.

"Um begini," ucapannya terpotong dan memberi kesan menggantung, Rizu sadar bahwa gadis ini adalah tipe orang yang tertutup dan tidak banyak bicara sehingga ia pun meminta gadis itu untuk pelan-pelan saja. Rizu tahu soal mereka yang memiliki masalah bersosialisasi, apalagi Sera adalah entitas yang memiliki nama yang cukup seram, pasti sulit untuk bisa berkeliling seorang diri di ruang publik.

"Aku menyaksikan penutupan level itu …." ucapnya dengan pelan.

Ah akhirnya ia berbicara, "Begitu ya, yah sayang sekali level itu menjadi terlalu berbahaya dan kami pun terpaksa menutupnya," balas Rizu, ia menduga kalau Sera pasti hendak mengunjungi Alvus namun sayangnya terlambat. Gadis itu hanya mengangguk dengan pelan, tatapannya masih ke arah bawah, halo di atas kepalanya berpendar cukup redup.

Ternyata Alvus tidak hanya menarik orang-orang namun juga entitas pengembara seperti Sera, namun seharusnya semua orang sudah tahu kalau level itu adalah sebuah jebakan raksasa! Keheningan kembali terjadi di antara Rizu dan Sera, Rizu kembali memulai percakapan karena ia tahu bahwa gadis ini merupakan tipe pasif yang di mana orang-orang dengan tipe ini jarang membuat keputusan secara aktif.

"Bolehkah aku tahu namamu, nona?" ucap Rizu, ia mengeluarkan pertanyaan yang biasanya cukup ampuh untuk memulai hubungan baik dengan orang baru—walau sebenarnya ia sudah tahu akan nama dari gadis itu. Sera langsung terkejut dan melakukan kontak mata tanpa sengaja, mata biru cerahnya bisa dibilang sangat memikat walau pupilnya tidak berwarna seperti manusia, putih. Mata itu juga terlihat berpendar, seperti halonya, tampaknya akan terlihat lebih terang di dalam kegelapan.

"Namaku … Sera …." gadis itu menjawab dengan pelan, halo di atas kepalanya sedikit lebih terang dari sebelumnya walau pandangannya kembali ke arah bawah. Walau Rizu memang sudah tahu akan namanya Sera, basa basi seperti ini selalu berhasil dalam memulai pembicaraan, bukan?

"Aku mendengar tentang level itu. Orang-orang datang ke level itu. Orang-orang senang dengan level itu. Kamu tidak. Kenapa?" tanya Sera, kali ini ucapannya tidak terbata-bata lagi. Ia bahkan mampu membuka obrolan tidak seperti sebelumnya yang harus dipancing terlebih dahulu, sepertinya telah terjadi kemajuan dalam berinteraksi dengannya.

"Orang-orang itu bahagia karena menjarah seisi level itu sesuka hati mereka dan aku sebagai penemu level itu tidak senang dengan apa yang mereka lakukan," jawab Rizu. Sera kemudian mengalihkan pandangannya setelah mendengar jawaban itu, wajahnya agak berubah. Setelah beberapa saat, Sera kembali bertanya, "Erm, jadi apa yang mau kamu lakukan sekarang? Level telah disegel …."

Mendengar pertanyaan itu, Rizu kemudian menjelaskan bahwa ia hendak melaksanakan tugasnya sebagai penerima surel, tetapi ia tidak menjelaskan detailnya kepada Sera. Rizu enggan untuk memberitahu Sera lebih banyak detail dari apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi, Sera itu misterius, untuk apa memberinya informasi terlalu banyak, bukan? Dan jawaban itu ternyata cukup bagi Sera.

"Manusia itu payah, ya? Mereka menjarah, lalu mereka dihukum, akhirnya mereka menyalahkan …." ucap Sera sambil agak tersenyum.

Rizu tampak terkejut karena Sera memiliki pendapat yang sama dengannya, di mana para manusia-manusia serakah itu menjarah seisi level dan memenuhi tas mereka dengan barang-barang yang mereka dapatkan. Rizu mengangguk setuju, para manusia itu memang payah, mereka dihukum oleh Backrooms, lalu bukannya menyesal mereka malah mencoba melawan dan malah menyalahkan orang lain. Tunggu, apa Sera baru saja membaca isi kepalanya Rizu? Bagaimana Sera bisa tepat dalam menyimpulkan keseluruhan pengalamannya Rizu?

Di sisi lain, Sera tidak menyangka kalau Rizu ternyata malah ikut tersenyum bersama dengan dirinya, di matanya Rizu itu manusia yang berbeda dari manusia-manusia lainnya yang telah ia temui sejauh ini. Halo biru di samping kepalanya berotasi dengan pelan searah jarum jam, Sera terlihat nyaman dengan obrolan ini.

Rizu kemudian menghela nafas sesaat dan membuka pembicaraan kembali, "Sera, boleh aku meminta bantuanmu? Ini permintaan personal dariku." Rizu mencoba menarik perhatiannya karena sosok gadis itu diketahui pernah menolong beberapa penyintas bukannya membunuh mereka, mungkin dengan meminta bantuannya ia bisa mendapatkan informasi tentang dirinya secara perlahan apalagi tampaknya mereka berdua sudah tidak terlalu canggung untuk mengobrol bersama.

"Ah itu … um … anu …." ia hanya terbata-bata dalam memberi respon, sepertinya ia perlu beberapa saat untuk menyusun respon menerima atau menolak. Halo di atas kepalanya berkedip-kedip seperti lampu yang sedang rusak dan tubuhnya ikut gemetar, sepertinya ia mengalami syok karena tiba-tiba dimintai bantuan oleh orang yang baru ia temui seperti Rizu.

"Ah jika tidak bisa maka tidak apa-apa, aku tidak memaksa kok," ucap Rizu. Gadis itu terlihat kembali tenang dan halonya tidak lagi berkedip-kedip, ia kembali meminum kopinya dengan pelan sampai habis lalu mulai mengatakan, "… maaf."

Rizu memaafkannya dan gadis itu langsung menatapnya dengan wajah agak sedih, Rizu menatap balik dengan tersenyum namun tampaknya Sera langsung mengalihkan pandangannya ketika dipandang dengan ramah oleh Rizu. Rizu tahu bahwa akan cukup sulit untuk berbicara dengannya, apalagi mendapatkan informasi darinya.

Wajah gadis itu tiba-tiba berubah dan kemudian langsung berdiri, "Maaf, tiba-tiba ada yang mengganggu barang milikku di suatu tempat, permisi …." ucapnya sambil langsung berjalan dengan cepat meninggalkan Rizu begitu saja.

Rizu mencoba mengejarnya dan ternyata ia menghilang setelah keluar dari gedung, apa dia punya semacam alarm dan baru saja menyala? Gadis yang misterius dan sangat aneh pikirnya. Sera, entitas misterius yang selama ini membuat orang-orang penasaran, siapa sangka Rizu bisa bertemu dengannya di hari yang berat ini. Ia merasa beruntung sekaligus sial secara bersamaan, sepetinya ia benar-benar tidak akan bisa melupakan hari ini dalam jangka waktu lama.

"Yah, bahkan entitas seperti dia pun tertarik untuk menonton prosesi penutupan level itu, tampak sekali dengan jelas kalau level itu memberi kesan yang dalam kepada semua orang … baik dan buruk," ucapnya sambil melangkah keluar.

Namun, seseorang tiba-tiba memegangi pundaknya dari belakang.

"Mas, teman Anda belum bayar."


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License