Dua entitas Manstria dengan mantel hujan mereka sedang berdiri di bawah terpaan air hujan, kedua individu yang saling tidak menyukai ini terpaksa harus berkerja sama karena ini menyangkut kegiatan makan malam mereka nanti. Mereka berdua tidak diajak makan bersama atas alasan pribadi pemimpin kelompok mereka, tetapi mereka sudah memaklumi hal ini karena sudah terjadi berulang kali selama ini.
Mereka berdua sedang berdiri di depan kerumunan orang-orang dan para entitas humanoid yang sedang ramai-ramai berkumpul di depan sebuah gedung. Sebuah peristiwa besar sedang terjadi di dunia yang penuh terpaan air hujan ini, sebuah acara pelelangan barang-barang langka yang dikumpulkan dari seluruh sudut Backrooms yang dapat ditemukan oleh mereka yang berakal.
Yuna dan Guuma penasaran akan hal apa yang sedang dilelang oleh orang-orang yang mengaku sebagai kolektor barang-barang langka itu, apakah orang-orang itu memiliki apa yang para Manstria ini butuhkan? Tetapi tunggu dulu! Apakah para Manstria ini memiliki sesuatu sebagai alat pertukaran barang yang cukup pantas untuk digunakan dalam lelang?
“Target utama kita adalah bumbu atau pelengkap untuk bahan makanan daging yang kita miliki, apakah kau bawa sesuatu, Muka Pasir?” tanya Yuna ke Guuma.
“Benda termahal yang bisa kutawarkan sudah tidak ada lagi karena transaksi sebelumnya. Bagaimana denganmu, Permen Kapas?” balas Guuma ke Yuna. Ia teringat akan stok kapasnya telah digunakan Shinael untuk mendapatkan sekumpulan bumbu yang pada akhirnya digunakan dalam membuat sup sayuran, sesuatu yang jelas tidak akan dimakan oleh Guuma dan Yuna.
Yuna merasa enggan, ia memang memiliki sebuah benda mahal di dalam tas sandangnya, tetapi itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk didapat. “Kurasa sebaiknya kita lihat dulu apa yang mereka punya,” ucap Yuna yang tidak ingin menggunakan harta berharganya, setidaknya Guuma setuju akan hal itu.
Mereka berdua mencoba untuk menembus kerumunan itu sambil menjaga jarak mereka saling berdekatan satu sama lain, dengan menggunakan tubuh Yuna yang cenderung lebih besar darinya, Guuma terus mendorong Manstria berciri khas rubah itu ke depan layaknya sebuah bor penembus keramaian.
Para pengunjung pelelangan itu tampaknya berasal dari berbagai lapisan masyarakat, memang tidak jelas status kasta dan penampilan asli mereka akibat jas hujan yang mereka kenakan, tetapi setidaknya siapa pun dapat menemukan bahwa tidak semua dari mereka merupakan manusia. Ada beberapa entitas humanoid turut hadir yang membawa alasan mereka masing-masing, mungkin karena mereka penasaran akan apa yang dilakukan oleh para manusia atau karena mereka memang ingin ikut serta dalam pelelangan.
Beberapa dari para pengunjung ini tampaknya tidak membawa apa pun sedangkan beberapa lagi membawa sebuah gerobak yang telah ditutupi lembaran anti air dan ditarik oleh diri mereka sendiri. Sayup-sayup panggilan dari pelantang dapat terdengar dari pihak pelelangan tersebut, mereka mencari sesosok penyintas yang mau menukarkan harta-harta berharganya demi harta-harta berharga yang mereka sediakan.
“Jika mereka tidak menyediakan apa yang kita butuhkan maka kita akan pergi ke bawah jembatan yang kusebutkan sebelumnya saja,” ucap Guuma yang sedang berlindung di balik tubuh Yuna sambil terus mendorong wanita rubah itu.
“Hei Muka Pasir! Berhenti mendorongku! Aku merasa dilecehkan dari depan-belakang tahu!” Yuna langsung menggunakan ekornya yang tertutupi kain anti air itu untuk melilit lehernya Guuma. Ia jelas merasa kesal karena dirinya bukan lah sebuah tameng.
“Aku tahu! Aku tahu! Lepaskan aku!” pinta Guuma, tetapi Yuna langsung mengangkat Guuma ke atas udara dengan ekornya.
“Kau lihat seberapa jauh lagi menuju ke gedung itu! Dan kau ingin aku terus mendorong orang-orang ini dengan dadaku?!” protes Yuna dengan Guuma yang masih terikat pada ekornya.
“Aku paham! Maaf karena membuat dada besarmu itu menyentuh punggung orang-orang! Tolong turunkan aku!” Guuma sebenarnya tidak merasa sakit atau apa pun, ia hanya merasa malu karena orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikan mereka berdua.
Setelah mendecikkan lidahnya, Yuna menurunkan Guuma kembali ke tanah yang tergenang air hujan itu, ia akhirnya melepaskan Guuma dan lanjut mencoba menembus keramaian yang masih menghalangi jalan mereka.
Terlepas dari protes Yuna sebelumnya, ia tetap lanjut menembus keramaian itu dengan tubuhnya dan Guuma pun mengikuti dari belakang. Pada akhirnya Yuna melakukan hal yang sama dengan sebelumnya, namun bedanya kali ini ia tidak didorong. Mungkin alasan ia protes sebenarnya bukan karena ia menggunakan tubuhnya untuk membuka jalan, melainkan karena ia merasa terpaksa untuk melakukannya.
Guuma sudah menyadari hal ini dan memilih untuk tidak menyatakannya, ia sudah tahu bahwa Yuna bukan tipe yang akan senang jika maksud aslinya diumbar secara terbuka. Ia sudah paham seperti apa sifat Yuna itu, sosok Manstria rubah yang enggan mengakui perasaan aslinya dan malah menyembunyikannya dengan perasaan palsu.
Setelah berusaha, Yuna dan Guuma akhirnya tiba di teras gedung setelah dipersilahkan menaiki tangga yang licin. Keberadaan dua Manstria tampaknya menarik perhatian para petugas lelang walau kedua Manstria ini belum tentu memiliki sesuatu untuk ditawarkan. Walau demikian, sepertinya para petugas lelang ini tidak mempermasalahkannya dan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk untuk melihat-lihat.
Dengan menarik jas hujan organik milik mereka kembali ke dalam tubuh, mereka mulai memasuki gedung itu bersama dengan orang-orang lain yang turut dipesilahkan masuk, tetapi tampaknya mereka itu bukan orang-orang sembarangan. Mereka tidak terlihat seperti tipikal penyintas yang biasa ditemukan di sembarang tempat, mereka terlihat sukses dan tampak tidak memiliki kesulitan dalam bertahan hidup seperti penyintas pada umumnya.
Lorong yang luas dan terlihat mewah itu memang memberi kesan yang jauh berbeda dengan apa pun yang ada di luar gedung. Karpet merah, deretan lemari pajangan di sisi kanan, pencahayaan yang megah, dan dekorasi yang terlihat mahal itu membuat kedua Manstria itu merasa kagum dengan suasana tempat mereka berada saat ini.
Yuna kemudian merasa tertantang ketika melihat orang-orang di sekitar, ia langsung pergi ke sebuah sudut ruangan yang tertutupi tirai untuk mulai mengganti pakaiannya. Guuma tertawa pelan, is meledek Yuna yang dengan gampangnya terpicu untuk turut tidak mau kalah dengan orang-orang ini. Tetapi Guuma tahu bahwa ini adalah hal yang wajar karena ia sudah mengenal Yuna beserta latar belakangnya, Yuna memiliki garis keturunan yang dapat dianggap sebagai “bangsawan”nya Manstria.
Setelah menyimpan pakaiannya ke dalam tas sandangnya dan menghasilkan pakaian organik yang terbuat dari tubuhnya sendiri, penampilan Yuna kini terlihat seperti seorang sosok ratu dari kerajaan timur di Bumi. Ia terlihat anggun dan berwibawa akibat paduan warna merah, emas, dan hitam yang terlihat mewah, sepertinya darah bangsawannya keluar seutuhnya ketika mendapati dirinya berada di sebuah lingkungan yang diisi oleh orang-orang kelas atas.
“Kau tidak mau kalah dengan mereka, Permen Kapas?” tanya Guuma dengan nada menyindir.
“Heh, Manstria jelata sepertimu seharusnya merasa bangga karena diizinkan untuk dekat-dekat denganku,” balas Yuna dengan nada angkuhnya yang cukup membuat iritasi perasaan Guuma.
Guuma menyeringai dengan perasaan kesal, “Sial, aku jadi ingin sekali mencincangmu.”
Sepertinya kali ini mereka akan bertengkar lagi, tetapi pertengkaran mereka tidak sempat terjadi ketika seorang petugas lelang datang menghampiri mereka. Yuna memanfaatkan hal ini untuk mendongkrak statusnya di hadapan petugas itu dengan menyatakan bahwa ia adalah penerus sebuah “kerajaan” Manstria, yang di mana ini memang benar, ia berhasil membuat orang-orang di sekitar mereka menjadi merasa khawatir.
Manstria sudah dikenal sebagai spesies yang mengerikan di banyak lokasi, keberadaan Yuna berhasil membuat dirinya menjadi salah satu pusat perhatian karena orang-orang ini harus bersikap waspada untuk tidak menyinggung Sang Ratu Manstria. Di sisi lain, Yuna menjadikan Guuma tidak lebih sebagai rakyat jelata yang sedang membawa barang pribadi Sang Ratu dan itu benar-benar membuat Guuma berusaha keras dalam menahan rasa ingin memukul Manstria rubah itu.
Petugas lelang kemudian bertanya apa yang sedang dicari oleh sosok Manstria berkasta tinggi seperti Yuna, sebelum Yuna sempat menjawab, Guuma membisikkan kepadanya bahwa mencari bumbu untuk memasak daging tidak terdengar berkelas sama sekali. Yuna seketika menelan ludahnya sendiri, Guuma memang benar, sosok Ratu sepertinya mencari bumbu untuk memasak daging??
Yuna berdalih ke petugas lelang bahwa ia sedang melihat-lihat berbagai koleksi yang mungkin akan menarik perhatiannya, petugas lelang langsung menunjukkan jalan kepada mereka berdua dengan antusias dan percaya diri dengan koleksi milik mereka. Ada banyak sekali objek-objek langka yang ditawarkan oleh pihak pelelangan ini dan semuanya terlihat sulit untuk didapatkan lewat proses niaga biasa. Mereka dipajang layaknya koleksi museum lengkap dengan kotak kaca pengamannya, memang memberi kesan langka dan mahal kepada mereka, bukan?
Beberapa objek terlihat seperti diambil dari lokasi paling berbahaya yang pernah ada, beberapa objek terlihat sangat langka sehingga tidak mungkin untuk didapatkan lagi, mereka semua memang tidak main-main untuk didapatkan! Tidak ada yang tahu bagaimana orang-orang ini bisa mendapatkan semua objek tersebut, tetapi bagaimanapun juga, upaya mereka memang pantas untuk dibayar tinggi.
Guuma lanjut berbisik ke Yuna soal betapa miskinnya mereka saat ini, itu membuat Yuna menjadi syok karena itu sangat benar, mereka berdua tidak memiliki apa pun selain harta berharga misterius milik Yuna, dan juga, belum tentu harta berharganya Yuna benar-benar akan dianggap berharga di hadapan orang-orang ini, bukan?
Langkah mereka berdua terhenti ketika ada sebuah objek yang menarik perhatian mereka, sebotol saus yang dikenal sebagai saus Barbeque oleh orang-orang dari Bumi. Yuna langsung bisa mengenalinya karena saus itu pernah menemani masa kecilnya, melihat benda yang membangkitkan rasa nostalgianya itu membuat ia sangat ingin mendapatkannya. Guuma tidak pernah melihat maupun merasakan saus itu sebelumnya, jadi ia akan mengikuti pilihannya Yuna saja.
Yuna menjelaskan kepada Guuma tentang betapa cocoknya saus itu sebagai bahan masakan daging mereka nantinya, walau akan lebih baik lagi jika mereka berhasil mendapatkan bumbu-bumbu lainnya sebagai pelengkap. Ulasan tentang saus dari Yuna sangat rinci dan itu berhasil membuat Guuma menjadi tertarik untuk mencobanya juga, ia pun setuju dengan rencana menjadikan daging panggang sebagai makan malam mereka nantinya.
Tetapi, sosok ratu mengincar saus dan bukannya permata atau benda-benda yang identik dengan hal kebangsawanan lainnya? Guuma kembali meledek Yuna akan pilihan hidup si Manstria rubah, mengapa ia harus menggunakan mode bangsawan miliknya yang malah berujung pada penyesalan? Sindiran itu membuat Yuna kembali melilit leher Guuma dengan ekornya lagi.
Proses pelelangan yang orang-orang ini adakan pada dasarnya sama seperti sebagaimana pelelangan yang berlangsung di Bumi, hanya saja, terdapat perbedaan di mana para peserta akan membawa objek-objek milik mereka lalu nilainya ditentukan oleh petugas lelang dalam bentuk angka. Orang-orang Bumi akan familiar dengan proses ini: menggadaikan barang-barang yang mereka miliki lalu “uang”nya digunakan untuk lelang. Jika mereka gagal dalam mendapatkan barang yang diinginkan maka barang-barang milik mereka yang telah digadaikan sebelumnya akan dikembalikan.
Kali ini Yuna merasa terpojok, apakah ia harus menggadaikan harta berharganya untuk mendapatkan saus itu? Bagaimana jika nilainya tidak cukup? Dan yang benar saja sesosok ratu dari spesies predator puncak menginginkan sebotol saus? Yuna benar-benar menyesal untuk menggunakan mode bangsawannya, tidak mungkin ia mundur begitu saja karena ia masih memiliki harga diri untuk dipertahankan. Karenanya ia pun mengeluarkan harta berharga miliknya untuk digadaikan, sebotol madu.
Pihak petugas lelang terkejut karena madu sebanyak setengah liter itu termasuk benda berharga dan akan ada banyak pihak yang menginginkannya. Setelah diperiksa, didapati bahwa madu tersebut memang madu asli dan dalam keadaan baik. Dengan demikian para petugas itu mulai berdiskusi untuk menetapkan berapa nilai yang akan diberikan kepada Yuna.
Nilai dari sebotol madu milik Yuna akhirnya telah keluar setelah beberapa saat kemudian, dan Yuna langsung merasa tidak terima dengan nilainya. “Hanya segini?” ucapnya di dalam hati. Tetapi ia teringat apa kata Shinael soal nilai barang yang dapat berbeda-beda di tiap kelompok niaga, ia pun mau tidak mau harus menerima nilai harga menurut kelompok ini.
Di tengah perasaannya yang berkecamuk, Guuma menarik pakaiannya Yuna karena tampaknya ada juga pihak yang mengincar saus Barbeque itu. Dengan wajah panik ia berusaha menilai dengan serius orang-orang itu dari penampilan mereka. Tampaknya mereka adalah orang-orang dari kelompok juru masak jika memperhatikan kostum yang mereka kenakan dan bagaimana mereka berdiskusi dengan serius di depan saus yang dipajang itu.
Mereka membawa bahan-bahan masakan umum di dalam kantung besar yang mereka sandang, tampaknya mereka akan melakukan penentuan nilai dengan petugas lelang sebentar lagi. Yuna dan Guuma langsung bergerak menepi ketika para juru masak itu mendekati tempat penentuan nilai. Di dalam hatinya Yuna berharap bahwa para juru masak itu mendapatkan nilai yang lebih rendah dari dirinya karena mereka hanya membawa bahan-bahan masakan umum yang dapat ditemukan lebih mudah.
Harapannya itu langsung rusak ketika Guuma menunjuk ke arah orang-orang yang menyusul para juru masak itu, bisa terlihat bahwa bahan-bahan yang dipersiapkan oleh para juru masak itu ternyata sangat banyak. Hanya dalam waktu singkat, nilai yang akan para juru masak itu dapatkan langsung keluar dan hasilnya mengejutkan Yuna yang sedang mengintip ke arah mereka. Dari nilainya jelas tidak akan ada harapan bagi Yuna, orang-orang itu pasti akan memenangkan sausnya.
Guuma langsung bersimpati dengan Yuna, ia bisa melihat bahwa telinga dan ekor Manstria itu menunduk atas rasa sedih yang muncul di dalam hatinya. Ia kemudian memberitahu Yuna bahwa ia tidak akan ikut ke dalam acara lelang karena ia tidak memiliki apa pun untuk digadaikan, tidak lupa ucapan “Semoga beruntung” ia berikan ketika ia mendorong Yuna untuk masuk ke dalam ruangan lelang.
Di dalam ruangan itu Yuna merasa kaget karena para peserta lelang yang ada bukanlah orang-orang biasa, mereka semua benar-benar bukan tipikal individu yang biasa ia temukan di sepanjang perjalanannya selama ini. Mereka terlihat seperti para elit yang tidak menganggap kesulitan bertahan hidup itu eksis. Ia merasa yakin bahwa orang-orang ini pasti tidak pernah menahan lapar dan haus sebelumnya. Auranya dapat ia rasakan di udara, insting Manstria-nya mengatakan bahwa ia berada di tempat yang sangat salah saat ini.
Status bangsawan mungkin terdengar berlebihan dan tidak cocok di dunia di mana orang-orang fokus dalam bertahan hidup, tetapi sebutan dari orang-orang Bumi ini terdengar masuk akal jika menelusuri asal muasal tentang mengapa mereka bisa mendapatkan sebutan itu. Seseorang, atau beberapa orang, menemukan sebuah lokasi yang layak huni memang mengagumkan, tetapi, bagaimana jika lokasi itu terdapat sumber daya? Atau setidaknya terdapat potensi pemanfaatan sumber daya?
Berita itu pasti akan menyebar dalam banyak bentuk dan orang-orang akan tertarik untuk pindah ke tempat itu. Lokasi layak huni berarti setidaknya siapa pun dapat bertahan hidup lebih baik di sana, adanya sumber daya maka siapa pun akan mendapatkan kualitas hidup yang jauh lebih baik lagi. Lalu, mereka yang menjadi penemu lokasi tersebut akan dianggap sebagai pahlawan oleh mereka yang merasa terbantu atas penemuan mereka.
Komunitas yang baru terbentuk ini akan memilih sesosok pemimpin yang berkompetensi dalam memimpin dan mengolah sumber daya yang mereka temukan, sehingga tidak heran struktur sosial yang telah mereka bangun bersama-sama akan secara perlahan menganggap sosok pemimpin tersebut sebagai seseorang berstatus tinggi. Raja dan ratu, kaum bangsawan dan elit, mereka semua dapat ditemukan tersebar di banyak lokasi dan mereka semua memiliki ciri khas masing-masing dalam memimpin komunitasnya.
Entah mengapa ada rasa kesal di dalam hatinya Yuna, ia merasa seperti sudah dikalahkan oleh para orang-orang yang hanya tinggi di kasta saja tetapi tidak dalam konteks kekuatan murni. Ia masih merasa bahwa dirinya adalah spesies superior sehingga seharusnya orang-orang ini memberi hormat kepadanya, tetapi perasaan tingginya itu hancur ketika ia membandingkan nilai yang ia miliki dengan salah satu peserta lelang yang ada.
Ia pun menjulurkan lengannya untuk bersandar pada tembok, tidak hanya kalah dalam adu aura kelas atas, ia juga dikalahkan dalam konteks ekonomi. Ia merasa ia akan kalah telak kali ini karena yang benar saja ia akan mampu mendapatkan sesuatu dengan nilai yang ia miliki dan dengan lawan-lawan seperti orang-orang ini. Sambil memegangi kepalanya, ia harus menentukan rencana untuk bisa mengamankan saus tidak, setidaknya harus bisa mendapatkan sesuatu dalam acara lelang ini!
Ia pun menenangkan dirinya, ia merasa tidak ada gunanya untuk menyesal karena semua ini dimulai sejak ia menggunakan mode bangsawannya. Ia mungkin seorang bangsawan kecil jika dibandingkan dengan orang-orang elit ini, ukuran komunitas yang ia pimpin di tempat asalnya tidaklah besar dan masih belum cukup pantas untuk disebut sebagai komunitas yang maju. Bahkan ia jarang berada di rumah karena telah bergabung dengan kelompok penjelajahannya Shinael demi tujuan pribadinya.
Di saat ia hendak mengambil salah satu kursi, sebuah kehebohan tiba-tiba dapat terdengar dari luar. Para orang-orang elit yang ada di dalam ruangan turut terkejut dan merasa penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana, mereka mulai berdiri dari kursi mereka karena merasa penasaran.
Seketika Yuna langsung menduga bahwa Guuma pasti sudah melakukan sesuatu yang konyol atau sesuatu yang akan merepotkan diri mereka nantinya. Ia pun segera keluar untuk melihat apa yang terjadi dan langsung terkejut dengan apa yang ia saksikan. Sesosok Hound terlihat berlarian ke sana kemari untuk menghindari petugas keamanan sambil membawa sebotol saus Barbeque di mulutnya.
“DASAR MUKA PASIR BODOH!” ucap Yuna di dalam hatinya. Ia tahu bahwa Guuma saat ini sedang mengubah wujudnya menjadi seekor Hound hanya untuk mencuri botol saus itu. Penandanya, warna kulit gelap dan rambut kemerahan itu memang khas Guuma sekali dalam menyamar.
Ia kemudian sadar, bukankah ini artinya ia tidak perlu melakukan lelang? Dengan cepat ia meminta petugas penggadai barang untuk membatalkan botol madunya dan para petugas itu menerima permintaan itu. Setelah botol madunya kembali, ia berpikir untuk kabur bersama dengan Guuma, tetapi ia mendapat sebuah ide.
Dengan cepat Yuna membuat ledakan kecil di tempat Guuma baru saja berpijak sehingga ia pun terlempar keluar gedung yang akhirnya mendarat ke sebuah tumpukan semak belukar yang basah. Kekuatan eksplosif Yuna memang efektif dalam membuat apa pun terlempar dan itu berhasil membuat dirinya menjadi pusat fokus semua orang yang ada di dalam bangunan itu.
Yuna kemudian mengambil botol saus Barbeque yang terlepas dari gigitan Guuma akibat ledakan tadi lalu mengangkatnya ke udara, dengan bangga ia pun mendeklarasikan kepada semua orang di dalam gedung bahwa ia baru saja menyelamatkan mereka semua. Orang-orang elit itu seketika merasa kagum padanya, para juru masak yang sebelumnya pun melempar tepuk tangan kepadanya. Yuna pun memanen semua rasa terima kasih itu, sebutan pahlawan pun ia terima setelah meledakkan temannya sendiri.
Sesuatu yang ia tunggu pun tiba, seorang petugas lelang datang untuk menawarkannya sesuatu sebagai hadiah karena telah menyelamatkan acara lelang ini. Dengan senyum kemenangan Yuna pun menyatakan bahwa ia akan mengambil botos saus yang ia pegang itu saja sebagai hadiah, ia beralasan bahwa ia tidak perlu sesuatu yang megah hanya untuk hal yang seperti ini.
Ia bahkan menambahkan bahwa ia menolong karena ia tidak ingin acara lelang ini batal hanya karena gangguan entitas rendahan seperti Hound. Para orang-orang yang menyaksikan semakin kagum atas keputusan mulia Sang Ratu Manstria yang ada di hadapan mereka, para juru masak yang sebelumnya juga mengincar saus itu pun merelakannya untuk diambil oleh Yuna. Seketika Yuna merasa berbagai jenis bunga yang indah telah mekar di dalam hatinya.
Ia pun pergi keluar gedung dengan sebotol saus Barbeque di tangannya, Guuma dalam wujud normalnya dapat terlihat menyembul dari dalam semak belukar sambil mengacungkan jempolnya. Pada akhirnya, kedua Manstria ini kembali ke taktik lama mereka hanya untuk mendapatkan makanan yang mereka butuhkan: menipu makhluk hidup lain … walau yang satu ini memang cukup kotor.
Di tengah perjalanan menuju penginapan tempat mereka akan melakukan persiapan makan malam nanti, Guuma menjelaskan maksud dari perbuatannya tadi, “Aku tahu bahwa kau sedang kesulitan akibat keputusanmu sendiri, lalu aku yakin kau tidak akan bisa mendapatkan apa pun. Jadi, aku mengambil langkah ekstrim untuk membuatmu terlihat seperti orang penting. Lagipula kau itu memang suka jadi pusat perhatian, kan?”
Yuna melilit leher Guuma lagi dengan ekornya, “Kau membuatku seperti seorang penipu yang kotor, pencapaian yang ku dapatkan hanyalah omong kosong yang kau buat tahu! Oh astaga, aku jadi menyesal mengklaim saus ini dari mereka.” Yuna merasa kesal karena ia merasa harga dirinya ternoda kali ini, ia memang ingin menjadi pusat perhatian, tetapi bukan seperti ini caranya.
Dengan perlahan lilitan pada leher Guuma melonggar ketika ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, “Tetapi yah, terima kasih sudah memahami masalahku dan membantuku keluar darinya,” ucap Yuna dengan nada pelan. Suaranya mungkin tertutup oleh suara deras air hujan, tetapi Guuma membentuk senyum kecil di sudut mulutnya karena ia bisa mendengar perkataan jujurnya Yuna.



