Meraih Langit Berbintang - "Astra"

penilaian: 0+x

Sebuah gulungan kertas diikat dengan tali pada sesuatu yang terlihat seperti dahan dari pohon kering yang berwarna merah, tidak, itu bukanlah pohon, melainkan kombinasi daging serta tulang yang tampaknya berasal dari sekumpulan makhluk hidup yang saling terpilin menjadi sebuah pohon.

Shinael mengikatkan gulungan kertas berisi nama-nama dari para penyintas yang sempat bersama dengannya baru-baru ini, itu bukanlah gulungan kertas pertamanya, bahkan semua gulungan kertas darinya mulai memenuhi sebuah dahan yang memang dikhususkan untuk dirinya.

Pohon itu adalah sebuah monumen hidup dari peristiwa genosida yang terjadi di masa lalu, sebuah pertanda sekaligus peringatan bahwa tidak selamanya hubungan dua spesies makhluk hidup akan berjalan baik. Tempat itu juga menjadi sebuah makam dan tempat berkabungnya para Manstria, sedangkan Shinael menjadikannya sebagai tempat untuk mengingat mereka yang pernah menjadi kenalannya dahulu.

Monumen ini adalah peninggalan dari Rizu yang memperkenalkan para Manstria tentang konsep monumen dan tanaman, para Manstria menyukai makna filosofi yang dibagikan oleh orang paruh baya itu; kehidupan akan tetap tumbuh dan berjuang melawan apa pun tantangan yang diberikan kepadanya.

Pada peristiwa kali ini adalah ketika para manusia datang menjajah tanah kelahiran Manstria, para Manstria pun berjuang untuk membalas para manusia serakah itu. Banyak dari kedua belah pihak yang tewas pada momen berdarah itu, tetapi seperti sebuah pohon, sebuah harapan akan tetap muncul dan tumbuh melawan kondisi alam yang menentangnya.

Dan ya, kondisi damai akhirnya terbentuk setelah para manusia berlarian keluar dari Alvus. Hanya saja, para Manstria masih tidak puas jika dendam dari saudara-saudara mereka yang tewas tidak terbalaskan begitu saja. Bahkan pohon pun akan menghancurkan apa pun yang menghalangi pertumbuhannya, bahkan sekeras beton juga dapat dihancurkan oleh akar-akarnya.

Shinael bersama para Manstria lainnya tidak bisa tinggal diam saja, tampaknya hidup sebagai satu kesatuan membuat mereka saling memiliki satu tujuan; menangkap dalang dari semua ini. Pak Rizu adalah orang yang baik di mata mereka, kedatangan pertama pria itu mungkin cukup kacau karena Manstria belum pernah melihat sesuatu seperti pak tua itu, tetapi setelah Shinael tumbuh semuanya berubah.

Bagi mereka, pak tua yang rapuh itu juga korban dari semua ini, para Manstria bersimpati kepada manusia lemah yang telah membesarkan salah satu dari mereka. Sebuah rencana pembalasan muncul, Shinael menjadi pemancing sedangkan Manstria lain yang akan mengeksekusi hasil pancingan Shinael. Mereka yakin bahwa suatu saat nanti para dalang itu akan tertangkap lalu tewas di tangan mereka.

Tetapi itu tidak kunjung terjadi, mereka yang datang kemari setelah berbagai permintaan tolong palsu yang dirilis oleh Shinael ternyata bukanlah pihak yang mereka incar. Tetapi mereka tidak peduli, dengan membunuh mereka yang tidak bersalah itu pastinya akan membuat para dalang itu terpaksa untuk keluar dari persembunyiannya.

Mereka tentu menyembunyikan semua rencana buruk ini dari Pak Rizu karena mereka tidak ingin melibatkan pak tua itu lebih jauh lagi di dalam permasalahan pribadi mereka. Tetapi, tampaknya rencana mereka mulai mempengaruhi kepribadian Shinael yang awalnya menolak menjadi menikmati semua drama dan mengotori tangannya dengan darah dari jiwa-jiwa yang tidak bersalah.

Shinael kemudian melangkah mundur dari pohon itu lalu menyatukan kedua telapak tangannya sambil menurunkan wajahnya, ia mendoakan mereka yang tewas semoga mereka mendapatkan pengasihan dari entah apa pun yang berkuasa akan jiwa dari mereka yang telah meninggal dunia. Ia kemudian menaikkan kembali wajahnya dan menurunkan kedua lengannya, ia menatap pohon itu, dan kemudian berbalik untuk pergi meninggalkan monumen tersebut.

Ia menemukan teman Manstria-nya, Ghast, sedang mengambang di dekat pintu masuk bersama dengan sebuah larva Manstria berukuran mungil yang ikut mengambang dengannya, Shinael menyapa mereka berdua, dan larva itu langsung terbang ke arah dirinya untuk menempelkan diri.

“Urgh Ghast, sepertinya anakmu ini masih mengira kalau aku ini ibunya.” Shinael mencoba menangkis larva Manstria mungil itu untuk menjauh, tetapi larva itu malah menempel pada tangannya dan sangat sulit untuk dilepas.

Ghast hanya memberi gestur bahwa ia tidak tahu harus apa dengan larva itu, ia kemudian kembali mempercayakan larva kecil itu kepada Shinael dan mulai mengambang mundur secara perlahan. Mengetahui bahwa Ghast mulai pergi untuk meninggalkan anaknya dengan dirinya, Shinael menjadi marah dan memancarkan aura bermusuhan kepadanya.

“Jangan membuang anakmu dasar orang tua tidak bertanggung jawab!”

Ghast beralasan bahwa ia enggan untuk bertanggung jawab akan hal yang tidak ia rencanakan, dengan kata lain, ia ingin melarikan diri dari tanggung jawabnya yang telah membuat larva kecil itu lahir. Ia sebelumnya hanya penasaran akan informasi dari pembelahan inti tubuh Manstria yang ia dapatkan dari Manstria lain, siapa sangka kalau rasa penasarannya itu akan menghasilkan Manstria baru. Sebuah ketidaksengajaan.

Pertama masalah dendam, dan sekarang anak yang terlantar? Sepertinya Shinael akan menjadi lebih sibuk kali ini. Kedua lengannya menurun, ia mencoba menekan amarahnya karena menghajar Ghast di depan si larva mungkin akan menjadi pengalaman yang buruk untuk larva tersebut. Shinael kemudian menatap larva yang sedang bergetar karena telah merasakan sisi buasnya Shinael, dengan lembut Shinael mengusapnya untuk menenangkan si kecil itu.

Melihat betapa lembutnya Shinael kepada si larva, Ghast merasa yakin bahwa menyerahkan si larva kepada Shinael adalah pilihan terbaik karena ia sendiri tidak memiliki kualitas sebagai orang tua. Ia tidak ingin larva kecil itu tumbuh dengan sosok sepayah dirinya, atau malah menjadi seburuk dirinya. Ia ingin larva itu memiliki kehidupan yang berbeda darinya dan menurutnya Shinael adalah solusinya.

Ia tahu bahwa Shinael juga memiliki masalah pribadinya sendiri, ia tahu beban dendam Manstria yang sedang ditanggung temannya itu sehingga apa yang ia lakukan ini sangatlah keterlaluan. Tetapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tidak sepintar maupun sosok sosial seperti Shinael, menurutnya akan lebih baik menyerahkan anak itu kepada yang lebih pantas saja.

Ghast langsung terbang menjauh dan memasuki sebuah ventilasi udara terdekat dengan cepat, Shinael terlambat menyadari hal itu dan segera mengejar Ghast. Sayangnya Ghast sudah menghilang ke dalam ventilasi udara tersebut dan tidak diketahui ke mana dirinya. Shinael terdiam, ia kemudian tidak memiliki pilihan lain selain menerima si larva kecil itu sebagai bagian dari kehidupannya.

“Astaga, temanku ternyata biadab juga.”

Ia tidak sampai setega itu untuk membuang sebuah larva seperti yang dilakukan oleh Ghast, baginya apa yang dilakukan oleh Ghast sama saja dengan yang dilakukan oleh orang tua kandungnya Shinael sehingga tidak heran ia menjadi tersinggung ketika Ghast menyerahkan larva itu kepada dirinya.

Shinael kemudian berjalan ke dalam lorong tersebut untuk melanjutkan rencananya, di sisi lain si larva langsung berpindah untuk menempel di salah satu tanduknya Shinael, mungkin karena ia menyukai pemandangan dari atas sana. Tujuan Shinael kali ini adalah mengumpulkan seluruh dokumen yang seharusnya dikumpulkan lalu menyerahkannya kepada orang-orang di luar sana.

Setelah itu ia akan menyerahkan sisa jasad para penyintas yang pernah bersama dengannya dan memberikan laporan singkat tentang perjalanan waktu itu. Tidak lupa ia akan memberi meminta hasil penyelidikan terbaru tentang para dalang dari permasalahan di masa lalu kepada Pak Rizu. Ia kemudian terpikir lagi, mungkin memberi pak tua itu sedikit cemilan seharusnya tidak masalah.

Shinael kemudian tiba di sebuah ruangan kantor berukuran kecil, ia langsung membongkar lemari berkas dan meletakkan tumpukan kertas itu di atas meja. Ia masih tidak habis pikir, mengapa pancingan kali ini yang berupa pengumpulan berkas tidak berguna? Tunggu, setidaknya mereka berhasil memancing pihak yang pernah terlibat secara tidak langsung dahulu.

Ia menghela nafas ketika ia terduduk di atas kursi itu, ia teringat akan sudah berapa banyak orang tidak bersalah yang tewas karena pancingannya. Kenapa para dalang sialan itu tidak kunjung terkena pancingannya?! Seharusnya orang-orang di luar sana sadar bahwa pihak yang mengirim orang-orang yang tidak bersalah itu seharusnya dihukum saja dengan cara dilempar ke dalam Alvus!

Mungkin para Manstria ini terlalu naif karena berpikir para manusia akan berpikir seperti itu, ia kemudian menaruh wajahnya pada kedua lengannya yang terlipat di atas meja. Larva itu pun turun dan menempel pada kertas dan merayap padanya, Shinael kemudian mengalihkan padangannya kepada si larva.

Carolyne … akan kujaga dia ….” ucapnya dengan pelan sambil mengusap larva kecil itu dengan jemarinya.

Ia teringat akan masa kecilnya yang penuh dengan ketenangan, hanya ada dirinya dan pak tua Rizu yang menyayanginya. Ia masih ingat bagaimana pak tua itu mengusap tubuhnya dahulu, dan sungguh ia merasa rindu akan gestur sederhana itu setelah semua hal yang terjadi selama ini.

Si larva kemudian memanjangkan salah satu sisi tubuhnya untuk membentuk sebuah lengan kecil dan mulai menunjuk ke langit-langit, Shinael kemudian melihat ke atas dan hanya melihat lampu penerangan saja. Ia berpikir akan apa maksud dari si larva ini, apakah ia sedang memberitahukan sesuatu? Entahlah, setidaknya melihat ke arah langit-langit ternyata cukup menenangkan juga.

“Ah kurasa aku harus menamaimu.” Shinael kemudian berdiri dari kursinya dan memeriksa lemari lagi, mungkin ia bisa menemukan sesuatu yang dapat memberikan inspirasi nama untuk si larva.

Ia hanya menemukan sekumpulan kertas dan buku yang menurutnya tidak memberi inspirasi apa pun, hingga perhatiannya teralihkan ke tumpukan barang-barang yang telah dibungkus dengan kotak kardus di sudut ruangan. Kardus-kardus itu memiliki nama dari berbagai merek benda, mereka adalah peninggalan para manusia yang pernah berada di sini sebelumnya.

“Oh!” ucapnya ketika melihat salah satu kotak.

Ia kemudian mengangkat larva tersebut ke udara dan langsung menyatakan namanya, “Mulai sekarang namamu adalah Astra!” Ia memilih kata itu karena mengingatkannya akan langit walau ia tidak tahu arti yang sebenarnya, sesuatu yang memang pernah ia lihat walau belum pernah berada tepat di bawahnya.

Sebuah tempat yang lokasinya sangat tinggi di atas sana dan tidak akan bisa diraih oleh Manstria seperti dirinya. Di sisi lain, si larva bisa mengambang dengan leluasa seperti Ghast sehingga menggapai langit pasti bisa ia lakukan suatu saat nanti. Ia juga mengartikan Astra sebagai sesuatu yang berhubungan dengan menggapai impian.

Sebagaimana Rizu menamai dirinya “Shinael” yang merupakan sebuah permainan kata dan memiliki arti cahaya, Shinael tidak mau repot dan langsung mengambil kata Astra itu tanpa harus mengubahnya. Jika pak Rizu dulu berharap Shinael dapat menjadi pilar cahaya harapan di dunia yang keras ini, maka ia berharap Astra bisa menjadi lambang dari tujuan dalam meraih harapan tersebut.

Si larva juga tampaknya tidak mengerti dan ia hanya menerima saja. Walau pemilihan nama ini masih terasa seperti terjadi begitu saja, setidaknya Shinael telah melakukannya dengan tulus. Ia kemudian melihat ke arah larva yang kini bernama Astra itu, hanya ada rasa peduli dan melindungi di dalam pikirannya, ia tidak ingin Astra mengalami kepedihan yang sama dengan yang telah ia rasakan selama ini—sebuah kepedihan dari mengotori kedua tangannya dengan pertumpahan darah.

Ia kemudian menambah tekad baru ke dalam dirinya, “Aku akan selalu menjagamu, dan tidak akan aku biarkan dirimu memiliki nasib kehidupan yang sama denganku.”


Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License