BTM - Gagak Terakhir 1

Sebuah cahaya kemerahan dapat terlihat dengan jelas di dalam kegelapan, cahaya yang tampak seperti sebuah bintang merah yang menyinari angkasa yang kelam. Cahaya itu berkedip, seperti lampu peringatan. Cahaya itu bukan lampu, tetapi sesuatu yang lebih organik. Kunang-kunang? Yah, sesuatu seperti kunang-kunang, tetapi yang ini berkedip dan berwarna merah. Balutan demi balutan jaringan daging yang lembut mulai terbuka dengan perlahan, seperti kelopak bunga yang mekar sehabis hujan. Cahayanya kian terang, sumber cahayanya berasal dari dalam balutan itu. Bunga dari daging namun bercahaya? Apa itu? Entahlah. Namun, tiba-tiba cahaya tersebut padam ketika seluruh kelopak terbuka seutuhnya, sebuah siklus kehidupan lainnya telah dimulai.

Sebuah langkah kaki dapat terdengar di lorong yang panjang, seorang gadis muda terlihat melangkah dengan santai sambil mengenakan tas sandang di bahunya. Ia baru saja keluar dari ruangan yang gelap itu, baru selesai dari istirahatnya. Rambut merahnya terlihat kontras dengan lorong berwarna putih itu, seperti kobaran api di tengah salju. Pakaiannya yang serba putih senada dengan lorong itu, menyebabkan hanya rambutnya saja yang menonjol. Mata merahnya menatap dengan tajam, selalu waspada terhadap lingkungan sekitar. Tentu saja ia harus selalu waspada, karena ancaman dapat datang dari mana saja.

Ia berhenti sebentar dan membuka tas yang disandangnya, ia mengambil buku catatan miliknya untuk memeriksa sesuatu. "Misi terakhir …." gumamnya.

Arlojinya menunjukkan bahwa sudah waktunya untuk menjalankan misi ini, misi terakhirnya setelah berbagai peristiwa mengerikan nan horor yang selalu terjadi di tempat ini. Peristiwa demi peristiwa tak mengenakkan telah terjadi berulang kali, di mana jiwa-jiwa tak bersalah melayang seperti ngengat yang terbang ke api, semua itu diakibatkan oleh satu hal, entitas Manstria. Kali ini, misinya adalah mengawal para penjelajah terakhir. Misi yang akan ia tempuh, sebagai penjelajah.

Ia termenung sebentar, apakah ia bisa melakukannya lagi? Setelah berbagai upaya pengawalan yang ia lakukan, para monster itu semakin kuat. Setelah berbagai cara dalam mengatasi mereka, mereka semakin cerdas. Dan hasilnya? Kematian demi kematian terus menerpa seperti tetesan hujan. Tapi, tidak ada waktu untuk merenung, tidak ada waktu untuk bersedih, apa pun yang terjadi, kali ini harus bisa! Setidaknya begitulah cara dirinya untuk menyemangati dirinya yang hampir saja terpuruk. Ia kembali melangkah menuju titik pertemuan, jaraknya cukup jauh sehingga ia memilih untuk mengambil jalan pintas.

Selamat datang di Level 29-ID sebuah kumpulan ruangan dan koridor tanpa batas yang didekorasi dengan berbagai gaya struktur ruangan yang berbeda yang kesemuanya diasumsikan terbentang lebih luas dari jutaan kilometer. Level ini dibagi dalam 25 sektor yang dinamai sesuai alfabet, dan semua sektor itu dihubungkan dengan anak tangga. Level 29-ID, level yang indah, level yang dipenuhi oleh banyak orang, level yang dipenuhi oleh banyak barang-barang yang menggiurkan. Para penjelajah datang kemari karena begitu banyak barang yang bisa mereka dapatkan dengan gratis, bahkan barang-barang tersebut akan muncul kembali walau sudah diambil sehingga kamu bisa memiliki dua barang yang sama setelahnya—tidak, barang yang sama akan muncul lagi setelahnya kamu punya dua barang itu. Tidak terbatas, itulah daya tariknya. Para pemulung handal itu berduyun-duyun datang ke level untuk mengumpulkan barang, mereka ingin menjadi konglomerat setelah menjual semua barang itu kembali. Yeah, level ini menjadi magnet untuk para manusia yang haus akan sumber daya. Seperti sebuah tombol, sekali ditekan maka semua orang menjadi gila.

Entitas di level ini sederhana, Manstria salah satunya. Mereka disebut sebagai gumpalan daging sederhana yang bisa ditebak—bodoh kata mereka. Manusia-manusia itu makhluk yang angkuh, mereka memiliki kecerdasan, lalu menggunakannya untuk merendahkan Manstria. Mereka makhluk yang rakus, melihat sumber daya melimpah mereka langsung merasa kelaparan. Mereka mendatangi level itu dengan cepat, mengambil alih banyak wilayah, menjarah sumber daya, meramaikan tanah yang hampa, dan menistakan Manstria dengan persenjataan mereka.

Tetapi, kita semua tahu seperti apa akhir cerita ini, sebagaimana pun bentuk gunung pasti ada sisi yang berlawanan—tidak terus menerus memuncak pasti ada penurunannya, dan seperti itulah cerita ini. Siapa yang bilang Manstria itu bodoh? Mereka belajar dari kesalahan, mereka belajar dari pengalaman. Tidak ada yang menyadari bahwa manusia telah menyuapi mereka dengan ilmu pengetahuan, sedikit demi sedikit, ungkapan lawan api dengan api menjadi nyata. Menggunakan apa yang mereka dapatkan dari manusia, mereka membalikkan keadaan. Mereka meniru bahasa manusia, mereka meniru wujud manusia, mereka meniru persenjataan manusia, mereka meniru sistem sosial manusia, mereka menjadi manusia. Manusia tidak sadar, bahwa waktu telah mendukung Manstria, perlahan tapi pasti, mereka berkembang. Manusia begitu angkuh menyatakan bahwa waktu itu tidak ada di dunia ini, tetapi ketika sang waktu muncul dihadapan mereka, mereka langsung menjadi hina.

Dan sekarang kita berada di penghujung cerita, di mana manusia menyadari siapa diri mereka, tamu tidak tahu diri. Liter demi liter darah terkuras, tulang demi tulang dihempas, organ demi organ dilibas, dan jiwa demi jiwa terlepas. Level yang dahulu mereka jarah, level yang dahulu mereka cintai, berubah menjadi pemakaman hanya dalam hitungan bulan. Manstria berpesta ria di atas onggokan manusia, mereka bahagia bisa menaklukkan ras invasif yang mendatangi tanah mereka, tetapi mereka murka karena makanan favorit mereka tidak berdatangan lagi.

Gadis itu tiba di depan pintu masuk level, titik pertemuan yang telah ditentukan. Misi pengawalan yah? Para manusia ini tampaknya masih belum menyerah. Mau berapa kali para Manstria menghajar mereka supaya mereka sadar? Entahlah. Pintu itu pun terbuka dan bisa terlihat beberapa manusia sedang berdiri tegak di luar pintu. Yah kita lihat saja mau apa mereka sebenarnya.

"Ah halo!" sambut gadis berambut merah itu, ia sedikit gugup.

"Oh hai, apa kau yang bernama Shina?" sapa seorang pria. Pria itu terlihat seperti sudah berpengalaman dengan hal-hal aneh di dunia ini, bisa terlihat dari perawakannya yang tampaknya tangguh dalam menghadapi berbagai medan. Gadis itu pun mengangguk.

"Baiklah, kalau begitu akan kuperkenalkan diriku dan rekan-rekanku." lanjutnya.

James Holmes, seorang penjelajah senior yang cukup ternama. Ia berpengalaman dalam penjelajahan pada level dengan kelas bahaya lingkungan tingkat tinggi mau pun bahaya entitas yang tidak masuk akal. Sepertinya dia bisa bertahan hidup di sini bukan? Pria kekar yang tampaknya datang dari film laga, adu jotos dengan entitas tampaknya adalah hal yang mudah baginya.

Carolyne Jolyna, seorang penjelajah senior wanita yang berspesialisasi dalam medis, bisa dibilang seorang dokter di kelompok ini. Keberadaan medis itu penting terutama dalam menyembuhkan luka sekaligus pengecekan kesehatan, mereka tidak tahu bahaya macam apa yang mungkin mendatangi mereka, jadi memiliki pencegahan adalah hal baik bukan?

Harold Joseph, seorang penjelajah yang ahli dalam persenjataan sekaligus teknisi di dalam tim. Membuat persenjataan dari benda-benda yang ada disekitarnya adalah kesukaannya, menjadikan dirinya sangat penting. Ia mampu mengoperasikan radio dan komputer—sebenarnya semua penjelah bisa, namun memperbaiki dan mengembangkannya adalah kemampuan yang tak semua penjelajah punya.

Arthur Kauffman, pria yang berkerja sebagai arsiparis dan termasuk sosok penting karena dia adalah inti dalam kelompok ini. Kenapa demikian? Karena misi kali ini adalah mengumpulkan seluruh dokumen yang masih tersisa di dalam level. Orang ini memiliki ingatan yang hebat, walau pun semua dokumen itu musnah, ia masih dapat mengingat semuanya dalam kepalanya. Sesuatu yang tidak semua orang memilikinya.

Setelah mereka mengenalkan diri, sekarang giliran Shinael.

"Namaku Shinael, biasa dipanggil Shina. Aku seorang Manstria dan aku akan menjadi pemandu kalian."

Yeah, dia salah satu dari para monster itu. Yang membedakannya adalah ia dibesarkan oleh manusia. Ia memiliki wujud gadis muda dengan ciri khas rambut dan matanya yang berwarna merah darah. Secara sekilas ia tidak jauh beda dengan anak manusia pada umumnya, tetapi jika diperhatikan dengan seksama, kamu bisa menemukan kalau ia tidak normal. Tapi hei, ia menumbuhkan tanduk saat ini sehingga dapat terlihat dengan jelas kalau ia bukan manusia. Statusnya sebagai Manstria bukan berarti ia sesosok Manstria yang hebat, ia dibesarkan oleh manusia bukan oleh jenisnya, menyebabkan dirinya tidak dapat berpikir seperti layaknya Manstria sesungguhnya dan tentu saja itu membuat dirinya tidak mampu memperkirakan pola pikir dari kaumnya sendiri. Shinael, produk dari campur tangan manusia terhadap alam.

Keempat manusia itu tampak tertarik dengan Shinael karena entitas yang dikenal bermusuhan bisa menjadi bersahabat seperti dirinya, entah metode apa yang digunakan untuk menjinakkan dirinya, entah bagaimana orang-orang itu memenuhi kebutuhan nutrisinya, dan entah bagaimana ia sanggup untuk memusuhi kaumnya sendiri.

Dua orang pria kemudian mendatangi tempat itu, seorang pria paruh baya dan seorang pria muda. Mata Shinael langsung bersinar ketika menatap pria baruh baya itu. Sosok yang begitu ia kenali, sosok yang sangat berarti baginya.

"Yo, Pak Rizu, selamat pagi, siang, ataupun malam!" sambut James.

Pria bernama Rizu itu pun membalas sapaannya, ia hendak memberi sedikit arahan kepada mereka berlima. Sebagai seorang senior sekaligus sosok yang telah begitu lama tinggal di level ini, sudah wajar ia ditugaskan untuk memberi pengarahan. Sosok penemu Level 29-ID sekaligus sosok pertama yang mempelajari Manstria, dirinya telah menjadi sosok paling disegani di banyak komunitas penjelajah. Ya bagaimana tidak, satu-satunya manusia di dalam level mengerikan itu tapi berhasil bertahan hidup dan keluar? Para penjelajah ahli mana pun pasti akan merasa malu jika mereka tidak mampu bertahan hidup seperti yang dilakukan Rizu.

Pria muda yang ada di sampingnya kemudian mendekati James dan berbicara sebentar dengannya, dirinya adalah adik dari James. Wajar dirinya merasa cemas, beragam berita buruk terus menerpa orang biasa seperti dirinya, dan kini saudaranya akan memasuki level sumber semua berita buruk berasal. James mencoba menenangkannya dengan menyatakan semua akan baik-baik saja dan memintanya untuk percaya pada dirinya.

"Tuan-tuan dan nona-nona, hari ini kita berkumpul di hari yang cerah ini untuk misi terakhir yang diberikan oleh banyak komunitas penjelajah, mengumpulkan kembali dokumen yang tertinggal … aku sendiri tidak mengerti kenapa mereka mengirim orang-orang hebat seperti kalian, sungguh, tetapi ya sudahlah. Gadis merah yang ada di hadapan kalian akan menjadi pemandu kalian dan ingat untuk selalu mengikuti arahannya, jika ia bilang lari maka larilah, jika ia bilang sembunyi maka sembunyilah, ia lebih mengenal rasnya daripada kita semua. Shina, aku mohon bantuanmu." ucapnya. Dari wajahnya terlihat rasa cemas yang begitu dalam, apa lagi keempat orang ini belum pernah ke level ini dan bertemu entitas di dalamnya sama sekali.

Shinael kemudian membalas, "Serahkan saja padaku! Aku berjanji kalian akan kembali dengan selamat." dengan optimis.

"Hey hey, apakah ini benar-benar aman? Selama penjelajahan sebelumnya selalu berakhir mengenaskan bukan?" ucap pria muda itu. Ia tahu sudah berapa banyak korban yang tewas mengenaskan di dalam level itu, hal wajar baginya jika ia merasa pesimis. Apa lagi, walaupun ada Shinael, jumlah kematian tetap saja tinggi, sehingga misi kali ini ia anggap sebagai misi bunuh diri. Baginya, ada tidak ada Shinael akan sama saja.

"Troy, tenanglah, semua akan baik-baik saja. Memang dokumennya penting, tetapi yang lebih penting adalah keselamatan semua anggota tim. Tidak perlu ragu, kau tahu kan aku ini tidak akan mati dengan mudah? Jika memang tidak menguntungkan maka kami akan meninggalkan dokumennya dan pergi menyelamatkan diri." ucap James mencoba menenangkan adiknya itu. Sosok kakak dengan pengalaman penjelajahan yang mengagumkan, siapa yang tidak merasa tenang setelah mendengarkan keoptimisannya? Tetapi sebaiknya dirinya jangan terlalu optimis, orang angkuh biasanya yang mendapat masalah pertama bukan?

"Nak, tidak usah khawatir, aku sudah menyiapkan peralatan anti-manstria yang hebat. Aku cukup yakin alatku bisa melindungi kita," ucap Harold sambil mengeluarkan sebuah bungkusan dari sakunya. Ia kemudian melanjutkan, "aku menyebutnya Bom Gas Air Almon! Bukan gas sih, lebih ke bom berisi serbuk air almon yang telah aku kristalkan lalu aku jadikan serbuk. Benda ini lumayan efektif kepada entitas lain, jadi pada Manstria harusnya juga berkerja."

Troy terlihat kagum. Rizu bertanya apakah ada alat lainnya dan Harold langsung menjawab iya, setidaknya ia membawa sekitar lebih dari sepuluh alat tempur di dalam tasnya. Sungguh persiapan yang sangat matang. Shinael kemudian mengeluarkan sebuah kotak senjata dari tasnya untuk memamerkan peralatan anti-manstria miliknya juga, sebuah senapan angin berbentuk senapan pengintai jarak jauh. Harold langsung tertarik dan ingin membicarakan hal itu lebih lanjut dengan Shinael nantinya, tampaknya Shinael menemukan teman sesama penyuka senapan lainnya.

"Yeah, bagaimana aku menjelaskannya, para penjelajah medis sudah membuat terobosan baru dalam penyembuhan luka dalam waktu singkat. Obat yang aku bawa secara khusus dibuat untuk misi ini, jika berhasil maka obat ini akan diproduksi secara luas." jelas Carolyne. Tolong lah dokter, mereka bukan kelinci percobaan, tetapi jika berhasil ya … tidak masalah sih. Sang dokter telah mendengar bahwa Manstria mampu meregenerasi luka mereka dengan cepat, menyebabkan dirinya ingin melihat hal itu serta mempelajarinya. Jika tim medis berhasil mengetahui rahasia di balik kemampuan regenerasi Manstria, akan ada harapan manusia berhasil menemukan obat yang mampu mempercepat regenerasi manusia seperti layaknya Manstria.

"Kalau aku sih, aku cuman perlu mengambil dokumennya saja kan? Jadi sekali ambil langsung kumasukkan ke dalam tas, jadi kerjanya bakal cepat." ucap Arthur yang tampaknya cukup santai dengan misi ini. Tugasnya tidak banyak, hanya mengumpulkan dokumen. Dirinya telah lama menjadi pengarsip dokumen laporan Backrooms, tentu ia menghapal begitu banyak artikel tentang level tidak terkecuali Level 29-ID.

Rizu menghela nafas, di dalam hatinya ia masih merasa cemas. Ia kemudian mendekat ke Shinael dan mencoba meraihnya. Shinael dengan cepat menjauhi pria itu, itu karena jika lengan Rizu masuk ke dalam, maka Rizu tidak dapat menariknya keluar kecuali jika seluruh tubuh Rizu ikut masuk ke dalam. Dan setelah kau di dalam, kau tidak dapat keluar melalui pintu yang ada dibelakangmu dan harus melewati neraka dahulu sebelum bisa sampai ke pintu keluarnya. Sungguh konsep yang merepotkan.

Mereka berdua hanya bertatapan, tetapi keresahan yang ada di dalam hati Rizu tersampaikan pada Shinael. Shinael membalas keresahan itu dengan senyuman manisnya, memberi isyarat untuk percaya padanya dan semua akan baik-baik saja. Kedua ujung bibirnya naik, ia menutup mata sayunya, ia menaruh harapan pada Shinael. Ia kembali menghadap ke para penjelajah tersebut.

"Baiklah, kalian bisa berangkat kapan pun yang kalian mau tetapi kalian harus kembali dalam satu bulan, hindari kontak dengan Manstria dan segera kembali! Tidak ada manusia selain kalian jadi jangan percaya siapa pun yang kalian temui! Yang paling utama, jangan membuat keributan, mereka ada di sekitar kalian. Shina akan menuntun kalian ke deretan pos perlindungan yang arahnya sama, dan di semua tempat itu terdapat dokumen-dokumen yang kalian butuhkan, instruksi lebih lanjut akan disampaikan oleh Shina." demikian pengumumannya.

James sebagai ketua tim kemudian merespon, "Terimakasih Bapak Rizu atas peringatannya, akan kami ingat. Kami akan segera keluar secepatnya karena kami juga enggan berlama-lama di dalam tempat itu. Dan Troy, tetap di sini dan jaga dirimu oke?"

Troy mengangguk. James kemudian melanjutkan, "Baiklah teman-teman, mari kita jalani misi ini dengan efisien dan cepat sehingga kita dapat tidur nyenyak di rumah. Gagak Terakhir! Pasti bisa!"

Keempat manusia itu bersorak bersama, keoptimisan mereka patut dihargai. Gagak Terakhir, sekumpulan manusia pemberani yang siap memasuki level itu untuk mengumpulkan dokumen. Mereka kemudian mengambil foto, memasuki pintu masuk level, berkumpul, dan memberi lambaian terakhir sebelum pintu akhirnya ditutup.

Yah, seperti yang kita lihat, para manusia masih belum menyerah bukan? Tetapi, jika berkaca dari kejadian-kejadian sebelumnya, mereka seharusnya tahu seperti apa masa depan mereka nantinya. Rizu mengetahui hal itu, ia merasa bersalah karena telah menemukan level terkutuk itu, ia selalu mengutuk dirinya untuk setiap jiwa yang terenggut di dalam neraka itu. Tetapi, alasan kenapa ia masih hidup sampai saat ini adalah karena kebodohan manusia selain dirinya, bukan salah dirinya jika manusia terus menerus mendatangi tempat itu hanya untuk dijagal, jika mereka cerdas, seharusnya mereka tidak memasuki tempat itu seperti yang dilakukan Rizu.

Rizu telah berulang kali meminta supaya level tersebut tidak dimasuki manusia lagi, tetapi apa yang terjadi? Para manusia merasa optimis dapat merebut kembali wilayah dengan menggunakan kecerdasan mereka, tetapi apa yang terjadi? Siapa yang lebih cerdas sebenarnya? Mereka hanya menyusahkan Shinael saja, mereka yang mati, Shinael yang disalahkan. Ya, Shinael disalahkan atas semua kematian yang terjadi, mereka menganggap Shinael tidak becus dalam melakukan tugasnya. Mereka tidak berpikir, satu Manstria melawan seluruh koloni? Yang benar saja.

Kenapa para manusia ini tidak mengurus hal lain saja? Masih banyak hal di Backrooms yang dapat mereka lakukan dan bukannya menghabiskan waktu serta tenaga mereka hanya untuk mendekati level berbahaya ini. Masalah suplai, masalah entitas, penampakan individual misterius, munculnya fenomena aneh, pendataan level baru, dan sebagainya, begitu banyak yang bisa dilakukan dan mengapa mereka malah masih mengurus level berbahaya?

Saat ini tirai tidak jadi tertutup, keempat aktor baru memasuki panggung. Apakah ini hanya akan menjadi cerita yang sama saja dengan yang sebelumnya? Apakah kali ini Shinael dan Rizu akan kembali tersiksa atas kematian lainnya? Para penonton kembali menduduki kursi, seluruh tentakel mereka menggenggam erat kursi mereka masing-masing dan menyatu dengan penonton di sebelahnya. Mereka kemudian membentuk jembatan daging yang panjang di atas kursi, menggeliat, menyesuaikan diri untuk mencari pemandangan terbaik.


Para Manstria, sedang mengawasi mereka semua.


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License