BTM - Pembaharuan

Suara gema langkah kaki lainnya dapat terdengar di koridor yang panjang itu, sekali lagi ada orang baru yang mendatangi ruang arsip berukuran kecil tersebut. Koridor biasa nan panjang yang menjadi pemandangan khas kantor lainnya di Backrooms. Seseorang memasuki pintu ruangan itu, tidak terkunci dan bisa dimasuki dengan mudah. Ruangannya masih sama dan tidak berubah setelah sekian lama, yang berubah hanyalah pemilik ruangan yang kini adalah seorang paruh baya bernama Rizu. Ia kemudian duduk di atas kursi tersebut dan membiarkan jendela ruangan terbuka sedikit supaya angin segar khas Level 11-ID dapat menyelimuti tubuhnya. Perasaan dari kursi yang nyaman dan hembusan angin sejuk membuat dirinya menjadi rileks, ia kemudian menyalakan komputer itu dan segera melakukan sesuatu yang sejak dahulu ingin ia lakukan. Berbicara dengan Shinael, anaknya … walau hanya lewat surel.

Ikon surel terpampang dengan jelas pada layar dan tentu saja ia tanpa pikir panjang langsung menulis sebuah surat:


Ia langsung mengklik tombol kirim tanpa berpikir panjang.



Setelah mengirim surat itu, pria paruh baya itu kemudian bersandar pada kursinya dengan pandangan sayunya yang khas, sambil membenarkan kacamatanya ia menggerak-gerakkan tetikusnya di atas meja demi memenuhi tugas yang seharusnya sedari dulu ia lakukan, menjadi arsiparis. Telah begitu banyak hal yang terjadi dan itu membebani pikirannya, seharusnya ia tidak menjadi orang bodoh yang dengan mudahnya menyerahkan suatu kepercayaan kepada orang lain yang ternyata seorang penipu. Ia mendecikkan lidahnya, ia menyadari bahwa dirinya tidak jauh berbeda dari orang-orang bodoh yang pernah mendatangi Level 29-ID, mereka ditipu lalu dihancurkan oleh para Manstria yang menyamar sebagai bagian dari mereka. Suatu kenyataan yang aneh baginya karena ia menjadi bagian dari orang-orang itu bukan menjadi sesuatu yang berbeda dari mereka.

Ia menepis semua pemikiran negatif itu dan kemudian membuka beragam deretan berkas-berkas laporan dari banyak penyintas karena sudah saatnya dirinya untuk melakukan tugasnya. Kebanyakan tentang penemuan hal baru dan entitas misterius seperti Sera yang di mana sebenarnya kurang penting baginya, tetapi tentu saja yang hendak ia urus terlebih dahulu adalah perihal laporan-laporan dari Shinael. Dengan secepat kilat ia kemudian membuka daftar surel yang pernah dikirimkan oleh Shinael sebelumnya, tentu saja ia akan memberi balasan pada Shinael walau tidak diketahui apakah Shinael akan membacanya atau tidak.

Setelah membaca semua surel-surel yang diberikan Shinael itu, ia membuka buku catatannya dan mencoba mencatat hal-hal apa saja yang hendak ia masukkan ke dalam entri level dan entitas versi terbaru. Setelah mencatat, merombak draf, dan memasukkan informasi baru ke dalamnya, ia kemudian menggerakkan kursornya menuju kedua pintasan draf dokumen Level 29-ID dan Entitas 29-ID untuk mulai menyunting kedua draf tersebut. Menggunakan informasi yang telah Shinael berikan padanya, ia kemudian menyimpan draf dokumen itu, draf dari versi terbaru kedua entri. Ia kemudian mencoba membaca kembali seluruh draf itu untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.



Ia kemudian menyandarkan dirinya lagi pada kursinya, ia kemudian mencoba menarik nafas panjang setelah apa yang terjadi selama ini. Kenapa ia selalu mendapatkan masalah kepercayaan dengan orang lain? Dan kenapa Shinael juga terkena imbasnya yang padahal anak polos itu tidak bersalah? Rizu kemudian memijat kedua pelipisnya untuk menenangkan dirinya, tampaknya beban hidupnya sudah terlalu banyak sampai-sampai itu membuatnya kepalanya terasa berat. Ia meminum Air Almon yang sedari tadi di mejanya sambil ditemani hembusan angin sejuk nan pelan dari kaca yang terbuka, ia mencoba setidaknya menikmati sedikit hal indah yang ada di luar jendela, pemandangan langit tak terbatas Level 11-ID.

"Semoga semua hal indah di dunia ini mendapat berkah." ucapnya sambil tersenyum. Ia kembali menatap ke layar komputernya untuk kembali bekerja sebagai arsiparis sungguhan.

"Dan kau harus beristirahat." ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul di belakang Rizu, wanita itu langsung menyandarkan dirinya pada kursi Rizu dari belakang dan menempelkan wajahnya ke dalam balunan rambut Rizu. Rizu langsung menjaga jarak ketika kontak fisik yang mendadak itu tiba-tiba terjadi.

"Eden, ini hari pertamaku dan aku harus menyelesaikan apa yang seharusnya telah aku lakukan sejak dahulu, jadi tolong jangan ganggu aku." ucap Rizu sambil terus memperhatikan kedua draft tersebut.

Wanita bernama Eden itu tersenyum melihat sosok ayah yang sangat merindukan anaknya itu, ia menghormati gestur meminta privasinya Rizu dan segera mundur, "Ah iya, sebaiknya cepatlah, sebentar lagi malam tahun baru dan tidak mungkin kan kamu tetap berkerja di hari yang istimewa itu?"

Rizu tidak merespon dan tetap fokus dengan pekerjaannya, Eden tahu bahwa Rizu akan memprioritaskan Shinael daripada dirinya dan ia pun tidak bisa berbuat banyak akan hal itu. Eden kemudian duduk di atas jendela yang terbuka, "Yah, aku juga berharap dia baik-baik saja karena dia itu anak yang menarik. Bukan hanya itu saja …" ia berhenti sebentar dan menghadap ke arah luar jendela, "… aku berharap kita memiliki hubungan juga hehe."

Rizu mendengar hal itu dan langsung menghentikan pekerjaannya sebentar, ia berdiri dan mendekati Eden yang sedang duduk di atas jendela yang terbuka itu layaknya seperti seorang model yang siap untuk dipotret. Eden menatapnya dengan lembut sekaligus menunjukkan tatapan yang penuh dengan kasih sayang, tetapi di sisi lain, Rizu langsung mendorongnya keluar jendela dan segera mengunci jendela itu.

"Dasar Manstria." gumamnya. Ia kembali duduk di atas kursi dan meneruskan pekerjaannya, tidak memperdulikan Eden yang seperti cicak merayap mendekati jendela sambil mengetuk-ngetuk jendela dan berteriak. Bagi Rizu, entah mengapa para Manstria selalu membuatnya jengkel. Shinael terkadang usil, nakal, dan susah diberi tahu, sedangkan Eden selalu mengganggunya dengan memanfaatkan parasnya. Sepertinya, bagaimanapun Manstrianya, mereka akan tetap berupa setumpuk daging yang jahil dan suka bersenang-senang dengan targetnya. Rizu tertawa karena pemikiran bahwa Manstria itu adalah sekelompok makhluk yang konyol dan langsung melanjutkan pekerjaannya setelahnya.






Setelah ia merasa yakin, ia kemudian mempublikasikan kedua entri itu. Dan yah, di mana pun Shinael saat ini, sang ayah hanya bisa berharap anaknya itu tetap bertahan hidup di Backrooms sebagai seorang penyintas seperti dirinya.

"Semoga kita bertemu lagi."


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License