BTM - Penutupan Level 29-ID

Orang-orang berkumpul di depan markas Basis SPB 11-ID, mengobrol. Mereka semua berebut untuk mendapatkan pemandangan yang bagus dari tontonan utama hari itu, sebuah pengumuman oleh tim SPB yang selama ini telah membantu mereka. Tentu saja, mereka semua tahu apa yang akan terjadi—mereka sudah mendengar kabarnya. Tetap saja, mereka ingin tahu apa yang akan terjadi pada level yang menjadi pembicaraan di seluruh kota.

Seorang pria berjalan ke tribun dan semua orang diam seketika, sosok yang baru diangkat menjadi pemimpin itu sepertinya terlihat bisa diandalkan setelah bertahun-tahun dipimpin oleh pemimpin sebelumnya yang bobrok. Dia mengetuk megafon, menyesuaikan sepasang kacamata tanpa bingkai yang direkatkan. Mata semua orang tertuju padanya saat dia menarik napas dan memulai ucapannya.

"Di tengah diskusi baru-baru ini tentang penutupan Level 29-ID, kami memiliki banyak kekhawatiran, terutama mengenai keputusan kami untuk mulai membatasi akses ke sana. Banyak yang mengemukakan argumen yang valid, seperti kemudahan aksesibilitas yang membuat pengumpulan sumber daya menjadi lebih mudah daripada di level lain, atau persediaan regeneratifnya yang tak terbatas, yang telah kita gunakan sejak lama hingga sekarang. Kami memahami kekhawatiran ini, dan kami telah mendengarkan beberapa saran Anda semua, tetapi pendirian kami tetap sama.

Bahkan dengan semua senjata dan panduan bertahan hidup yang telah kami buat, Level 29-ID tetap menjadi zona bahaya bagi siapa saja yang berani memasukinya. Manstria berkeliaran siang dan malam, dan mereka belajar. Mereka beradaptasi lebih cepat daripada kita bisa beradaptasi dengan mereka, dan kita tidak bisa dengan itikad baik mengirim orang untuk disembelih seperti ternak di sana. Keputusan kami untuk menutup Level 29-ID akan tetap berlaku. Penelitian di lapangan penting bagi kami, tetapi jika itu berarti membahayakan kehidupan pekerja kami, maka itu menjadi tujuan sekunder. Tujuan utama kami adalah memastikan kelangsungan hidup—jika kami terus mengirim orang ke sana, kami tidak akan memiliki banyak orang untuk dilindungi sejak awal.

Dengan semua yang dikatakan, Shinael, pemandu dan pelindung Manstria kita, telah meminta agar Level 29-ID disegel, dia harus tetap di sana untuk terus membantu upaya eksplorasi kami. Meskipun kita semua patah hati dengan pemberitahuan kepergiannya yang tiba-tiba, kita tidak dapat menyangkal dirinya untuk tetap berada di level rumahnya. Pembaruan pada keadaan Level 29-ID akan terus datang agar hal yang tidak belum diketahui dapat diketahui.

Terima kasih semua atas waktunya."

- Basis SPB-11-ID

Pria itu kemudian turun dari panggung dan orang-orang yang hadir kemudian bubar dengan tertib. Prosesi kemudian dilanjutkan ke acara berikutnya, acara utama. Semua orang serentak menaiki kendaraan menuju gedung tempat Level 29-ID berada, bersiap untuk menyaksikan penutupan akses menuju level tersebut untuk selamanya. Mereka membawa balok-balok besi, papan peringatan, dan berbagai perkakas, tampaknya mereka akan melakukan penyegelan habis-habisan sehingga benar-benar tidak akan ada yang memasuki … tidak, bahkan mendekati gedung tersebut selamanya. Deretan kendaraan-kendaraan berbaris secara rapi dengan kecepatan maksimum supaya bisa tiba di sana dengan cepat sambil ditemani terpaan angin dingin dan awan kelabu di hari yang penting itu.

Wajah mereka datar, tetapi hati mereka berbeda. Mereka yang mendapatkan kebahagiaan dari level itu akan bersedih, mereka yang mendapatkan kesedihan dari level itu akan berduka. Banyak yang menjadi korban dari level tersebut, baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada, level ini berhasil menanamkan apa itu kepedihan dalam hati para manusia yang pernah melakukan kontak dengannya. Tidak ada yang tahu apakah mereka belajar dari kesalahan mereka … atau mereka sadar kalau mereka salah? Mereka hanya ingin menikmati apa yang dimiliki oleh level itu saja, tidak lebih. Tetapi entah mengapa level itu memberi hukuman yang mengerikan pada mereka.

Rizu sudah ada di sana lebih dahulu dan sedang bersama Shinael, mereka sedang bercakap-cakap untuk terakhir kalinya walau waktu mereka terbatas. Rizu kemudian memberinya sebuah tas baru sebagai hadiah perpisahan yang memang terkesan tidak seberapa, namun yang penting adalah maknanya, makna bahwa Rizu akan selalu ada bersamanya. Shinael memeluk tas itu dan langsung mengenakannya, kali ini ia terlihat bahagia.

"Shina …." Rizu tidak mampu berkata-kata lagi, hatinya sangat perih karena harus melakukan ini. Mengapa takdir harus seperti ini? Mengapa mereka berdua harus mengalami ini? Rizu hanya bisa menahan rasa sesak di dadanya dan itu membuatnya menjadi sulit untuk berbicara. Backrooms sekali lagi memaksa dirinya untuk harus berpisah dengan keluarganya, lagi.

Shinael menanggapi ayahnya itu dengan tenang dan dengan senyum manisnya—seperti mengenakan topeng, ia mengusap-usap pipinya pada tas itu, memberi gestur seolah-olah ia sedang menikmati usapan dari Rizu walau tidak secara langsung. Rizu hanya bisa tersenyum melihat kebiasaan anaknya itu, sebuah kebiasaan mengusap dirinya pada benda-benda milik Rizu jika Rizu sedang tidak bisa memberinya kasih sayang, kebiasaan yang sudah ada semenjak Shinael masih berupa larva.

Orang-orang itu akhirnya tiba, Rizu dan Shinael kemudian menyadari bahwa waktu berbicara mereka sudah habis. Orang-orang dapat terlihat berbondong-bondong berbaris pada tepi jembatan untuk menyaksikan mereka berdua. Balok-balok besi tersebut diturunkan lalu dipindahkan ke gedung dan para penyintas yang hendak menyegel pintu itu telah berkumpul sambil berbaris dengan rapi. Sudah saatnya pintu itu ditutup sekaligus menyegel gedung.

Rizu kemudian, untuk pertama kalinya, menyaksikan "topeng wajah" milik Shinael retak. Ekspresi Shinael untuk momen emosional siapa sangka akhirnya terlihat, gurat sedih dan linangan air mata dapat terlihat dengan jelas ketika pintu itu mulai menutup. Rizu kemudian memberi ucapan terakhir padanya, ucapan selamat tinggal. Rizu kemudian mundur dari pintu karena orang-orang itu hendak melakukan tugasnya dalam menyegel pintu tersebut, hantaman balok-balok besi yang saling bertubrukan dan bunyi hantaman palu besi membuat hati Rizu berdebar-debar.

Mereka menyalakan alat mereka dan siap untuk mengelas besi-besi itu pada pintu, tidak lupa pula anggota lainnya memasang pagar pembatas di depan gedung supaya tidak ada yang mendekati gedung itu lagi—penyegelan total. Butuh waktu beberapa jam untuk menyegel gedung itu secara seutuhnya, mereka juga memasang papan peringatan yang menyebutkan bahwa area ini sangat berbahaya dan dapat mengancam nyawa, tidak lupa pula papan ancaman hukuman untuk siapa pun yang berani menerobos ke dalam area gedung.

Orang-orang yang menyaksikan prosesi itu pun bubar ketika gedung itu tersegel seutuhnya dan tentu saja pintu itu tidak akan terbuka lagi untuk selamanya. Rizu masih di depan gedung tersebut, mungkin hendak memandanginya lebih lama lagi. Rekan sejawat Rizu kemudian memutuskan untuk pulang dan membiarkan Rizu untuk menikmati waktu sendirinya, mereka kembali bersamaan dan meninggalkan Rizu sendirian dengan sebuah mobil karena tidak mungkin mereka membiarkan Rizu untuk pulang ke tempat tinggalnya dengan berjalan kaki. Suasana menjadi hening, hanya ada dirinya saja, momen di mana ia bisa mengenang masa-masa yang pernah ia lalui di dalam level itu.

Beragam kilas balik menerpa dirinya bak ombak di pantai yang landai, lembut dan menenangkan. Shinael telah menjadi sosok yang sangat berarti baginya dan tentu saja hatinya terluka ketika ia harus berpisah dengannya untuk selamanya. Namun, seperti biasa, ia harus melangkah maju. Sekali lagi ia terpisah dari keluarganya, sekali lagi ia terpisah dari anaknya. Rizu mencoba menyatukan pecahan-pecahan memori indah yang tersebar di antara memori-memori pahit yang telah memenuhi kepalanya, yah sudah begitu banyak kejadian pahit yang terjadi dan merusak segalanya termasuk hubungan antara dirinya dengan Shinael.

Orang-orang itu adalah sumber masalah dalam rentetan kejadian yang terjadi di dalam level, orang-orang yang serakah dan tamak sampai-sampai mereka lebih mementingkan diri mereka daripada keselamatan semua orang. Rizu mengepalkan kedua tangannya, ia marah dan murka kepada orang-orang itu. Tetapi wajahnya biasa saja, seperti mengenakan topeng untuk menyembunyikan emosinya. Dia tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah keadaan, siapalah dirinya di dunia ini, kekuatan satu orang mana bisa mengubah seluruh pemikiran orang-orang.

Ia tahu bahwa orang-orang membutuhkan suplai tak terbatas yang dimiliki oleh Level 29-ID, namun bukan berarti mereka harus bisa bertindak semena-mena. Backrooms kembali menunjukkan taringnya dengan menundukkan manusia-manusia angkuh yang mencoba mengklaim sesuatu yang bukan milik mereka. Para manusia itu adalah contoh bahwa satu konsep saja mampu mengembalikan manusia ke sifat aslinya, konsep suplai tanpa batas, konsep yang sebenarnya biasa saja namun dapat mengubah sifat manusia secara total.

Mereka tidak mendengar dan menutup telinga mereka dari peringatan Rizu, mereka mengabaikan peringatan dari orang biasa seperti Rizu sekalian merendahkan para entitas yang tinggal di dalamnya. Mereka merasa diri mereka adalah ras terbaik, mencoba memusnahkan seluruh entitas Manstria dengan peralatan mereka dan mengambil alih banyak wilayah level untuk dijarah. Mereka mencoba untuk mengontrol, mereka mencoba berada di puncak, mereka ingin menguasai salah satu realitas Backrooms, mereka adalah orang-orang yang layak untuk diberi pelajaran dan diingatkan kembali mereka sedang berada di mana.

Semua Manstria itu beradaptasi lalu membalikkan keadaan, membuat umat manusia merasakan rasa takut untuk pertama kalinya. Namun, ditengah kekacauan itu mereka terus berjuang dan malah menyalahkan sekaligus membenci Shinael jika ada salah satu dari mereka yang terluka atau tewas. Orang-orang itu picik, mereka tidak menyadari bahwa mereka harus bersyukur bahwa mereka masih bisa bernafas hingga detik ini. Meski begitu, Shinael menghadapi semua kebencian itu tanpa pernah mengarahkan plasentanya ke para penjelajah, membuang sisi buasnya dan tetap melangkah maju dengan tersenyum.

Rizu dan Shinael, dua sosok yang sama-sama ditindas oleh kekuatan yang lebih besar dari mereka. Niat mereka tulus, namun para manusia itu menginjak-injak mereka berdua. Rizu sebagai orang yang sangat mengenal level itu tidak mampu memberi pengaruh yang cukup karena dihalangi oleh manusia-manusia yang memiliki kuasa dan "pengalaman" yang lebih darinya. Shinael malah mendapatkan perlakukan yang tidak kalah buruknya, di mana ia diperlakukan seperti anjing pesuruh untuk melayani para manusia yang lebih "tinggi" darinya. Di tengah kegelapan ruangan yang hening, Shinael harus menahan tangisannya di dalam pelukan Rizu, menahan segala beban yang ia rasakan sepanjang hari, setiap hari.

Gadis Manstria itu terlalu muda untuk semua ini, pria tua itu pun juga sudah tidak kuasa menahan semua beban di tubuhnya yang rapuh. Anehnya, tampaknya Backrooms mengetahui kesulitan mereka dan mendukung mereka. Sang Backrooms seperti menekan saklar dan semua berbalik seketika, akhirnya manusia sadar akan posisi mereka dan pergi dari level itu … termasuk Rizu. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka berdua yaitu kehidupan masing-masing dengan ras masing-masing dan tidak ada lagi persinggungan dari kedua ras. Yah, mau bagaimana lagi, Backrooms sudah menentukan nasib mereka berdua.



Di tengah momen nostalgia yang penuh emosional itu, seorang wanita yang belum pernah ia lihat mendekatinya, seorang gadis muda dengan halo kebiruan di atas kepalanya—sudah jelas ia seorang entitas. Rizu kemudian menepis semua perasaan nostalgianya dan langsung mencoba bertanya dengan ramah padanya, namun anehnya gadis itu tidak mampu memberikan jawaban dengan jelas, hanya beberapa potongan kata yang tidak jelas. Rizu kemudian menyimpulkan bahwa gadis ini pasti sedang berusaha berkomunikasi dengan bahasa manusia atau ia adalah tipe orang yang sangat pemalu, oleh karena itu Rizu memutuskan untuk mengajak gadis itu ke suatu tempat yang lebih nyaman untuk berbicara.

Rizu tahu siapa gadis ini, sosok yang sedang menjadi topik hangat di antara para penyintas dan dianggap sebagai legenda urban akhir-akhir ini. Sosok yang berulang kali menjadi buah bibir karena keanehan dan kemisteriusan tingkah lakunya sampai-sampai banyak kelompok SPB yang berusaha mengincarnya. Sera, sosok entitas misterius yang sangat jarang terlihat yang dijuluki sebagai Sang Pemburu karena dikabarkan suka memburu entitas lain dan … manusia. Gadis itu harus diwaspadai karena sulit ditemui, sulit diajak berkomunikasi, dan tidak dapat ditebak sehingga masuk ke dalam kategori individual berbahaya yang harus dihindari. Namun pada momen ini, Rizu mencoba untuk tenang dan tidak panik, ia memilih untuk memberanikan diri untuk mengajaknya ke suatu tempat untuk mengobrol berdua, ajaibnya gadis itu mengangguk dan mengikuti Rizu. Ia melakukan ini karena ia tidak punya banyak pilihan, apa yang harus ia lakukan jika sesosok entitas setingkat Sera mendekatinya? Melawan atau lari? Dan apakah dengan melakukan itu akan berhasil membuatnya selamat?

Perjalanan itu cukup lama walau dengan menggunakan mobil, tetapi tetap saja sepanjang perjalanan gadis itu tidak mengucapkan apa pun dan hanya memandang ke luar jembatan. Rizu mencoba berbicara namun selalu diabaikan, mungkin ia tidak mengerti pikirnya. Mereka kemudian tiba disebuah tempat makan sederhana di tepi jembatan di dekat koloni Gagak Merah. Rizu mempersilahkannya untuk memesan terlebih dahulu dan gadis itu terlihat antusias ketika memeriksa daftar menu. Kedua matanya memgobservasi semua daftar menu dan akhirnya jemarinya mendarat pada sebuah menu sederhana. Kopi hitam dan roti manis. Setelah menunggu beberapa saat, pesanannya tiba.

Gadis itu meminum kopi yang telah ia pesan, dengan ditemani sebuah roti bundar sebagai pelengkap. Ia membelah roti itu dan mencelupkannya ke dalam gelas kopi itu dan membiarkan kopi itu meresap ke dalam rotinya, roti yang manis dipadukan dengan pahitnya kopi, wajahnya terlihat senang ketika memasukkan roti itu ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya secara perlahan dan membiarkan paduan kedua rasa yang saling berlawanan itu meresap di dalam mulutnya.

"Um, nona, jadi ada urusan apa kamu menemuiku?" tanya Rizu yang sedari tadi berada di hadapan gadis itu. Gadis itu hanya menguyah dan menatap ke arah gelas kopinya, sepertinya ia mengabaikan Rizu yang sedang bertanya padanya.

Rizu menghela nafas dan mencoba untuk bersabar, di hadapannya saat ini terdapat sesosok entitas berwujud manusia wanita yang sedang memakan roti di siang hari. Gadis itu bukanlah manusia, terdapat halo kebiruan di sisi kepalanya—seperti malaikat. Namun, jika ia memang malaikat, kenapa terlihat mencurigakan? Kenapa ia tidak memancarkan aura yang … seperti malaikat? Rizu tidak mau mengambil keputusan terlalu cepat dan tetap bersabar bahkan sampai gadis itu selesai makan jika perlu.

Namun, gadis itu tetap tidak berbicara sampai ia selesai makan dan hanya sibuk sendiri seperti orang aneh. Rizu kemudian mencoba menarik perhatiannya dengan mencoba memulai pembicaraan lagi, "Nona, aku akan membayar tagihanmu sekarang, terima kasih telah menikmati makanan buatan manusia."

Mendengar hal itu, gadis itu akhirnya mengeluarkan suaranya, ia hanya berkata terima kasih dengan pelan tanpa melakukan kontak mata dengan Rizu. Rizu hanya mengangguk sebentar lalu mulai meninggalkannya, tetapi gadis itu langsung memberhentikan Rizu sebelum Rizu sempat pergi ke kasir untuk membayar tagihan gadis itu.

"Um begini." ucapannya terpotong dan memberi kesan menggantung, Rizu sadar bahwa gadis ini adalah tipe orang yang tertutup dan tidak banyak bicara sehingga ia pun meminta gadis itu untuk pelan-pelan saja. Rizu tahu orang seperti gadis ini pasti sulit untuk bisa bersosialisasi, apalagi ia adalah entitas bukan manusia, pasti sulit untuk bisa berkeliling seorang diri di publik.

"Aku ini sebuah mesin." lanjut gadis itu. Rizu memperbaiki posisi kacamatanya setelah mendengar itu, sepertinya gadis itu gagal dalam memilih kata-kata pertamanya dan tentu tidak pantas untuk mengomentarinya sehingga ia kemudian memilih untuk mengikuti alur.

"Baiklah nona mesin, jadi, ada urusan apa menemuiku?" tanya Rizu kembali, ia kembali duduk di kursinya karena ingin mendengarkan apa perkataan yang hendak disampaikan gadis itu lebih lanjut.

"… aku sebenarnya … menyaksikan penutupan level itu …." ucapnya dengan pelan.

"Begitu ya, yah sayang sekali level itu menjadi terlalu berbahaya dan kami pun terpaksa menutupnya." balas Rizu, ia menduga kalau gadis ini hendak mengunjungi level namun terlambat. Gadis itu hanya mengangguk dengan pelan, tatapannya masih ke arah bawah, halo di atas kepalanya berpendar cukup redup.

Ternyata level itu tidak hanya menarik orang-orang namun juga entitas sepertinya, daya tarik level itu sangat kuat sampai-sampai menjadi titik panas dari para penyintas secara global. Namun tetap saja, level itu sama saja dengan entitas yang ada di dalamnya, sama-sama menjebak orang yang bodoh. Keheningan kembali terjadi di antara Rizu dan gadis itu, Rizu kembali memulai percakapan karena ia tahu bahwa gadis ini merupakan tipe pasif yang di mana orang-orang dengan tipe ini jarang membuat keputusan secara aktif.

"Bolehkah aku tahu namamu, nona?" ucap Rizu, ia mengeluarkan pertanyaan yang biasanya cukup ampuh untuk memulai hubungan baik dengan orang baru. Gadis itu langsung terkejut dan melakukan kontak mata tanpa sengaja, mata biru cerahnya bisa dibilang sangat memikat walau pupilnya tidak berwarna seperti manusia, putih. Mata itu juga terlihat berpendar, seperti halonya, tampaknya akan terlihat lebih terang di dalam kegelapan. Bisa dibilang bahwa matanya itu indah.

"Namaku … Sera …." gadis itu menjawab dengan pelan, halo di atas kepalanya sedikit lebih terang dari sebelumnya walau pandangannya kembali ke arah bawah. Rizu sudah tahu namanya adalah Sera sebab ia sudah termasuk legenda urban yang cukup dikenal di antara para penjelajah, namun memperkenalkan diri selalu berhasil dalam memulai pembicaraan, bukan?

"Aku mendengar tentang level itu. Orang-orang datang ke level itu. Orang-orang senang dengan level itu. Kamu tidak. Kenapa?" tanya Sera, kali ini ucapannya tidak terbata-bata lagi dan cenderung lebih percaya diri. Ia bahkan mampu membuka obrolan tidak seperti sebelumnya yang harus dipancing terlebih dahulu, sepertinya telah terjadi kemajuan dalam berinteraksi dengannya.

"Orang-orang itu bahagia karena menjarah seisi level itu sesuka hati mereka dan aku sebagai penemu level itu tidak senang dengan apa yang mereka lakukan." jawab Rizu. Sera kemudian mengalihkan pandangannya setelah mendengar jawaban itu, wajahnya agak berubah, ia kemudian memikirkan pertanyaan berikutnya. Setelah beberapa saat, Sera kembali bertanya, "Erm … jadi apa yang mau kamu lakukan sekarang? Level telah disegel …."

Mendengar pertanyaan itu, Rizu kemudian menjelaskan bahwa ia hendak melaksanakan tugasnya sebagai penerima surel, tetapi ia tidak menjelaskan detailnya kepada Sera. Rizu enggan untuk memberitahu Sera lebih banyak detail dari apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi, Sera itu misterius, untuk apa memberinya informasi penting, bukan? Dan jawaban itu ternyata cukup bagi Sera.

"Manusia … payah, ya? Menjarah … dihukum … menyalahkan …." ucap Sera sambil agak tersenyum. Rizu tampak terkejut karena Sera memiliki pemikiran yang hampir sama dengannya, di mana para manusia-manusia serakah itu menjarah seisi level dan memenuhi tas mereka dengan barang-barang yang mereka dapatkan. Rizu mengangguk setuju, para manusia itu memang payah, mereka dihukum oleh Backrooms lalu bukannya menyesal mereka malah mencoba melawan dan malah menyalahkan Rizu dan Shinael.

Sera tidak menyangka kalau Rizu ternyata malah ikut tersenyum bersama dengan dirinya, di matanya Rizu itu manusia yang berbeda dari manusia-manusia lainnya yang telah ia temui sejauh ini. Halo biru di samping kepalanya berotasi dengan pelan searah jarum jam, Sera terlihat nyaman dengan obrolan ini, namun ia merasakan ada yang mengganggu dirinya dan itu berasal dari Rizu. Ia sendiri tidak mampu menjelaskannya, tetapi ia merasa familiar dengan "sesuatu" ini, seperti ada sesuatu yang menempel pada tubuh Rizu yang Rizu sendiri malah terlihat biasa saja.

"Anu, kamu itu … itu …." ia mencoba mengatakan sesuatu sambil melihat langsung ke arah matanya Rizu. Rizu kemudian bertanya ada apa namun Sera langsung mengalihkan pandangannya, sepertinya ada sesuatu dari Rizu yang menarik perhatiannya namun dia tidak mampu menanyakannya. Sera kemudian kembali mencoba menatapnya namun beberapa kali akan mengalihkan pandangannya, sepertinya ia benar-benar tidak mampu menjaga kontak mata. Apa pun itu yang mengganggu Sera, siapa yang tahu. Mungkin suatu saat nanti Sera akan menemukan jawabannya dan Rizu dapat mengetahuinya juga, namun sejauh ini Rizu tidak merasa ada yang aneh dengan dirinya sehingga apa yang telah menarik perhatian Sera?

Rizu kemudian menghela nafas sesaat dan membuka pembicaraan kembali, "Sera, boleh aku meminta bantuanmu? Ini permintaan personal dariku." Rizu mencoba menarik perhatiannya karena sosok gadis itu diketahui pernah menolong beberapa penyintas dan bukan membunuh mereka, mungkin dengan meminta bantuannya ia bisa mendapatkan informasi tentang dirinya secara perlahan apalagi tampaknya mereka berdua sudah tidak terlalu canggung lagi untuk mengobrol.

"Ah itu … um … anu …." ia hanya terbata-bata dalam memberi respon, sepertinya ia perlu beberapa saat untuk menyusun respon menerima atau menolak. Halo di atas kepalanya berkedip-kedip seperti lampu yang sedang rusak dan tubuhnya ikut gemetar, sepertinya ia mengalami syok karena tiba-tiba dimintai bantuan oleh orang yang baru ia temui seperti Rizu.

"Ah jika tidak bisa maka tidak apa-apa, aku tidak memaksa." ucap Rizu. Gadis itu terlihat kembali tenang dan halonya tidak lagi berkedip-kedip, ia kembali meminum kopinya dengan pelan sampai habis lalu mulai mengatakan, "… maaf …."

Rizu memaafkannya dan gadis itu langsung menatapnya dengan wajah agak sedih, Rizu menatap balik dengan tersenyum namun tampaknya Sera langsung mengalihkan pandangannya ketika dipandang dengan ramah oleh Rizu. Rizu tahu bahwa akan cukup sulit untuk berbicara dengannya, apalagi mendapatkan informasi darinya.

Gadis itu kemudian berdiri, "Maaf, aku sibuk, permisi …." ucapnya sambil langsung lari meninggalkan Rizu begitu saja. Rizu mencoba mengejarnya dan ternyata ia menghilang setelah keluar dari gedung. Gadis yang misterius dan sangat aneh pikirnya. Sera, entitas misterius yang selama ini membuat orang-orang penasaran, siapa sangka Rizu bisa bertemu dengannya di hari yang berat ini, hari penutupan Level 29-ID untuk selamanya.

"Yah, bahkan entitas seperti dia pun tertarik untuk menonton prosesi penutupan level itu, tampak sekali dengan jelas kalau level itu memberi kesan yang dalam kepada semua orang … baik dan buruk." ucapnya sambil melangkah keluar. Namun, seseorang datang memegangi pundaknya.

"Mas, Anda belum bayar."



..

..

..

..


Ia pun kembali ke markas SPB 11-ID untuk meneruskan pekerjaannya sebagai seorang petugas SPB, kali ini ia akan bertugas sebagai penerima surelnya Shinael sesuai keputusan bersama sebelumnya. Namun, seseorang datang padanya, seorang pria muda bernama Troy Holmes.

"Kau yakin hendak mengambil alih pekerjaan ini, Troy?" tanya Rizu kepada Troy Holmes, seorang arsiparis SPB 11-ID sekaligus adik dari James Holmes yang merupakan salah satu dari korban keganasan Manstria.

"Ya, anggap saja ini caraku membalas kebaikan Shina dalam menjaga kakakku sebelumnya." balasnya. Hm, itu terdengar mulia, bukan? Sebelumnya kakaknya melakukan penjelajahan ke dalam level itu dan dilindungi oleh Shinael, walau akhirnya tewas di tangan para Manstria.

Rizu tidak menerima tawaran ini, namun Troy terus berjuang untuk meyakinkannya bahwa ia ingin berpartisipasi dalam kegiatan ini, katanya ia ingin mencoba membantu. Shinael mendapat tugas untuk melakukan penjelajahan dan mendata penemuan baru di dalam level lalu melaporkannya kepada SPB 11-ID lewat surel. Rizu seharusnya menjadi penerima surel tersebut, namun Troy bersikeras bahwa ia ingin membantu, katanya sebagai bentuk meneruskan perjuangan kakaknya.

Karena jalur komunikasi telah dibuka kembali oleh Shinael yang diketahui memperbaiki semua terminal komunikasi dengan mengikuti petunjuk dari kenalannya, kursi jabatan sebagai penerima surel Shinael lumayan menjadi topik pembicaraan karena orang aneh mana yang mau duduk di sana dan mengingat kembali berbagai hal yang pernah terjadi di level mengerikan itu. Rizu mungkin saja melakukannya karena ia adalah orang terdekat Shinael, tetapi kalau itu orang lain, perlu dipertanyakan kewarasannya.

Mereka tidak berani melakukan komunikasi dengan radio karena akan ada gangguan jaringan yang dilakukan oleh Manstria yang dikenal dengan nama "Sinyal", Manstria itu dikenal akan menggangu jaringan radio dan memasuki jaringan untuk mencoba mengganggu komunikasi para manusia. Komunikasi dengan surel adalah satu-satunya jalan saat ini. Tetapi tetap saja, mengapa Troy sebegitu inginnya menjadi penerima surelnya Shinael? Apa yang ia harapkan? Seharusnya ia menjadi bagian dari orang-orang yang enggan untuk berurusan lagi dengan level itu, bukan?

Rizu menggaruk-garuk kepalanya, mengapa selalu ada orang-orang aneh di sekelilingnya? Pertama orang-orang berkuasa dari SPB 11-ID, lalu gadis bernama Sera, sekarang Troy. Ia kemudian mencoba mengambil nafas dengan tenang untuk menjernihkan kepalanya, ia lalu mencoba untuk bersikap rendah hati dan tidak terkesan egois kepada seseorang yang memiliki tujuan yang … tidaklah buruk … iya kan? Ia berniat membantu saja kan? Memang apa yang salah dari itu?

Sambil menghirup nafas panjang, Rizu kemudian mengatakan, "Baiklah, laporkan jika ada sesuatu padaku, oke?"



Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License