Level yang dikuasai oleh penyintas?
penilaian: +1+x


Info

Judul: Level yang dikuasai penyintas?
Penulis: gezanulunzgezanulunz
Tahun rilis: 2025

Level yang dikuasai oleh penyintas?

> Panduan untuk penyintas edisi : 524
> Untuk : [ Dihapus ]
> Status : [sistem bermasalah]
> Waktu terbit : [Sistem bermasalah]
> Tag : [sistem bermasalah]


Sejak awal keberadaan manusia di dunia asing yang alamnya sangat menolak keberadaan mereka, para pendatang ini tidak lebih seperti sekelompok nyamuk yang terjebak di dalam akuarium berisi kodok. Tak ada yang mengetahui bagaimana makhluk lemah yang hanya berumur kurang dari satu abad ini bisa tertarik dari dunia asalnya. Sama seperti dunianya, para penghuni aslinya pun kurang menyukai atau bahkan sangat membenci para pendatang asing ini. Para manusia yang belum terbiasa dengan tekanan dari berbagai arah ini pun berakhir menjadi santapan yang empuk.

Rasanya? Mungkin bisa dilihat dari makhluk-makhluk dunia ini yang sudah mengincar para manusia dengan berbagai cara supaya bisa mereka konsumsi. Para manusia yang perlahan-lahan disebut penyintas oleh diri mereka sendiri mulai menyadari jika mereka hanyalah makhluk dengan daging empuk. Tak ada perisai, gigi yang tajam, bulu lebat, ekor, cakar yang tajam, dan lain-lain. Para penyintas yang menyadari akan kelemahan mereka mulai memanfaatkan satu-satunya kelebihan yang hampir sama sekali tidak dimiliki oleh makhluk hidup lain, yaitu kecerdasan dan akal.1

Para penyintas perlahan-lahan mulai bangkit dari rasa ingin mencari jalan keluar dari dunia ini karena Rasa rindu akan asal dan tempat kelahiran penyintas-penyintas itu hanya akan menusuk mereka dari belakang. Mereka mulai mencoba untuk bersaing pada ajang bertahan hidup melawan berbagai ancaman yang selalu mengintai mereka. Karena manusia adalah makhluk sosial, kebersamaan dan persatuan ialah senjata mereka sebelumnya untuk menguasai dunia asal mereka.

Penyintas yang adalah makhluk dengan daging lembut yang menyelimuti tulang keras mungkin akan mendapatkan julukan seperti itu jika sendirian. Namun, jika mereka bersatu, monster paling mengerikan sekalipun tak akan dapat mengalahkan mereka. Aksi saling bekerja sama dan strategi mereka supaya tetap hidup mungkin adalah berkah terbesar dari yang Maha esa. Kekuatan itulah yang membuat para penyintas yang awalnya terpecah belah karena keegoisan pun mulai bersatu, dan akhirnya berkelompok untuk mencapai tujuan bersama-sama.

Bertahan hidup.

Setelah para penyintas di backroom perlahan-lahan beradaptasi dengan lingkungannya, mereka pun mulai mencoba bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan demi memperpanjang keberlangsungan hidup mereka. Mereka mulai berburu, berdagang, dan lain-lain selayaknya yang manusia Bumi. Para penyintas yang saling berkoordinasi antar kelompok dalam kelangsungan dan keuntungan masing-masingpun mulai membentuk peta rute dari suatu level menuju level lainnya demi upaya untuk mencapai misi bersama untuk memudahkan seluruh penyintas agar dapat menjelajah tanpa perlu takut tersesat.

[Peta sedang direvisi Aku gagal menggungahnya disini sehingga tak dapat ditampilkan]

Walaupun pada peta tersebut dapat terlihat ada banyak sekali level yang dapat dijelajahi, Sayangnya ada beberapa level yang diberi tanda tidak aman untuk memberikan peringatan pada penyintas supaya lebih siaga atau bahkan tak disarankan untuk melewati level itu sama sekali. Selain level yang tak aman, ada pula level yang terlalu aman, bahkan dijadikan pemukiman tetap oleh para penyintas.

Cih, walaupun aku menganggap peta itu sangat aneh dan membingungkan, para penyintas bisa memahami peta itu bukan karena peta tersebut bagus, melainkan sudah terbiasa dengan gaya peta yang aneh itu. Maaf, kembali ke topik. Memang seharusnya di dunia tak terbatas ini semua level tak dimiliki oleh siapa pun dengan alasan apa pun. Apalagi suatu level bisa saja 10 kali lebih besar dari Bumi2. Tapi …

"Sebuah mall terbesar di dunia pun tak akan pernah bisa di masuki jika pintu utamanya ditutup."

Kau paham apa maksud kata itu? Bagus.

Yah, normalnya di dunia tak terbatas ini tak ada level yang dimiliki siapa pun dengan alasan apa pun, jadi sudah sangat jelas bahwa suatu level tak akan bisa dikuasai. Namun, jika seluruh akses jalan masuk dan keluar dijaga ketat atau ditutup, bagaimana? Apakah penyintas dari mana pun entah grup pembunuh bayaran atau apa pun itu bisa lalu-lalang melewati level ini sesuka hati? Tentu tidak kan? Pasti mereka akan ditindak jika ketahuan menerobos dengan paksa.

Sayang sekali jika manusia yang akhirnya dapat beradaptasi dengan neraka ini malah memunculkan sifat lama mereka. Tidak lain tidak bukan adalah sifat rakus, serakah, serta haus akan kekuasaan atau wilayah. Kelompok yang lebih besar mulai menginjak-injak kelompok yang bahkan cuma sedikit lebih lemah bagaikan sampah. Mereka bahkan mulai melakukan pengerukan sumber daya berlebihan juga. Setelahnya muncul persaingan yang ketat di antara kelompok-kelompok besar ini, dan kemudian semuanya berakhir menjadi apa?

Yap, neraka yang dibuat oleh manusia sendiri.

Perang

Jujur saja, sungguh miris perang yang berakhir sia-sia itu malah menghasilkan korban jiwa yang besar, seluruh area yang terlibat dengan perang sampai dipenuhi oleh mayat-mayat penyintas yang kurang beruntung itu. Pasti setelah perang berakhir, Entitas pemakan daging itu akan mulai bermunculan di sekitar lokasi tersebut. Mereka semua pintar, "untuk apa repot-repot mengejar para manusia? Nanti mereka saling membunuh kok." Mungkin itulah ujar mereka jika dapat berbicara.3

Singkatnya, setelah beberapa peperangan yang dahulu sempat terjadi dikarenakan sangat berhubungan erat dengan masalah perbedaan antar kelompok. Akhirnya terciptalah kembali sistem yang membedakan suatu ras, kepercayaan, ideologi dan wilayah. Berasal dari rasa ketakutan akan daerah teritorial atau sumber daya yang dikuasainya akan dijadikan keuntungan bagi oknum lain atau bahkan dirampas.
Beberapa kelompok memutuskan untuk mengelola level atau bahasa kasarnya menguasai level yang mereka tempati untuk membuat penyintas yang bukan anggota kelompok akan menjadi lebih sulit untuk bergerak dengan leluasa di dalam level yang mereka kuasai.

Sebuah level telah dianggap dikuasai oleh oknum jika… sialan, aku membenci gaya menulisku beberapa tahun yang lalu ini.

  • Seluruh akses masuk dan keluar level dijaga dengan ketat

Maksud pada poin di atas ialah seluruh jalan masuk dan keluar yang sudah diketahui akan dijaga oleh anggota kelompok terkait. Biasanya mereka membangun sebuah pos di sekitar area akses keluar masuk dan tak jarang juga ada yang melakukan patroli di sekitarnya.

Semua hal itu dilakukan supaya pergerakan penyintas asing menjadi lebih mudah untuk dikendalikan, atau lebih buruknya lagi malah dikendalikan oleh si pemilik level itu secara langsung! Walaupun terkadang ada saja orang yang memaksa masuk ke level itu secara paksa dengan berbagai cara, Tunggu! Jika kau adalah termasuk orang itu kumohon … Ahh ngapain pakai kumohon-kumohon? kau mati pun aku gak bakal tahu dan tentunya aku tak peduli! Lagipula mana mau aku memohon pada orang.

Berhati-hatilah, aku pernah hampir dicincang. Perilaku penjaga level itu tergantung dengan tujuan serta seberharga apa levelnya, berdoalah jika penjaga yang kau temui adalah sekelompok orang yang kasar atau lebih buruknya sekelompok orang tidak waras ketika kau dengan bertemu mereka.

  • Arus perjalanan penyintas pada level tersebut diambil alih, dibatasi, dan bahkan ditutup
2p09egp.jpg

Nampak suatu level yang awalnya ramai sebagai salah satu pusat perdagangan setelah dikuasai oleh sebuah grup

Pada level yang dikuasai oleh suatu kelompok, biasanya arus perjalanan penyintas yang melewati level tersebut menjadi lebih ketat dari level lainnya. Ada yang perlu diiringi oleh penjaga bersenjata, harus membayar sejumlah barang agar bisa melewati level itu, dan bahkan ada yang ditutup untuk umum. Alasannya tentu saja karena kepentingan kelompok mereka.

  • Sumber daya yang dihasilkan level tersebut dikelola oleh satu kelompok tanpa ada campur tangan kelompok lain

Sebuah kelompok menguasai suatu level tentunya karena hal itu mempunyai hal yang menguntungkan kelompok tersebut. Ada yang memiliki sumber daya yang tak terbatas (aku ingat pernah mengunjungi level seperti itu walaupun level tersebut untuk umum, aku hampir mati dengan penghuni asli level itu), memiliki jalan masuk dan keluar yang strategis ke level lain, atau hanya untuk teritorial saja seperti kelompok perusahaan yang pernah sangat gampang untuk kususupi.


Dari poin-poin di atas, telah dipastikan bahwa level yang mungkin akan kamu kunjungi sudah berada di bawah naungan suatu kelompok. Jika kau ingin melewati level tersebut diusahakanlah untuk mengikuti ketentuan mereka dan tidak berbuat sesuatu yang malah akan membahayakan dirimu sendiri. Jadi, jangan bertindak bodoh!

Lalu sebagai perlindungan diri minimal kau harus membawa sebuah senjata kalau-kalau mereka akan menyerangmu dengan berbagai alasan entah apa nantinya. Atau lebih baik berkunjunglah dalam bentuk kelompok dengan teman-temanmu, keluargamu, pelacurmu, kultusmu atau siapa pun aku tak peduli sehingga kau bisa saling melindungi jika terjadi hal yang tidak diinginkan!

Kita para penyintas yang mungkin memilih untuk hidup sendiri, bebas, tanpa diatur oleh atasan, mau tak mau harus mengikuti para pemalak yang tak tahu tempat itu. Aku sangat mengharapkan jika sang Backrooms tidak hanya tinggal diam dengan hal yang seharusnya tidak ada di dalam kamus aturan dunianya. Bumi dan Backrooms sama saja. Tak ada keadilan yang jelas. Keadilan? Apa itu keadilan bagi manusia yang serakah?

Awalnya aku mengira jika takdir memerintahku ke dunia ini untuk menjauh dari ketamakan orang-orang itu dan menikmati sisa hidupku tanpa perlu ada campur tangan dari sesamaku. Pada akhirnya aku ikut terbawa arus sungai yang deras bersama mereka. Mau tak mau aku harus ikut lagi menaati peraturan yang sama sekali tidak adil di dunia yang berbeda. Mungkin aku egois? Memangnya jika aku menjadi orang yang paling peduli di alam semesta ini orang-orang itu akan peduli denganku?

Para manusia ini memang harus diberi insiden yang benar-benar sialan supaya mereka kapok, karena manusia tidak akan pernah sadar sebelum bencana datang. Pasti mereka akan menangis memohon ampun kepada tuhan yang Maha esa ketika nasi sudah menjadi bubur. Aku tak suka dengan mereka. Namun, aku adalah bagian dari mereka. Mungkin aku hanyalah segelintir dari mereka yang menyadari busuknya sifat mereka.

Selama ada manusia pencemaran tak akan pernah hilang. Pencemaran dari segala hal. Mereka tersiksa jika datang suatu bencana, tapi mereka sendirilah yang mengundang bencana itu datang kepada mereka. Aku memprediksi bencana yang lebih buruk akan datang. Sebuah jawaban dari Backrooms kepada engkau, makhluk-makhluk serakah.

Secepatnya

Akan datang

Pasti datang

~ APTX-000



Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License