DBLB 1 - "Penginapan"
penilaian: 0+x


Info

Judul: Di Bawah Langit Berbintang - Penginapan
Author: lemmelemme
Rilis: 2025

Bagian dari serial Di Bawah Langit Berbintang


I



Penginapan

Di Bawah Langit Berbintang


HaS550r.png

Sekelompok Manstria memasuki sebuah bangunan dengan wajah kelelahan setelah menyelesaikan perjalanan yang sangat panjang. Para entitas itu lalu meletakkan tas-tas berukuran besar yang sebelumnya mereka sandang ke samping sofa, dan dengan serentak, mereka menghempaskan diri mereka ke atas sofa yang empuk itu hingga furnitur tersebut berdecit akibat massa tubuh mereka.

Deretan jas hujan, sepatu, topi, dan payung basah milik pengunjung lainnya telah tersusun dengan rapi di sepanjang tembok di belakang tubuh mereka. Sayup-sayup suara hujan dari luar bangunan juga masih dapat terdengar bersamaan dengan hiruk pikuk dari orang-orang yang masih berlalu lalang di tengah hujan. Kedatangan para pelancong dari negeri yang jauh seperti para Manstria ini adalah kejadian biasa. Tempat persinggahan yang mereka datangi ini telah menjadi lokasi yang rutin mereka datangi setiap kali mereka hendak melakukan istirahat sementara dari perjalanan tanpa akhir mereka.

Di tengah momen kelelahan mereka, seseorang datang menghampiri untuk menawari sebuah handuk kepada masing-masing dari mereka, orang ini terlihat seperti seorang pegawai yang tinggal di bangunan ini.

“Terima kasih," ucap seorang wanita muda bertanduk yang sepertinya adalah pemimpin kelompok para petualang ini, "Kami akan menginap di sini selama tiga hari waktu kalian.”

“Apakah diriku boleh menawarkan kamar yang biasanya untukmu?” tanya pegawai tersebut.

“Ya, yang paling murah itu,” balas si pemimpin kelompok.

Si pegawai kemudian mencatat beberapa hal yang ia perlukan lalu pergi untuk menyiapkan berbagai hal lainnya kepada grup Manstria penjelajah ini. Di sisi lain, si pemimpin grup kemudian menyandarkan dirinya ke sofa, sambil melihat ke arah sekitar, ia mengisi paru-parunya dengan aroma unik yang sudah sangat ia kenal dari tempat ini.

Bangunan bar yang berdiri di salah satu pojok kota, keseluruhan tempat ini terdiri dari kayu coklat yang telah difurnis dengan baik, gaya arsitektur dan bagaimana mereka menata barang memberi kesan klasik yang unik. Walau demikian, keberadaan listrik serta air mengalir sudah cukup untuk membuat banyak orang yang berdatangan untuk memilih beristirahat di sini layaknya sebuah wisma sederhana.

Mereka yang tinggal dan menjadi pekerja di dalam bangunan ini tahu kalau orang-orang akan berdatangan ke tempat mereka, mereka kemudian saling bahu-membahu untuk membuat sebuah tempat persinggahan yang dapat menerima orang-orang dari banyak asal-usul. Mereka memodifikasi banyak bagian bangunan, mereka bahkan turut menambah sebuah lantai baru yang akan dipergunakan sebagai tempat istirahat para pengunjung juga. Dedikasi mereka untuk membantu mereka yang kelelahan perlu untuk diapresiasi, bukan?

Tempat ini adalah satu dari sekian banyak tempat di luar sana yang telah menjadi persinggahan favorit orang-orang dari banyak latar belakang. Itu dikarenakan tempat berkumpul telah menjadi sebuah tempat yang penting bagi sesama makhluk sosial karena selain hanya untuk keperluan berinteraksi antar sesama makhluk hidup, melainkan juga untuk keperluan penyebaran informasi.

Ketika waktunya telah tiba dan si pegawai memanggil mereka dari atas tangga, si pemimpin grup kemudian merenggangkan lengannya yang telah lelah dan kemudian kembali ke kelompok kecilnya. Grupnya pun mengikuti dirinya menaiki anak tangga. Di ujung lorong, terdapat sebuah ruangan kecil yang sederhana telah menunggu mereka. Mereka meletakkan beberapa barang mereka ke pojok ruangan sedangkan beberapa lagi diletakkan di atas meja di samping ranjang masing-masing. Ruangan ini cukup kedap suara karena suara hujan di luar tidak terdengar sama sekali, tetapi suhu dinginnya masih dapat terasa di kulit, sungguh tempat istirahat yang sempurna.

Ranjang sederhana dengan sebuah bantal, lampu bohlam yang digantung dengan rendah, dan gaya furnitur yang tampaknya sudah ketinggalan zaman. Lantai kayu berdecit, tembok konkrit polos tanpa jendela, tumpukan kain yang agak lusuh, benda-benda kecil yang ditumpuk di atas lemari, dan lentera yang telah berdebu. Beberapa orang mungkin akan beranggapan bahwa ruangan ini berada di kesan 'terjebak di masa lampau' dan mungkin pernah muncul di dalam mimpi mereka. Tetapi, untuk para Manstria seperti mereka berempat, kamar ini tidak lebih hanyalah sekedar kamar berharga murah di hadapan mereka.

Keluar dari kamar maka akan ditemukan deretan kamar-kamar lainnya, lalu jika berbelok sedikit ke arah lorong sempit yang ada di luar, sebuah kamar mandi kecil pun dapat ditemukan. Setidaknya ada aliran air hangat di sini sehingga para Manstria ini dapat saling bergantian dalam kembali menghangatkan tubuh mereka. Bahkan salah satu dari mereka langsung menghempaskan dirinya ke atas kasur yang empuk itu setelah mandi.

“Ah dia langsung tidur.”

“Itu karena dirimu terlalu banyak menyuruhnya melakukan ini dan itu sebelumnya.”

Kedua teman-temannya itu hanya memberi komentar singkat kepada dirinya yang sudah berkelana di alam mimpi. Meninggalkan rekannya itu, mereka kembali menuruni anak tangga dengan pelan menuju ke tempat di mana orang-orang berkumpul demi kesibukan mereka masing-masing.

“Erm, aku mau ke sana,” ucap salah satu dari anggota grup sambil menunjuk ke sebuah meja yang dipenuhi beberapa orang.

Si pemimpin grup kemudian mengizinkan anggota termudanya itu untuk pergi ke sana, salah satu dari mereka pun mengikuti untuk menjaganya. Sang pemimpin kelompok kemudian pergi menuju ke dapur untuk mencari makanan dan minuman hangat, tidak lupa pula ia sesekali menoleh ke arah para anggotanya yang berada di sisi lain bangunan ketika ia sedang berbicara dengan pegawai yang bertugas.

Sebuah meja bundar dengan banyak tumpukan kertas di atasnya, ada beberapa alat kantor serta alat makan yang masih belum dirapikan, bahkan orang-orang yang duduk secara melingkar di atas kursi pun ikut terlihat lusuh. Sebuah kain besar sebagai atap tenda menggantung di atas kepala mereka, dari tumpukan debunya dapat dilihat bahwa kain tersebut belum pernah dibersihkan sebelumnya.

Di bawah lampu yang menggantung dengan rendah itu, orang-orang lusuh itu saling bercakap-cakap akan suatu hal. Pandangan mereka kemudian beralih ke arah dua Manstria yang datang menghampiri mereka.

“Oh lihat siapa yang akhirnya datang! Adik Astra dan Adik Yuna!” ucap pak tua lusuh yang dengan cepat menyediakan dua buah kursi kosong kepada kedua Manstria itu, “jadi bagaimana perjalanan kalian?”

Astra kemudian duduk lalu meletakkan buku catatan miliknya yang tebal di atas meja, sedangkan Yuna duduk di kursi yang posisinya di belakang Astra dengan wajah sinis khasnya.

“Perjalanan kami baik-baik saja,” balas Astra dengan wajahnya yang masih menunjukkan rasa lelah.

“Sudah kubilang, pak tua ini tahu banyak soal rute yang bagus! Kalian tidak akan pernah menemukan bahaya jika mengikuti ruteku!” balasnya sambil membersihkan debu tak kasat mata di bahunya dan lalu menuangkan segelas kopi kepada dirinya. Sangat sulit untuk menemukan seseorang sepercaya diri ini bahkan setelah mencari di seluruh penjuru Backrooms. Astra kemudian tertawa pelan, lalu berterima kasih kepadanya karena telah diberitahukan rute yang aman, dan si pak tua pun membalasnya dengan anggukan tulus.

“Jadi, ceritakan pengalaman kalian,” ucap pak tua itu. Orang-orang yang ada di sekitar mereka pun juga tertarik ingin mendengar, mata dan telinga mereka terbuka dengan lebar. Reputasi dan pengalaman mereka diuji saat ini, di antara telinga-telinga yang telah hidup untuk mengingat kenangan.

Astra mengangguk dan membuka buku catatannya yang tebal, tempat ia mendokumentasikan perjalanan serta berbagai pengetahuan tentang banyak hal yang telah ia koleksi dari banyak orang. Kali ini ia membuka halaman terbaru, dan menunjukkan beberapa coretan dari lanskap datar dengan lautan tanpa batas. Ia mengangkat karyanya, dan menyatakan bahwa terdapat sesuatu yang baru yang ia temukan di tengah perjalanan mereka.

Kata-kata Astra itu menaikkan perhatian orang-orang yang berada di meja dengan satu kalimat saja, menunjukkan bahwa topik ini adalah memang sesuatu yang mereka suka.

“Kami menemukan sebuah lokasi yang belum pernah kami lihat sebelumnya, tetapi mungkin kalian sudah pernah mendengarnya. Tempat itu kami temukan ketika kami sedikit keliru ketika mengikuti rute yang direkomendasikan,” jelas Astra.

Telinga hewani Yuna kemudian berdiri.

“Tempat baru itu sangat membosankan, gaada yang spesial ugh,” ucap Yuna yang akhirnya berbicara setelah sedari tadi diam saja.

Si pak tua menggelengkan kepalanya untuk menggubris komentar Yuna, lalu memfokuskan dirinya kepada Astra. “Ah lokasi baru? Bisa ceritakan lebih lanjut? Pak tua ini tidak bisa menebak suatu tempat begitu saja tanpa petunjuk begitu saja.”

Bisa terdengar sekumpulan suara mhm yang seirama setelahnya, beberapa jari mengetuk ujung peralatan makan mereka di atas piring berminyak. Suara gesekan kertas dan perkamen bergema di antara kerumunan, pena sudah siap digunakan.

Melihat antusiasme dari mereka yang hadir, Astra pun mulai bercerita, “Waktu itu kami sedang menuju ke Pancaran Kontras. Ketika kami melewati semak belukar mengikuti jalur rekomendasi, hm, semak yang berada di dekat pojokan tembok bergambar pemandangan pantai tropis, salah satu dari kami tidak sengaja untuk mengambil belokan yang salah dan malah menabrak tembok beton.”

“Apa dia baik-baik saja?” tanya salah satu dari pendengar, dan Astra langsung mengangguk. Salah satu dari pendengar lainnya kemudian turut bertanya, “Lalu apa yang terjadi setelahnya?”

Astra kemudian lanjut bercerita bahwa mereka berempat tanpa sengaja tersungkur ke depan dan akhirnya keluar dari semak, mereka terkejut ketika langit dan suasana Pancaran Kontras telah berubah total menjadi sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Mendengar hal itu, orang-orang yang ada di meja pertemuan itu mencoba untuk memeriksa catatan milik mereka tentang jalur-jalur menuju level lain yang ada di Pancaran Kontras. Sedangkan beberapa lainnya yang baru mengetahui ini langsung mencatat apa yang mereka dengar dari Astra dengan seksama. Ini bisa menjadi penemuan jalur baru atau malah penemuan kembali informasi lama yang sudah terlupakan.

Di sisi lain, Yuna berdiri dan mengeluarkan buku saku miliknya dari kedalaman bulu ekornya yang tebal untuk menambah informasi dari Astra, “Sekedar tambahan, tanaman dan tanah mengalami perubahan ketika kami terlambat menyadarinya. Tanah Pancaran Kontras yang biasanya gelap berubah menjadi putih dan tanamannya yang berwarna gelap juga berubah menjadi tanaman berdaun lebar berwarna hijau.”

Para pendengar cerita itu mulai berdiskusi sambil mencoba mengingat kembali apa yang mereka ketahui dari Pancaran Kontras, mungkin mereka pernah mendengar kisah serupa atau mungkin hanya sekedar rumornya saja sebelumnya. Apa pun itu, mereka seketika menjadi asyik dalam berdiskusi ketika topik tentang level baru tiba pada telinga mereka.

Astra kemudian lanjut menceritakan seperti apa penampilan level yang mereka temukan, ia bercerita soal langit biru tanpa benda langit, lautan luas bersama dengan ombaknya yang tenang, pohon-pohon tinggi tanpa cabang yang kurus sekali, pasir putih bersamaan dengan lantai beton berwarna-warni, bangunan dan kendaraan kosong yang tidak ada apa pun di dalamnya, serta betapa kosongnya level tempat mereka berada pada waktu itu.

Tidak ada apa pun, hanya ada diri mereka, desiran ombak lembut, angin sepoi-sepoi yang sejuk, bangunan-bangunan kosong, dan pepohonan saja. Para Manstria ini sempat menggunakan kondisi level yang tenang itu untuk bersantai di pantai yang hampa, bahkan Astra sendiri bisa tidur dengan nyenyak tanpa ada gangguan di sana.

Yuna sendiri yang satu-satunya yang tidak merasa senang karena tidak ada apa pun yang dapat ia lakukan di dalam level. Ia komplain karena tidak bisa menemukan ikan maupun sesuatu yang menarik di dalam air, dan ia pun kesal karena tidak diajak bermain bola pantai yang padahal ia sendiri yang sebelumnya menolak.

Ini adalah momen menarik lainnya bagi orang-orang ini, sebuah momen di mana mereka yang tahu akan memberitahu sedangkan yang tidak tahu akan mendengar lalu mencatat. Orang-orang ini sederhana, bisa mendengar cerita yang seperti ini tentunya akan menyenangkan mereka.

“Sayangnya kita tidak punya benda mahal seperti Wi-Fi bersama dengan kita, kita jadi tidak bisa menyelaraskan informasimu dengan milik orang lain di luar sana,” ucap si pak tua. Para pendengar pun mengangguk setuju.

Wi-Fi merupakan benda yang sangat berguna untuk hal-hal yang seperti ini karena bisa menghubungkan orang-orang di seluruh penjuru Backrooms tanpa batasan, hanya saja benda itu sangat sulit untuk dicari serta kekuatan jaringannya yang tidak stabil.

“Kalian tidak perlu benda mahal itu hanya untuk bertanya, bukan?” tanya Yuna kepada orang-orang itu.

Si pak tua tertawa pelan, ia setuju dengan yang dikatakan Yuna karena selama ini orang-orang sudah terbiasa dengan kehidupan tanpa Wi-Fi. Apa pun informasi yang telah mereka dapatkan, akan mereka terima dan selaraskan secara mandiri dengan apapun pengetahuan yang mereka miliki.

Mereka yang berada di dalam tempat persinggahan ini juga salah satunya, mereka tidak perlu benda mahal seperti Wi-Fi untuk membantu diri mereka. Mereka tinggal mengandalkan catatan dan ingatan mereka lalu berdiskusi tentang lokasi misterius yang ditemukan oleh kelompok Manstria ini. Tetapi untung saja, Astra dan Yuna selalu memiliki jawaban atas segala pertanyaan mereka.

Ini adalah kegiatan standar bagi para penyintas seperti mereka, mendengarkan dan mengoleksi informasi dari berbagai sumber sudah seperti makanan sehari-hari mereka. Tidak ada yang tahu apakah sebuah lokasi baru telah ditemukan atau itu hanyalah lokasi lama yang baru saja ditemukan kembali, yang pasti mereka akan selalu ada untuk menunggu informasi itu untuk tiba.

Para pendengarnya Astra mencoba untuk mengaitkan lokasi temuan para Manstria ini dengan apa yang mereka ketahui, mungkin ada rumor di luar sana yang pernah mereka dengar namun berhasil lolos dari gapaian ingatan mereka. Ada banyak sekali informasi berlalu lalang di antara mereka yang berkumpul dan tentu saja belum tentu informasi-informasi itu tiba pada diri mereka, atau bisa saja informasi yang mereka terima malah berbeda dari apa yang mereka punya.

Penyebaran dari mulut ke mulut memang tidaklah efektif, tetapi yang seperti inilah yang selalu digunakan karena kepraktisannya. Karena itulah kegiatan penyelarasan informasi selalu saja terjadi di banyak pertemuan para penyintas. Sayangnya, semakin lama mereka berdiskusi, semakin lelah pula diri Astra. Tampaknya efek lelah akibat perjalanan jauh telah tiba pada fisik Astra yang memang tidak sekuat para Manstria lainnya, setidaknya ia telah membagikan informasi miliknya kepada orang-orang ini sebelum ia mulai terlelap di atas kursi.

Yuna kemudian mulai merangkul tubuh Astra yang sudah mengantuk untuk kembali ke kamar setelah merapikan barang-barangnya dan memberitahu para orang-orang yang sedang sibuk berdiskusi itu. Walau Yuna telah dikenal sebagai satu-satunya anggota kelompok yang kurang kooperatif dengan sesamanya, jika itu soal Astra, Yuna akan menjadi lebih bertanggung jawab.

Si pak tua kemudian memberitahu Yuna bahwa ia akan pergi ke lokasi yang mereka laporkan untuk memeriksanya lalu memberitahukan kembali kepada para Manstria ini tentang pendapat mereka. Tetapi Yuna tidak terlalu memperdulikannya karena ia memang tidak tertarik dengan tempat yang ia nilai membosankan itu.

“Ya terserahlah, pak tua. Lagipula lokasi itu cukup jauh untuk didatangi sehingga kehampaannya tidak akan memuaskan kalian yang susah payah mendatanginya.” komentar dari Yuna hanya membuat si pak tua tersenyum, gadis itu benar, ada banyak sekali tempat di luar sana yang dipenuhi kehampaan sehingga pergi ke sana hanya buang-buang waktu dan tenaga saja.

Tetapi si pak tua tidak masalah akan hal itu, ia kemudian berkata, “Ya aku tahu itu, tetapi bagiku yang penting adalah pengalaman yang akan didapatkan setelahnya. Kami tidak tahu tempat seperti apa yang kalian temukan, jadi kami juga ingin mengalaminya walau itu terdengar tidak berguna.”

Yuna menghela nafas, ia memberikan senyuman kecil kepada si pak tua yang tetap akan pergi.

“Aku tidak ingin mendengar kabar buruk dari kalian nantinya,” ucapnya, ternyata itu membuat si pak tua merasa senang karena Yuna ternyata juga bisa mengkhawatirkan dirinya.

Tentu Yuna enggan mengakui itu dan segera meninggalkan mereka sambil membawa Astra kembali ke kamar, setelah ia membaringkan Astra di atas ranjang, ia pun memilih untuk turut beristirahat juga. Ia kemudian melepaskan ekornya, berbaring tenang, lalu menatap langit-langit dengan seksama untuk membuat dirinya mengantuk, walau pada akhirnya ia merasa terganggu dengan dengkuran dari Manstria yang sudah tertidur duluan sebelumnya.

Ada banyak sekali hal di luar sana yang sedang menunggu untuk ditemukan, entah waktu yang akan menjawab hal itu atau malah takdir yang akan mengarahkan mereka nantinya. Para Manstria ini hanyalah satu dari sekian banyak kelompok penjelajah di luar sana yang berpetualang untuk menemukan dunia baru yang belum pernah terdengar sebelumnya. Lalu di mana ada mereka, di situ akan ada sekelompok orang yang ingin mendengarkan kisah perjalanan mereka.




Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License