Hutan Dwirupa
penilaian: +1+x

Dia mengangguk sebagai tanda mengerti. Bahkan gerakannya pun penuh dengan antusiasme.

Namun, sebenarnya dia hanya mengerti sebagian. Baginya, beberapa adat istiadat terdengar aneh dan tidak masuk akal, tetapi dia tidak bisa begitu saja mengemukakan pendapatnya di depan penduduk setempat, bukan? Dia mengangguk dan menerima semua informasi yang diberikan kepadanya meskipun dia merasa aneh di dalam hatinya. Yah, namanya juga budaya, beberapa hal mungkin aneh dan tidak normal baginya, jadi seharusnya ini bukan masalah, bukan?

Penjelasan dari si perwakilan desa kemudian beralih ke tema cerita rakyat setempat, sebuah cerita yang akan membahas sedikit tentang aturan-aturan adat. Mungkin ini saatnya untuk mendengar alasan di balik semua aturan tersebut, tapi hei, aturan tidak akan ada jika tidak ada sesuatu yang salah terjadi, bukan? Cerita rakyat ini bercerita tentang hutan yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak awal berdirinya desa mereka, sejak mereka tiba di dunia yang asing ini.

Hutan Dwirupa, sesuai dengan namanya, adalah hutan yang konon katanya berwajah dua. Ya, mengapa disebut berwajah dua? Apa maksudnya? Sementara pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya, si perwakilan desa akhirnya memberikan jawaban yang ia butuhkan. Hutan Dwirupa, sebuah hutan yang memiliki sisi yang sangat berbeda jika kamu tidak berhati-hati dalam bertindak. Sisi tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng, sisi tersebut adalah sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun.

Tampaknya penduduk setempat di sini sangat enggan bagi siapa pun untuk melihat sisi lain dari hutan tempat mereka tinggal ini, siapa yang tahu seperti apa sisi lain itu karena tidak ada yang diizinkan untuk melihatnya. Sisi ini konon dipenuhi dengan kematian dan merupakan akhir dari hutan yang diketahui. Katanya posisinya berada di luar dunia yang kita pahami dan kenali. Katanya adalah kebalikan serta versi negatif dari segala sesuatu. Kedengarannya menarik, bukan? Penduduk setempat melarang siapa pun untuk mengunjungi tempat itu karena mereka mengatakan ada sosok jahat yang menjaganya. Ada yang mengatakan tempat ini seperti neraka dengan algojo di dalamnya. Entahlah, rasanya mereka melebih-lebihkannya saja.

Entah bagaimana kebenaran di balik cerita tersebut, karena tidak disebutkan bagaimana cara mengakses sisi lain dari hutan itu. Hm, lokasi yang posisinya terbalik dari lokasi saat ini … apakah berada di bawah tanah? Apakah itu berarti ada hutan lagi di bawah telapak kakinya? Ia kemudian berpikir bagaimana caranya menemukan jalan menuju tempat itu tanpa diketahui oleh penduduk setempat, anggap saja tindakannya ini demi membuktikan bahwa memang ada sesuatu di bawah kakinya. Mungkin pada malam hari nanti, atau mungkin setelah pertemuan ini selesai? Apa pun itu, dia akan memantau situasi terlebih dahulu.

Setelah si perwakilan desa selesai bercerita dan meninggalkannya sendirian di dalam kamarnya, ia kemudian mencoba mengingat kembali apa yang ia ketahui sejauh ini. Hutan Dwirupa disebut demikian karena ada dua sisi yang berbeda dari hutan tersebut, namun tidak disebutkan bagaimana cara untuk menemukan akses ke sisi lainnya. Sisi lain dari hutan itu adalah pemandangan hutan yang berbeda, yang merupakan kebalikan dari penampakan hutan yang dikenal orang-orang. Semakin ia memikirkannya, ia semakin penasaran. Ia kemudian lanjut membaca daftar aturan adat, daftar aturan tersebut terasa aneh baginya.

Ada beberapa aturan yang menyatakan jika dia melanggar maka dia akan diusir dari hutan, apakah ini cara untuk sampai ke sisi lain hutan? Hm, tidak ada gunanya memikirkan hal itu, bagaimana kalau kita mencobanya saja?

Tunggu! Apakah dia benar-benar harus melakukannya? Bagaimana jika tempat itu benar-benar neraka? Bagaimana jika dia tidak bisa kembali? Tidak disebutkan bagaimana cara untuk keluar dari sana, bahkan tidak ada informasi rinci tentang tempat itu! Dia menggeliat di tempat tidurnya, di satu sisi dia penasaran, di sisi lain dia takut. Sepertinya kedua logikanya saling bertarung dan membuatnya berguling-guling di tempat tidurnya seperti anak kecil.

Kemudian dia terjatuh dari tempat tidur karena kecerobohannya, tetapi rasanya sakit sekali karena bagian atas kepalanya mendarat lebih dulu di lantai yang keras. Dia memegangi kepalanya sambil mengerang kesakitan, dan ketika dia mulai bangun dan membuka matanya, dia langsung menyadari sesuatu.





Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License