Pada Terminal Merah yang ia temui, ia berkata kepada para Manstria yang telah menunggu dirinya, mereka adalah para Manstria yang terus mengikuti serta yang mengejar para manusia itu selama ini. “Ini memang menyebalkan karena ini bukan gayaku, tetapi terima kasih sudah mendengarkanku.”
Lorong-lorong yang ia pilih, para Manstria yang telah menunggu mereka, semuanya ia yang atur. Shinael dan para Manstria merasa puas akan informasi ini karena akhirnya mereka bisa membalas dendam lama mereka kepada para manusia yang terlibat pada pemusnahan kaum Manstria di masa lampau.
Ada banyak sekali saudara sesama Manstria mereka yang tewas akibat kedatangan manusia, bahkan teman-teman Manstria yang telah susah payah Shinael kumpulkan pun turut terbunuh dalam masa itu. Shinael hanya bisa terduduk di atas kedua kakinya sambil menyaksikan bagaimana para manusia membentuk tim khusus untuk membasmi para Manstria yang tidak bersalah.
Shinael tidak dapat melakukan apa pun selain melihat semuanya terbakar dan para Manstria muda berlarian dalam teror, di matanya para manusia lah para penjahat yang sesungguhnya. Tetapi semua itu tidak berakhir lama, para Manstria akhirnya bangkit untuk melawan balik dengan mengumpulkan berbagai pengetahuan yang telah mereka dapatkan.
Untuk membantu kaumnya, Shinael mengumpulkan berbagai teknologi dan pengetahuan lain yang mungkin bisa membantu dalam memerdekakan tanah kelahirannya. Rizu juga tidak mau kalah, ia berhasil mendapatkan sekutu dari pihak manusia yang menentang genosida dan penjajahan yang dilakukan SPB Mega Langit walau upaya mereka masih kurang kuat dalam mendatangkan perubahan.
Hingga pada akhirnya, Manstria memutuskan strategi baru: lawan genosida dengan genosida. Akibatnya, para Manstria mulai menyerang semua manusia tanpa belas kasihan. Rizu dan kelompoknya telah dibawa keluar dari level oleh para Manstria yang telah menganggap kelompok manusia ini sebagai sekutu mereka, dan akhirnya pertumpahan darah pun terjadi tepat setelahnya.
Shinael yang berada di tengah konflik itu memilih untuk tidak melakukan apa pun dan mengawasi semuanya dari kejauhan, hingga akhirnya ia pun kembali ketika keberadaan manusia benar-benar sudah tidak ada lagi di dalam level.
Shinael kemudian membuat surat pancingan yang berisi permintaan tolong untuk menyelamatkan para penyintas yang terjebak di dalam level yang padahal sudah tidak ada siapa pun lagi di dalam level. Ia ingin memancing para anggota SPB Mega Langit yang tersisa untuk datang ke dalam level untuk menyelamatkan para penyintas palsu ini, lalu para Manstria akan datang untuk menghabisi mereka.
Tetapi, siapa sangka yang terus dikirim adalah orang-orang yang tidak bersalah dan mereka berakhir tewas karena Manstria sudah tidak membedakan siapa pun lagi untuk dihabisi. Tangannya telah lama dibaluri darah manusia yang tidak bersalah, hatinya juga sudah terbiasa untuk memanipulasi berita, Shinael telah berubah menjadi salah satu dari para entitas penipu itu sendiri akibat kedatangan manusia.
Shinael sangat murka karena para orang-orang yang ia incar terus bersembunyi di dalam kamar-kamar mereka dan malah mengirim mereka yang tidak ada hubungannya—walau James dan Harold ternyata cukup terlibat. Karena hal ini, Shinael bersumpah akan memburu para penjahat yang licik itu sampai ke sudut Backrooms jika memungkinkan.
“Sepertinya pancinganku gagal namun tidak terlalu buruk, setidaknya aku berhasil memancing para aktor utama yang berperan di latar belakang.”
Shinael terus bergumam sambil berjalan di dasar lorong vertikal tersebut, ia mengumpulkan barang-barang James yang berserakan dan memasukkannya pada sebuah dus yang ia temukan. Pandangannya begitu sayu dan penuh dengan kelelahan setelah bermain peran selama ini, namun ia masih sempat untuk tersenyum kecil.
“Jadi dirimu yang membuat para manusia itu terus berdatangan, mulai dari manusia lemah yang tidak bersalah hingga yang datang untuk menghabisi kaumku. Apa kau tahu berapa banyak korban yang dihasilkan dari kedua belah pihak? Ternyata karena dirimu, huh?”
Ia merasa puas, sosok yang telah berperan dalam mendatangkan begitu banyak manusia ke dalam level rumahnya dan berakibat pada datangnya begitu banyak kematian pada kedua spesies akhirnya tewas juga.
Ada Manstria berukuran mungil mendekati dirinya dan Shinael membiarkan Manstria tersebut mendekati jasad James dan mulai memakannya. “Kau lapar? Makanlah sampai kenyang,” ucap Shinael dengan datar sambil melangkah menjauh, ia bahkan sempat melempar senyuman manis kepada Manstria kecil itu.
Shinael kemudian duduk di dekat pintu kamar yang berisi sarang Manstria, ia termenung sebentar sambil terus bergumam. “Apa kau tahu berapa banyak saudara dan saudariku yang tewas akibat senjata-senjatamu itu? Tetapi sayangnya, mereka meniru senjata buatanmu untuk menyerang kaummu sendiri. Heh.”
Perasaannya menjadi lebih ringan karena ia merasa dendam para Manstria yang tewas akibat persenjataan buatan Harold telah terbalaskan dengan cara melempar pembuat semua senjata itu kepada para Manstria. Ia juga merasa lega karena tindakan Harold soal Bom Air Almon yang sebelumnya akhirnya mendapat balasannya.
Setelah beberapa saat ia pun pergi melangkah menuju lokasinya berikutnya. “Kau baik sekali telah menjadi umpan, dan kau juga sangat baik karena masuk ke dalam perangkap para Manstria berbentuk orang itu,” ucapnya di depan sisa tubuh Arthur yang telah habis dimakan oleh tiga Manstria berwujud anak-anak manusia.
“Aduh, sudah kubilang sebelumnya jangan percaya dengan seseorang selain kalian berempat, mereka itu pasti Manstria tahu,” lanjut Shinael sambil meletakkan tangannya pada dahinya. Ia sedikit kesal karena Arthur melanggar kata-katanya walau itu akibat serangan psikis sekalipun.
Para Manstria itu menawarkan Shinael sedikit bagian, tetapi Shinael menolaknya. “Kalian saja yang makan, memang apa lagi yang bisa kunikmati?” ucapnya sambil mengusap-usap kepala ketiga Manstria berwujud anak-anak manusia berwajah manis itu.
Salah satu dari mereka berkomentar kalau tubuh Arthur itu tidak mengenyangkan mereka, dan Shinael pun menarik pipi si Manstria itu sambil berkata, “Syukuri saja makananmu apa susahnya? Lagipula kalian itu makan bertiga tahu!”
Shinael kemudian kembali berjalan menuju kamar mandi, sesampainya ia di sana ia menyapa si Hantu. Ia kemudian menemukan Carolyne dan semua potongan tubuhnya, setidaknya Carolyne telah membuktikan kalau obatnya berhasil meregenerasi tubuhnya dan itu terbukti dari tumpukan potongan-potongan itu.
“Obat macam apa yang sudah kau buat, Carolyne … untung saja kau belum menggunakannya kepada yang lainnya, entah bagaimana mereka akan bereaksi nantinya!” Shinael mengambil kotak obat yang tergeletak di lantai, ada beberapa pil yang masih tersisa dan ia pun mengamankannya ke dalam tas miliknya.
“Kau pasti menderita, biarkan aku mengakhirinya,” ucap Shinael sambil menutup mata Carolyne yang masih terbuka, “Harus kuakui, dari semua orang, aku lebih tertarik kepadamu.”
Si Hantu bertanya apakah Shinael mau sedikit bagiannya dan Shinael pun menolak lagi. Tetapi kali ini perasaannya kurang setuju dengan tindakan si Hantu.
“Ah Ghast, lain kali jangan iseng seperti itu, kita sudah lama kenal jadi setidaknya kau sudah tahu bahwa aku tidak suka dengan perilakumu ini,” ucap Shinael sambil menepuk Manstria yang ternyata bernama Ghast tersebut. Manstria tersebut kemudian menggosok-gosok kepalanya karena ia bingung dengan apa yang salah?
Shinael dan Ghast adalah teman lama, bahkan Ghast adalah satu-satunya kenalan Shinael yang masih tersisa hingga saat ini. Sifatnya yang penakut namun penuh rasa penasaran membuat Ghast menjadi salah satu Manstria yang mampu bertahan hingga saat ini sekaligus mampu mendapatkan banyak informasi dari manusia lewat observasinya. Yah, walau kebiasaan buruknya dalam bereksperimen pada tubuh manusia sebenarnya cukup mengganggu.
“Kau bahkan … hah, akan kuambil,” lanjut Shinael sambil menikam dada Carolyne dengan tangannya dan mencabut gumpalan putih yang berdenyut itu.
Ia kemudian menyimpan benda itu ke dalam sebuah toples dan memasukkannya ke dalam tasnya. Benda itu adalah inti Manstria, yang artinya ada Manstria baru yang terlahir dari jasadnya Carolyne. Shinael kembali menepuk Ghast dengan keras dan kemudian mulai pergi meninggalkan lokasi tersebut. Di sisi lain, Ghast terlihat bingung sambil mulai mengeringkan jasad Carolyne dengan apa yang terlihat seperti sedotan dari daging yang dimasukkan ke dalam mulut wanita itu.
Siapa yang menyadari bahwa misi ini berakhir kurang dari satu hari saja, tempat terjauh pun hanya sampai di awal Sektor C. Mungkin di masa depan, jika ada misi serupa lainnya, mungkin saja waktunya bisa lebih singkat lagi. Sekarang Shinael kembali ke titik awal yaitu sektor A, tujuannya kali ini adalah melapor kepada Rizu akan kematian mereka berempat.
Sebuah pemikiran terbesit di dalam pikirannya, ada banyak misteri di balik luasnya labirin yang masih menunggu untuk dibongkar, seperti siapa yang secara spesifik mengirim keempat orang itu kemari? Apakah itu Rizu atau orang lain? Lalu bagaimana cara mereka dalam meyakinkan James dan yang lainnya untuk datang kemari? Entahlah, ia akan membicarakan hal ini dengan Rizu setelah ia selesai dengan rencananya saat ini.



