Info
Judul: Level 11.1 - "Langit Menangis"
Penulis: lemme
Tahun rilis: 2026
KESULITAN MENYINTAS:
Kelas 0
- {$one}
- {$two}
- {$three}
Langit Menangis
Sebuah kota telah membentang tanpa batas di tanah tak berujung, namun suasananya suram dan kelabu seolah-olah kebahagian telah sirna. Hujan terus menerus turun dengan derasnya sehingga tidak ada satupun tempat yang kering di luar perlindungan atap bangunan yang telah dimakan usia. Bangunan-bangunan tua terus berjuang melawan gerusan air hujan yang tanpa lelah menghantam mereka, sungguh tiada ampunan dari alam kepada arsitektur artifisial buatan manusia yang telah renta. Tanaman dan tanah tampaknya tidak masalah dengan pasokan air tanpa batas yang terus menerus mereka telan, mereka seperti mengabaikan semua air itu begitu saja. Bahkan air hujan turut tidak memikirkan ke mana mereka akan pergi setelah berbondong-bondong berkumpul di selokan-selokan tak berujung di bawah kota.
Lautan hitam yang terus bergejolak telah membentang tanpa batas sambil terus bertarung melawan gravitasi, ia telah terjebak dengan takdir yang tidak masuk akal di dunia ini, menjadi langit. Dua buah dunia yang saling berlawanan telah dipaksa untuk saling berhadapan; dunia yang statis dari perkotaan serta dunia yang dinamis seperti lautan telah diperintahkan untuk saling menyapa satu sama lain. Awan-awan terbentuk dari buih-buih lautan yang terjebak dalam keanehan dua arah gravitasi, mereka pun mendapat wujud baru berupa kepulan-kepulan kapas yang lembut di atas kota. Sedangkan buih-buih lautan yang berhasil terlepas seutuhnya justru akan tertarik dan jatuh ke sisi lain dunia.
Di tengah-tengah kekacauan lanskap yang tidak masuk akal ini, hirup pikuk manusia dapat terdengar di tiap celah bangunan. Tidak ada yang tahu akan mengapa mereka menjadikan dunia yang berantakan ini sebagai rumah mereka, mereka bahkan tidak merasa takut akan lautan berombak ganas yang ada di atas kepala mereka. Mereka telah terbiasa untuk menjadi basah di tengah kesibukan kesehariannya, suhu dingin tampaknya telah menjadi sahabatnya, dan raut wajahnya seperti sudah tidak peduli lagi dengan beragam keanehan yang terjadi di sekitar kehidupannya. Di dunia yang suram ini, yang mereka pedulikan adalah bagaimana caranya untuk tetap hidup walau harus mengorbankan logika. Mereka masih meneruskan beragam kegiatan yang berasal dari kampung halaman yang jauh, secara perlahan membuat kota menjadi lebih berwarna di tengah kanvas kelabu.
Tetapi, tidak hanya manusia yang menjadikan tempat ini sebagai tempat bernaung, para makhluk hidup dari tanah-tanah asing juga melakukan hal yang sama seolah-olah sebuah pemikiran tunggal tiba-tiba muncul pada mereka yang sedang mencari tempat tinggal. Para spesies yang memiliki kecerdasan ini pun bahu membahu untuk membangun peradaban bersama-sama, dengan saling menyatukan uluran tangan mereka berhasil menyulap bangunan-bangunan tua dan gang-gang kecil menjadi tempat tinggal walau terkesan dipaksakan. Mereka tidak peduli, bisa tidur dengan nyaman dan mendapatkan sesuap mekanan adalah apa yang bisa mereka pikirkan.
Alam mungkin telah memberikan pengampunan dengan membiarkan para pengunjung yang depresi ini sebuah tempat di mana mereka bisa saling bertemu dan hidup bersama, walau ia sangat enggan untuk membiarkan sang surya untuk hadir secara langsung sehingga orang-orang menjadi merindukan kehangatan dunia. Orang-orang mungkin akan mendapatkan anugerah cahaya mentari yang datang entah dari mana asalnya, sayangnya cahaya ini terus menyinari tanpa akhir hingga tidak ada yang tahu sudah berapa lama waktu telah berlalu. Kejutan lain juga berasal dari bagaimana alam akan memberikan hadiah kepada mereka yang bersemanyam di dalam setiap bangunan, ia akan mengisi lemari-lemari mereka dengan sesuatu yang dapat mereka makan setiap beberapa waktu telah berlalu. Bahkan alam juga tidak menghadirkan ancaman dari beragam makhluk-makhluk jahat sehingga siapa pun dapat berjalan di atas tubuhnya dengan leluasa.
Mungkin alam memang sangat murah hati kepada para pengunjung rumahnya, namun kejadian berbeda terjadi di antara para penghuni ini. Para penghuni kota mungkin terlihat damai dari luar, tetapi sebuah pertarungan sedang terjadi di balik bayangan kota. Tidak semua orang merasa bahagia di bawah naungan kebaikan alam yang murah hati, mereka akan saling menyakiti hanya supaya hidupnya bisa lebih baik dari yang lain. Hukum rimba dan roda kehidupan akan terus berjalan, takdir yang mutlak akan terus memerintah dunia, karenanya, setiap orang akan seperti mencoba meraih leher masing-masing. Konflik terus terjadi di balik jalanan yang gelap, orang-orang akan menggunakan segala cara hanya untuk bisa memuaskan rasa laparnya karena alam tidak membagikan berkahnya kepada semua orang. Pertumpahan darah, konflik antar spesies, pemalsuan informasi, penipuan dagang, dan ada banyak lagi permasalahan yang muncul akibat tiadanya hukum serta kepemimpinan yang jelas di dunia yang sakit ini.
Namun, sebagaimana benih tumbuh akibat terpaan air hujan, harapan akan tetap terus bermunculan di setiap sudut kota. Bagi orang awam, hidup di kota ini adalah tantangan dari kerasnya takdir kepada mereka. Bagi orang yang berjuang, hidup di kota adalah sebuah perwujudan dari bagaimana takdir masih memberikan mereka momen untuk tetap bisa bernafas dengan leluasa. Di tengah kesuraman raut wajah orang-orang yang berlalu lalang di jalanan, di tengah repetitifnya kehidupan hanya demi memenuhi isi perut, dan di tengah dinginnya udara yang terus menusuk tubuh, gelak tawa dari anak-anak yang masih belia masih dapat terdengar bermain-main di bawah terpaan hujan. Mereka melihat kota ini sebagai rumah mereka di mana canda dan tawa masih dapat mereka lontarkan tanpa adanya halangan, mereka bahkan tidak tersentuh dengan konflik yang sedang dihadapi oleh para orang dewasa, rasanya seperti para generasi penerus ini telah dilindungi oleh tangan terlihat supaya tidak turut merasakan betapa kerasnya dunia yang sebenarnya.
Kota membiarkan siapa pun yang berasal dari dunia-dunia yang asing bisa mengunjunginya dengan leluasa, bahkan mengizinkan seseorang pergi ke mana pun yang ia suka. Ketika tiba-tiba hujan turun di tengah kota, terus membiarkan diri terguyur hujan akan bisa membuat seseorang tiba di kota kelabu ini. Sedangkan untuk seseorang yang berada di dalam kota ini, akan ada banyak pilihan pintu keluar yang bisa ia ambil karena mereka mudah ditemukan dan informasinya telah disebarkan. Tidak heran jika wajah-wajah baru akan terus bermunculan di tiap harinya, atau sekelompok orang-orang nyentrik muncul untuk membuat keramaian, kota hujan pelan-pelan berubah menjadi tempat yang hidup terlepas dari betapa suramnya kehidupan di dalamnya.



