Di sebuah perumahan yang berada di suatu kota, di mana hampir seluruh rumah di sana memiliki gaya arsitektur Belanda, terdapat satu puskesmas yang cukup lebih kecil dari bangunan di sekitarnya dan sudah cukup lama terbengkalai selama beberapa puluh tahun. Sebelum terbengkalai, puskesmas tersebut sempat dioperasikan oleh pemerintah setempat. Namun, baru beberapa bulan beroperasi, praktik medis di tempat tersebut dipindahkan ke tempat lain tanpa ada alasan yang jelas.
Alhasil puskesmas yang ditinggalkan tersebut menjadi terbengkalai. Seluruh alat serta hal lainnya milik puskesmas dipindahkan ke tempat yang baru kecuali satu, sebuah ambulans. Ambulans itu sudah lama sekali dioperasikan dan bahkan bisa dibilang mobil ini adalah salah satu ambulans pertama di kota itu. Karena umurnya yang sudah sangat tua, sudah tak mengherankan jika kendaraan ini sering mogok atau mengalami kerusakan lainnya.1
Sejak puskesmas dipindahkan, ambulans tersebut sudah tak digunakan lagi karena sudah diganti dengan ambulans yang lebih modern. Ambulans tua itu pun diputuskan untuk dibiarkan terparkir di bangunan bekas puskesmas itu. Mesin dan aki kendaraan ini juga dicabut supaya tidak dicuri2. Sejak saat itu, ambulans ini dianggap angker oleh warga sekitar karena konon, terkadang sirine ambulans ini menyala sendiri, terdapat suara tangisan, dan ada suatu energi misterius di sekitar ambulans yang akan membuat orang akan pusing.
Sebenarnya ketika ambulans tersebut baru saja beroperasi, terjadi beberapa insiden tragis yang melibatkan kendaraan ini. Dari banyaknya rumor-rumor yang beredar terdapat satu yang lebih terkenal, yaitu sebuah insiden yang di mana suatu malam ambulans itu membawa pasien korban tabrak lari. Namun, ambulans tersebut tak sengaja menabrak lampu jalanan yang membuat ambulans tersebut berguling hingga membuat seluruh penumpang tewas. Karena kondisi ambulans tersebut masih layak digunakan, akhirnya dengan sedikit perbaikan ambulans itu dioperasikan kembali.
Sejak saat itu, di sekitar perumahan tempat puskesmas itu berada tersebut sering kali terjadi kasus orang hilang. Para aparat berwenang pun bahkan tak dapat memecahkan kasus orang hilang yang menjadi sangat marak. Banyak warga yang berkonspirasi jika ada suatu sekte misterius yang suka menculik orang. Namun, rumor itu terlalu mentah untuk diterima. Sehingga di suatu malam yang sedang hujan deras ….
Aku, seorang komisaris kepolisian di kota ini. Pada malam itu, suara hujan deras dari luar ruanganku memberikan ketenangan yang tak dapat dijelaskan. Kopi panas di meja yang baru aku seduh pun mulaiku minum dengan pelan-pelan sembari menikmati rasa kopi hitam yang khas. Namun, aku masih merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiranku ini. Tanganku inisiatif membuka laci meja kerjaku dan mulai mencari sesuatu. Akhirnya, tanganku berhasil mengambil satu barang yang aku cari, sebuah koran.
Koran kita, 23/4/2014
Kasus Orang Hilang di Jalan Anggrek Mekar Semakin Marak!
Sejak beberapa ~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kasus orang hilang ini menurutku sudah terlalu janggal. Hampir tidak ada petunjuk sekalipun dari kasus ini, seolah-olah orang yang hilang lenyap dari Bumi begitu saja. Penyelidikan yang kami lakukan sampai sekarang pun tak membuahkan hasil apa-apa. Untuk saat ini, aku hanya bisa memerintah untuk mengamankan area sekitaran orang-orang itu dinyatakan hilang. Setidaknya, cukup untuk mengurangi risiko kasus ini akan terjadi lagi.
Tiba-tiba ponselku berdering, aku melihat siapa menelefonku di saat-saat yang menyibukkan ini. "5 panggilan tak terjawab dari Ibu". Saat ibuku menelefon lagi, aku langsung menolak panggilan dan mematikan notifikasi supaya panggilan Ibu tidak menggangguku. Huh, pasti ia akan mengeluh dengan penyakitnya yang kambuh dan menyuruhku pulang untuk memberikannya obat. Saat itu, aku menganggap jika pekerjaan lebih penting dari apa pun, Karena jika aku berhasil menyelesaikan kasus ini, maka aku akan berkesempatan untuk dipromosikan untuk naik jabatan. Hingga aku mendengar langkah kaki yang menuju ke ruanganku. Suara langkah kaki itu berhenti di depan pintu dan terdengar suara ketukan.
"Permisi Bu, bolehkah saya masuk?"
"Tidak." jawabku dengan nada dingin.
"Eh, Nona, bolehkah saya masuk ke ruangan Anda?"
"Masuk." dia tahu di mana kesalahannya.
Bawahanku masuk ke ruangku dengan tergesa-gesa. Ia langsung melaporkan jika beberapa anggota kepolisian yang kukirimkan untuk menyelidiki kasus ini malah dipindah tugaskan ke hal lain oleh pemimpin yang memiliki pangkat lebih tinggi dariku. Mereka dialihkan untuk mengawal penjabat yang akan melakukan kunjungan ke tempat wisata … ASU. Aku langsung marah besar detik itu juga. Kopi yang aku minum langsungku lempar hingga gelasnya pecah.
Aku mengambil jaketku dan memutuskan untuk ke tempat itu sendiri. Sebenarnya bawahanku mengajukan dirinya untuk menemaniku, tapi aku menolak. Di tengah perjalanan, aku mendengar ponselku berdering lagi padahal seharusnya sudahku matikan. Dengan tangan kanan yang masih memegang kemudi, aku melihat pesan jika Ibuku dibawa oleh tetangga ke rumah sakit karena penyakitnya kambuh. Aku mengabaikan pesan itu dan lanjut berkendara. Saat sampai ke area tempat kasus orang hilang itu, aku memarkirkan kendaraanku di pinggir jalan.
Hujan deras dan kabut sedikit mengurangi jarak penglihatanku. Aku berjalan ke dalam perumahan itu sambil melihat sekeliling yang sangat gelap dan hampir tak ada penerangan. Sialan, benar-benar tak ada polisi yang berjaga di sini. Dengan senter yang kubawa, aku mulai menginvestigasi perumahan itu sendirian. Kurasa sejak kasus orang hilang di sini sudah marak, para penghuni rumah di perumahan ini memutuskan untuk pergi karena takut.
Langkahku berhenti sesaat ketika mataku mulai memandang sebuah ambulans tua yang terparkir begitu saja. Karena penasaran, aku mengecek ambulans itu. Mesin dan aki sudah tidak ada. Aku sebenarnya pernah membaca rumor seram tentang ambulans ini, tetapi aku tak mempercayai itu. Karena kurasa tidak ada yang mencurigakan, aku pun memutuskan untuk kembali. Saat aku ingin mencapai kendaraanku, tiba-tiba langkahku berhenti sendiri. Kakiku entah bagaimana tidak bisa digerakkan.
Secara mendadak, di sekitarku dipenuhi oleh kabut. Saking tebalnya kabut tersebut, bahkan aku tak bisa melihat tubuhku sendiri. Aku mendengar suara seorang wanita yang menjerit kesakitan. Suaranya sesak beberapa saat hingga perlahan-lahan nafas tersebut makin pelan dan hilang bagaikan hembusan nafas terakhir. Anehnya, aku merasa familiar dengan suara itu.
Samar-samar dari kejauhan, terdengar suara sirene serta 2 cahaya lampu mobil yang melaju ke arahku. Awalnya kukira itu dari anggota polisi lain kemari, namun semakin dekat semakin aku sadar jika itu bukanlah mobil polisi, melainkan ambulans tua yang tadi terparkir. Ambulans itu melaju semakin cepat ke arahku. Mulutku tidak bisa mengeluarkan apa pun. Seluruh tubuhku terasa lumpuh.
BRAAKK!!
Saat itu penglihatanku hilang. hanya kegelapan yang bisa kulihat. Tubuhku terasa seperti terjun bebas ke jurang yang dalam. Aku mengira jika diriku sudah mati. Aku melihat sekilas kenangan-kenangan masa kecilku. Pandanganku mengembalikanku di saat aku dibelikan boneka oleh Ibuku, padahal waktu itu keluargaku sedang kesulitan mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Aku melihat Ibuku yang mengobatiku saat aku jatuh dari sepeda. Semua ingatan itu seolah-olah mendorongku untuk sadar, jika selama ini aku tak membalas semua pengorbanannya, aku malah menelantarkannya.
Tiba-tiba terdengar suara lampu yang sangat berisik. Mungkinkah aku masih selamat dan berada di rumah sakit? Namun, aku merasa jika aku tidak berbaring di kasur, melainkan seperti berbaring di karpet yang lembab. Sekujur tubuhku terasa sakit. Rasa sakit tersebut memang terasa seperti baru saja ditabrak mobil. Mataku perlahan-lahan terbuka sembari berusaha bangun. Tunggu, ini di ruangan kuning? Tidak ada rumah sakit berwarna kuning. Aku langsung membangunkan tubuhku dan melihat sekeliling. Di mana aku? Kenapa ruangan kuning ini seperti labirin?
Saatku menengok ke belakang, tepat di depanku ada mulut dengan gigi-gigi tajam yang bersiap ingin melahapku.
…
"Jadi kau dimakan hidup-hidup?!" sela si arsiparis tiba-tiba.
"Pakai logika mu sendiri, bodoh! Kalau aku memang dimakan, mana mungkin kau bisa menanyaiku ini dan ini sekarang!!"
"Hehe." arsiparis itu menutup wajahnya dengan catatan yang ia pegang dengan perasaan malu.



